Saat kecil, Nan Guo adalah anak yang
sangat pintar, sehingga orang-orang menjulukinya sebagai “Anak Dewa.” Namun,
lama kelamaan, Nan Guo menjadi orang yang sangat malas. Dan akhirnya, setelah
dia dewasa, hidupnya sangat miskin.
Raja negeri Qi sangat menyukai
musik, tetapi dia tidak suka mendengar satu orang saja yang bermain musik solo,
dia hanya suka mendengar sangat banyak orang memainkan musik bersama-sama. Karena
itu dia berencana mengumpulkan suatu grup musik besar yang terdiri dari 300
orang di dalam istananya.
Begitu berita ini tersebar, banyak
pemain musik yang datang menemui Raja, mereka berharap agar bisa dipilih
sebagai anggota dari grup musik yang dibuat oleh Raja. Waktu itu Nan Guo juga
datang melamar dengan membawa alat musik. Raja yang sedang tergesa-gesa untuk
mengumpulkan 300 orang pemusik, mendengar Nan Guo juga bisa bermain musik,
hanya mengujinya sebentar saja lalu sudah menerimanya bergabung.
Sebenarnya Nan Guo tidak bisa
bermain musik. Dia berbaur di dalam grup musik yang setiap kali melakukan
pertunjukkan, dan dia berpura-pura juga sedang memainkan alat musik. Raja
karena sangat asyik mendengarkan, terlena dalam alunan musik, tidak merasakan
hal itu, dan membiarkan dia bergabung dalam grup musik itu selama beberapa
tahun.
Kemudian Raja itu meninggal dunia,
dan anaknya menggantikannya sebagai Raja. Raja yang baru juga suka mendengarkan
musik, namun dia tidak suka musik yang dimainkan secara bersama-sama, dia
meminta setiap orang di dalam grup musik secara bergiliran memainkan sebuah
lagu untuknya. Hal ini sangat mengejutkan bagi Nan Guo karena dia sebenarnya
tidak bisa bermain musik. Dan karena dia tidak ingin menerima penghinaan dari
banyak orang, dia lalu pergi secara diam-diam pada tenggah malam.
Banyak orang yang merasa sudah cukup
puas dengan dirinya. Mereka tidak ingin belajar lebih lagi untuk mengembangkan
dirinya. Bahkan parahnya, saya menjumpai begitu banyak orang yang sama sekali
tidak peduli dirinya berkembang atau tidak. Mereka lebih memilih menghabiskan
waktu untuk hal-hal yang menyenangkan mereka, daripada bersusah-susah belajar
untuk mengembangkan diri mereka.
Sebenarnya, orang-orang yang
demikian adalah orang-orang yang paling kasihan. Mereka telah menyia-nyiakan
potensi yang telah Allah berikan kepada mereka. Sebenarnya mereka bisa
memberikan sesuatu yang lebih baik dari diri mereka, yang berguna bagi diri
mereka sendiri dan orang lain. Namun mereka lebih memilih untuk mengubur
potensi mereka, daripada bersusah payah untuk mengalih dan mengembangkannya.
Ada ungkapan yang
berkata, tempat yang paling kaya adalah pemakaman, karena di sana terkubur banyak potensi yang tidak
pernah digunakan oleh pemiliknya. Yang jika digunakan mungkin akan menghasilkan
sesuatu yang luar biasa.
Yesus berkata: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia
berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya
akan di ambil daripadanya.” (Matius 13:12) Ini sepertinya tidak adil,
tetapi Allah membenci orang yang malas. Di mata Allah, kemalasan adalah
kejahatan. Dan Allah akan menghukum orang-orang yang malas. Sebaliknya, Allah
mengasihi orang-orang yang rajin dan mau mengembangkan potensi yang Ia berikan
pada mereka. Dan Allah akan menambahkan apa yang mereka miliki.
Dalam buku John C. Maxwell yang
berjudul The Choice Is Yours, saya
membaca sebuah ungkapan yang sangat bagus yang ditulis oleh Bill Purvis yang
berbunyi: “Jika Anda lakukan apa yang Anda bisa lakukan, dengan apa yang Anda
miliki, di tempat Anda berada, maka Tuhan tak akan meninggalkan Anda di tempat
itu dan Ia akan menambah apa yang Anda miliki.”
Tepat sekali ungkapan tersebut,
karena kasih karunia Allah akan dicurahkan kepada mereka yang rajin dan mau
mengembangkan diri mereka. Dan Allah akan mengangkat mereka untuk menjadi
kepala, dan bukan ekor.
Pernahkah engkau melihat orang cakap dalam
pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan
orang-orang yang hina.
(Amsal 22:29)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar