Kamis, 31 Januari 2013

Pria Kaya


Saya mengenal seorang wanita dari keluarga sederhana yang kemudian menikah dengan seorang pria kaya namun tidak seiman. Dan wanita ini memilih untuk meninggalkan Tuhan dan mengikuti keyakinan si pria demi untuk mendapatkan pria kaya tersebut. Dan ironoisnya, wanita ini mengajarkan kepada adik perempuannya yang masih remaja untuk mengikuti jejaknya. Mencari suami orang kaya, meskipun harus meninggalkan Tuhan.

Gadis remaja ini kemudian bercerita dan bertanya kepada saya: "Ce, itu kan sama saja dengan menjual Yesus?"

"Benar, karena itu kamu jangan cari cowok kaya. Tapi kamu harus cari yang takut akan Tuhan. Kekayaan itu bisa lenyap sewaktu-waktu. Tapi hati yang takut akan Tuhan tetap selamanya, dan Tuhan sanggup memberkati kamu dengan kekayaan." Jawab saya kepadanya. Dan saya bersyukur, gadis itu bisa memiliki pemikiran seperti itu.

Di dunia yang semakin materialistis saat ini. Di mana orang-orang diarahkan untuk mengikuti gaya hidup konsumtif. Kota-kota besar sudah menjadi hutan mall yang dikemas sedemikian rupa untuk menarik minat masyarakat. Belum lagi iklan-iklan yang memamerkan barang-barang yang merangsang kesenangan manusia, dan membuat seolah-olah hidup tidaklah lengkap tanpa memiliki barang-barang itu. Semua itu membuat manusia tidak lagi bisa membedahkan kebutuhan dan keinginan. Yang mengakibatkan pengejaran manusia akan kesenangan hidup semakin meningkat dan meningkat, dan akhirnya manusia menjadi semakin materialistis.

Demi pengejaran akan kesnangan itulah manusia jadi rela untuk melakukan segalanya, termasuk hal-hal yang bertentangan dengan moral, seperti berhutang – termasuk pemakaian kartu keredit yang berlebihan –, korupsi, menipuh, sampai menjual diri, bahkan menjual Tuhan.

Ironisnya matrealistisme ini juga masuk ke dalam gereja. Ada banyak wanita Kristen yang menentukan kreteria pasangan hidupnya berdasarkan "kemapanan" seorang pria dan bukan karena kualitas rohaninya. Menurunkan makna ucapan rasul Paulus tentang pasangan hidup yang seimbang hanya dengan standar seorang pria bergereja atau tidak menjadi hal yang biasa. Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?   ( 2 Kor 6:14 ). Cukup dengan melihat apakah pria tersebut "beragama" Kristen dan pergi ke gereja setiap hari Minggu, berarti pria tersebut sudah memenui standart pasangan hidup yang seimbang. Tidak peduli apakah pria tersebut punya hubungan pribadi dengan Tuhan atau tidak. Apakah hidupnya sesuai dengan firman Tuhan. Dan apakah motifasinya untuk pergi ke gereja setiap Minggu. Apakah dia ke gereja karena rindu untuk beribada dan menyembah Tuhan. Ataukah ada motifasi yang lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Saya pernah mendengar tentang seorang pria yang pergi ke gereja untuk mencari pasangan hidup karena dia mendengar bahwa wanita di gereja lebih baik daripada wanita di luar gereja.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah, wanita-wanita Kristen yang menjalin hubungan dengan pria yang tidak mengenal Tuhan dengan alasan sekalian pengInjilan. Mereka mengira dengan mereka berpacaran dengan pria yang tidak seiman, akhirnya mereka akan dapat menarik pria tersebut untuk datang kepada Tuhan. Mereka tidak menyadari, bahwa mungkin sebaliknya mereka yang justu akan terbawa oleh pria tersebut dan meninggalkan Tuhan. Yesus berkata, bahwah kita bukan dari dunia ini, melainkan Dia telah memilih kita dari dunia dan menjadikan kita anak-anak Allah. ( Yoh 15:19, 1:12 ) karena itu posisi kita tidak sama dengan posisi orang dunia. Kita di "atas" dan dunia di "bawah". Oleh sebab itu, akan lebih mudah untuk dunia menarik kita ke bawah daripada kita menarik dunia ke atas. Sebagai contoh, akan jauh lebih mudah dan membutuhkan tenaga yang lebih sedikit jika kita hendak memindahkan barang seberat 10 kg dari lantai atas ke lantai bawah, dibandingkan jika kita hendak menaikkan benda seberat 10 kg dari lantai bawah ke lantai atas.

Juga jika seandainya pria tersebut mau mengikuti kita ke gereja dan "menerima Tuhan", belum tentu motifasinya benar karena dia percaya kepada Tuhan. Bisa jadi motifasinya hanya untuk menyenangkan kita dan mengambil hati kita, dan setelah berhasil mendapatkan kita, dia justru berbalik melarang kita untuk mengikuti Tuhan. Beberapa tahun lalu saya mengenal seorang petugas rumah sakit yang membantu saya fisioterapi. Bapak ini beragama lain, tapi isterinya dulu adalah seorang Katolik. Dia bercerita bagaimana dia dulu mengikuti isterinya ke gereja, dan akhirnya dia pun setuju untuk menikah secara Katolik. Namun seiring berjalannya waktu, dia mulai mengajak isterinya mengikuti kewajiban agamanya untuk menjaga sikap saling menghargai. Akhirnya, setelah ke dua anak mereka menginjak remaja, isterinya pun beralih mengikuti agamanya. Begitulah akhirnya, bukan wanita Kristen yang menarik seorang pria kepada Tuhan, sebaliknya justru wanita Kristenlah yang sering kali ditarik untuk meninggalkan Tuhan.

Sebenarnya "kemapanan" sama sekali tidak menjamin kebahagiaan sebuah pernikahan. Kebahagiaan sebuah pernikah hanya bisa dibangun atas dasar rasa takut akan Tuhan. Jika suami dan isteri sama-sama memiliki hati yang takut akan Tuhan, maka mereka telah memiliki dasar pernikahan yang kokoh. Seorang konselor pernikahan mengatakan, membangun sebuah pernikahan ibarat 2 orang arsitek yang bersepakat membangun bersama sebuah rumah. Ke dua orang arsitek ini masing-masing memiliki blue print yang berbeda. Blue print mewakili pandangan seseorang tentang bagaimana sebuah pernikahan seharusnya dibangun. Pandangan tentang bagaimana sebuah pernikahan harus dibangun berbedah untuk masing-masing orang. Pandangan ini terbentuk karena banyak faktor, dan faktor terbesar adalah latar belakang keluarga.  Seseorang cenderung membangun sebuah pernikahan berdasarkan contoh orang tua mereka dalam membangu sebuah keluarga. Selain itu ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi pandangan seseorang tentang sebuah pernikahan, seperti informasi yang mereka dapat dari buku, media, dan lain sebagainya.

Jadi bayangkan, jika 2 orang arsitek dengan blue print yang berbedah membangun sebuah rumah. Pastilah rumah yang mereka bangun hasilnya akan berantakan. Karena itu, agar mereka dapat membangun sebuah rumah dengan benar, mereka harus sepakat dengan 1 blue print yang benar. Mereka harus rela membuang blue print yang mereka miliki, jika itu tidak sesuai dengan blue print yang benar. Dan satu-satunya blue print yang benar untuk membangun sebuah pernikahan adalah firman Tuhan. Karena itu, untuk bisa membuang pandangannya yang salah tentang pernikahan, dan menerima firnam Tuhan sebagai satu-satunya blue print dalam membangun sebuah pernikahan, suami dan isteri harus sama-sama memiliki hati yang takut akan Tuhan.

Karena itu, apa gunanya memperoleh suami yang mapan tapi tidak mengasihi kita dengan sepenuh hati? Apa gunanya memiliki suami yang kaya tapi selalu berbeda pendapat dengan kita? Dan apa gunanya kekayaan jika pernikahan kita selalu dipenuhi dengan pertengkaran?

Selain itu "kemapanan" sifatnya sangat sementara. Kekayaan dapat hilang dengan seketika oleh banyak sebab, seperti kebangkrutan, bencana, penyakit dan banyak hal lainnya.

Guru les saya mempunyai teman seorang pria yang kaya, namun kemudian dia jadi sakit-sakitan. Karena dia sudah tidak bisa bekerja lagi dan sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatannya, akhirnya dia jatuh miskin. Setelah dia jatuh miskin, isterinya pergi dengan pria lain membawa semua sisa uang yang mereka miliki. Seorang pria kaya dengan latar belakang keluarga yang juga kaya, prusahaan pribadi, rumah mewah, dan banyak mobil. Akhinya tinggal sendirian dan tanpa memiliki di sebuah rumah kontrakan kecil. Bahkan untuk pergi ke mana-mana, guru les saya meminjamkan mobil adiknya yang sudah meninggal, agar mobil itu tidak hanya tergeletak di garasi dan menjadi rusak, karena guru saya tidak mau menjual mobil peninggalan adiknya itu.

Karena itu uang bukanlah segalahnya, dan janji Tuhan berkata:

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu kekayaan dan mekulianNya dalam Kristus Yesus.

( Filipi 4:19 )

Dari ayat di atas kita bisa mengetahui bahwa Tuhan akan memenuhi segala keperluan kita, bukan hanya menurut kekayaan yang kita miliki, tapi menurut kekayaan dan kemulianNya. Jika kita berusaha untuk memenuhi sendiri semua keperluan kita menurut kekayaan kita, dengan berusaha mencari suami seorang pria yang mapan, maka janji Tuhan itu tidak akan berlaku untuk kita. Karena Tuhan ingin kita sepenuhnya bergantung kepada Dia.

Selain itu, agar Tuhan dapat memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemulianNya di perlukan satu syarat mutlak, yaitu janji tersebut hanya dapat dipenuhi di dalam Kristus. Di luar Kristus, tidak ada satu pun janji Allah yang akan digenapi. Alkitab berkata: Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. ( II Korintus 1:20 )

Oleh sebab itu, sebagai anak-anak Tuhan, janganlah pernikahan kita hanya dilandasi dengan keinginan untuk bahagia ( dengan mencari suami yang kaya ), atau karena kita merasa menikah adalah fase yang normal dalam kehidupan setiap manusia. Jika seseoang belum menikah, maka kehidupannya belum lengkap. Semua landasan itu adalah landasan yang sangat rapuh untuk membangun sebuah pernikahan.

Hendaknya landasan kita untuk membangun sebuah pernikahan adalah, "agar kehendak Tuhan terlaksana dalam hidup kita melalui pernikahan." Dengan begitu, kita juga harus sepenuhnya bergantung pada Tuhan untuk menentukan pasangan hidup kita. Karena Tuhan yang paling mengetahui, dengan siapa kita akan dapat saling melengkapi untuk mengenapi tujuan Tuhan dalam hidup kita.

Jika pernikahan kita dilandasi oleh kerinduan "agar kehendak Tuhan terlaksana dalam hidup kita melalui pernikahan." Tuhan sendiri yang akan campur tangan dalam kehidupan pernikahan kita. Walaupun mungkin, dalam perjalanannya, pernikahan kita tidak luput dari badai, namun badai tersebut tidak akan menghancurkan batera rumah tangga kita, karena Kristus senantiasa hadir di dalamnya.

Jadi untuk memiliki kehidupan pernikahan yang berbahagia, janganlah kita berusaha dengan kekuatan kita sendiri, dengan memilih pasangan hidup yang baik menurut kita dan menjamin masa depan kita.

Sebaliknya, kita harus mendasarkan keputusan kita pada kehendak Tuhan. Apa yang baik dan berkenan menurut Tuhan. Supaya kita bisa memenuhi kehendak Allah dalam hidup kita melalui pernikahan. Maka kebahagiaan itu akan mengikuti kita sepanjang hidup pernikahan kita.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
( Matius 6:13 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar