Seorang cendekiawan yang berilmu tinggi dan memiliki banyak murid.
Suatu hari berjalan-jalan di taman, dan karena lelah, ia duduk beristirahat di
bawah sebatang pohon ara untuk mencari angin.
Orang itu tiba-tiba melihat semangka yang tumbuh di tanah. Semangka
itu sangat besar, namun tumbuh pada batang yang lunak dan kecil. Dia mengangkat
kepala, melihat pada pohon ara itu. Batangnya kasar dan besar, namun buah yang
tumbuh padanya sangat kecil. Cendekiawan itu melihat kepada semangka, dan
melihat pada buah ara lagi. Hatinya tiba-tiba berpikir: “Menurut pendapatku,
semangka baru cocok jika tumbuh pada pohan ara” Dia berkata kepada dirinya
sendiri: “Ranting pohon ara sangat keras, bagaimana bisa mengeluarkan buah yang
begitu kecil? Menurut pendapatku, seharusnya buah ara tunbuh pada ranting yang
kecil dan lunak” Pokoknya, di merasa, Tuhan mengatur tidak dengan sesuai.
Meletakan terbalik antara semangka dan pohon ara.
Cendekiawan itu lama duduk di bawah pohon ara sambil berpikir,
tiba-tiba sebuah buah ara jatuh, dan tepat mengenai hidung sang cendekiawan,
ujung hidungnya langsung memerah. Saat itu, dia dalam sekejab mengerti. Dia
berkata: “Aku sudah tahu, segala hal di alam ini, masing-masing berada di
tempatnya, dan masing-masing ada fungsinya. Sungguh tidak akan ada kesalahan.
Seandainya menurut pemikiranku, semangka seharusnya tumbuh pada dahan pohon
ara, wajahku akan langsung hancur, atau aku akan pingsan, dan bahkan tertimpah
semangka! Untunglah buah ara kecil, sekarang aku hanya terluka sedikit saja.”
“Apakah Tuhan mengatur dengan tidak tepat?” Adalah pertanyaan yang
sering diungkapkan oleh banyak orang, baik secara langsung maupun tidak. Ketika
seseorang bertanya:
“Kenapa aku lahir di keluarga seperti ini? Aku ingin punya orang
tua yang lebih memperhatikanku.”
“Kenapa bentuk fisiku seperti ini? Seandainya aku punya rambut yang
lurus.”
“Kenapa aku tidak memiliki bakat musik? Kalau saja aku bisa bermain
musik.”
Dan masih banyak lagi pertanyaan, yang pada intinya adalah
menanyakan apakah Tuhan sedang membuat sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Tuhan adalah Allah yang besar. Hikmat Allah melampaui segala
pikiran manusia. Sebaliknya, kita adalah manusia yang sangat terbatas. Seorang
ilmuan paling cerdas sekalipun, tidak akan dapat mengetahui seluruh rahasia
alam semesta. Begitu banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dimengerti oleh
manusia.
Sering kali, di tenggah keterbatasan kita, kita menilai bahwa
sesuatu yang sedang atau telah Allah lakukan tidaklah tepat. Kita hanya bisa
memahami sesuatu dengan pikiran kita yang terbatas, kemudian dengan mudah kita
mengatakan bahwa Allah sedang membuat kesalahan. Atau seharusnya Allah tidak
berbuat seperti itu, seperti inilah yang seharusnya Allah buat.
Namun, di dalam ke maha tahuanNya, Allah telah mengatur dan
menempatkan segala sesuatu dengan tepat. Allah tidak pernah berbuat kesalahan
atas apa pun. Entah bagaimana pun Ia membentuk kita, di mana pun Ia menempatkan
kita, mengatur segala hal yang terjadi atas kita, dan juga yang terjadi di
seluruh alam semesta ini. Dalam kesemuanya itu Allah tidak pernah berbuat
kesalahan. Semua yang di perbuatnya sungguh tepat dan amat baik.
Saat kita merasakan dan berpikir “Apakah Tuhan sedang mengatur
dengan tidak tepat?” Marilah kita merenungkan kembali apa yang rasul Paulus
katakan:
O, alangkah
dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki
keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!
Sebab, siapakah
yang mengetahui pikiran Tuhan?
Atau siapakah yang
pernah menjadi penasehatNya?
( Roma 11:33-34 )
Jika kita setuju dengan apa yang Paulus katakan, maka kita tidak
akan pernah lagi bertanya: “Apakah Allah mengatur dengan tidak tepat?”
Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Demikianlah diselesaikan
langit dan bumi dan segala isinya.
(Kejadian 1:31-2:1)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar