Ada seorang yang
bernama Zhou Chu. Saat mudah, karena merasa dirinya kuat, sering berlaku
semena-mena, menindas orang lain, sehingga membuat orang-orang tidak tahan lagi
akan perbuatannya. Kebetulan, waktu itu, di dalam sungai ada seekor naga yang
sering menimbulkan angin dan gelombang. Sedangkan di atas gunung, ada seekor
harimau buas yang sering memangsah manusia. Orang-orang di tempat itu sangat
menderita, tetapi mereka tidak berdaya menghadapinya. Oleh karena itu,
orang-orang menempatkan Zhou Chu, naga dan macan menjadi satu, dan menyebutnya
sebagai “Tiga Malapetaka”.
Suatu hari, Zhou Chu mendengar tentang perihal naga dan macan dari
penduduk di sana.
Kemudian dia berpikir: ”Biasanya orang-orang berkata aku hanya bisa menindas
orang lain. Mana mereka tahu kalau sebenarnya aku adalah pahlawan yang gagah
perkasa? Kalau aku bisa membunuh naga dan macan itu, dan melenyapkan 2
malapetaka bagi orang-orang, mereka akan berterima kasih kepadaku.” Kemudian
Zhou Chu pertama-tama pergi ke gunung. Dia menyelusuri gunung dan lembah, dan
akhirnya menemukan harimau itu. Dia
bertarung sangat lama dengan harimau itu, dan berhasil membunuhnya. Zhou Chu
berkata: ”Baiklah, sekarang hanya tinggal satu malapetaka.”
Kenudian dia pergi ke sungai untuk mencari naga. Naga itu terkadang
naik kepermukaan sungai, terkadang masuk ke dasar sungai, sangat sulit
ditemukan. Zhou Chu mengikuti jejak naga itu, dan akhirnya menenuhkannya, serta
bertarung dengannya. Selama tiga hari tiga malam Zhou Chu tidak keluar dari
dalam air. Orang-orang mengira Zhou Chu sudah mati. Mereka sangat senang, dan
berkata: ”Oh, alangka baiknya, tiga malapetaka sudah tidak ada lagi. Mulai
sekarang, kita bisa hidup dengan tenang.”
Tidak disangkah, tiga hari kemudian, Zhou Chu keluar dari dalam
air. Ternyata, setelah bertarung dengan susah payah selama tiga hari tiga
malam, dia berhasil membunuh naga itu. Orang-orang yang melihatnya, bukan hanya
tidak berterima kasih kepadanya, sebaliknya justru lari ketakutan: ”Ah,
ternyata Zhou Chu tidak mati, ini sungguh buruk. Tiga malapetaka, masih tersisa
satu malapetaka.” Zhou Chu yang melihat sikap orang-orang terhadapnya, merasa
sangat sedih, dia berpikir: ”Aku sudah menolong mereka melenyapkan dua
malapetaka besar, tapi mereka masih berharap aku mati. Sepertinya, di hati
orang-orang, aku adalah malapetaka, sama seperti macan dan naga itu. Ah, dulu
aku sungguh tidak baik terhadap mereka. Aku sangat ingin berubah, tapi takutnya
tidak berhasil.” Kemudian dia menumui seorang yang bijaksana: ”Aku sungguh
ingin berubah, tetepi waktu sudah begitu lama berlalu. Aku takut seumur hidup
tidak bisa menyelesaikan apa pun.”
Orang bijaksana itu menjawab: ”Orang dulu berkata, kalau pagi hari
mendapatkan kebenaran yang sejati, jika malam mati tidak akan menyesal. Yang
ditakutkan adalah seseorang tidak mempunyai tekad yang luhur, kalau mempunyai
tekad, tidak perlu takut waktu siang atau waktu malam. Dan lagi, kamu masih
mudah, jalan di depanmu masih jauh, jangan takut tidak bisa menyelesaikan
sesuatu yang besar.”
Setelah Zhou Chu mendengar ini, dia sangat terinspirasi. Sejak saat
itu dia bertekad untuk berubah, tidak lagi melakukan hal-hal buruk. Akhirnya ia
menjadi seorang berguna bagi masyarakat.
Ada peribahasa yang
berkata: “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Menang manusia pada
umumnya akan lebih mudah mengingat kesalahan, dan melupakan kebaikan orang
lain.
Jika seseorang melakukan suatu kesalahan, akan membutuhkan waktu
yang lama untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Sebaliknya, tidak di perlukan
waktu yang lama untuk melupakan semua kebaikan seseorang, Ketika seseorang
melakukan satu kesalahan saja, maka semua perbuatan baiknya yang ‘banyak’ akan
segera terlupakan.
Nama baik adalah salah satu hal terpenting yang harus dimiliki oleh
seseorang. Salah satu syarat yang ditetepkan oleh Rasul Paulus agar seseorang
layak menjadi penilik jemaat adalah mempunyai nama baik. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia
digugat orang dan jatuh ke dalam jerat iblis. (I Timotius 3:7) Nama baik
dibutuhkan supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Meskipun ada kalanya, reputasi yang dimiliki oleh seseorang tidak
benar-benar menunjukan siapa orang itu sebenarnya. Contohnya, bagi orang Yahudi
yang iri hati kepada Yesus. Mereka selalu mencari-cari kesalahan Yesus, Yesus
sama sekali tidak memiliki nama baik dalam pandangan mereka. Bagi mereka, Yesus
adalah penjahat dan penghujat Allah yang berhasil mereka jatuhi hukuman mati.
Nama baik seseorang memang tidak menjamin orang yang memilikinya
benar-benar baik. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki nama baik belum tentu
adalah orang yang bener-benar jahat. Nama baik bisa sangat subyektif, tergantung
pada siapa yang menilainya. Bagi seseorang mungkin dia adalah orang baik, namun
belum tentu bagi orang lain.
Di sekeliling kita, pasti ada saja orang-orang yang iri dan
membenci kita. Entah kita sadari atau tidak. Orang-orang ini pasti akan selalu
berusaha untuk mencari kesalahan dan kelemahan kita. Karena itu, biarlah kita
tetap menjaga hidup kita benar di hadapan Tuhan dan sesama. Agar jika ada orang
yang berusaha mencari-cari kesalahan kita, mereka tidak mendapatkan kesalahan
apa pun pada kita.
Seperti yang terjadi pada Daniel. Ketika para pejabat raja Darius
mencari-cari dakwaan terhadap Daniel, meraka tidak mendapati satu kesalahanpun.
Sebab Daniel adalah orang yang benar dan setia,
Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu
mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka
tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak
ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.
( Daniel 6:4
)
Kita adalah suratan Kristus yang terbuka, yang dibaca oleh semua
orang. Biarlah kita selalu menjaga hidup kita, supaya nama Tuhan dimuliakan
melalui nama baik yang kita miliki. Ketika orang berkata terhadap kita: “Orang
yang baik itu adalah orang Kristen.”
Nama baik memang sulit di dapatkan. Begitu dia hilang, mungkin
seumur hidup tidak akan pernah kembali lagi.
Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal.
( Penghotbah 7:1 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar