Pada
zaman dinasti Tang, ada seorang cendekiawan bernama Tang Ao, bersama 2 orang
temannya Lin Zhi Yang dan Duo Jiu Gong pergi mengarungi lautan untuk berdagang.
Mereka sampai ke sebuah daratan, setelah berlabu, mereka mendapati di tempat ini
yang bertanih, bekerja, berdagang semuanya wanita. Cara bicara mereka juga
kasar dan keras, dan lagi mereka memakai pakaian lelaki. Tang Ao merasa sangat
heran.
Mereka
sampai di depan sebuah penginapan, seorang wanita dengan pakaian laki-laki
keluar menyambut mereka, memperkenalkan diri sebagai pemilik penginapan itu.
Dia berbalik memanggil orang untuk membantu. Yang keluar adalah seorang
laki-laki dengan pakaian wanita. Meskipun perawakkannya tinggi besar, di
wajahnya juga tumbuh kumis, tapi cara jalannya berlenggak-lenggok, suaranya
juga halus. Wajahnya juga memakai make up dan lipstick! Tang Ao merasa dia
sangat perlente.
Pelan-pelan,
Tang Ao dan teman-temannya baru mengerti. Tempat ini bernama Negeri Wanita.
Wanita yang mengatur masalah negara, yang bekerja di luar juga adalah wanita,
sebaliknya lelaki mengurusi pekerjaan rumah tangga di dalam rumah. Tang Ao dan
teman-temannya berdagang selama beberapa hari, ada orang berkata kepada mereka:
“Perhiasan dan make up yang kalian jual sangat bagus. Raja kami ingin
membelinya untuk para ‘wanita’ di dalam istana. Kalian harus pergi ke istana
untuk membicarakan harga.”
Siapa
mengira, begitu raja Negeri Wanita melihat mereka, langsung menyukai Lin Zhi
Yang, dan lagi tanpa berunding, langsung mengurung Lin Zhi Yang untuk dijadikan
‘selir’. Segera sekelompok ‘wanita’ dalam istana datang menganti baju Lin Zhi
Yang, menyematkan bunga, mengoleskan lipstick; ada orang yang melihatnya tidak
memiliki lubang di telinga, segera mengambil jarum untuk menusuk kedua telinganya,
dia kesakitan sampai berteriak; mereka mengambil kain untuk membungkus kedua
kaki Lin Zhi Yang, sampai-sampai ia memerlukan bantuan untuk berjalan. Lin Zhi
Yang merasa sangat menderita, dan membuka pembungkus kakinya. Raja yang
mengetahuinya berkata: “Bagaimana bisa kamu tidak menaati peraturan? Kamu harus
diberi pelajaran.” Dia kemudian memanggil orang untuk memukulnya. Tak peduli bagaimanapun
Lin Zhi Yang meronta dan memohon, raja tetap memerintahkan orang untuk
mengurungnya. Menyiapkannya untuk pernikahan yang diadakan beberapa hari lagi.
Tang Ao
dan Duo Jiu Gong kembali ke penginapan. Mereka berpikir keras, dan setelah
berpikir sangat lama, mereka mendapatkan sebuah ide: Pengantin wanita, sebelum
menikah tidak boleh tinggal di rumah suaminya, karena itu, mereka berkata
kepada raja: “Sebelum pernikahan, Lin Zhi Yang harus kembali ke penginapan,
menungguh sampai waktu pernikahan, anda baru mengutus orang untuk menjemputnya
masuk istana.” Raja setuju melepaskan Lin Zhi Yang kembali, tetapi menyuruh orang
berjaga-jaga di sekitar penginapan.
Mengunakan
kesempatan di malam hari, Tang Ao dan Duo Jiu Gong mengendong Lin Zhi Yang yang
tubuhnya penuh luka, melarikan diri dari penjagaan prajurit Negeri Wanita,
tergesa-gesa meninggalkan penginapan dan naik ke atas kapal. Pergi dari Negeri
Wanita yang aneh ini.
Alkitab
berkata: Tuhan membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing. (Amsal
16:4) Begitu juga ketika Tuhan membentuk pria dan wanita. Allah memiliki tujuan
yang unik dan kusus bagi pria dan wanita.
Allah
menciptakan pria dengan kelebihan dan kekurangannya. Demikian juga Allah
menciptakan wanita dengan kelebihan dan kekurangannya. Meskipun Allah
menempatkan pria dan wanita sejajar, namun bukan berarti sama. Ada hal-hal yang
seharusnya dilakukan oleh pria, dan tidak dapat digantikan oleh wanita.
Sebaliknya, ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh wanita, namun tidak
dapat dilakukan oleh pria. Secara anatomi yang kelihatan saja, Allah
menciptakan pria dan wanita berbeda. Begitu juga dengan cara berpikir dan
perasaannya.
Kedudukan
pria tidak dapat digantikan oleh wanita, begitu juga sebaliknya. Terutama di
dalam keluarga. Dalam hubungan suami isteri. Allah telah menetapkan pria
sebagai kepala keluarga, dan isteri sebagai penolong. Meskipun ada wanita yang
sukses dan melebihi kesuksesan suaminya, namun di rumah, suaminya tetap adalah
kepala. Dan dia tetap wajib menghormati suaminya.
Tetapi
yang sering kali terjadi adalah, terbaliknya atau tidak dijalankannya dengan
baik fungsi yang telah ditetapkan oleh Allah ini. Ketimpangan ini bisa terjadi
akibat kesalahan pria atau wanita. Banyak pria yang enggan mengambil tanggung
jawabnya sebagai kepala – menjadi kepala adalah tanggung jawab, namun banyak
suami yang menganggapnya sebagai hak, dan mengunakannya untuk berlaku sesuka
hatinya terhadap keluarganya – . Ia menyerahkan segala keputusan yang diambil
dalam keluarga kepada isterinya. Sebaliknya banyak isteri-isteri yang berusaha
untuk mendominasi suaminya. Dan dia sulit tunduk pada otoritas suaminya.
Bayangkan!
Jika kita menukar letak kaki dan tangan kita. Kita tidak akan bisa berjalan dan
berkerja dengan baik. Walaupun mungkin kita masih bisa berjalan dan bekerja
dengan posisi tangan dan kaki yang ditukar, namun kita tidak mungkin
melakukannya sebaik jika kaki dan tangan kita berada di tempat yang semestinya.
Jadi,
biarlah tiap-tiap pria dan wanita tahu, di mana Allah menempatkan mereka. Dan
mereka menjalankan fungsi mereka sebaik mungkin sesuai dengan yang telah Allah
tetapkan. Maka, segala sesuatunya, terutama kehidupan berkeluarga akan berjalan
dengan baik. Karena segala sesuatu yang Allah tetapkan adalah baik adanya.
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena
suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah
yang menyelamatkan tubuh….. Bagaimanapun juga kamu masing-masing berlaku:
Kasihanilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati
suaminya.
( Efesus 5:22-23; 33 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar