Selasa, 05 Maret 2013

Berbagi Warisan


Dahulu, ada seorang bernama Tian Zhen. Dia adalah anak tertua. Keluarganya sangat kaya. Dia tinggal bersama orang tua dan dua adik laki-lakinya.
Ayah dan ibunya berturut-turut meninggal dunia, dalam waktu yang tidak jauh berbeda. Suatu saat, anak yang kedua dan ketiga berkelahi untuk berebut warisan. Tian Zhen sebagai anak tertua, tidak berdaya melerai kedua adiknya, dan terpaksa menyetujui maksud adik-adiknya. Mereka bertiga membagi rata sawah, rumah, uang, sampai alat-alat rumah tangga dan pertain milik orang tua mereka. Kemudian, sambil menunjuk pohon besar yang tumbuh di halaman rumah, Tian Zhen berkata: “Pohon besar ini ditanam oleh ayah dan ibu sendiri. Kita jangan membaginya, tetapi kita rawat bersama-sama, untuk kenangan kepada ayah dan ibu.” Anak kedua merasa perkataan kakaknya ada benarnya, tetapi anak ketiga berkeras membagi pohon itu menjadi tiga bagian.
Keesokan paginya, anak ketiga mengambil kapak. Saat hendak menebang pohon itu, di luar dugaan, tiba-tiba semua daun di pohon itu mengunuing, dan berjatuhan ke tanah. Pohan itu menjadi gundul seluruhnya. Dia terpaksa mengurungkan niatnya menebang pohon iti. Saat itu, Tian Zhen segera keluar untuk melihat apa yang terjadi, dia merasa sangat heran, dan berkata: “Kemarin pohon ini masih baik-baik saja. Bagitu mendengar, dia akan dipotong jadi tiga bagian, langsung menjadi seperti ini. Pohon saja masih punya perasaan, kita tiga bersaudara ternyata tidak lebih baik dari pohon ini!” Karena itu, tidak ada yang berani menebang pohon itu laagi.
Kemudian, pohon ini daunnya bersemi kembali, dan tumbuh subur seperti dulu. Mereka tiga bersaudara juga tidak lagi berbagi warisan, dan tinggal bersama dengan rukun.
Ketamakan bisa menyerang semua orang. Kita menjadi tamak tidak hanya ketika kita menginginkan hal-hal yang besar saja. Kita sudah menjadi tamak ketika kita mengingini sesuatu yang seharus bukan menjadi milik kita, meskipun itu adalah hal kecil. Jika kita meminjam sesuatu kepada orang lain, dan kita mengingininya menjadi milik kita, kita sudah jatuh dalam dosa ketamakan.
Dalam Alkitab, kita menjumpai seorang yang jatuh dalam ketamakan, yaitu Akhan. Saat Allah menyuruh banga Israel menyerang kota Yeriko, Allah memerintahkan kepada mereka agar jangan mengambil jarahan apa pun. (Yosua 6:18) Tetapi, Akhan melanggar perintah Tuhan dengan menyembunyikan beberapa barang jarahan. Akibatnya, bangsa Isreal kalah waktu berperang melawan kota Ai. Kemudia Akhan, seluruh keluarganya, dan semua miliknya dihukum mati.
Dosa ketamakan bisa berakibat sangat fatal, karena Allah sangat membenci orang yang tamak. Orang yang tamak bisa kehilangan belas kasihannya kepada sesamanya, karena keinginannya untuk memiliki sesuatu. Banyak orang yang karena tamak akan sesuatu – harta, kedudukan, dan bahkan rasa kehausan akan cinta –  melakukan sesuatu yang begitu kejam kepada sesamanya supaya dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Ketamakan dapat membutakan seseorang.
Namun sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari kalau dirinya sudah jatuh pada dosa ketamakan. Mereka berpikir, apa yang mereka rasakan hanyalah sebuah keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang bisa menguntungkan mereka. Karena itu, Yesus memerintahkan kita untuk waspada terhadap segala jenis ketamakan. Kita harus memeriksa dan menjaga hati kita. Jika hati kita menginkan sesuatu, dan keinginan kita itu sangat besar, sehingga seolah-olah hidup dan kebahagiaan kita tergantung dari apa yang kita inginkan tersebut, berhati-hatilah! Mungkin kita sudah jatuh dalam dosa ketamakan.


Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlinpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
(Lukas 12:13-15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar