Rabu, 06 Maret 2013

Cara Pemakamaman yang Dikehendaki Tuan Tanah


Seorang tuan tanah yang kaya, memiliki 3 orang anak laki-laki. Tuan tanah itu sakit, dan dari hari ke sehari sakitnya bertambah parah. Dia merasa dirinya tidak akan sembuh lagi. Tuan tanah itu harus mempercayakan usahanya kelak kepada ketiga anaknya.
Pertama-tama dia bertanya kepada anaknya yang tertua: “Aku takut, sakitku tidak akan sembuh lagi, setelah aku meninggal, bagaimana engkau akan menguburkan aku?” Anaknya yang besar menjawab: “Aku akan mengunakan peti mati terbaik, baju untuk orang mati yang terbaik, memanggil datang biksu……...” Sebelum dia selesai bicara, ayahnya marah kepadanya dan mengusirnya keluar.
Dia juga bertanya hal yang sama kepada anaknya yang ke 2. Anaknya yang ke 2 menjawab: “Aku pikir, upacara pemakaman yang sedikit sederhana lebih baik. Membeli peti mati dan baju yang biasa sudah cukup. Untuk apa memboroskan uang dan waktu?” Tuan tanah menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata: “Kamu juga tidak bisa, pergilah!”
Terakhir, tuan tanah menanyakan kepada anak bungsunya pertanyaan yang sama. Anak bungsu yang tahu sifat ayahnya, berpikir dulu sebelum menjawab: “Anda seumur hidup hanya ingin mendapatkan uang, tidak ingin mengeluarkan uang. Setelah anda mati, saya juga ingin mendapat keuntungan darinya.”
Mendengar itu tuan tanah dengan cepat berkata: “Cepat katakan, mendapat keuntungan bagaimana?”
Anak ke 3 berkata: “Aku akan mengupas kulit anda dan menjualnya untuk di jadikan tambur. Memotong daging anda dan menjualnya kepada orang yang memelihara harimau.”
Tuan tanah kembali bertanya: “Bagaimana dengan tulangku yang tersisa?”
Anaknya menjawab: “Aku akan membakarnya menjadi pupuk untuk menyuburkan tanah.”
Setelah mendengar itu, tuan tanah tersenyum, dan berkata kepada anak bungsunya: “Anakku, rumah ini aku berikan padamu. Sekarang aku dapat meninggal dunia dengan tenang.”
Dari kecil kita sudah diperkenalkan dengan pepatah yang berbunyi “Hemat pangkal kaya.” Namun, banyak orang yang karena begitu berhemat, menjadi pelit, bahkan terhadap dirinya sendiri. Mereka bekerja dan bekerja untuk mengumpulkan uang, tetapi sangat saying untuk mengeluarkan uang walaupun itu untuk kepentingannya sendiri.
Memang, kita tidak boleh hidup boros dan berfoya-foya, sehinnga lebih besar pengeluaran daripada pemasukan kita. Dan akhirnya kita tidak bisa menabung, bahkan berhutang. Kita harus bisa membedakan antara kebuthan dan keinginan. Mana hal-hal yang memang kita butuhkan, atau itu hanya keinginan sesaat karena sedang tren, atau karena kita melihat orang lain memilikinya.
Amsal berkata: Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minun, ia sendiri akan diberi minum. (Amsal 11:24-25) Alkitab mengajarkan ada orang yang menyebar harta akan bertambah kaya. Bukan orang yang memboroskan harta yang akan bertambah kaya. Jika kita berani menyebar harta kita untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, maka Tuhan akan memberkati kita. Jika kita menghemat secara luar bisa meskipun kita memiliki banyak kekayaan, itu menunjukan kita memiliki mentality kemiskinan.
Orang yang memiliki mentality kemiskinan, akan selalu merasa dia belum memiliki cukup banyak harta sehingga ia bisa menikmatinya, apalagi untuk dibagikan kepada orang lain. Orang yang memiliki mentality kemiskinan akan selalu berkata apa yang dimilikinya masih kurang.
Jadi, kita bisa menjadi orang kaya atau orang miskin bukan tergantung berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana mental yang kita miliki. Orang yang kaya adalah orang yang bisa menikmati dan mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan padanya. Telebih lagi, orang yang kaya adalah orang yang bisa memakai apa yang telah Tuhan berikan kepadanya untuk menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan, meskipun apa yang dimilikinya tidak sebanyak orang lain.


Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawa matahari, yang sangat menekan manusia: orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya.
(Pengkhotbah 6:1-2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar