Seorang tuan tanah yang kaya, memiliki 3 orang anak laki-laki. Tuan
tanah itu sakit, dan dari hari ke sehari sakitnya bertambah parah. Dia merasa
dirinya tidak akan sembuh lagi. Tuan tanah itu harus mempercayakan usahanya
kelak kepada ketiga anaknya.
Pertama-tama dia bertanya kepada anaknya yang tertua: “Aku takut,
sakitku tidak akan sembuh lagi, setelah aku meninggal, bagaimana engkau akan
menguburkan aku?” Anaknya yang besar menjawab: “Aku akan mengunakan peti mati
terbaik, baju untuk orang mati yang terbaik, memanggil datang biksu……...”
Sebelum dia selesai bicara, ayahnya marah kepadanya dan mengusirnya keluar.
Dia juga bertanya hal yang sama kepada anaknya yang ke 2. Anaknya
yang ke 2 menjawab: “Aku pikir, upacara pemakaman yang sedikit sederhana lebih
baik. Membeli peti mati dan baju yang biasa sudah cukup. Untuk apa memboroskan
uang dan waktu?” Tuan tanah menggeleng-gelengkan kepala, dan berkata: “Kamu
juga tidak bisa, pergilah!”
Terakhir, tuan tanah menanyakan kepada anak bungsunya pertanyaan
yang sama. Anak bungsu yang tahu sifat ayahnya, berpikir dulu sebelum menjawab:
“Anda seumur hidup hanya ingin mendapatkan uang, tidak ingin mengeluarkan uang.
Setelah anda mati, saya juga ingin mendapat keuntungan darinya.”
Mendengar itu tuan tanah dengan cepat berkata: “Cepat katakan,
mendapat keuntungan bagaimana?”
Anak ke 3 berkata: “Aku akan mengupas kulit anda dan menjualnya
untuk di jadikan tambur. Memotong daging anda dan menjualnya kepada orang yang
memelihara harimau.”
Tuan tanah kembali bertanya: “Bagaimana dengan tulangku yang
tersisa?”
Anaknya menjawab: “Aku akan membakarnya menjadi pupuk untuk
menyuburkan tanah.”
Setelah mendengar itu, tuan tanah tersenyum, dan berkata kepada
anak bungsunya: “Anakku, rumah ini aku berikan padamu. Sekarang aku dapat
meninggal dunia dengan tenang.”
Dari kecil kita sudah diperkenalkan dengan pepatah yang berbunyi
“Hemat pangkal kaya.” Namun, banyak orang yang karena begitu berhemat, menjadi
pelit, bahkan terhadap dirinya sendiri. Mereka bekerja dan bekerja untuk
mengumpulkan uang, tetapi sangat saying untuk mengeluarkan uang walaupun itu
untuk kepentingannya sendiri.
Memang, kita tidak boleh hidup boros dan berfoya-foya, sehinnga
lebih besar pengeluaran daripada pemasukan kita. Dan akhirnya kita tidak bisa
menabung, bahkan berhutang. Kita harus bisa membedakan antara kebuthan dan
keinginan. Mana hal-hal yang memang kita butuhkan, atau itu hanya keinginan
sesaat karena sedang tren, atau karena kita melihat orang lain memilikinya.
Amsal berkata: Ada yang
menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa,
namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,
siapa memberi minun, ia sendiri akan diberi minum. (Amsal 11:24-25) Alkitab
mengajarkan ada orang yang menyebar harta akan bertambah kaya. Bukan orang yang
memboroskan harta yang akan bertambah kaya. Jika kita berani menyebar harta
kita untuk melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada kita, maka Tuhan akan
memberkati kita. Jika kita menghemat secara luar bisa meskipun kita memiliki
banyak kekayaan, itu menunjukan kita memiliki mentality kemiskinan.
Orang yang memiliki mentality kemiskinan, akan selalu merasa dia
belum memiliki cukup banyak harta sehingga ia bisa menikmatinya, apalagi untuk
dibagikan kepada orang lain. Orang yang memiliki mentality kemiskinan akan
selalu berkata apa yang dimilikinya masih kurang.
Jadi, kita bisa menjadi orang kaya atau orang miskin bukan
tergantung berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana mental yang kita
miliki. Orang yang kaya adalah orang yang bisa menikmati dan mensyukuri apa
yang telah Tuhan berikan padanya. Telebih lagi, orang yang kaya adalah orang
yang bisa memakai apa yang telah Tuhan berikan kepadanya untuk menjadi berkat
dan memuliakan nama Tuhan, meskipun apa yang dimilikinya tidak sebanyak orang
lain.
Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawa matahari, yang
sangat menekan manusia: orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan
kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang
itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya.
(Pengkhotbah
6:1-2)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar