Sabtu, 20 April 2013

Nan Guo yang Curang


Saat kecil, Nan Guo adalah anak yang sangat pintar, sehingga orang-orang menjulukinya sebagai “Anak Dewa.” Namun, lama kelamaan, Nan Guo menjadi orang yang sangat malas. Dan akhirnya, setelah dia dewasa, hidupnya sangat miskin.

Raja negeri Qi sangat menyukai musik, tetapi dia tidak suka mendengar satu orang saja yang bermain musik solo, dia hanya suka mendengar sangat banyak orang memainkan musik bersama-sama. Karena itu dia berencana mengumpulkan suatu grup musik besar yang terdiri dari 300 orang di dalam istananya.

Begitu berita ini tersebar, banyak pemain musik yang datang menemui Raja, mereka berharap agar bisa dipilih sebagai anggota dari grup musik yang dibuat oleh Raja. Waktu itu Nan Guo juga datang melamar dengan membawa alat musik. Raja yang sedang tergesa-gesa untuk mengumpulkan 300 orang pemusik, mendengar Nan Guo juga bisa bermain musik, hanya mengujinya sebentar saja lalu sudah menerimanya bergabung.

Sebenarnya Nan Guo tidak bisa bermain musik. Dia berbaur di dalam grup musik yang setiap kali melakukan pertunjukkan, dan dia berpura-pura juga sedang memainkan alat musik. Raja karena sangat asyik mendengarkan, terlena dalam alunan musik, tidak merasakan hal itu, dan membiarkan dia bergabung dalam grup musik itu selama beberapa tahun.

Kemudian Raja itu meninggal dunia, dan anaknya menggantikannya sebagai Raja. Raja yang baru juga suka mendengarkan musik, namun dia tidak suka musik yang dimainkan secara bersama-sama, dia meminta setiap orang di dalam grup musik secara bergiliran memainkan sebuah lagu untuknya. Hal ini sangat mengejutkan bagi Nan Guo karena dia sebenarnya tidak bisa bermain musik. Dan karena dia tidak ingin menerima penghinaan dari banyak orang, dia lalu pergi secara diam-diam pada tenggah malam.

Banyak orang yang merasa sudah cukup puas dengan dirinya. Mereka tidak ingin belajar lebih lagi untuk mengembangkan dirinya. Bahkan parahnya, saya menjumpai begitu banyak orang yang sama sekali tidak peduli dirinya berkembang atau tidak. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu untuk hal-hal yang menyenangkan mereka, daripada bersusah-susah belajar untuk mengembangkan diri mereka.

Sebenarnya, orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang paling kasihan. Mereka telah menyia-nyiakan potensi yang telah Allah berikan kepada mereka. Sebenarnya mereka bisa memberikan sesuatu yang lebih baik dari diri mereka, yang berguna bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Namun mereka lebih memilih untuk mengubur potensi mereka, daripada bersusah payah untuk mengalih dan mengembangkannya.

Ada ungkapan yang berkata, tempat yang paling kaya adalah pemakaman, karena di sana terkubur banyak potensi yang tidak pernah digunakan oleh pemiliknya. Yang jika digunakan mungkin akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Yesus berkata: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan di ambil daripadanya.” (Matius 13:12) Ini sepertinya tidak adil, tetapi Allah membenci orang yang malas. Di mata Allah, kemalasan adalah kejahatan. Dan Allah akan menghukum orang-orang yang malas. Sebaliknya, Allah mengasihi orang-orang yang rajin dan mau mengembangkan potensi yang Ia berikan pada mereka. Dan Allah akan menambahkan apa yang mereka miliki.

Dalam buku John C. Maxwell yang berjudul The Choice Is Yours, saya membaca sebuah ungkapan yang sangat bagus yang ditulis oleh Bill Purvis yang berbunyi: “Jika Anda lakukan apa yang Anda bisa lakukan, dengan apa yang Anda miliki, di tempat Anda berada, maka Tuhan tak akan meninggalkan Anda di tempat itu dan Ia akan menambah apa yang Anda miliki.”

Tepat sekali ungkapan tersebut, karena kasih karunia Allah akan dicurahkan kepada mereka yang rajin dan mau mengembangkan diri mereka. Dan Allah akan mengangkat mereka untuk menjadi kepala, dan bukan ekor.


Pernahkah engkau melihat orang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.
(Amsal 22:29)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar