Seorang pria yang sedang dikejar-kejar sekawanan penjahat,
ia bersembunyi di sebuah rumah kosong yang telah rusak. Pria itu sangat
ketakutan, bersedih, dan putus asa. Di dalam hati dia berseru kepada Tuhan,
kenapa Tuhan membiarkannya mengalami semua ini.
Di dalam kesunyian dia melihat seekor semut yang membawa
beban yang lebih besar dari dirinya sedang berusaha untuk naik ke tembok menuju
atap rumah.
Berkali-kali semut itu terjatuh, tapi ia terus mencoba dan
mencoba memanjat tembok itu sambil membawa bebannya.
Pria itu menghitung, sudah 69 kali semut itu terjatuh,
namun dia terus berusaha membawa beban itu sampai ke atap rumah. Akhirnya, pada
usahanya yang ke 70, semut itu berhasil sampai ke atap rumah.
Pria itu merasa Tuhan menjawabnya lewat apa yang dilakukan
semut tadi. Dia tahu, Tuhan mau agar dia tidak pernah menyerah. Terus mencoba
dan berharap kepada Tuhan.
Banyak orang tidak
mendapatkan apa yang mereka harapkan bukan karena Allah tidak mau memberikan
apa yang mereka harapkan, tetapi karena mereka terlalu cepat menyerah dan
berhenti di tengah jalan. Mereka menjadi lelah, kecewa dan putus asa dan
akhinya mereka berhenti sampai di situ. Mereka tidak mau lagi melakukan apa
yang telah mereka lakukan. Padahal mungkin jika mereka mau bertahan sebentar
saja, mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan.
Dari awal, kita
tidak akan sampai pada akhir tanpa adanya sebuah proses. Tetapi proses tersebut
yang sering kali menbuat kita tidak sabar. Akhirnya kita berhenti di tengah
jalan, dan gagal mendapatkan apa yang kita harapkan.
Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?
Berapa lama lagi Kausembunyikan wajahMu terhadap aku? Berapa lama lagi aku
harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa
lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?
(Mazmur 13:2-3)
Daud berseru
kepada Tuhan, sampai berapa lama lagi Tuhan akan mengindahkannya dan
menolongnya; bukan hanya karena dia sedang berada di dalam kesesakan, dan dia
ingin Allah segera menolongnya. Tetapi yang paling penting adalah, seruan Daud
kepada Allah ini menunjukan keyakinan Daud. Dia percaya suatu saat Allah pasti
akan menolongnya.
Seruan Daud
‘berapa lama lagi, Tuhan’ menunjukan kepercayaannya, bahwa Allah menetapkan
sejangka waktu bagi penderitaannya. Daud percaya, jika waktu yang ditetapkan
Allah bagi penderitaannya selesai, penderitaannya juga akan segera berakhir.
Jika Daud tidak percaya bahwa Allah telah menetapkan sejangka waktu bagi
penderitaannya, dia tidak akan bertanya kepada Tuhan, ‘berapa lama lagi’. Daud
tahu, penderitaannya bukan untuk selamanya. Karena itu dia bertanya kepada
Tuhan berapa lama lagi. Di dalam hati Daud ada sebuah keyakinan, di waktu Allah
yang tepat, Allah pasti menolongnya.
Semua orang tidak
ada yang tahu sampai kapan waktu Allah tiba. Mungkin besok, lusa, minggu depan,
bulan depan, 1 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau bahkan mungkin hari ini waktu
Allah akan tiba. Kita semua tidak tahu kapan waktu itu akan tiba.
Namun salah satu
hal yang paling menyedihkan adalah, kita harus menunggu, tanpa kita tahu batas
waktu sampai berapa lama kita harus menunggu. Jika kita harus menunggu, dan
kita tahu sampai kapan kita harus menunggu, itu akan terasa lebih mudah bagi
kita, karena kita tahu, dan kita bisa berharap kapan kita akan mendapatkan apa
yang kita nantikan. Namun jika kita harus menunggu, dan kita tidak tahu sampai
kapan harus menunngu, hidup kita bisa seperti tanpa kepastian. Karena kita
tidak tahu dan tidak bisa berharap kapan akan mendapatkan apa yang kita
nantikan.
Saya sering
mendengar orang yang berkonseling lewat radio berkata; mereka sudah menanti dan
berdoa sekian lama, ada yang baru sebentar, ada juga yang sudah bertahun-tahun.
Tetapi mereka belum mendapatkan apa yang mereka harapkan. Mereka semua
bertanya, sampai kapan mereka harus menanti. Mereka berada dalan kebosanan dan
keputus asaan karena sebuah penantian yang mereka tidak tahu kapan akan
berakhir.
Saya juga pernah
mengalami hal yang sama dengan orang-orang yang konseling lewat radio tersebut.
Saya percaya Tuhan akan menyembuhkan saya dan memberikan apa yang saya harapkan
pada waktunya. Tetapi saya tidak tahu, dan tidak memiliki suatu kepastian
jangka waktu saya akan mendapatkan hal tersebut. Di saat saya merasa lelah
menanti, di dalam benak saya timbul pikiran apakah saya tidak sedang membohongi
diri saya sendiri. Saya merasa kalau saya sedang membohongi diri sendiri dengan
menghibur diri sendiri dan berkata bahwa suatu saat Tuhan akan menyembuhkan
saya. Hati saya menuduh saya, bahwa mungkin Tuhan tidak akan menyembuhkan saya,
dan sekarang saya hidup dalam harapan yang palsu untuk menghibur diri sendiri.
Setiap manusia
menginginkan suatu kepastian dalam hidupnya. Tidak ada seorang manusia pun yang
mau hidup dalam ketidak pastian.
Semua orang yang
sedang berada dalam ‘penantian yang tidak pasti’, pasti pernah merasakan kelelahan,
kejenuhan, dan bakan putus asa. Dan jika kita berpikir, sudah berapa lama kita
menanti, tetapi belum mendapatkan apa yang kita harapkan, itu akan membuat kita
semakin lelah dan putus asa. Karena kita selalu berpikir sudah sedemikian jauh
kita berjalan, tetapi mengapa belum sampai kepada tujuan juga?
Ketika kita sudah
lama menanti, dan kita belum mendapatkan apa yang kita nantikan. Dan kita
menjadi lelah, bosan, dan putus asa. Tetapi jika kita mencoba untuk membalik
cara berpikir kita, bukan lagi "sudah seberapa jauh kita berjalan?"
tetapi menjadi "sudah seberapa dekat kita dengan tujuan?" itu akan
memberi kita kekuatan dan semangat untuk terus maju. Karena semakin lama kita
menanti, berati kita sudah semakin dekat dengan tujuan kita.
Jangan pernah
menyerah dan berhenti di tengah jalan. Karena mungkin perjalanan yang kita
tidak tahu di mana akhirnya ini ternyata tinggal 1 langkah lagi. Jika ternyata
memang tinggal 1 langkah lagi, dan kita sudah keburu menyarah terlebih dulu,
kita tidak akan pernah memperoleh apa pun yang kita harapkan. Segala penantian
dan perjuangan kita menjadi sia-sia. Atau bahkan kita harus mulai dari awal
lagi.
Bayangkan! Betapa
sangat menyesalnya kita. Jika setelah kita menyerah, kita baru tahu, perjalanan
ini sebenarnya tinggal selangkah lagi. Karena kita sudah menyerah lebih dahulu,
maka kita menjadi gagal memperoleh apa yang selama ini kita nantikan dan
perjuangkan. Seandainya kita mau bersabar sebentar lagi saja, kita sudah bisa
mendapatkan apa yang kita harapkan.
Jika saat ini anda
sudah berdoa sebanyak 999 kali, dan belum mendapatkan jawaban. Janganlah
berhenti berdoa! Karena mungkin di doa yang ke 1000, Allah akan menjawab doa
anda. Janganlah biarkan menjadi sia-sia, segala penantian dan usaha anda selama
ini; dengan anda berhenti di tengah jalan, anda tidak pernah mendapatkan apa
yang anda harapkan.
Saya pernah
bertanya kepada Tuhan:
“Tuhan, Engkau
berkata, jika aku tinggal di dalan Engkau, dan firmanMu tinggal di dalam aku,
mimtalah apa saja, maka Engkau akan memberikan kepadaku. (Yohanes 15:7) Tuhan,
aku sudah tinggal di dalam Engkau, dan firmanMu sudah tinggal di dalam aku.
Karena apa yang aku minta, semuanya sudah sesuai dengan firmanMu (Saya pernah mendengar
seorang hamba Tuhan berkata, tanda dari kita sudah tinggal di dalam Tuhan, dan
firman Tuhan tinggal di dalam kita adalah, apa yang kita minta sesuai dengan
firman Tuhan. Dan saya yakin apa yang saya minta sesuai dengan firman Tuhan).
Tetapi kenapa sampai sekarang Engkau belum memberikan itu padaku?”
Kemudian Tuhan
menjawab saya:
“Aku hanya
berjanji, jikalau kamu tinggal di dalam Aku, dan firmanKu tinggal di dalam
kamu, mintahlah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Aku
hanya berjanji bahwa kamu akan menerimahnya. Tetapi Aku tidak pernah berjanji
kamu akan segera menerimanya, atau kapan kamu akan menerimanya. Jadi waktunya
terserah padaKu”
Kita juga bisa
belajar dari kisah Elia untuk tidak berhenti berdoa sebelum Tuhan menjawab doa
kita.
Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia
membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya. Setelah itu ia
berkata kepada bujangnya: ”Naiklah ke atas, lihatlah ke arah barat laut.”
Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: ”Tidak ada apa-apa.” Kata
Elia: ”Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh
kalinya berkatalah bujang itu; ”Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul
dari laut.” Lalu kata Elia: ”Pergilah, katakanlah kepada Ahab: Pasang keretamu
dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.” Maka dalam sekejap
mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat.
(I Raja-raja 18:42-45)
Elia adalah
seorang nabi Tuhan yang luar biasa. Tuhan melakukan hal-hal yang dasyat sebagai
jawaban atas doa-doa Elia. Bakan dalam kitab Yakobus, Elia digunakan sebagai
contoh seseorang yang memiliki kuasa doa. (Yakobus 5:17) Tetapi pada ayat di
atas, kita dapat melihat bahwa Elia tidak langsung mendapatkan jawaban atas doanya
setiap kali ia berdoa. Pada waktu itu, Elia juga tidak tahu, kapan Tuhan akan
menurunkan hujan. Dan dia harus berdoa beberapa kali sebelum Tuhan menjawab
doanya.
Elia tidak tahu
bahwa pada kali yang ke tujuh dia berdoa, Allah baru akan menjawab doanya.
Seandainya dia tahu pada kali yang ke tujuh Allah baru menjawab doanya,
tentulah dia tidak akan menyuruh bujangnya untuk bolak-balik naik ke atas
gunung untuk melihat tanda-tanda akan turunnya hujan.
Pada kali yang
pertama dia berdoa, dan dia menyuruh bujangnya untuk naik ke atas gunung untuk
melihat apakah ada tanda-tanda akan turun hujan, dan ternyata tidak ada tanda
sama sekali, Elia kembali berdoa. Setelah dia berdoa 4 atau 5 kali, dan masih
tidak ada tanda, Elia mungkin mulai bertanya: “Apakah Tuhan mendengar doaku?
Sampai berapa kali aku harus berdoa?” Tetapi, meskipun Elia tidak tahu, harus
sampai berapa kali ia berdoa, tetapi ia memilih untuk tetap berdoa. Dan pada
akhirnya, di kali yang ke tujuh, Allah menjawab doanya.
Seandainya di kali
yang ke enam Elia berdoa dan belum mendapat jawaban. Kemudian dia berhenti
berdoa. Padahal di kali yang ke tujuh Allah akan menjawab doanya, maka Elia
tidak akan pernah melihat jawaban doa tersebut.
Terkadang memang
Allah belum menjawab doa kita karena Allah tahu, begitu kita mendapatkan apa
yang kita harapkan, kita akan segera berhenti berdoa. Allah ‘sengaja’ belum
menjawab doa kita, supaya kita tidak henti-hentinya berdoa. Karena memang Allah
ingin selalu bisa bersekutu dengan kita.
Saya sangat
menyukai puisi di bawah ini. Saya menuliskannya pada buku catatan saya. Puisi
ini mengingatkan saya, untuk saya tidak menyerah dan berhenti di tengah jalan
ketika saya sudah lelah untuk menanti Tuhan menyembuhkan saya. Karena mungkin
waktu kesembuhan itu tinggal besok, atau bahkan mungkin hari ini. Puisi ini
mengingatkan saya untuk terus berjalan. Meskipun perjalanan ini membuat saya
terasa sakit, tetapi Yesus sendiri yang memimpin perjalanan ini. Dia yang
berjalan di depan kita, jadi Dia yang melewati dan merasakan lebih dulu jalanan
yang akan kita tempuh. Dan itu tidak akan membahayakan kita, walaupun membuat
kaki kita terasa sakit. Karena Yesus yang berjalan di depan kita, tahu persis
kondisi jalan yang akan kita lalui.
Hanya berapa mil lagi,
kekasih…
Dan kaki kita tidak akan
terasa sakit lagi
Tiada lagi dosa dan
penderitaan
Diamlah, Yesus berjalan di
depan…
Dan kudengar Dia berbisik
dengan lembut
Jangan takut, jangan
gentar, teruslah maju
Karena mungkin esok hari
Perjalanan yang panjang
ini akan berakhir
Puisi ini di tulis
oleh Watchman Nee, seorang martir dari Cina ketika ia berada di dalam penjara.
Ia menolak untuk menyangkal imannya kepada Yesus, dan dia dinyatakan bersalah
dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara di bawah pemerintahan komunis Cina.
Tetapi pemerintah komunis Cina mengingkarinya. Setelah 15 tahun berada di dalam
penjara, ia tidak juga dibebaskan.
Ia memiliki
pengharapan untuk suatu hari dapat dibebaskan, dan kembali berkumpul bersama
dengan keluarganya. Namun akhirnya dia harus berada di dalam penjara seumur
hidupnya. Dia tidak pernah dibebaskan dari penjara seperti harapannya. Ia
berada di dalam penjara selama 20 tahun, sebelum akhirnya ia meninggal dunia di
penjara pada tahun 1972.
Walaupun pada
kenyataanya ia tidak pernah dibebaskan dari penjara. Tetapi ia tetap menjaga
sukacita dan pengharapanya. Pada suratnya yang terakhir untuk keluarganya, yang
ditulisnya pada hari sebelum ia meninggal, di dalamnya masih menunjukan
harapnnya untuk bisa bebas, dan dia selalu berkata akan menjaga sukacitanya meskipun
di tengah penderitaan sekalipun.
Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak
manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya,
Atau berbicara dan tidak menepatinya?
(Bilangan 23:19)
Allah tidak pernah
mengingkari apa yang telah Ia janjikan. Sekali
Ia berjanji, Ia pasti akan
menepatinya. Allah membandingkan diriNya sendiri dengan manusia. Manusia dapat
dengan mudah mengingkari janjinya, tetapi Allah tidak dapat mengingkari
janjiNya. Janji Allah dapat diandalkan. Karena Allah itu setia terhadap
janjiNya, maka kita juga harus setia dalam menantikan janji Allah.
Kita tidak boleh
goyah, atau hilang kepercayaan dalam menantikan janji-janji Allah. Jika janji
Allah belum digenapi, tidak berarti janji itu tidak akan digenapi. Allah pasti
mengenapi janjiNya. Hanya saja Allah menunggu waktu yang tepat untuk
melaksanakan janjiNya. Karena itu kita harus bersabar dalam menantikan janji
Allah digenapi. Sebab jika sudah tiba waktunya, Allah tidak akan
berlambat-lambat dalam mengenapi janjiNya. Seperti nabi Habakuk berkata:
Sebab pengelihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia
bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat,
nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
(Habakuk 2:3)
Janji Tuhan tidak
pernah berubah, janji Tuhan juga tidak pernah menipu. Janji Tuhan tetap akan digenapi,
kapanpun itu waktunya.
Terkadang kita
melihat ada orang-orang yang begitu beriman terhadap janji Tuhan. Mereka tetap
mempercayai bahwa Tuhan akan mengenapi janjiNya, meskipun mereka belum melihat
hal itu terjadi. Mereka menanti dengan setia. Mereka terus berpegang pada iman
mereka sampai mereka mati. Tetapi akhirnya mereka mati tanpa memperoleh apa
yang Tuhan janjikan.
Mungkin secara
manusia kita akan melihat bahwa iman dan kepercayaan mereka sia-sia. Mereka
mati tanpa memperoleh apa yang mereka harapkan. Segala penantian, kesabaran,
dan jerih payah mereka tampaknya sia-sia. Bahkan jika seumur hidup mereka
habiskan untuk menantikan janji tersebut, maka tampaknya seluruh hidup mereka
menjadi sia-sia. Sampai mati mereka tidak memperoleh apa yang mereka harapkan,
dan separtinya mereka mati sebagai orang-orang yang kalah.
Tetapi firman
Tuhan berkata sebaliknya. Meskipun mereka mati tanpa memperoleh apa yang mereka
harapkan, tetapi mereka bukanlah orang-orang yang kalah, melainkan orang-orang
yang menang. Allah telah mempersiapkan sebuah tanah air yang lebih baik bagi
mereka. Dan yang terpenting adalah bahwa Allah tidak malu disebut Allah mereka.
Karena mereka tetap mempercayai Allah meskipun mereka tidak melihat Allah
menepati janjiNya. Kebanggaan kita yang terbesar adalah ketika Allah tidak malu
mengakui kita sebagai umatNya. Kebanggaan terbesar kita bukanlah memperoleh apa
yang Allah janjikan, namun kebanggaan kita terbesar adalah ketika Allah dapat
dengan bangga menyebut kita sebagai hambaNya.
Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang
yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu,….. Tetapi sekarang mereka
merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air surgawi. Sebab itu
Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.
(Ibrani 11:13, 16)
Bersabarlah
menantikan janji Allah digenapi dalam hidup anda! Allah pasti akan menepati
janjiNya, entah sekarang, di dunia ini, ataupun di kekekalan yang akan datang.
Allah pasti menepati janjiNya, asalkan kita bisa setia dalam menantikan janji
Allah. Jika di kehidupan ini Allah belum memberikan apa yang Dia janjikan,
tetaplah percaya! Karena di kekekalan, Allah pasti memberikannya kepada kita.
Bahkan Allah akan menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita.
Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar
lebih baik dari pada tinggi hati.
(Pengkhotbah 7:8)
Bagaimana kita
bisa memperoleh sesuatu yang lebih baik pada akhirnya? Alkitab mengajarkan,
untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, kita harus pangjang sabar. Pengkhotah
mengkontraskan antara panjang sabar dan tinggi hati. Dengan lain kata, orang
yang tinggi hati tidak mungkin untuk bersabar. Karena salah satu ciri orang
yang sombong adalah tidak bisa bersabar.
Orang yang sombong
selalu ingin segalanya serba cepat. Dia merasa berhak untuk mendapatkan sesuatu
yang lebih baik. Dia ingin bisa segera keluar dari keadaannya sekarang, sebab
itu dia tidak bisa bersabar. Alkitab berkata:
“Allah
menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.
(Yakobus 4:6)
Orang-orang yang
congkak akan ditentang oleh Allah. Karenanya mereka tidak akan mendapatkan
sesuatu yang baik.
Sebaliknya orang
yang rendah hati akan selalu dapat bersabar. Mereka dapat dengan tekun dan
sabar menantikan Tuhan, karena itu Tuhan mengasihani mereka. Karena Tuhan
mengasihani mereka, Tuhan pasti menyediakan sesuatu yang baik bagi mereka.
Jika saat ini anda
sedang menantikan janji Tuhan, tetaplah percaya dan bersabar dalam menantikan
janji Tuhan tersebut. Dengan bersabar, akan menunjukan kerendahan hati kita.
Dan Allah mengasihi orang yang rendah hati. Jika Allah mengasihi kita, maka
firman Tuhan yang berkata “akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya” akan
berlaku bagi kita. Karena Allah selalu menyediakan yang terbaik bagi
orang-orang yang dikasihiNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar