Dahulu, ada seorang bernama Tian Zhen. Dia adalah anak tertua.
Keluarganya sangat kaya. Dia tinggal bersama orang tua dan dua adik
laki-lakinya.
Ayah dan ibunya berturut-turut meninggal dunia, dalam waktu yang
tidak jauh berbeda. Suatu saat, anak yang kedua dan ketiga berkelahi untuk
berebut warisan. Tian Zhen sebagai anak tertua, tidak berdaya melerai kedua
adiknya, dan terpaksa menyetujui maksud adik-adiknya. Mereka bertiga membagi
rata sawah, rumah, uang, sampai alat-alat rumah tangga dan pertain milik orang
tua mereka. Kemudian, sambil menunjuk pohon besar yang tumbuh di halaman rumah,
Tian Zhen berkata: “Pohon besar ini ditanam oleh ayah dan ibu sendiri. Kita
jangan membaginya, tetapi kita rawat bersama-sama, untuk kenangan kepada ayah
dan ibu.” Anak kedua merasa perkataan kakaknya ada benarnya, tetapi anak ketiga
berkeras membagi pohon itu menjadi tiga bagian.
Keesokan paginya, anak ketiga mengambil kapak. Saat hendak menebang
pohon itu, di luar dugaan, tiba-tiba semua daun di pohon itu mengunuing, dan
berjatuhan ke tanah. Pohan itu menjadi gundul seluruhnya. Dia terpaksa
mengurungkan niatnya menebang pohon iti. Saat itu, Tian Zhen segera keluar
untuk melihat apa yang terjadi, dia merasa sangat heran, dan berkata: “Kemarin
pohon ini masih baik-baik saja. Bagitu mendengar, dia akan dipotong jadi tiga
bagian, langsung menjadi seperti ini. Pohon saja masih punya perasaan, kita
tiga bersaudara ternyata tidak lebih baik dari pohon ini!” Karena itu, tidak
ada yang berani menebang pohon itu laagi.
Kemudian, pohon ini daunnya bersemi kembali, dan tumbuh subur
seperti dulu. Mereka tiga bersaudara juga tidak lagi berbagi warisan, dan
tinggal bersama dengan rukun.
Ketamakan bisa menyerang semua orang. Kita menjadi tamak tidak
hanya ketika kita menginginkan hal-hal yang besar saja. Kita sudah menjadi
tamak ketika kita mengingini sesuatu yang seharus bukan menjadi milik kita,
meskipun itu adalah hal kecil. Jika kita meminjam sesuatu kepada orang lain,
dan kita mengingininya menjadi milik kita, kita sudah jatuh dalam dosa
ketamakan.
Dalam Alkitab, kita menjumpai seorang yang jatuh dalam ketamakan,
yaitu Akhan. Saat Allah menyuruh banga Israel
menyerang kota
Yeriko, Allah memerintahkan kepada mereka agar jangan mengambil jarahan apa
pun. (Yosua 6:18) Tetapi, Akhan melanggar perintah Tuhan dengan menyembunyikan
beberapa barang jarahan. Akibatnya, bangsa Isreal kalah waktu berperang melawan
kota Ai.
Kemudia Akhan, seluruh keluarganya, dan semua miliknya dihukum mati.
Dosa ketamakan bisa berakibat sangat fatal, karena Allah sangat
membenci orang yang tamak. Orang yang tamak bisa kehilangan belas kasihannya
kepada sesamanya, karena keinginannya untuk memiliki sesuatu. Banyak orang yang
karena tamak akan sesuatu – harta, kedudukan, dan bahkan rasa kehausan akan cinta
– melakukan sesuatu yang begitu kejam
kepada sesamanya supaya dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketamakan
dapat membutakan seseorang.
Namun sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari kalau dirinya
sudah jatuh pada dosa ketamakan. Mereka berpikir, apa yang mereka rasakan
hanyalah sebuah keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, sesuatu
yang bisa menguntungkan mereka. Karena itu, Yesus memerintahkan kita untuk
waspada terhadap segala jenis ketamakan. Kita harus memeriksa dan menjaga hati
kita. Jika hati kita menginkan sesuatu, dan keinginan kita itu sangat besar,
sehingga seolah-olah hidup dan kebahagiaan kita tergantung dari apa yang kita
inginkan tersebut, berhati-hatilah! Mungkin kita sudah jatuh dalam dosa
ketamakan.
Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru,
katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus
berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim
atau pengantara atas kamu?” KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah
terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlinpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
(Lukas 12:13-15)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar