Sabtu, 31 Mei 2014

Jamuan Makan Buat Ayah

Sangat disarankan! Para bos harus membacanya! Memberi pencerahan, dan sangat mengharukan!

Bos, bisakah Anda mengundang ayah saya makan? Tentu saja, saya yang akan membayar biayanya…………

■■■ Setelah lulus, saya bekerja di departemen administrasi pada sebuah perusahaan perdagangan asing di Suzhou. Setiap hari pekerjaan saya adalah mengerjakan pekerjaan serabutan, mengetik, foto copy, dan menyusun data. Dengan giat saya melakukan pekerjaan bagian saya, hanya karena ingin mendapatkan tempat berpijak di kota ini. Karena kepribadian saya yang introvert, tidak suka menonjolkan diri, sering kali sepanjang hari di kantor hanya mengucapkan beberapa kata. Teman-teman sekantor sangat sungkan kepada saya, namun juga saling menjaga jarak masing-masing.

Hari itu, ayah menelpon dan berkata, ingin datang dan tinggal beberapa waktu lamanya. Sebenarnya saya tahu, ayah hanya ingin melihat bagaimana keadaan hidup saya; tinggal di mana? bagaimana lingkungan kerjanya? Punya teman atau tidak? Ibu sudah lama meninggal, ayah yang seorang diri membesarkan saya. Dalam kenangan masa kecil, seluruhnya adalah saat saya duduk di stang sepeda ayah yang bermerek Phoenix, mengkutinya menjual tahu dari jalan ke jalan.

Saya tidak memiliki teman di kota ini, bagaimana bisa memberi ayah sebuah alasan untuk tidak kuatir? Setelah dipikir-pikir, saya memutusan untuk mohon bantuan pada bos saya.

Sepanjang hari itu, mengamati gerak-gerik bos dengan hati-hati, beliau tentu tidak mengenal saya, bagaimana saya harus buka mulut kepadanya? Akankah beliau menyetujui permohonan saya yang konyol ini? Saya sangat bingung, menunggu sampai waktu pulang kantor, baru mengeraskan kepala dan mengetuk pintu ruangan beliau.

Ini adalah untuk pertama kalinya saya masuk ke ruangan bos, setelah setenggah tahun lebih saya bekerja di perusahaan ini.

Melihat saya masuk, beliau terlihat bingung dan bertanya, kamu siapa?

Saya sangat malu, dengan terbata-bata menjelaskan identitas saya. Bos melihat wajah saya yang memerah, sambil tersenyum berkata: "Jika ada masalah, bicara pelan-pelan."

Saya terdiam untuk waktu yang lama, kemudian berkata:"Saya harap Anda bersedia mengundang ayah saya makan, atau penanggung jawab perusahaan mengundang ayah saya makan atas nama perusahaan." Saya mengumpulkan keberanian yang besar, menceritakan banyak hal antara saya dengan ayah. "Ayah sangat menghawatirkan saya, selalu merasa saya akan menderita di luar, walau sebenarnya sangat baik, pekerjaan stabil, juga dipedulikan oleh pemimpin dan rekan kerja…………" Karena tegang, wajah saya semakin memerah, takut beliau tidak setuju, dan segera dengan terbata-bata menambahi, "Tentu saja, saya yang akan membayar biayanya…………

Tidak menunggu sampai saya selesai bicara, beliau menjawab: "Jumat malam kita makan bersama, bagaimana?"

Saya terkejut sejenak, lalu gembira: "Boleh, boleh, hari apa saja boleh."

"Baiklah, kamu bisa cuti beberapa hari, ajaklah ayahmu berjalan-jalan, saya akan menyuruh supir kantor, agar beberapa hari ini kamu bisa pergi keluar memakai mobil kantor."

Saya melambaikan tangan dengan gugup: "Tidak, tidak usah, sungguh tidak usah, saya sudah sangat berterima kasih kepada Anda." Saya tidak tahu harus berkata apa, hanya bisa membungkuk kepadanya.

Sebelum hari Jumat depan, supir mencariku, menemaniku menjemput ayah di stasiun dan pergi ke restoran. Supir menyebutkan nama restornnya, saya sungguh tidak menyangka, ini adalah restoran yang sangat mewah di kota ini, dan saya belum pernah masuk.

Itu adalah makan malam mewah dan hangat, menunya sangat banyak, bos membawa arak yang terbaik, seluruh staf perusahaan berpartisipasi. Sangat banyak orang yang tidak mengenal saya, biasanya bila bertemu hanya sebatas menganggukan kepala, namun di tengah jamuan makan ini, mereka menunjukan bahwa sangat mengenal saya, memuji proposal yang saya tulis sagat bagus, setiap hari sangat pagi sudah sampai di kantor. Semua orang mengobrol dengan santai, berbicara dan tertawa, serta menemani ayah minum dan bersenang-senang.

Lewat 2 hari, pagi-pagi benar supir sudah menunggu di lantai bawah flat sewaan saya, membawa saya dan ayah berkeliling kota yang indah ini.

2 hari kemudian, ayah membeli tiket untuk pulang, dan berkata: "Sebelum datang ke sini, ayah sangat kuatir, dan ingin tinggal beberapa hari, namun ayah melihat hidupmu sangat baik, ayah bisa pulang tanpa kuatir."

Setelah ayah pergi, saya siap mengucapkan terima kasih kepada bos. Namun sebelum sempat saya pergi menemui beliau, bos sudah mengelar pertemuan besar bagi seluruh staf perusahaan. Saat pertemuan, bos menyebut nama saya, beliau pertama-tama menyataan permintaan maaf kepada saya dan seluruh staf seperti saya atas ketidak pedulian yang pernah beliau lakukan, kemudian beliau berkata, ingin mengucapkan terima kasih kepada saya yang telah mengajuhkan permohonan ini, membuat beliau tahu, apa artinya manjadi kolaktif.

Perusahaan bukan hanya tempat bekerja, juga adalah sebuah keluarga besar di mana setiap orang saling memperdulikan dan mengasihi.

Selain kompetisi, selain kemajuan, selain keuntungan dan pengembangan, juga harus ada kehangatan yang biasa dimiliki oleh sebuah keluarga. Ini barulah disebut sebuah kelompok kolektif yang baik, sebuah kelompok kolektif yang selamanya akan tetap maju ke depan. Sambil berkata, bos bangkit berdiri, membungkuk dalam-dalam kepada seluruh anggota staf.

Di tengah tepuk tangan yang panjang, saya menangis untuk kehangatan seperti ini.

Sejak saat itu, saya menjadi termotivasi, inisiatif, dan antusias. Perusahaan juga berubah, tidak lagi seperti yang dulu, hubungan antara yang satu dengan lainnya hanya penuh dengan sopan santun profesional. Suasana menjadi lebih hangat. Di antara anggota staf saling mempedulikan, seperti keluarga sendiri.

Tahun 2009, ketika krisis moneter melanda seluruh dunia, sangat banyak perusahaan perdagangan yang mengalami kerugian besar, sampai bangkrut. Tapi perusahaan kami bukan hanya tidak mengalami kerugian, tapi juga ada sedikit surplus.

Hari ini, 3 tahun sejak saat itu, saya sudah dipromosikan dari seorang pegawai kecil menjadi manajer bisnis perusahaan. Saya selalu mengingat pengalaman ini, dan menceritakan kisah ini kepada setiap pegawai baru, serta mempraktekkan "kekuatan kasih sayang mengalahkan semua konsep." Sampai hari ini, semua orang di perusahaan berkata, itu adalah pelajaran terbaik seumur hidup mereka.

Orang yang Anda benci, tidak akan Anda jumpai lagi di kehidupan mendatang, karena itu jangan membuang-buang waktu dengan dia; orang yang Anda kasihi, juga tidak akan Anda jumpai lagi di kehidupan mendatang, karena itu pelakukanlah dia dengan sebaik-baiknya di kehidupan ini.

Orang yang berhikmat pasti rendah hati, dan orang yang baik pasti bermurah hati; hanya orang yang bodoh pasti bertindak agresif, dan orang yang fasik pasti sangat memperhitungkan untung rugi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar