Di
akhir dinasti Han Timur (25-220 M) , pemerintahan sangat rusak, ditambah lagi
bencana alam yang terus-menerus, serta perang yang berkepanjangan. Membuat
kehidupan rakyat sangat menderita.
Banyak tokoh yang bertekad untuk meredahkan keadaan yang kacau balau
tersebut. Karena itu, mereka mengumpulkan pasukan, dan menegakkan panjinya
masing-masing. Di He Bei ada seorang yang bernama Liu Bei. Bersama saudara
angkatnya Guan Yu dan Zhang Fei. Sangat ingin melakukan sebuah usaha besar.
Ia
mendengar kabar ada seorang yang bernama Zhuge Liang, ia adalah seorang
terpelajar yang sangat padai, dan juga ahli dalam mengatur pasukan. Karena itu
ia mencari tahu tempat tinggal Zhuge Liang. Bersama Guan Yu dan Zhang Fei pergi
menungang kuda serta membawa hadiah untuk menemui Zhuge Liang. Dia berharap,
Zhuge Liang dapat membantunya.
Guan
Yu berkata: ”Untuk apa engkau susah-susah pergi sendiri? Utus saja orang untuk
menyuruhnya datang.”
“Jika
ingin bertemu dan memohon bantuan, harus dengan hormat. Aku sendiri yang pergi,
takutnya dia tidak bersedia bertemu.” Jawab Liu Bei.
Sesampainya
mereka di rumah Zhuge Liang, seorang pelayan kecil membukakan pintu bagi
mereka. Liu Bei menjelaskan maksud kedatangannya untuk bertemu dengan Zhuge
Liang.
Anak
itu berkata: ”Tuan pagi-pagi sekali sudah pergi, tidak tahu kapan baru pulang.”
Mendengar itu Liu Bei sangat kecewa.
Zhang
Fei berkata: ”Kalau memang tidak ada, kita kembali saja!” Tetapi Liu Bei enggan
untuk meninggalkan tempat itu. Dia tetap menunggu, sampai Guan Yu dan Zhang Fei
memaksanya berulang kali, baru dia mau kembali.
Liu
Ben terus menerus menyuruh orang mencari tahu kapan Zhuge Liang kembali. Suatu
hari, orang yang mencari tahu tentang Zhuge Liang kembali. Liu Bei, Guan Yu dan
Zhang Fei, segera pergi ke sana dengan membawa hadiah. Saat itu sedang musim
dingin, salju turun dengan lebat, Zhang Fei yang sudah tidak tahan, kemudian
mengomel.
Liu
Bei berkata: ”Dengan berbuat begini, baru bisa menunjukan kesungguhan maksud
kita.” Mereka menerjang salju, sampai di depan rumah Zhuge Liang. Ketika mereka
mengetuk pintu, masih pelayan kecil itu yang membukakan pintu.
Liu
Bei bertanya: ”Apakah tuan Zhuge Liang ada di rumah?”
Anak
itu menjawab: ”Dia ada di dalam sedang membaca buku.”
Liu
Bei sangat senang, ia masuk ke dalam untuk melihat, sungguh di dalam ada
seseorang yang sedang membaca buku. Dia takut menggangu, karena itu, dia duduk
di luar menunggu. Sampai orang itu selesai membaca buku, baru dia masuk untuk
bertemu. Di luar dugaan, orang itu bukanlah Zhuge Liang, tetapi adiknya. Sekali
lagi Liu Bei kecewa. Dia meninggalkan sepucuk surat untuk Zhuge Liang. Di
dalamnya ia menjelaskan, bahwa dia berharap Zhuge Liang mau membantunya untuk
melepaskan rakyat dari penderitaan. Kemudian dia pergi.
Liu
Bei sudah membulatkan hati. Bagaimanapun juga, dia tidak akan menyerah. Setelah
beberapa waktu, dia mendengar Zhuge Liang sudah kembali. Dia segera berangkat
sekali lagi. Kali ini, anak itu memberi tahunya, Zhuge Liang sungguh-sungguh
ada di rumah, sedang tidur. Liu Bei menyuruh anak itu supaya jangan
membangunkannya, dan dia menunggu di luar. Zhang Fei yang sejak semula sudah
tidak sabar, sekarang sudah tidak dapat tahan lagi, dia berteriak: ”Zhuge Liang
ini adalah orang yang sangat sombong. Aku akan pergi mengambil obor, dan kita
lihat, apakah dia masih bisa tidur!” Liu Bei segera menceganya.
Setelah
menunggu setengah hari, akhirnya Zhuge Liang bangun. Mendengar ada orang yang
mencarinya, dia berkata: ”Tunggu sebentar, saya akan ganti baju dulu.” Setelah
menunggu setengah hari lagi, Zhuge Liang-pun keluar. Dia bertemu dengan Liu
Bei, dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Liu Bei menjelaskan bahwa dia sudah
datang tiga kali. Ternyata, Zhuge Liang sudah tahu lebih dulu Liu Bei akan
datang. Karena ingin menguji kesungguhan hati Liu Bei, dia sengaja beberapa
kali tidak berada di rumah, dan menunjukan sikap sombong. Melihat Liu Bei
begitu bersungguh-sungguh, Zhuge Liang berjanji membantu Liu Bei.
Mereka
membicaraakan keadaan Negara saat itu. Menjelaskan keadaan yang kacau balau
beberapa tahun ini. Dan lagi menganalisa cara penyelasaian, serta perkembangan
dan perubahan untuk ke depannya. Liu Bei, kian mendengar, kian merasa kagum.
Guan Yu dan Zhang Fei juga merasa Zhuge Liang adalah orang yang sangat hebat.
Akhirnya,
Liu Bei di bawa bantuan Zhuge Liang, memenangkan banyak peperangan. Dan
berhasil mendirikan negara Shu, salah satu dari ke tiga negara.
Dalam
kehidupan kitapun juga sering mengalami keadaan yang serupa. Sering kali kita
sudah berdoa dan berdoa kepada Allah supaya Ia melakukan sesuatu untuk kita.
Namun sepertinya Allah begitu sulit untuk kita temui. Atau saat kita berada
pada situasi yang tidak dapat kita mengerti. Kita berdoa dan bertanya kepada
Allah. Namun tidak ada jawaban, Allah tetap diam.
Kemudian
kita bertanya:
“Apakah
Allah mendengar doa kita?”
“Apa
Allah masih menjawab doa?”
“Kemana
Allah di saat kita benar-benar membutuhkanNya?”
“Apa
Allah peduli dengan keadaanku?”
“Kenapa
Allah yang aku baca dalam Alkitab berbeda dengan yang aku alami sekarang? Allah
dalam Alkitab adalah Allah yang selalu rindu mencari umatNya, namun, sekarang,
saat aku paling membutuhkanNya, Dia justru menyembunyikan diri.”
“Apa
mungkin Allah memang tidak mau atau tidak sanggup menolongku?”
Dan
masih banyak lagi pertannyaan serupa akibat Allah ‘menyembunyikan’ diriNya.
Terkadang,
Allah memang seperti sedang menyembunyikan diriNya untuk melihat kesungguhan
dan ketekunan kita. Allah tidak ingin kita menjadi anak-anak yang manja. Ia
melati ketekunan kita dengan seolah-olah menyembunyikan diriNya. Walaupun
sebenarnya, Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan tidak sedetikpun kita
luput dari padanganNya. Akitab berkata, bahkan rambut di kepala kita semuanya
dihitung oleh Allah.
Perasaan
kalau Allah sedang menyembunyikan diriNya sebenarnya timbul dari ketidak
mengertian dan ketidak sabaran kita. Jika saja kita memahami bagaimana pribadi
Allah seperti yang Alkitab katakana, dan kita mempercayainya – dan bukan
mempercayai perasaan kita sendiri tentang Allah – maka kita bisa yakin bahwa Allah
selalu mempedulikan kita.
Ketidak
sabaran kita juga membuat kita merasa Allah sedang menyembunyikan diri dari
kita. Seandainya kita mau bersabar, dan menantikan Allah bertindak tepat pada
waktunya, kita tidak akan menjadi frustasi karena Allah tidak segera menjawab
doa-doa kita. Dan akhirnya kita merasa Allah sedang menyembunyikan diriNya dan
tidak mempedulikan kita.
Apa
pun saat ini yang menjadi doa-doa kita kepada Allah, dan belum mendapat
jawabannya, sehingga kita merasa seolah-olah Allah sedang menyembunyikan diri.
Tetaplah berdoa, karena mungkin saat ini Allah sedang menguji kesungguhan hati
kita dan ketekunan kita. Ingatlah! Allah yang berjanji: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak
akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5) adalah Allah yang selalu setia
terhadap janjiNya.
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang
malam berseu kepadaNya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong
mereka?
(Matius 18:7)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar