Sangat disarankan! Para
bos harus membacanya! Memberi pencerahan, dan sangat mengharukan!
Bos, bisakah Anda mengundang ayah
saya makan? Tentu saja, saya yang akan membayar biayanya…………
■■■ Setelah lulus, saya bekerja di departemen administrasi pada sebuah perusahaan perdagangan
asing di Suzhou.
Setiap hari pekerjaan saya adalah mengerjakan pekerjaan serabutan, mengetik,
foto copy, dan menyusun data. Dengan giat saya melakukan pekerjaan bagian saya,
hanya karena ingin mendapatkan tempat berpijak di kota ini. Karena kepribadian saya yang
introvert, tidak suka menonjolkan diri, sering kali sepanjang hari di kantor
hanya mengucapkan beberapa kata. Teman-teman sekantor sangat sungkan kepada
saya, namun juga saling menjaga jarak masing-masing.
Hari itu, ayah
menelpon dan berkata, ingin datang dan tinggal beberapa waktu lamanya.
Sebenarnya saya tahu, ayah hanya ingin melihat bagaimana keadaan hidup saya;
tinggal di mana? bagaimana lingkungan kerjanya? Punya teman atau tidak? Ibu
sudah lama meninggal, ayah yang seorang diri membesarkan saya. Dalam kenangan
masa kecil, seluruhnya adalah saat saya duduk di stang sepeda ayah yang
bermerek Phoenix, mengkutinya menjual tahu dari jalan ke jalan.
Saya
tidak memiliki teman di kota
ini, bagaimana bisa memberi ayah sebuah alasan untuk tidak kuatir? Setelah
dipikir-pikir, saya memutusan untuk mohon bantuan pada bos saya.
Sepanjang hari
itu, mengamati gerak-gerik bos dengan hati-hati, beliau tentu tidak mengenal
saya, bagaimana saya harus buka mulut kepadanya? Akankah beliau menyetujui
permohonan saya yang konyol ini? Saya sangat bingung, menunggu sampai waktu
pulang kantor, baru mengeraskan kepala dan mengetuk pintu ruangan beliau.
Ini
adalah untuk pertama kalinya saya masuk ke ruangan bos, setelah setenggah tahun
lebih saya bekerja di perusahaan ini.
Melihat
saya masuk, beliau terlihat bingung dan bertanya, kamu siapa?
Saya
sangat malu, dengan terbata-bata menjelaskan identitas saya. Bos melihat wajah
saya yang memerah, sambil tersenyum berkata: "Jika ada masalah, bicara
pelan-pelan."
Saya
terdiam untuk waktu yang lama, kemudian berkata:"Saya harap Anda bersedia
mengundang ayah saya makan, atau penanggung jawab perusahaan mengundang ayah
saya makan atas nama perusahaan." Saya mengumpulkan keberanian yang besar,
menceritakan banyak hal antara saya dengan ayah. "Ayah sangat
menghawatirkan saya, selalu merasa saya akan menderita di luar, walau
sebenarnya sangat baik, pekerjaan stabil, juga dipedulikan oleh pemimpin dan
rekan kerja…………" Karena tegang, wajah saya semakin memerah, takut beliau
tidak setuju, dan segera dengan terbata-bata menambahi, "Tentu saja, saya yang akan membayar biayanya…………
Tidak
menunggu sampai saya selesai bicara, beliau menjawab: "Jumat malam kita
makan bersama, bagaimana?"
Saya
terkejut sejenak, lalu gembira: "Boleh, boleh, hari apa saja
boleh."
"Baiklah,
kamu bisa cuti beberapa hari, ajaklah ayahmu berjalan-jalan, saya akan menyuruh
supir kantor, agar beberapa hari ini kamu bisa pergi keluar memakai mobil
kantor."
Saya
melambaikan tangan dengan gugup: "Tidak, tidak usah, sungguh tidak usah,
saya sudah sangat berterima kasih kepada Anda." Saya tidak tahu harus
berkata apa, hanya bisa membungkuk kepadanya.
Sebelum
hari Jumat depan, supir mencariku, menemaniku menjemput ayah di stasiun dan
pergi ke restoran. Supir menyebutkan nama restornnya, saya sungguh tidak
menyangka, ini adalah restoran yang sangat mewah di kota ini, dan saya belum pernah masuk.
Itu adalah
makan malam mewah dan hangat, menunya sangat banyak, bos membawa arak yang
terbaik, seluruh staf perusahaan berpartisipasi. Sangat banyak orang yang tidak
mengenal saya, biasanya bila bertemu hanya sebatas menganggukan kepala, namun
di tengah jamuan makan ini, mereka menunjukan bahwa sangat mengenal saya,
memuji proposal yang saya tulis sagat bagus, setiap hari sangat pagi sudah
sampai di kantor. Semua orang mengobrol dengan santai, berbicara dan tertawa, serta
menemani ayah minum dan bersenang-senang.
Lewat
2 hari, pagi-pagi benar supir sudah menunggu di lantai bawah flat sewaan saya,
membawa saya dan ayah berkeliling kota
yang indah ini.
2
hari kemudian, ayah membeli tiket untuk pulang, dan berkata: "Sebelum
datang ke sini, ayah sangat kuatir, dan ingin tinggal beberapa hari, namun ayah
melihat hidupmu sangat baik, ayah bisa pulang tanpa kuatir."
Setelah
ayah pergi, saya siap mengucapkan terima kasih kepada bos. Namun sebelum sempat
saya pergi menemui beliau, bos sudah mengelar pertemuan besar bagi seluruh staf
perusahaan. Saat pertemuan, bos menyebut nama saya, beliau pertama-tama
menyataan permintaan maaf kepada saya dan seluruh staf seperti saya atas
ketidak pedulian yang pernah beliau lakukan, kemudian beliau berkata, ingin
mengucapkan terima kasih kepada saya yang telah mengajuhkan permohonan ini,
membuat beliau tahu, apa artinya manjadi kolaktif.
Perusahaan
bukan hanya tempat bekerja, juga adalah sebuah keluarga besar di mana setiap
orang saling memperdulikan dan mengasihi.
Selain
kompetisi, selain kemajuan, selain keuntungan dan pengembangan, juga harus ada
kehangatan yang biasa dimiliki oleh sebuah keluarga. Ini barulah disebut sebuah
kelompok kolektif yang baik, sebuah kelompok kolektif yang selamanya akan tetap
maju ke depan. Sambil berkata, bos bangkit berdiri, membungkuk dalam-dalam
kepada seluruh anggota staf.
Di
tengah tepuk tangan yang panjang, saya menangis untuk kehangatan seperti ini.
Sejak saat itu,
saya menjadi termotivasi, inisiatif, dan antusias. Perusahaan juga berubah,
tidak lagi seperti yang dulu, hubungan antara yang satu dengan lainnya hanya penuh
dengan sopan santun profesional. Suasana menjadi lebih hangat. Di antara
anggota staf saling mempedulikan, seperti keluarga sendiri.
Tahun 2009,
ketika krisis moneter melanda seluruh dunia, sangat banyak perusahaan
perdagangan yang mengalami kerugian besar, sampai bangkrut. Tapi perusahaan
kami bukan hanya tidak mengalami kerugian, tapi juga ada sedikit surplus.
Hari ini, 3
tahun sejak saat itu, saya sudah dipromosikan dari seorang pegawai kecil
menjadi manajer bisnis perusahaan. Saya selalu mengingat pengalaman ini, dan
menceritakan kisah ini kepada setiap pegawai baru, serta mempraktekkan
"kekuatan kasih sayang mengalahkan semua konsep." Sampai hari ini,
semua orang di perusahaan berkata, itu adalah pelajaran terbaik seumur hidup
mereka.
Orang yang Anda
benci, tidak akan Anda jumpai lagi di kehidupan mendatang, karena itu jangan
membuang-buang waktu dengan dia; orang yang Anda kasihi, juga tidak akan Anda
jumpai lagi di kehidupan mendatang, karena itu pelakukanlah dia dengan
sebaik-baiknya di kehidupan ini.
Orang yang
berhikmat pasti rendah hati, dan orang yang baik pasti bermurah hati; hanya
orang yang bodoh pasti bertindak agresif, dan orang yang fasik pasti sangat
memperhitungkan untung rugi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar