Rabu, 06 Maret 2013

Tiga Kali Berkunjung


Di akhir dinasti Han Timur (25-220 M) , pemerintahan sangat rusak, ditambah lagi bencana alam yang terus-menerus, serta perang yang berkepanjangan. Membuat kehidupan rakyat sangat menderita.  Banyak tokoh yang bertekad untuk meredahkan keadaan yang kacau balau tersebut. Karena itu, mereka mengumpulkan pasukan, dan menegakkan panjinya masing-masing. Di He Bei ada seorang yang bernama Liu Bei. Bersama saudara angkatnya Guan Yu dan Zhang Fei. Sangat ingin melakukan sebuah usaha besar.
Ia mendengar kabar ada seorang yang bernama Zhuge Liang, ia adalah seorang terpelajar yang sangat padai, dan juga ahli dalam mengatur pasukan. Karena itu ia mencari tahu tempat tinggal Zhuge Liang. Bersama Guan Yu dan Zhang Fei pergi menungang kuda serta membawa hadiah untuk menemui Zhuge Liang. Dia berharap, Zhuge Liang dapat membantunya.
Guan Yu berkata: ”Untuk apa engkau susah-susah pergi sendiri? Utus saja orang untuk menyuruhnya datang.”
“Jika ingin bertemu dan memohon bantuan, harus dengan hormat. Aku sendiri yang pergi, takutnya dia tidak bersedia bertemu.” Jawab Liu Bei.
Sesampainya mereka di rumah Zhuge Liang, seorang pelayan kecil membukakan pintu bagi mereka. Liu Bei menjelaskan maksud kedatangannya untuk bertemu dengan Zhuge Liang.
Anak itu berkata: ”Tuan pagi-pagi sekali sudah pergi, tidak tahu kapan baru pulang.” Mendengar itu Liu Bei sangat kecewa.
Zhang Fei berkata: ”Kalau memang tidak ada, kita kembali saja!” Tetapi Liu Bei enggan untuk meninggalkan tempat itu. Dia tetap menunggu, sampai Guan Yu dan Zhang Fei memaksanya berulang kali, baru dia mau kembali.
Liu Ben terus menerus menyuruh orang mencari tahu kapan Zhuge Liang kembali. Suatu hari, orang yang mencari tahu tentang Zhuge Liang kembali. Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, segera pergi ke sana dengan membawa hadiah. Saat itu sedang musim dingin, salju turun dengan lebat, Zhang Fei yang sudah tidak tahan, kemudian mengomel.
Liu Bei berkata: ”Dengan berbuat begini, baru bisa menunjukan kesungguhan maksud kita.” Mereka menerjang salju, sampai di depan rumah Zhuge Liang. Ketika mereka mengetuk pintu, masih pelayan kecil itu yang membukakan pintu.
Liu Bei bertanya: ”Apakah tuan Zhuge Liang ada di rumah?”
Anak itu menjawab: ”Dia ada di dalam sedang membaca buku.”
Liu Bei sangat senang, ia masuk ke dalam untuk melihat, sungguh di dalam ada seseorang yang sedang membaca buku. Dia takut menggangu, karena itu, dia duduk di luar menunggu. Sampai orang itu selesai membaca buku, baru dia masuk untuk bertemu. Di luar dugaan, orang itu bukanlah Zhuge Liang, tetapi adiknya. Sekali lagi Liu Bei kecewa. Dia meninggalkan sepucuk surat untuk Zhuge Liang. Di dalamnya ia menjelaskan, bahwa dia berharap Zhuge Liang mau membantunya untuk melepaskan rakyat dari penderitaan. Kemudian dia pergi.
Liu Bei sudah membulatkan hati. Bagaimanapun juga, dia tidak akan menyerah. Setelah beberapa waktu, dia mendengar Zhuge Liang sudah kembali. Dia segera berangkat sekali lagi. Kali ini, anak itu memberi tahunya, Zhuge Liang sungguh-sungguh ada di rumah, sedang tidur. Liu Bei menyuruh anak itu supaya jangan membangunkannya, dan dia menunggu di luar. Zhang Fei yang sejak semula sudah tidak sabar, sekarang sudah tidak dapat tahan lagi, dia berteriak: ”Zhuge Liang ini adalah orang yang sangat sombong. Aku akan pergi mengambil obor, dan kita lihat, apakah dia masih bisa tidur!” Liu Bei segera menceganya.
Setelah menunggu setengah hari, akhirnya Zhuge Liang bangun. Mendengar ada orang yang mencarinya, dia berkata: ”Tunggu sebentar, saya akan ganti baju dulu.” Setelah menunggu setengah hari lagi, Zhuge Liang-pun keluar. Dia bertemu dengan Liu Bei, dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Liu Bei menjelaskan bahwa dia sudah datang tiga kali. Ternyata, Zhuge Liang sudah tahu lebih dulu Liu Bei akan datang. Karena ingin menguji kesungguhan hati Liu Bei, dia sengaja beberapa kali tidak berada di rumah, dan menunjukan sikap sombong. Melihat Liu Bei begitu bersungguh-sungguh, Zhuge Liang berjanji membantu Liu Bei.
Mereka membicaraakan keadaan Negara saat itu. Menjelaskan keadaan yang kacau balau beberapa tahun ini. Dan lagi menganalisa cara penyelasaian, serta perkembangan dan perubahan untuk ke depannya. Liu Bei, kian mendengar, kian merasa kagum. Guan Yu dan Zhang Fei juga merasa Zhuge Liang adalah orang yang sangat hebat.
Akhirnya, Liu Bei di bawa bantuan Zhuge Liang, memenangkan banyak peperangan. Dan berhasil mendirikan negara Shu, salah satu dari ke tiga negara.
Dalam kehidupan kitapun juga sering mengalami keadaan yang serupa. Sering kali kita sudah berdoa dan berdoa kepada Allah supaya Ia melakukan sesuatu untuk kita. Namun sepertinya Allah begitu sulit untuk kita temui. Atau saat kita berada pada situasi yang tidak dapat kita mengerti. Kita berdoa dan bertanya kepada Allah. Namun tidak ada jawaban, Allah tetap diam.
Kemudian kita bertanya:
“Apakah Allah mendengar doa kita?”
“Apa Allah masih menjawab doa?”
“Kemana Allah di saat kita benar-benar membutuhkanNya?”
“Apa Allah peduli dengan keadaanku?”
“Kenapa Allah yang aku baca dalam Alkitab berbeda dengan yang aku alami sekarang? Allah dalam Alkitab adalah Allah yang selalu rindu mencari umatNya, namun, sekarang, saat aku paling membutuhkanNya, Dia justru menyembunyikan diri.”
“Apa mungkin Allah memang tidak mau atau tidak sanggup menolongku?”
Dan masih banyak lagi pertannyaan serupa akibat Allah ‘menyembunyikan’ diriNya.
Terkadang, Allah memang seperti sedang menyembunyikan diriNya untuk melihat kesungguhan dan ketekunan kita. Allah tidak ingin kita menjadi anak-anak yang manja. Ia melati ketekunan kita dengan seolah-olah menyembunyikan diriNya. Walaupun sebenarnya, Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan tidak sedetikpun kita luput dari padanganNya. Akitab berkata, bahkan rambut di kepala kita semuanya dihitung oleh Allah.
Perasaan kalau Allah sedang menyembunyikan diriNya sebenarnya timbul dari ketidak mengertian dan ketidak sabaran kita. Jika saja kita memahami bagaimana pribadi Allah seperti yang Alkitab katakana, dan kita mempercayainya – dan bukan mempercayai perasaan kita sendiri tentang Allah – maka kita bisa yakin bahwa Allah selalu mempedulikan kita.
Ketidak sabaran kita juga membuat kita merasa Allah sedang menyembunyikan diri dari kita. Seandainya kita mau bersabar, dan menantikan Allah bertindak tepat pada waktunya, kita tidak akan menjadi frustasi karena Allah tidak segera menjawab doa-doa kita. Dan akhirnya kita merasa Allah sedang menyembunyikan diriNya dan tidak mempedulikan kita.
Apa pun saat ini yang menjadi doa-doa kita kepada Allah, dan belum mendapat jawabannya, sehingga kita merasa seolah-olah Allah sedang menyembunyikan diri. Tetaplah berdoa, karena mungkin saat ini Allah sedang menguji kesungguhan hati kita dan ketekunan kita. Ingatlah! Allah yang berjanji: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5) adalah Allah yang selalu setia terhadap janjiNya.


Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseu kepadaNya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
(Matius 18:7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar