Kamis, 31 Januari 2013

Kurang Satu Kali


Seorang pria yang sedang dikejar-kejar sekawanan penjahat, ia bersembunyi di sebuah rumah kosong yang telah rusak. Pria itu sangat ketakutan, bersedih, dan putus asa. Di dalam hati dia berseru kepada Tuhan, kenapa Tuhan membiarkannya mengalami semua ini.

Di dalam kesunyian dia melihat seekor semut yang membawa beban yang lebih besar dari dirinya sedang berusaha untuk naik ke tembok menuju atap rumah.

Berkali-kali semut itu terjatuh, tapi ia terus mencoba dan mencoba memanjat tembok itu sambil membawa bebannya.

Pria itu menghitung, sudah 69 kali semut itu terjatuh, namun dia terus berusaha membawa beban itu sampai ke atap rumah. Akhirnya, pada usahanya yang ke 70, semut itu berhasil sampai ke atap rumah.

Pria itu merasa Tuhan menjawabnya lewat apa yang dilakukan semut tadi. Dia tahu, Tuhan mau agar dia tidak pernah menyerah. Terus mencoba dan berharap kepada Tuhan.

Banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan bukan karena Allah tidak mau memberikan apa yang mereka harapkan, tetapi karena mereka terlalu cepat menyerah dan berhenti di tengah jalan. Mereka menjadi lelah, kecewa dan putus asa dan akhinya mereka berhenti sampai di situ. Mereka tidak mau lagi melakukan apa yang telah mereka lakukan. Padahal mungkin jika mereka mau bertahan sebentar saja, mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Dari awal, kita tidak akan sampai pada akhir tanpa adanya sebuah proses. Tetapi proses tersebut yang sering kali menbuat kita tidak sabar. Akhirnya kita berhenti di tengah jalan, dan gagal mendapatkan apa yang kita harapkan.

Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajahMu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?
  (Mazmur 13:2-3)

Daud berseru kepada Tuhan, sampai berapa lama lagi Tuhan akan mengindahkannya dan menolongnya; bukan hanya karena dia sedang berada di dalam kesesakan, dan dia ingin Allah segera menolongnya. Tetapi yang paling penting adalah, seruan Daud kepada Allah ini menunjukan keyakinan Daud. Dia percaya suatu saat Allah pasti akan menolongnya.

Seruan Daud ‘berapa lama lagi, Tuhan’ menunjukan kepercayaannya, bahwa Allah menetapkan sejangka waktu bagi penderitaannya. Daud percaya, jika waktu yang ditetapkan Allah bagi penderitaannya selesai, penderitaannya juga akan segera berakhir. Jika Daud tidak percaya bahwa Allah telah menetapkan sejangka waktu bagi penderitaannya, dia tidak akan bertanya kepada Tuhan, ‘berapa lama lagi’. Daud tahu, penderitaannya bukan untuk selamanya. Karena itu dia bertanya kepada Tuhan berapa lama lagi. Di dalam hati Daud ada sebuah keyakinan, di waktu Allah yang tepat, Allah pasti menolongnya.

Semua orang tidak ada yang tahu sampai kapan waktu Allah tiba. Mungkin besok, lusa, minggu depan, bulan depan, 1 tahun lagi, 10 tahun lagi, atau bahkan mungkin hari ini waktu Allah akan tiba. Kita semua tidak tahu kapan waktu itu akan tiba.

Namun salah satu hal yang paling menyedihkan adalah, kita harus menunggu, tanpa kita tahu batas waktu sampai berapa lama kita harus menunggu. Jika kita harus menunggu, dan kita tahu sampai kapan kita harus menunggu, itu akan terasa lebih mudah bagi kita, karena kita tahu, dan kita bisa berharap kapan kita akan mendapatkan apa yang kita nantikan. Namun jika kita harus menunggu, dan kita tidak tahu sampai kapan harus menunngu, hidup kita bisa seperti tanpa kepastian. Karena kita tidak tahu dan tidak bisa berharap kapan akan mendapatkan apa yang kita nantikan.

Saya sering mendengar orang yang berkonseling lewat radio berkata; mereka sudah menanti dan berdoa sekian lama, ada yang baru sebentar, ada juga yang sudah bertahun-tahun. Tetapi mereka belum mendapatkan apa yang mereka harapkan. Mereka semua bertanya, sampai kapan mereka harus menanti. Mereka berada dalan kebosanan dan keputus asaan karena sebuah penantian yang mereka tidak tahu kapan akan berakhir.

Saya juga pernah mengalami hal yang sama dengan orang-orang yang konseling lewat radio tersebut. Saya percaya Tuhan akan menyembuhkan saya dan memberikan apa yang saya harapkan pada waktunya. Tetapi saya tidak tahu, dan tidak memiliki suatu kepastian jangka waktu saya akan mendapatkan hal tersebut. Di saat saya merasa lelah menanti, di dalam benak saya timbul pikiran apakah saya tidak sedang membohongi diri saya sendiri. Saya merasa kalau saya sedang membohongi diri sendiri dengan menghibur diri sendiri dan berkata bahwa suatu saat Tuhan akan menyembuhkan saya. Hati saya menuduh saya, bahwa mungkin Tuhan tidak akan menyembuhkan saya, dan sekarang saya hidup dalam harapan yang palsu untuk menghibur diri sendiri.

Setiap manusia menginginkan suatu kepastian dalam hidupnya. Tidak ada seorang manusia pun yang mau hidup dalam ketidak pastian.

Semua orang yang sedang berada dalam ‘penantian yang tidak pasti’, pasti pernah merasakan kelelahan, kejenuhan, dan bakan putus asa. Dan jika kita berpikir, sudah berapa lama kita menanti, tetapi belum mendapatkan apa yang kita harapkan, itu akan membuat kita semakin lelah dan putus asa. Karena kita selalu berpikir sudah sedemikian jauh kita berjalan, tetapi mengapa belum sampai kepada tujuan juga?

Ketika kita sudah lama menanti, dan kita belum mendapatkan apa yang kita nantikan. Dan kita menjadi lelah, bosan, dan putus asa. Tetapi jika kita mencoba untuk membalik cara berpikir kita, bukan lagi "sudah seberapa jauh kita berjalan?" tetapi menjadi "sudah seberapa dekat kita dengan tujuan?" itu akan memberi kita kekuatan dan semangat untuk terus maju. Karena semakin lama kita menanti, berati kita sudah semakin dekat dengan tujuan kita.

Jangan pernah menyerah dan berhenti di tengah jalan. Karena mungkin perjalanan yang kita tidak tahu di mana akhirnya ini ternyata tinggal 1 langkah lagi. Jika ternyata memang tinggal 1 langkah lagi, dan kita sudah keburu menyarah terlebih dulu, kita tidak akan pernah memperoleh apa pun yang kita harapkan. Segala penantian dan perjuangan kita menjadi sia-sia. Atau bahkan kita harus mulai dari awal lagi.

Bayangkan! Betapa sangat menyesalnya kita. Jika setelah kita menyerah, kita baru tahu, perjalanan ini sebenarnya tinggal selangkah lagi. Karena kita sudah menyerah lebih dahulu, maka kita menjadi gagal memperoleh apa yang selama ini kita nantikan dan perjuangkan. Seandainya kita mau bersabar sebentar lagi saja, kita sudah bisa mendapatkan apa yang kita harapkan.

Jika saat ini anda sudah berdoa sebanyak 999 kali, dan belum mendapatkan jawaban. Janganlah berhenti berdoa! Karena mungkin di doa yang ke 1000, Allah akan menjawab doa anda. Janganlah biarkan menjadi sia-sia, segala penantian dan usaha anda selama ini; dengan anda berhenti di tengah jalan, anda tidak pernah mendapatkan apa yang anda harapkan.

Saya pernah bertanya kepada Tuhan:

“Tuhan, Engkau berkata, jika aku tinggal di dalan Engkau, dan firmanMu tinggal di dalam aku, mimtalah apa saja, maka Engkau akan memberikan kepadaku. (Yohanes 15:7) Tuhan, aku sudah tinggal di dalam Engkau, dan firmanMu sudah tinggal di dalam aku. Karena apa yang aku minta, semuanya sudah sesuai dengan firmanMu (Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan berkata, tanda dari kita sudah tinggal di dalam Tuhan, dan firman Tuhan tinggal di dalam kita adalah, apa yang kita minta sesuai dengan firman Tuhan. Dan saya yakin apa yang saya minta sesuai dengan firman Tuhan). Tetapi kenapa sampai sekarang Engkau belum memberikan itu padaku?”

Kemudian Tuhan menjawab saya:

“Aku hanya berjanji, jikalau kamu tinggal di dalam Aku, dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintahlah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Aku hanya berjanji bahwa kamu akan menerimahnya. Tetapi Aku tidak pernah berjanji kamu akan segera menerimanya, atau kapan kamu akan menerimanya. Jadi waktunya terserah padaKu”

Kita juga bisa belajar dari kisah Elia untuk tidak berhenti berdoa sebelum Tuhan menjawab doa kita.

Tetapi Elia naik ke puncak gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya. Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: ”Naiklah ke atas, lihatlah ke arah barat laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: ”Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: ”Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu; ”Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” Lalu kata Elia: ”Pergilah, katakanlah kepada Ahab: Pasang keretamu dan turunlah, jangan sampai engkau terhalang oleh hujan.” Maka dalam sekejap mata langit menjadi kelam oleh awan badai, lalu turunlah hujan yang lebat.
      (I Raja-raja 18:42-45)

Elia adalah seorang nabi Tuhan yang luar biasa. Tuhan melakukan hal-hal yang dasyat sebagai jawaban atas doa-doa Elia. Bakan dalam kitab Yakobus, Elia digunakan sebagai contoh seseorang yang memiliki kuasa doa. (Yakobus 5:17) Tetapi pada ayat di atas, kita dapat melihat bahwa Elia tidak langsung mendapatkan jawaban atas doanya setiap kali ia berdoa. Pada waktu itu, Elia juga tidak tahu, kapan Tuhan akan menurunkan hujan. Dan dia harus berdoa beberapa kali sebelum Tuhan menjawab doanya.

Elia tidak tahu bahwa pada kali yang ke tujuh dia berdoa, Allah baru akan menjawab doanya. Seandainya dia tahu pada kali yang ke tujuh Allah baru menjawab doanya, tentulah dia tidak akan menyuruh bujangnya untuk bolak-balik naik ke atas gunung untuk melihat tanda-tanda akan turunnya hujan.

Pada kali yang pertama dia berdoa, dan dia menyuruh bujangnya untuk naik ke atas gunung untuk melihat apakah ada tanda-tanda akan turun hujan, dan ternyata tidak ada tanda sama sekali, Elia kembali berdoa. Setelah dia berdoa 4 atau 5 kali, dan masih tidak ada tanda, Elia mungkin mulai bertanya: “Apakah Tuhan mendengar doaku? Sampai berapa kali aku harus berdoa?” Tetapi, meskipun Elia tidak tahu, harus sampai berapa kali ia berdoa, tetapi ia memilih untuk tetap berdoa. Dan pada akhirnya, di kali yang ke tujuh, Allah menjawab doanya.

Seandainya di kali yang ke enam Elia berdoa dan belum mendapat jawaban. Kemudian dia berhenti berdoa. Padahal di kali yang ke tujuh Allah akan menjawab doanya, maka Elia tidak akan pernah melihat jawaban doa tersebut.

Terkadang memang Allah belum menjawab doa kita karena Allah tahu, begitu kita mendapatkan apa yang kita harapkan, kita akan segera berhenti berdoa. Allah ‘sengaja’ belum menjawab doa kita, supaya kita tidak henti-hentinya berdoa. Karena memang Allah ingin selalu bisa bersekutu dengan kita.

Saya sangat menyukai puisi di bawah ini. Saya menuliskannya pada buku catatan saya. Puisi ini mengingatkan saya, untuk saya tidak menyerah dan berhenti di tengah jalan ketika saya sudah lelah untuk menanti Tuhan menyembuhkan saya. Karena mungkin waktu kesembuhan itu tinggal besok, atau bahkan mungkin hari ini. Puisi ini mengingatkan saya untuk terus berjalan. Meskipun perjalanan ini membuat saya terasa sakit, tetapi Yesus sendiri yang memimpin perjalanan ini. Dia yang berjalan di depan kita, jadi Dia yang melewati dan merasakan lebih dulu jalanan yang akan kita tempuh. Dan itu tidak akan membahayakan kita, walaupun membuat kaki kita terasa sakit. Karena Yesus yang berjalan di depan kita, tahu persis kondisi jalan yang akan kita lalui.

Hanya berapa mil lagi, kekasih…
Dan kaki kita tidak akan terasa sakit lagi
Tiada lagi dosa dan penderitaan
Diamlah, Yesus berjalan di depan…
Dan kudengar Dia berbisik dengan lembut
Jangan takut, jangan gentar, teruslah maju
Karena mungkin esok hari
Perjalanan yang panjang ini akan berakhir

Puisi ini di tulis oleh Watchman Nee, seorang martir dari Cina ketika ia berada di dalam penjara. Ia menolak untuk menyangkal imannya kepada Yesus, dan dia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara di bawah pemerintahan komunis Cina. Tetapi pemerintah komunis Cina mengingkarinya. Setelah 15 tahun berada di dalam penjara, ia tidak juga dibebaskan.

Ia memiliki pengharapan untuk suatu hari dapat dibebaskan, dan kembali berkumpul bersama dengan keluarganya. Namun akhirnya dia harus berada di dalam penjara seumur hidupnya. Dia tidak pernah dibebaskan dari penjara seperti harapannya. Ia berada di dalam penjara selama 20 tahun, sebelum akhirnya ia meninggal dunia di penjara pada tahun 1972.

Walaupun pada kenyataanya ia tidak pernah dibebaskan dari penjara. Tetapi ia tetap menjaga sukacita dan pengharapanya. Pada suratnya yang terakhir untuk keluarganya, yang ditulisnya pada hari sebelum ia meninggal, di dalamnya masih menunjukan harapnnya untuk bisa bebas, dan dia selalu berkata akan menjaga sukacitanya meskipun di tengah penderitaan sekalipun.

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, Atau berbicara dan tidak menepatinya?
  (Bilangan 23:19)

Allah tidak pernah mengingkari apa yang telah Ia janjikan. Sekali Ia berjanji, Ia pasti akan menepatinya. Allah membandingkan diriNya sendiri dengan manusia. Manusia dapat dengan mudah mengingkari janjinya, tetapi Allah tidak dapat mengingkari janjiNya. Janji Allah dapat diandalkan. Karena Allah itu setia terhadap janjiNya, maka kita juga harus setia dalam menantikan janji Allah.
Kita tidak boleh goyah, atau hilang kepercayaan dalam menantikan janji-janji Allah. Jika janji Allah belum digenapi, tidak berarti janji itu tidak akan digenapi. Allah pasti mengenapi janjiNya. Hanya saja Allah menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan janjiNya. Karena itu kita harus bersabar dalam menantikan janji Allah digenapi. Sebab jika sudah tiba waktunya, Allah tidak akan berlambat-lambat dalam mengenapi janjiNya. Seperti nabi Habakuk berkata:

Sebab pengelihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.
 (Habakuk 2:3)


Janji Tuhan tidak pernah berubah, janji Tuhan juga tidak pernah menipu. Janji Tuhan tetap akan digenapi, kapanpun itu waktunya.

Terkadang kita melihat ada orang-orang yang begitu beriman terhadap janji Tuhan. Mereka tetap mempercayai bahwa Tuhan akan mengenapi janjiNya, meskipun mereka belum melihat hal itu terjadi. Mereka menanti dengan setia. Mereka terus berpegang pada iman mereka sampai mereka mati. Tetapi akhirnya mereka mati tanpa memperoleh apa yang Tuhan janjikan.

Mungkin secara manusia kita akan melihat bahwa iman dan kepercayaan mereka sia-sia. Mereka mati tanpa memperoleh apa yang mereka harapkan. Segala penantian, kesabaran, dan jerih payah mereka tampaknya sia-sia. Bahkan jika seumur hidup mereka habiskan untuk menantikan janji tersebut, maka tampaknya seluruh hidup mereka menjadi sia-sia. Sampai mati mereka tidak memperoleh apa yang mereka harapkan, dan separtinya mereka mati sebagai orang-orang yang kalah.

Tetapi firman Tuhan berkata sebaliknya. Meskipun mereka mati tanpa memperoleh apa yang mereka harapkan, tetapi mereka bukanlah orang-orang yang kalah, melainkan orang-orang yang menang. Allah telah mempersiapkan sebuah tanah air yang lebih baik bagi mereka. Dan yang terpenting adalah bahwa Allah tidak malu disebut Allah mereka. Karena mereka tetap mempercayai Allah meskipun mereka tidak melihat Allah menepati janjiNya. Kebanggaan kita yang terbesar adalah ketika Allah tidak malu mengakui kita sebagai umatNya. Kebanggaan terbesar kita bukanlah memperoleh apa yang Allah janjikan, namun kebanggaan kita terbesar adalah ketika Allah dapat dengan bangga menyebut kita sebagai hambaNya.

Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu,….. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air surgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.
            (Ibrani 11:13, 16)

Bersabarlah menantikan janji Allah digenapi dalam hidup anda! Allah pasti akan menepati janjiNya, entah sekarang, di dunia ini, ataupun di kekekalan yang akan datang. Allah pasti menepati janjiNya, asalkan kita bisa setia dalam menantikan janji Allah. Jika di kehidupan ini Allah belum memberikan apa yang Dia janjikan, tetaplah percaya! Karena di kekekalan, Allah pasti memberikannya kepada kita. Bahkan Allah akan menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita.

Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.
            (Pengkhotbah 7:8)

Bagaimana kita bisa memperoleh sesuatu yang lebih baik pada akhirnya? Alkitab mengajarkan, untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, kita harus pangjang sabar. Pengkhotah mengkontraskan antara panjang sabar dan tinggi hati. Dengan lain kata, orang yang tinggi hati tidak mungkin untuk bersabar. Karena salah satu ciri orang yang sombong adalah tidak bisa bersabar.

Orang yang sombong selalu ingin segalanya serba cepat. Dia merasa berhak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Dia ingin bisa segera keluar dari keadaannya sekarang, sebab itu dia tidak bisa bersabar. Alkitab berkata:

“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. (Yakobus 4:6)

Orang-orang yang congkak akan ditentang oleh Allah. Karenanya mereka tidak akan mendapatkan sesuatu yang baik.

Sebaliknya orang yang rendah hati akan selalu dapat bersabar. Mereka dapat dengan tekun dan sabar menantikan Tuhan, karena itu Tuhan mengasihani mereka. Karena Tuhan mengasihani mereka, Tuhan pasti menyediakan sesuatu yang baik bagi mereka.

Jika saat ini anda sedang menantikan janji Tuhan, tetaplah percaya dan bersabar dalam menantikan janji Tuhan tersebut. Dengan bersabar, akan menunjukan kerendahan hati kita. Dan Allah mengasihi orang yang rendah hati. Jika Allah mengasihi kita, maka firman Tuhan yang berkata “akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya” akan berlaku bagi kita. Karena Allah selalu menyediakan yang terbaik bagi orang-orang yang dikasihiNya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar