Senin, 26 Mei 2014

Sebuah Universitas Terbaik



Ini adalah sebuah univesitas terbaik; jika kau bisa menyelesaikan semua kredit semester di sini, maka di masa depan, masih adakah hal lain yang tidak bisa kau lampaui dan diterobos?

Penuturan langsung seorang yang memenangkan mendali emas dalam Olimpiade Matematika Internasional.

28 Juli 1997, An Jinpeng, seorang siswa kelas 3 SMA dari Tianjin China, memenangkan medali emas dalam Olimpiade Matematika Internasional ke 38 yang diselenggarakan di Argentina, hal ini membuka lembaran baru sejarah bagi Tianjin China. Kesuksesan si jenius Matematika berusia 19 tahun ini adalah karena dia sudah belajar di sebuah universitas terbaik.

Tentunya Universitas Taiwan tidak termasuk dalam 100 besar dunia. Setelah Anda membaca penuturan lanngsung An Jinpeng di bawah ini, akan tahu apa itu universitas terbaik. Oh………… Oh……. Oh………. Sungguh-sungguh mengharukan.

5 September 1997, adalah hari dimana aku meninggalkan rumah pergi untuk meliput ke Institut Matematika Universitas Bejing. Setiap pagi asap dari dapur mengepul naik di atap rumah pertanianku yang tua dan reot. Ibuku yang timpang sedang meramas tepung untukku. Tepung ini diperoleh ibu dengan menukarkan 5 butir telur ayam dengan tetangga. Kakinya yang timpang adalah akibat 2 hari lalu terkilir di jalan saat mendorong segerobak penuh sayuran menuju kota demi mencarikan sedikit tambahan uang sekolah untukku. Sambil memegang mangkok, aku menangis. Aku meletakan sumpit dan berlutut di lantai, sangat lama mengusap kaki ibu yang bengkak melebihi Man Tao, air mataku mengalir jatuh ke lantai.

Rumahku di desa Da You Dai, Kabupaten Wuqing, Propinsi Tianjin, aku memiliki seorang ibu terbaik di dunia, namanya Li Yanxia. Keluargaku sangat miskin. Saat aku lahir, nenek terbaring sakit di atas tempat tidur batu. Saat umur 4 tahun, kakek menderita asma bronchial dan hemiplegia, hutang keluarga dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak.

Saat usia 7 tahun, aku masuk sekolah, uang sekolah ibu dapat dari meminjan kepada orang. Aku selalu memungut dan membawa pulang mata pensil yang dibuang oleh teman sekolahku, mengikatnya dengan benang pada sebatang ranting kecil dan memakainya untuk menulis, atau menghapus sampai bersih buku latihan yang telah penuh dengan penghapus, agar bisa digunakan lagi. Yang membuat ibu sedih adalah, terkadang sedikit uang membeli pensil dan buku tulis saja juga harus meminjam kepada orang lain.

Namun, ada juga saatnya ibu bahagia yaitu, tidak peduli ujian apapun, aku selalu menjadi nomer 1, Matematika aku selalu teratas. Karena dorongan ibu, aku merasa semakin belajar semakin menyenangkan. Aku sungguh tidak tahu apakah di dunia ini ada hal lain yang lebih menyenangkan selain belajar. Saat belum masuk SD, aku sudah selesai mempelajari aritmatika dan nilai desimal; saat SD, dengan mengandalkan belajar sendiri aku bisa memahami Matematika, Fisika, dan Kimia SPM; saat SMP, aku juga selesai mempelajari sendiri mata pelajaran ilmu eksakta SMA.

Mei 1994, kota Tianjin mengadakan kontes Fisika tingkat SMP. Aku adalah satu-satunya anak desa dari seluruh siswa 5 kabupaten di pinggiran kota yang masuk 3 besar. Juni tahun itu, aku direkrut oleh sebuah SMA terkenal di Tianjin, merasa senang luar biasa aku berlari pulang. Di luar dugaan, saat akan memberitahukan berita gembira ini kepada keluarga, wajah mereka sedang penuh dengan kesedihan ----- belum ada setengah tahun nenek meninggal dunia, kakek juga sedang sekarat, sekarang hutang keluarga sudah sampai 10.000 Yuan lebih.

Aku diam-diam kembali ke kamar, menangis seharian. Malamnya, aku mendengar suara pertengkaran di luar rumah. Ternyata ibu ingin menjual keledai milik kami, agar aku bisa bersekolah. Ayah berkeras tidak setuju. Perkataan mereka terdengar oleh kakek yang sedang sakit parah, kakek yang cemas langsung meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Setelah pemakaman kakek, hutang keluarga bertambah beberapa ribu Yuan. Aku tidak lagi menyinggung soal sekolah, surat perekrutan aku lipat dan masukan dalam sarung bantal, dan setiap hari ikut ibu bekerja di sawah.

Lewat 2 hari, aku dan ayah di waktu yang bersamaan mendapati, keledai sudah hilang!!! Dengan wajah marah ayah bertanya kepada ibu: "Kau sudah menjual keledai itu? Kau sudah gila! Kelak untuk menggiling tuaian, dan menjaul bahan makanan, kau harus mendorong dengan tanganmu, dan memikul dengan bahumu, uang beberapa sen hasil kau menjual keledai itu bisa untuk membiayai Jinpeng bersekolah 1 semester atau 2 semester?"

Hari itu, ibu menangis sangat keras. Dengan kata-kata yang kasar membentak ayah: "Anak ingin sekolah apa salah? Jinpeng berhasil masuk SMA di kota, di seluruh kabupaten Wuqing dialah satu-satunya! Kita tidak bisa membiarkan yang namanya kemiskinan menghambat masa depan anak. Meskipun aku harus mendorong dengan tangan, dan memikil dengan bahu, aku juga akan tetap menyuruhnya sekolah! "

Dengan memegang 600 Yuan yang ibu dapat dari menjual keledai, aku sungguh ingin berlutut dan berujud kepada ibuku. Aku sungguh-sungguh suka bersekolah, namun begitu aku bersekolah, ibu harus menanggung berapa banyak kesulitan dan penderitaan? Musim gugur tahun itu, aku pulang untuk mengambil baju musim dingin. Aku melihat wajah ayah sangat pucat, kurus seperti kulit membalut tulang, sedang berbaring di atas ranjang batu. Ibu mengatakan kepadaku dengan tenang: "Tidak apa-apa, hanya flu berat, sebentar lagi juga baik."

Siapa tahu, di hari kedua saat aku mengambil botol obat dan membaca tulisan bahasa Inggris di atasnya, ternyata obat-obat ini adalah untuk menghambat sel Kanker. Aku menarik ibu keluar rumah, sambil menangis bertanya padanya apa yang sebenarnya terjadi, ibu berkata sejak aku masuk SMA, ayah mulai berak darah, kian hari kian parah. Ibu meminjam 6000 Yuan untuk pergi periksa bolak balik Tianjin, Beijing, akhirnya didiagnosis sebagai polip usus, dan dokter mau ayah segera dioperasi.

Ibu siap meminjam uang lagi, tapi ayah tidak peduli hidup atau mati tidak akan setuju. Dia berkata, semua kerabat dan teman sudah dimintai hutang, hanya meminjam dan tidak membayar, siapa lagi yang masih bersedia meminjami kita? Hari itu, tetangga juga memberitahuku, ibu mengunakan cara yang kuno dan menyedihkan untuk menyelesaikan panenan, orang yang melihatnya langsung menangis, tapi tiap orang juga memiliki kesulitannya sendiri-sendiri sehingga tidak dapat membantu.

Dia tidak punya cukup kekuatan untuk mengangkat gandum ke tempat pengirikan gandum untuk digirik, juga tidak punya uang untuk membayar orang untuk membantu. Mana yang matang, itu yang dia potong. Kemudian dengan gerobak berpapan rata menariknya pulang ke rumah. Malam hari, di halaman dibentangkan selembar terpal plastik, dengan dua tangan meraup gandum dan menumbuknya di atas batu besar…… 3 Hektar gandum, dikerjakannya seorang diri, karena terlalu lelah, dia tidak bisa berdiri lagi, dan sambil berlutut menyabit gandum. Lututnya berdarah, saat berjalan meninggalkan jejak darah……… Tidak menunggu sampai tetangga selesai bercerita, aku segera berlari pulang, menangis dengan keras sambil berkata: " Ibu, ibu, aku tidak mau bersekolah lagi…….." Namun akhirnya ibu tetap mengusirku pergi ke sekolah.

Biaya hidupku setiap bulan 60 – 80 Yuan, sungguh sedikit dan menyedihkan jika dibandingkan teman sekolah lainnya yang sampai 200 – 240 Yuan. Namun, hanya aku yang tahu, demi sedikit uang ini, ibu menghemat dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit dari awal bulan. Setiap Yuannya didapat dari menjual telur ayam dan sayuran. Saat sungguh-sungguh tidak cukup, terpaksa harus meminjam 20 – 30 Yuan. Namun, ibu, ayah, dan adik laki-lakiku hampir-hampir tidak pernah makan sayur, hanya sedikit sayuran yang tidak ditumis dengan minyak, tapi mencampurnya dengan kua acar dan dimakan. Entah berapa tahun mereka makan makanan seperti ini.

Demi supaya aku tidak kelaparan, setiap bulan ibu harus berjalan kaki 10 mil lebih membawa untukku banyak mie instant. Setiap akhir bulan, ibu selalu membawa sebuah bungkusan besar yang mengembung, dengan susah payah datang ke Tianjin untuk menjengukku. Bungkusan itu selain berisi mie instant, juga kertas-kertas bekas yang ibu minta dari sebuah percetakan yang berada sejauh 6 mil dari rumah (yang aku gunakan sebagai kertas hitung), serta sebotol besar kecap pedas, asinan, dan sebuah pisau cukur. (Tukang cukur di Tianjin paling murah 5 Yuan, ibu ingin aku menghematnya untuk membeli Mantao).

Aku adalah satu-satunya siswa di SMA Tianjin yang tidak mampu membeli makanan di kantin, meskipun hanya sayuran. Aku hanya bisa membeli 2 buah Mantao, kembali ke asrama meremdam mie instant, dan mencampur kecap pedas dan asinan untuk dimakan; aku juga adalah satu-satunya siswa yang tidak mampu mengunakan kertas tulis, aku hanya bisa mengunakan kertas bekas yang satu sisinya ada cetakan huruf untuk membuat naskah; dan lagi, aku adalah satu-satunya siswa yang tidak mampu mengunakan sabun, saat mencuci baju, selalu pargi ke kantin untuk meminta sedikit bubuk soda. Namun, aku tidak pernah merasa rendah diri, aku merasa ibu adalah pahlawan yang menderita, yang berperang melawan nasib buruk, menjadi kehormatan terbesar bagi diriku, anaknya!

Saat baru masuk SMA Tianjin, pelajaran Bahasa Inggris membuatku bingung. Saat ibu datang, aku menceritakan kepadanya tentang ketakutanku kepada Bahasa Inggris dan kekuatiranku tidak dapat mengejar, siapa menyangka dia menjawab dengan senyum di wajahnya: " Ibu hanya tahu kau adalah anak yang paling bekerja keras, ibu tidak suka kau berkata sukar, karena begitu kau bekerja keras maka tidak ada yang sukar. " Aku mengingat perkataan ibu ini. Aku sedikit gagap, ada orang yang memberi tahuku, untuk bisa berbahasa Inggris, pertama-tama harus melatih lidah mendengar perkataan sendiri, karena itu aku sering mengambil sebutir batu dan memasukannya ke dalam mulut, kemudian berusaha menghafalkan bahasa Inggris.

Lidah dan batu terus bergesekan, terkadang darah ikut mengalir dari sudut bibir, tapi aku tetap bertahan. Setenggah tahun berlalu, batu kecil itu sudah menjadi bulat karena terus bergesekan, lidahku juga sudah menjadi rata karena terus bergesekan, nilai Bahasa Inggrisku masuk 3 besar di seluruh kelas. Aku sungguh berterima kasih kepada ibu, kata-katanya mendorong aku secara ajaib untuk melampaui hambatan besar dalam belajar.

Tahun 1996, aku mengikuti lomba Olimpiade ilmu pengetahuan Nasional untuk wilayah Tianjin. Memenangkan hadiah pertama untuk Fisika dan hadiah kedua untuk Matematika, dan akan mewakili Tianjin untuk pergi ke Hangzhou mengikuti kompetisi Fisika Nasional. Merebut juara satu Nasional untuk ibu, kemudian mengikuti Olimpiade Fisika Internasional. Aku tidak bisa menekan gejolak dalam hatiku, segera menulis surat untuk ibu untuk memberitahukan kabar gembira ini dan harapanku.

Akhirnya aku hanya mendapatkan juara kedua. Aku menyandarkan kepala di tempat tidur, tidak makan dan tidak minum, meskipun ini sudah menjadi prestasi terbaik dari semua peserta yang berasal dari kota Tianjin. Namun, untuk dikabarkan kepada ibu yang sudah bersusah payah, sungguh tidak cukup! Sekembali ke sekolah, para guru membantuku menganalisa penyebab kekalahan: Aku selalu ingin mengembangkan kemampuanku pada semua bidang Matematika, Fisika, dan Kimia. Terlalu banyak tujuan, dan menyebabkan energi terbagi-bagi. Jika sekarang aku memusatkan perhatian kepada Matematika, tentu akan berhasil.

Januari 1997, akhirnya aku menjadi peserta dalam kompetisi Matematika Nasional, dengan nilai yang penuh merebut juara pertama, dan masuk dalam tim pelatihan Nasional, juga dalam 10 kali ujian aku menjadi juara. Menurut peraturan, aku harus menanggung sendiri biaya untuk pergi ke Argentina untuk mengikuti kompetisi. Setelah menyerahkan biaya pendaftaran, aku mengemasi buku-buku yang harus disiapkan dan kecap pedas buatan ibu, persiapan untuk bekerja selesai sudah.

Wali kelas dan guru Matematika melihat aku masih tetap memakai baju pemberian orang lain, baju yang warna dan ukurannya tidak sesuai, lantas membuka lemariku, menunjuk kemeja, celana, jaket panjang, T-shirt yang di tambal, baju dalam, dan berkata: " Jinpeng, ini semua bajumu? " Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan dengan cepat berkata: "Guru, saya tidak takut kehilangan muka, ibu selalu berkata [Jika dalam perutmu ada kitab syair, saat bernapaspun akan keluar kebanggaan] Dengan memakai baju-baju itu, saya tidak takut meski harus menghadap Presiden Amerika Clinton. "

27 Juli, kompetisi resmi dimulai. Dari jam 08.30 pagi sampai jam 14.00 sore, kami mengerjakan soal ujian selama lima setenggah jam penuh. Hari kedua, saat pengumuman pemenang, yang pertama kali diumumkan adalah pemenang medali perunggu, aku tidak berharap namaku disebutkan; kemudian diumumkan pemenang medali perak; terakhir………. Diumumkan pemenang medali emas, yaitu aku!!!!! Aku gembira sampai menangis, dalam hati aku berseru: " Ibu, anakmu berhasil. "

Berita aku dan teman sekolahku yang lain yang berbagi medali emas dan perak pada Olimpiade Matematika Internasional ke 38, malam itu juga disiarkan oleh China National Radio dan Radio of China. 1 Agustus, saat kami kembali membawa prestasi, Asosiasi Ilmu Pengetahuan China dan Perhimpunan Matematika China mengadakan upacara penyambutan besar-besaran untuk kami. Saat itu, aku ingin pulang, aku ingin secepat mungkin bertemu ibu, aku ingin dengan tanganku sendiri mengantungkan medali emas yang berkilauan ini di lehernya.

Hari itu juga, jam 10 malam lebih, dengan meraba kegelapan, aku akhirnya sampai di rumah yang selalu aku rindukan. Ayahlah yang membukakan pintu, namun yang langsung aku tarik kedalam pelukanku, tetap adalah ibuku tercinta. Di bawah bintang yang gemerlapan, ibu menariku dan memeluku dengan erat………. Aku mengeluarkan medali emas, dan mengalungkannya di lehernya, dia menangis karena bahagia!

12 Agustus, pada pertemuan di dalam aula SMA Tianjin, ibu duduk di panggung krhormatan bersama pejabat Dewan Pendidikan Kota dan para dosen Matematika ternama. Hari itu, aku mengatakan pernyataan ini: " Saya ingin berterima kasih kepada seseorang dengan seluruh hidup saya, yaitu ibu yang telah memeliharaku tumbuh dewasa. Dia adalah wanita petani biasa, namun prinsip hidup yang dia ajarkan kepada saya, menginspirasi sepanjang hidup saya.

Saat SMA kelas 1, saya ingin membeli Kamus Lengkap Mandarin Inggris untuk belajar bahasa Inggris, ibu tidak punya uang, tapi dia berjanji akan mencarikan jalan. Setelah sarapan, demi untuk membeli sebuah kamus, ibu meminjam sebuah gerobak, memuat sawi putih, bersama saya menariknya sejauh 40 mil lebih untuk dijual di kota kabupaten. Sampai di kota kabupaten hari sudah hampir siang, paginya saya dan ibu hanya minum 2 magkuk bubur jagung, saat itu perut saya lapar sampai berbunyi, jengkelnya tidak segera ada pembeli yang membelinya, tapi ibu masih dengan sabar tawar mwnawar, akhirnya sepakat dengan 1 sen per pon.

210 pon sawi putih, seharusnya dibayar 21 Yuan, namun pembelinya Cuma membayar 20 Yuan. Setelah ada uang, saya ingin makan nasi dulu, tapi ibu berkata harus membeli kamus dulu! Ini adalah hal yang tepat. Kami pergi ke toko buku dan bertanya harganya, 18,25 Yuan, setelah membeli kamus hanya tersisa 1,75 Yuan. Ibu hanya memberi saya 7,5 sen untuk membeli 2 buah biscuit, dan berkata, sisanya yang 1 Yuan akan ditabung untuk biaya sekolah saya. Meskipun sudah makan 2 buah biscuit, sampai saat saya dan ibu bejalan pulang sejauh 40 mil lebih, saya sudah kelaparan sampai kepala saya pusing.

Di saat itu saya baru teringat, saya ternyata lupa untuk memberikan 1 biskuit untuk ibu. Dia kelaparan seharian, menarik gerobak sejauh 40 mil lebih. Saya menyesal, dan memukul telinga saya. Namun ibu berkata, "Ibu tidak berpendidikan, tapi ibu ingat saat kecil guru pernah membacakan perkataan Maxim Gorky…. Kemiskinan adalah sebuah universitas terbaik! Kau harus berhasil melewati universitas ini, dengan begitu universtas Tianjin atau Beijing bisa kau pilih sesukamu."

Saat ibu mengatakan itu, dia tidak melihat kepada saya, tapi melihat jalan di kejauhan, sepertinya jalan itu sungguh-sungguh akan sampai ke Tianjin atau Beijing. Mendengar itu perut saya tidak merasa lapar lagi, kaki saya juga tidak pegal lagi……….. Jika dikatakan bahwa kemiskinan adalah sebuah universitas terbaik, saya juga ingin berkata, ibu saya yang adalah petani, merupakan guru terbaik dalam hidap saya."

Entah berapa banyak para penonton yang menangis. Aku membalikan badan, menghadap pada ibuku yang rambutnya mulai memutih, dan membungkuk dalam-dalam………. Jika Anda semua masih menganggap bahwa kemiskinan bukanlah universitas terbaik, jika begitu seharusnya universitas terbaik adalah seorang ibu hebat yang sedang Anda semua lihat!

Catatan : Penulis Rusia Maxim Gorky pernah berkata: "Kemiskinan adalah sebuah universitas  terbaik, jika kau bisa menyelesaikan semua kredit semester di sini, maka di masa depan, masih adakah hal lain yang tidak bisa kau lampaui dan diterobos?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar