Selasa, 05 Maret 2013

Batu Giok untuk Sima Qian


Suatu hari, ada seseorang yang memberi hadiah kepada Sima Qian (145/135 Sm-?). - Sima Qian adalah seorang sejarahwan, sastrawan, dan pemikir pada zaman dinasti Han. - Anak perempuannya membuka dan melihat, langsung terkejut, “Ah!! Sungguh batu giok putih yang sangat indah.” Sembari mengambil batu giok tersebut, Sima Qian mengambil batu giok tersebut. Sambil mengamati, dia memuji,  “Sungguh-sungguh sebuah batu giok yang sangat berharga, tidak ada cacatnya sedikitpun.”
Anak perempuan Sima Qian berkata, “Ayah, engkau sungguh seperti batu giok ini. Begitu putih dan bersih. Kalau Engkau memakai batu giok ini, pasti sungguh sangat bagus.”
Sima Qian berkata, “Kamu salah, kalau aku menerima batu giok ini, aku tidak akan sama seperti batu giok ini, begitu putih dan bersih.”
Putrinya tidak mengerti apa yang Sima Qian maksudkan. Sima Qian berkata lagi, “Orang ini memberiku batu giok yang begini bagus, pasti karena mengharapkan aku membantunya melakukan sesuatu. Kalau aku demi batu giok ini membantunya melakukan sesuatu, bagaimana bisa dikatakan hatiku putih bersih? Kamu kembalikan saja batu giok ini.”
Putri Sima Qian sangat memahami sifat ayahnya. Dia segera membungkus kembali batu giok tersebut. Kemudian menyuruh orang untuk mengantarkannya kembali.
Mao Zedong, pemimpin partai Komunis China memiliki sebuah semboyan “Shijie shang meiyou wuyuanwugu de ai”. Yang artinya, di dunia ini tidak ada kasih yang tidak tanpa alasan. Dengan kata lain, jika ada seseorang melakukan perbuatan kasih kepada orang lain, itu dikarenakan orang tersebut memiliki maksud atau mamri di balik perbuatan baiknya.
Memang, dunia pada umumnya melakukan suatu kebaikan untuk mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri. Bahkan walaupun balasan untuk kebaikannya diharapkan akan diterimanya sebagai pahala pada “kehidupan yang akan datang”, tapi tetap semuanya itu adalah demi keuntungan dirinya sendiri.
Berapa banyak kita melihat orang yang berbuat baik agar menerima balasan yang setimpal?
Saya mengenal seorang oma yang setiap hari Jumat harus berderma dengan memberikan uang kepada orang miskim. Setiap hari Jumat di depan rumahnya selalu berkumpul banyak “orang miskin” yang sudah mengetahui kebiasaannya itu, karena keluarga oma itu termasuk keluarga yang sangat kaya dan terpandang di daerahnya.
Ketika saya bertanya kenapa dia memiliki kebiasaan seperti itu, dia menjawab, jika ia tidak berderma setiap hari Jumat, ia tidak akan diberkati, bahkan akan terkena sial. Jadi dia berderma setiap hari Jumat untuk menolak sial bagi dia dan keluarganya. Ternyata suatu perbuatan baik didasari atas suatu motifasi yang tidak baik. Dia memberi bukan karena ingin memberkati orang yang kurang mampu, dia memberi agar dirinya tidak terkena sial.
Yesus memberi teladan yang sangat berbeda bagi kita. Yesus tidak saja memberikan segala yang terbaik bagi kita (Roma 8:32), tapi Ia juga menyerahkan nyawaNya bagi kita (Filipi 2:6-8). Terlebih lagi, Dia memberikan semua itu kepada kita karena kita sudah melakukan suatu perbuatan baik. Sebaliknya, Dia memberikan semua itu kepada kita oleh kasih karuniaNya, ketika kita masih dalam keadaan berdosa.
Sebenarnya kita tidak layak menerima apa pun dari Allah. Sebaliknya, yang pantas kita terima adalah hukuman. Namun, karena kasih Allah yang begitu besar, melalui percaya kepada Kristus kita tidak hanya tidak dihukum, tetapi juga menerima segala sesuatu yang terbaik dari Allah.
Jika Allah sudah demikian mengasihi kita, dan memberi teladan bagi kita, berlebihankah jika Allah menuntut kita melakukan hal sama bagi sesama kita, yaitu mengasihi dan memberi kepada sesama kita tanpa mengharapkan balasan apa pun. Pilihan ada di tangan kita, prinsip siapa yang akan kita pegang, prinsip Allah atau prinsip dunia?


Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
(Matius 5:42)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar