Saya mengenal seorang wanita
dari keluarga sederhana yang kemudian menikah dengan seorang pria kaya namun
tidak seiman. Dan wanita ini memilih untuk meninggalkan Tuhan dan mengikuti
keyakinan si pria demi untuk mendapatkan pria kaya tersebut. Dan ironoisnya,
wanita ini mengajarkan kepada adik perempuannya yang masih remaja untuk
mengikuti jejaknya. Mencari suami orang kaya, meskipun harus meninggalkan
Tuhan.
Gadis remaja ini kemudian
bercerita dan bertanya kepada saya: "Ce, itu kan sama saja dengan menjual Yesus?"
"Benar, karena itu kamu
jangan cari cowok kaya. Tapi kamu harus cari yang takut akan Tuhan. Kekayaan
itu bisa lenyap sewaktu-waktu. Tapi hati yang takut akan Tuhan tetap selamanya,
dan Tuhan sanggup memberkati kamu dengan kekayaan." Jawab saya kepadanya.
Dan saya bersyukur, gadis itu bisa memiliki pemikiran seperti itu.
Di dunia yang semakin
materialistis saat ini. Di mana orang-orang diarahkan untuk mengikuti gaya hidup konsumtif.
Kota-kota besar sudah menjadi hutan mall yang dikemas sedemikian rupa untuk
menarik minat masyarakat. Belum lagi iklan-iklan yang memamerkan barang-barang
yang merangsang kesenangan manusia, dan membuat seolah-olah hidup tidaklah
lengkap tanpa memiliki barang-barang itu. Semua itu membuat manusia tidak lagi bisa
membedahkan kebutuhan dan keinginan. Yang mengakibatkan pengejaran manusia akan
kesenangan hidup semakin meningkat dan meningkat, dan akhirnya manusia menjadi
semakin materialistis.
Demi pengejaran akan
kesnangan itulah manusia jadi rela untuk melakukan segalanya, termasuk hal-hal
yang bertentangan dengan moral, seperti berhutang – termasuk pemakaian kartu
keredit yang berlebihan –, korupsi, menipuh, sampai menjual diri, bahkan
menjual Tuhan.
Ironisnya matrealistisme ini
juga masuk ke dalam gereja. Ada
banyak wanita Kristen yang menentukan kreteria pasangan hidupnya berdasarkan
"kemapanan" seorang pria dan bukan karena kualitas rohaninya.
Menurunkan makna ucapan rasul Paulus tentang pasangan hidup yang seimbang hanya
dengan standar seorang pria bergereja atau tidak menjadi hal yang biasa. Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak
seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat
antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan
gelap? ( 2 Kor 6:14 ). Cukup dengan
melihat apakah pria tersebut "beragama" Kristen dan pergi ke gereja
setiap hari Minggu, berarti pria tersebut sudah memenui standart pasangan hidup
yang seimbang. Tidak peduli apakah pria tersebut punya hubungan pribadi dengan
Tuhan atau tidak. Apakah hidupnya sesuai dengan firman Tuhan. Dan apakah
motifasinya untuk pergi ke gereja setiap Minggu. Apakah dia ke gereja karena
rindu untuk beribada dan menyembah Tuhan. Ataukah ada motifasi yang lain yang
sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Saya pernah mendengar tentang
seorang pria yang pergi ke gereja untuk mencari pasangan hidup karena dia
mendengar bahwa wanita di gereja lebih baik daripada wanita di luar gereja.
Yang lebih menyedihkan lagi
adalah, wanita-wanita Kristen yang menjalin hubungan dengan pria yang tidak
mengenal Tuhan dengan alasan sekalian pengInjilan. Mereka mengira dengan mereka
berpacaran dengan pria yang tidak seiman, akhirnya mereka akan dapat menarik
pria tersebut untuk datang kepada Tuhan. Mereka tidak menyadari, bahwa mungkin
sebaliknya mereka yang justu akan terbawa oleh pria tersebut dan meninggalkan
Tuhan. Yesus berkata, bahwah kita bukan dari dunia ini, melainkan Dia telah
memilih kita dari dunia dan menjadikan kita anak-anak Allah. ( Yoh 15:19, 1:12
) karena itu posisi kita tidak sama dengan posisi orang dunia. Kita di
"atas" dan dunia di "bawah". Oleh sebab itu, akan lebih
mudah untuk dunia menarik kita ke bawah daripada kita menarik dunia ke atas.
Sebagai contoh, akan jauh lebih mudah dan membutuhkan tenaga yang lebih sedikit
jika kita hendak memindahkan barang seberat 10 kg dari lantai atas ke lantai
bawah, dibandingkan jika kita hendak menaikkan benda seberat 10 kg dari lantai
bawah ke lantai atas.
Juga jika seandainya pria
tersebut mau mengikuti kita ke gereja dan "menerima Tuhan", belum
tentu motifasinya benar karena dia percaya kepada Tuhan. Bisa jadi motifasinya
hanya untuk menyenangkan kita dan mengambil hati kita, dan setelah berhasil
mendapatkan kita, dia justru berbalik melarang kita untuk mengikuti Tuhan.
Beberapa tahun lalu saya mengenal seorang petugas rumah sakit yang membantu
saya fisioterapi. Bapak ini beragama lain, tapi isterinya dulu adalah seorang
Katolik. Dia bercerita bagaimana dia dulu mengikuti isterinya ke gereja, dan
akhirnya dia pun setuju untuk menikah secara Katolik. Namun seiring berjalannya
waktu, dia mulai mengajak isterinya mengikuti kewajiban agamanya untuk menjaga
sikap saling menghargai. Akhirnya, setelah ke dua anak mereka menginjak remaja,
isterinya pun beralih mengikuti agamanya. Begitulah akhirnya, bukan wanita Kristen
yang menarik seorang pria kepada Tuhan, sebaliknya justru wanita Kristenlah
yang sering kali ditarik untuk meninggalkan Tuhan.
Sebenarnya
"kemapanan" sama sekali tidak menjamin kebahagiaan sebuah pernikahan.
Kebahagiaan sebuah pernikah hanya bisa dibangun atas dasar rasa takut akan
Tuhan. Jika suami dan isteri sama-sama memiliki hati yang takut akan Tuhan,
maka mereka telah memiliki dasar pernikahan yang kokoh. Seorang konselor
pernikahan mengatakan, membangun sebuah pernikahan ibarat 2 orang arsitek yang
bersepakat membangun bersama sebuah rumah. Ke dua orang arsitek ini
masing-masing memiliki blue print yang
berbeda. Blue print mewakili
pandangan seseorang tentang bagaimana sebuah pernikahan seharusnya dibangun.
Pandangan tentang bagaimana sebuah pernikahan harus dibangun berbedah untuk
masing-masing orang. Pandangan ini terbentuk karena banyak faktor, dan faktor
terbesar adalah latar belakang keluarga. Seseorang cenderung membangun sebuah pernikahan
berdasarkan contoh orang tua mereka dalam membangu sebuah keluarga. Selain itu
ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi pandangan seseorang tentang sebuah
pernikahan, seperti informasi yang mereka dapat dari buku, media, dan lain
sebagainya.
Jadi bayangkan, jika 2 orang
arsitek dengan blue print yang
berbedah membangun sebuah rumah. Pastilah rumah yang mereka bangun hasilnya
akan berantakan. Karena itu, agar mereka dapat membangun sebuah rumah dengan
benar, mereka harus sepakat dengan 1 blue
print yang benar. Mereka harus rela membuang blue print yang mereka miliki, jika itu tidak sesuai dengan blue print yang benar. Dan satu-satunya blue print yang benar untuk membangun
sebuah pernikahan adalah firman Tuhan. Karena itu, untuk bisa membuang
pandangannya yang salah tentang pernikahan, dan menerima firnam Tuhan sebagai
satu-satunya blue print dalam
membangun sebuah pernikahan, suami dan isteri harus sama-sama memiliki hati
yang takut akan Tuhan.
Karena itu, apa gunanya
memperoleh suami yang mapan tapi tidak mengasihi kita dengan sepenuh hati? Apa
gunanya memiliki suami yang kaya tapi selalu berbeda pendapat dengan kita? Dan
apa gunanya kekayaan jika pernikahan kita selalu dipenuhi dengan pertengkaran?
Selain itu
"kemapanan" sifatnya sangat sementara. Kekayaan dapat hilang dengan
seketika oleh banyak sebab, seperti kebangkrutan, bencana, penyakit dan banyak
hal lainnya.
Guru les saya mempunyai
teman seorang pria yang kaya, namun kemudian dia jadi sakit-sakitan. Karena dia
sudah tidak bisa bekerja lagi dan sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya
pengobatannya, akhirnya dia jatuh miskin. Setelah dia jatuh miskin, isterinya
pergi dengan pria lain membawa semua sisa uang yang mereka miliki. Seorang pria
kaya dengan latar belakang keluarga yang juga kaya, prusahaan pribadi, rumah
mewah, dan banyak mobil. Akhinya tinggal sendirian dan tanpa memiliki di sebuah
rumah kontrakan kecil. Bahkan untuk pergi ke mana-mana, guru les saya
meminjamkan mobil adiknya yang sudah meninggal, agar mobil itu tidak hanya
tergeletak di garasi dan menjadi rusak, karena guru saya tidak mau menjual
mobil peninggalan adiknya itu.
Karena itu uang bukanlah
segalahnya, dan janji Tuhan berkata:
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu kekayaan dan
mekulianNya dalam Kristus Yesus.
( Filipi
4:19 )
Dari ayat di atas kita bisa
mengetahui bahwa Tuhan akan memenuhi segala keperluan kita, bukan hanya menurut
kekayaan yang kita miliki, tapi menurut kekayaan dan kemulianNya. Jika kita
berusaha untuk memenuhi sendiri semua keperluan kita menurut kekayaan kita,
dengan berusaha mencari suami seorang pria yang mapan, maka janji Tuhan itu
tidak akan berlaku untuk kita. Karena Tuhan ingin kita sepenuhnya bergantung
kepada Dia.
Selain itu, agar Tuhan dapat
memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemulianNya di perlukan
satu syarat mutlak, yaitu janji tersebut hanya dapat dipenuhi di dalam Kristus.
Di luar Kristus, tidak ada satu pun janji Allah yang akan digenapi. Alkitab
berkata: Kristus adalah "ya"
bagi semua janji Allah. ( II Korintus 1:20 )
Oleh sebab itu, sebagai
anak-anak Tuhan, janganlah pernikahan kita hanya dilandasi dengan keinginan
untuk bahagia ( dengan mencari suami yang kaya ), atau karena kita merasa
menikah adalah fase yang normal dalam kehidupan setiap manusia. Jika seseoang
belum menikah, maka kehidupannya belum lengkap. Semua landasan itu adalah
landasan yang sangat rapuh untuk membangun sebuah pernikahan.
Hendaknya landasan kita
untuk membangun sebuah pernikahan adalah, "agar kehendak Tuhan terlaksana
dalam hidup kita melalui pernikahan." Dengan begitu, kita juga harus
sepenuhnya bergantung pada Tuhan untuk menentukan pasangan hidup kita. Karena
Tuhan yang paling mengetahui, dengan siapa kita akan dapat saling melengkapi
untuk mengenapi tujuan Tuhan dalam hidup kita.
Jika pernikahan kita dilandasi
oleh kerinduan "agar kehendak Tuhan terlaksana dalam hidup kita melalui
pernikahan." Tuhan sendiri yang akan campur tangan dalam kehidupan
pernikahan kita. Walaupun mungkin, dalam perjalanannya, pernikahan kita tidak
luput dari badai, namun badai tersebut tidak akan menghancurkan batera rumah
tangga kita, karena Kristus senantiasa hadir di dalamnya.
Jadi untuk memiliki
kehidupan pernikahan yang berbahagia, janganlah kita berusaha dengan kekuatan
kita sendiri, dengan memilih pasangan hidup yang baik menurut kita dan menjamin
masa depan kita.
Sebaliknya, kita harus
mendasarkan keputusan kita pada kehendak Tuhan. Apa yang baik dan berkenan
menurut Tuhan. Supaya kita bisa memenuhi kehendak Allah dalam hidup kita
melalui pernikahan. Maka kebahagiaan itu akan mengikuti kita sepanjang hidup
pernikahan kita.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah
dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
( Matius 6:13 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar