Kamis, 31 Januari 2013

Aku Ingin Pulang


Menantu : "Masak sedikit tawar, kamu mengomel tidak ada rasa. Sekarang masak sedikit asin kamu bilang tidak bisa menelan. Sebenarnya maumu itu apa sih?"

Ibu tua itu, begitu melihat anak laki-lakinya pulang, tanpa berkata apa-apa, segera menelan nasi dan sayur itu.

Saat makan, si pria begitu mencoba makanan itu, langsung memuntahkannya : "Bukankah aku pernah berkata, ibu punya penyakit, jadi tidak boleh makan terlalu asin?"

Si isteri memandang suaminya dengan marah, dan berkata : "Baiklah, dia adalah ibumu. Mulai sekarang kamu yang memasak untuk dia!"

Si menantu dengan kemarahan yang menyala-nyala, masuk ke kamarnya. Pria itu yang merasa tidak berdaya dan hanya bisa diam menghadapi kemarahan sang isteri, kemudian berkata kepada ibunya: "Bu, sudahlah, jangan dimakan lagi. Saya buatkan mie instant untuk ibu."

Ibu tua berkata : "Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan ibu? Katakanlah nak, agar jangan menjadi beban di hatimu."

Si pria berkata : "Bu, bulan depan perusahaan menaikan jabatanku, aku pasti akan sangat sibuk. Adapun isteriku berkata dia juga ingin mencari pekerjaan di luar. Maka……."

Ibu tua itu segera menyadari maksud anak laki-lakinya  : "Nak, tolong jangan masukan ibu ke panti jompo." Dengan suaranya yang seperti memohon.

Anak lelakinya diam sejenak, mencari alasan yang lebih baik : "Bu, sebenarnya panti jompo tidak sebegitu buruk. Ibu tahu, begitu isteriku bekerja, dia tentu tidak punya banyak waktu lagi untuk melayani ibu. Di panti jompo ada makanan, ada tempat tinggal, ada orang yang merawat. Bukankah jauh lebih baik dari pada di rumah?"

Setelah mandi, dan makan mie instan rebus, anak lelakinya segera masuk ke ruang kerjanya. Dia menerawang jauh melalui jendela. Ada sedikit keraguan di hatinya.
Ibunya dari muda sudah menjanda. Dengan susah payah merawat dan membesarkannya. Membiayainya bersekolah ke luar negeri. Namun dia tidak pernah mengunakan pengorbanannya waktu muda untuk menekan agar anaknya berbakti kepadanya. Sebaliknya, isterinyalah yang mengunakan pernikahan untuk menekannya.

Benarkah dia akan membiarkan ibunya tinggal di panti jompo? Dia bertanya kepada dirinya sendiri. Dia merasa tidak tega

"Yang akan menemani hidupmu selanjutnya adalah isterinu. Bukan ibumu?" Temannya selalu memperingatkannya seperti ini.

Keluarganya selalu menasehatinya : "Ibumu sudah setua ini. Jika umurnya panjang sekalipun, masih bisa hidup berapa tahun lagi? Kenapa tidak mengunakan beberapa tahun ini untuk baik-baik berbakti kepadanya. Pohon ingin bergoyang, tapi angin sudah tidak bertiup. Anak ingin berbakti, tapi orang tua sudah tiada."

Si pria tidak berani berpikir lagi. Dia takut dirinya akan benar-benar mengubah keputusan yang sudah dibuatnya.

Saat senja matahari yang memancarkan sinar kuning keemasan, bersembunyi di balik gunung untuk beristirahat.

Sebuah rumah jompo yang mewah berdiri di atas lereng gunung di daerah luar kota.

Ya, uang pembayaran rumah jompo yang mahal, membuat hati anaknya tenang.

Saat si pria membimbing ibunya ke ruang aula yang sangat besar, ada sebuah televisi yang masih sangat baru, layar 42 inci sedang menayangkan drama komedi, namun tidak seorangpun dari penonton yang tertawa. Beberapa orang tua yang memakai baju yang sama, dengan model potongan rambut yang sama pula tampak bengong sambil duduk di atas sofa, dan tanpa semangat sama sekali. Beberapa orang tua sedang berbicara sendiri. Beberapa lainnya membungkuk berlahan, berusaha untuk mengambil biskuit kering yang terjatuh di lantai untuk di makan.

Si pria tahu ibunya suka cahaya terang, karena itu dia memilihkan sebuah kamar yang penuh dengan cahaya matahari. Dari jendela kamar bisa terlihat pepohonan dengan rerumputan yang luas.

Beberapa perawat tampak sedang mendorong orang tua di kursi roda berjalan-jalan di bawah sinar matahari terbenam. Semua tampak diam, begitu sunyi, membuat hati terasa pedih.

Meskipun matahari terbenam tampak indah, bagaimanapun juga senja telah tiba, dia mendesah di dalam hati.

"Bu, aku….. aku harus pulang." Ibunya hanya diam sambil menganggukan kepala.

Saat dia pergi, ibunya melambaikan tangan berlahan, membuka mulutnya yang ompong tanpa gigi, sambil menjilati bibirnya yang pucat dan kering. Seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Saat itulah si anak baru memperhatikan rambut ibunya yang sudah berwarna abu-abu, mata yang cekung, serta kulit wajah yang keriput.

Ibu sungguh sudah tua!

Tiba-tiba dia teringat sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Waktu itu usianya baru 6 tahun. Ibunya ada urusan dan harus kembali ke desa. Sulit untuk mengajaknya. Karena itu, ibunya menitipkannya di rumah pamannya untuk beberapa hari. Saat ibunya akan berangkat, dia dengan ketakutan memeluk kaki ibunya dan tidak mau melepaskannya. Dengan sedih menangis sambil berteriak : "Ibu, jangan tinggalkan aku! Jangan pergi!" Akhirnya ibunya tidak jadi meninggalkannya.

Dia segera meniggalkan kamar ibunya, membuka pintu, dan tidak menoleh kembali. Sangat takut ingatan itu kembali datang menghantuinya.

Sesampainya di rumah, isteri dan ibu mertuanya sedang seperti orang gila membuang semua barang dari kamar ibunya.

Piala – itu adalah hadiah waktu dia SD untuk karangannya yang berjudul "ibuku" yang menjadi juara 1 dalam lomba mengarang. Kamus Cina Inggris – itu adalah hadiah ulang tahun yang pertama kali berhasil dibeli oleh ibunya karena ibunya menghemat sebagian uang makannya dan uang untuk keperluan pribadinya yang lain selama sebulan penuh.

Juga minyak untuk reumatik yang biasa digosok oleh ibunya sebelum tidur. Tidak ada dia yang mengosok ibunya, diantarkan ke panti jompo juga tidak ada artinya.

"Sudah cukup! Jangan buang lagi!" Si pria berteriak.

"Sampah sebanyak ini, jika tidak dibuang, bagaimana aku bisa menaruh barang-barangku?" Kata ibu mertuanya tanpa perasaan.

"Betul! Cepat keluarkan tempat tidur tua milik ibumu itu! Besok aku akan membelikan tempat tidur baru untuk ibuku!" Sahut isterinya.

Setumpuk foto waktu kecil tergeletak di hadapannya. Itu adalah foto-foto waktu ibunya membawanya ke kebun binatang dan taman bermain.

"Ini semua adalah harta ibuku. Tidak boleh ada satu pun yang dibuang!"

"Bagaimana sikapmu ini? Begitu tidak sopan pada ibuku. Kamu harus minta maaf pada ibuku!" Bentak isterinya.

"Aku menikahimu dan harus mengasihi ibumu, mengapa? Sedangkan kau menikahiku dan tidak bisa mengasihi ibuku." Jawab suaminya.

Malam setelah hujan tampak sepi, jalanan lengang, sangat sedikit pejalan kaki maupun kendaraan. Sebuah mobil mewah melaju di jalan. Menerobos lampu merah. Melaju dengan sangat cepat menujuh panti jompo yang ada di lereng gunung. Setelah memarkir mobil, dia segera menuju lantai atas, membuka pintu kamar tidur ibunya, dia berdiri sambil terpaku. Ibunya sedang mengosok kakinya yang sakit karena reumatik sambil menangis pelan.

Dia melihat di tangan anaknya ada minyak untuk reumatik, hatinya merasa terhibur dan berkata : "Ibu lupa membawanya, untung kamu membawanya datang."

Dia berjalan ke samping ibunya, dan berlutut.

"Sudah sangat malam. Ibu bisa mengosoknya sendiri. Besok kamu masih harus pergi bekerja. pulanglah!" Kata ibunya.

Dia terpaku beberapa saat, akhirnya menangis dengan keras : "Ibu, maaf, ampuni aku, kita pulang sekarang!"

♥♥♥♥

Cerita dia atas saya terjemakan dari postingan teman facebook saya dari Taiwan. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan yang lalu saya ingin menulis tentang orang-orang tua yang dititipkan oleh keluarganya di panti jompo. Sebab saya tergerak karena melihat jeritan hati para manula yang dipaksa untuk berpisah dari keluargannya. Namun saya tidak tahu harus mulai dari mana, karena cerita yang saya dapat begitu kompleks. Tapi cerita di atas memberi saya inspirasi dari mana saya harus mulai menulis.

Pada akhir tahun 2011, karena kelumpuhan yang saya derita, saya kemudian dipindahkan ka sebuah panti yang menampung anak yatim piatu, anak cacat dan juga lansia. Di situlah saya bersentuhan secara langsung dengan para orang tua yang menjadi penghuin panti jompo. Saya mendengarkan kisah hidup mereka, canda mereka, kesedihan mereka, kerinduan mereka, tangis mereka, bahkan keputus asaan mereka.

Saya tergerak untuk menuliskan kisah mereka, dengan harapan agar orang-orang yang membaca tulisan saya bisa belajar dari kenyataan yang ada. Betapa hancurnya hati orang-orang tua yang dipaksa berpisah dengan keluarganya. Dan agar kita kelak jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan memasukan orang tua kita ke panti-panti jompo. Selama kita masih bisa merewat mereka, seharusnya kita berusaha untuk merawat mereka dengan baik. Karena, semewah apa pun sebuah panti jompo, tetap tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan berada di antara anak cucunya.

Selain itu, saya berharap agar tulisan ini dapat mengugah hati para perawat dan orang-orang yang bekerja di panti-panti jompo, agar mereka bisa melayani dengan penuh kasih. Belajar memiliki hati yang berpengertian dan belajar memahami hati dan perasaan orang-orang tua yang kita rawat. Bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang tua yang merasa tertolak dan terbuang. Mereka direngut secara paksa dari lingkungan mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka, kesenangan mereka, barang-barang mereka, serta orang-orang yang mereka kasihi. Karena itu kita harus mengasihi mereka dan menghargai mereka sebagai manusia seutunya.

Di artikel ini saya mencoba menuliskan beberapa kisah dari orang-orang tua yang paling sering berbincang-bincang dengan saya, sehingga saya lebih mengerti tentang kisah-kisah mereka, dan apa yang mereka rasakan selama mereka tinggal di panti jompo. Dan saya percaya, kisah mereka mewakili jeritan banyak orang tua yang tinggal di panti jompo. Karena pada umumnya semua orang tua yang dititipkan di panti jompo memiliki perasaan yang sama, yaitu perasaan tertolak dan terbuang.

Hanya ada satu seruan yang mereka teriakkan adalah "Aku Ingin Pulang". Entah itu pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarganya, atau pulang kepada Penciptanya. Pada dasarnya, tidak ada satu pun orang tua yang senang tinggal di panti jompo.

Kisah saya, saya mulai dengan cerita seorang nenek yang selalu memakai jilbab, dengan baju kebaya adat Jawa. Saya tidak tahu nama nenek ini, tetapi kami biasa memanggilnya dengan sebutan Mbah Uti.

Suatu pagi, tidak lama setelah saya tinggal di panti tersebut, saya dikejutkan oleh suara rebut-ribut. Ada suara orang tua yang menangis sambil berbicara dengan keras, juga ada suara beberapa perawat yang berbicara tidak kalah kerasnya. Percakapan mereka terdengar sangat jelas dari jendela kamar saya, dan percakapan mereka yang kebanyakan mengunakan bahasa Jawa, kurang lebih seperti ini:

Si mbah : "Aku kate mule." ( Saya mau pulang.)

Perawat : "Mule neng endi mbah?" ( Pulang ke mana mbah? )

Si mbah : "Mule neng omaku, aku kangen karo putuku." ( Pulang ke rumahku, aku rindu dengan cucuku. ) Kata si mbah sambil menangis.

Perawat : "Oma’e neng endi mbah?" ( Rumahnya di mana mbah? )

Si mbah : "Juanda."

Perawat : "Mule numpak opo mbah?" ( Pulang naik apa mbah? )

Si mbah : "Becak."

Perawat : "Duit’e endi mbah?" ( Uangnya mana mbah? ) Tanya mereka sambil tertawa.

Si mbah : "Pokok’’e aku kate mule, aku kangen karo putuku. " ( Pokoknya aku mau pulang, aku rindu sama cucuku. ) Jawab si mbah disertai tangis yang bertambah keras.

Setelah pedebatan sekitar ½ jam lamanya, akhirnya mbah uti yang berusaha untuk kabur itu mau dibujuk untuk kembali ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Karena para perawat berjanji untuk menghubungi anaknya agar memjemputnya pulang ke rumah. Tapi ternyata janji mereka hanya untuk membohongi mbah uti supaya ia mau kembali ke atas. Karena keluarganya tetap tidak pernah datang, walaupn hanya untuk menjenguknya.

Beberapa hari setelah usaha pelarian mbah uti, saya dibawa naik ke lantai atas untuk melihat oma-oma. Saat inilah saya bisa mengenal mbah uti secara langsung, dan mendengar kisahnya, bagaimana sampai dia bisa tinggal di panti jompo itu.

Beberapa bulan yang lalu, anak mbah uti berkata bahwa mereka sekeluarga akan berangkat naik Haji. Karena itu, mereka akan menitipkan si mbah di panti jompo untuk sementara waktu, karena mereka tidak tegah meninggalkan si mbah sendirian di rumah. Dan setelah pulang dari Haji, mereka akan kembali menjemput si mbah pulang ke rumah. Sebab itu, si mbah dengan suka rela diantar ke panti  jompo. Namun sampai berbulan-bulan lamanya, anaknya tidak pernah kembali untuk menjemput si mbah.

Saya tidak tahu, apakah naik Haji hanya merupakan alasan anaknya saja agar si mbah mau berangkat ke rumah jompo tanpa paksaan. Atau memang anaknya pergi naik Haji, dan setelah pulang, dia lupa masih mempunyai seorang ibu yang dititipkannya di panti jompo. Yang pasti, keluargannya tidak ada yang pernah datang untuk menenggok si mbah lagi.

Sampai suatu hari, petugas kebersihan yang akan menyapu kamar si mbah menemukan si mbah tergeletak tidak sadar di lantai kamarnya. Mungkin si mbah mengalami serangan strok karena batinnya begitu tertekan karena merasa dibuang oleh anaknya dan rasa rindunya kepada cucunya. Akhirnya pihak panti benar-benar menghubungi keluarganya. Anaknya segera datang, dan sambil menangis membawa si mbah yang tidak sadarkan diri itu pulang.

Saya tidak tahu perasaan apa sebenarnya yang ada di balik tangis anak si mbah. Apakah ia benar-benar menyesal karena telah menelantarkan ibunya, atau ia menangis hanya karena dia takut dihukum Tuhan sebagai anak durhaka. Seandainya dia benar-benar menyesal sekalipun, penyesalannya itu tidak ada gunanya, karena dia tidak mungkin bisa membayar kembali apa yang ia telah lakukan terhadap ibunya. Ia tidak bisa membalikan waktu, mengubah apa yang sudah dia lakukan, sehingga membuat ibunya tidak menderita. Apalagi sekarang ibunya dalam keadaan koma, dan entah dia bisa sadar lagi atau tidak. Jika dia benar-benar menyesal, maka perasaan bersalah akan membebaninya seumur hidupnya. Dan sejak saat itu saya tidak pernah lagi mendengar kabar tentang mbah uti.

Kisah ke dua saya adalah cerita tentang seorang oma yang terkenal jahat dan pemarah oleh para perawat di situ. Saya lupa namanya. Yang saya ingat, oma itu mempunyai luka yang terbuka lebar di mata kakinya akibat penyakit diabetes yang dideritanya.

Suatu siang, oma ini juga pernah mencoba melarikan diri seperti mbah uti. Saat para perawat istirahat siang, dan suasana agak sepi, si oma berusaha untuk melarikan diri. Namun, karena dia harus berjalan dengan mengunakan walker, maka suara walker yang rebut membuat para perawat mengetahui usaha melarikan dirinya, dan mengejarnya.

Oma ini tidak seperti mbah uti yang mudah dibujuk untuk kembali ke atas. Oma ini tetap ngotot menunggu anaknya datang di pintu gerbang, meski para perawat sudah berjanji untuk menelpon anaknya agar datang menjemputnya. Akhirnya, setelah menunggu sampai malam, dan anaknya tidak benar-benar datang menjemputnya, maka dengan terpaksa dia kembali ke kamarnya di lantai atas.

Karena saya tahu oma ini bisa berbahasa Mandarin, maka ketika saya mendapat kesempatan untuk naik ke lantai atas, saya mencoba mendekatinya dengan mengajaknya bercakap-cakap dengan bahasa Mandarin dan memberinya renungan harian berbahasa Mandarin, serta kaca pembesar agar dia bisa membaca dengan lebih mudah.

Dari percakapan tersebut saya mengetahui bahwa dia banyak menyimpan kepahitan dalam hatinya. Meskipun dari wajahnya sudah mencerminkan hati yang keras dan penuh kebencian, namun dari pembicaraanlah saya bisa mengetahui bahwa kepahitan sudah begitu dalam merusak hatinya.

Meskipun di buku status tercatat bahwa dia beragama Kristen, namun dia berkata bahwa dia tidak mau memeluk agama tertentu, karena dia takut akan dibenci orang. Dari sini jelas terlihat kalau dia takut mengalami penolakan, karena seumur hidupnya dia telah mengalami penolakan.

Sebagai anak perempuan dari keluarga Tionghua kolot, papanya melarangnya untuk bersekolah, meskipun dia sangat ingin bersekolah. Karena menurut budaya Tionghua yang lebih menghargai anak laki-laki, tidak ada gunanya seorang anak perempuan bersekolah. Dan ini menyebabkan kepahitan di hatinya terhadap papanya.

Setelah dewasa dan menikah, ternyata suamianya adalah seorang penjudi. Suaminya tidak menafkai keluarganya, sebaliknya menghabiskan seluruh hartanya untuk berjudi, karena suaminya dulu adalah anak yang sangat dimanja oleh orang tuanya, sehinggah setelah menikah dia tidak bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Dan dalam keadaan yang susah itu, dia harus bekerja keras untuk membesarkan anak-anaknya. Ini pun menyebabkan kepahitan di hatinya.

Setelah semua anaknya dewasa dan memiliki kehidupan yang layak, anak-anaknya tidak membalas apa yang sudah dia lakukan untuk mereka dengan merawatnya dengan baik. Sebaliknya anak-anaknya justu memasukannya ke panti jompo. Ini menyebabkan kepedihan yang sangat di hatinya.

Dari pengalaman pahit demi pengalaman pahit yang dia lewati seumur hidupnya menyebabkan oma ini memiliki hati yang sangat keras. Sehingga ia terkesan sebagai orang yang jahat. Sebenarnya oma ini sangat membutuhkan kasih, jiwanya yang beku hanya dapat dicairkan oleh kasih yang tulus. Namun, karena minimnya pengetahuan pisikologi para perawat, akhirnya yang oma ini dapatkan bukannya kasih, tetapi perlakuan kasar. Karena perawat hanya melihat sikap oma ini yang memusuhi semua orang. Mereka tidak bisa atau tidak mau melihat apa yang melatar belakangi sikap keras dari oma ini. Akibatnya perlakuan para perawat semakin memperparah luka di hatinya.

Kisah terakhir saya adalah tentang seorang oma berusia 83 tahun yang suka bercanda bernama Kuntari, atau biasa dipanggil dengan sebutan mak Kun. Saya megetahui kisah hidupnya saat dia berkunjung ke kamar saya di hari yang bertepatan dengan perayaan Imlek. Karena mak Kun adalah keturunan Tionhua, maka dia sangat merasakan perbedaan suasana Imlek ketika dia masih tinggal di tengah keluarganya, dan ketika dia sudah tinggal di panti.

Dia bercerita bahwa dia dulu tinggal di daerah Pregolan ( daerah itu merupakan salah satu pemukiman kelas menengah ke atas di kota Surabaya ). Dan ternyata mak Kun dulu bergereja di tempat yang sama dengan saya. Karena gereja saya dekat sekali dengan daerah Pregolan, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Semua anak mak Kun belum percaya Tuhan. Setiap Minngu dia sendirian pergi ke gereja. Suatu hari, mak Kun mendapati bahwa anak laki-lakinya yang sudah menikah dan tinggal bersamanya ternyata berselingku dengan adik tirinya sendiri, sampai mempunyai seorang anak dari hubungan itu. Suami mak Kun mempunyai gundik di kota Jombang, dan mempunyai seorang anak perempuan dengan gundiknya itu. Anak dari gundik inilah yang kemudian berselingku dengan anak mak Kun. Meskipun mereka sama-sama mengetahui bahwa mereka adalah saudara satu ayah meskipun lain ibu.

Mengetahui hal itu, mak Kun menjadi sangat marah dan bertengkar hebat dengan anak laki-lakinya. Dia menyebut anaknya itu sebagai binatang karena berselingku dengan adiknya sendiri. Anaknya tidak terima mendengar hinaan mak Kun, dan memukul mak Kun hingga jatuh. Kemudian dia mengirim mak Kun ke panti jompo. Sejak saat itu, tidak ada satu pun keluarganya ataupun anggota gereja yang mengunjungunya. Mak Kun menceritakan ini semua sambil menangis.

Karena mak Kun berasal dari gereja yang sama dengan saya, maka saya mencoba menceritakan tentang mak Kun kepada seorang teman saya yang terlibat dalam pelayanan di gereja. Saya berharap dia bisa menolong supaya ada orang dari gereja yang mengunjungi mak Kun, karena dia banyak mengenal orang di gereja. Namun jawabannya sempat membuat saya kecewa. Dia berkata, kenapa mak Kun tidak ikut cell grup sehingga ada teman-teman cell grup yang akan care kepadanya. Bayangkan, bagaimana seorang oma berusia 80 tahun harus ikut cell grup yang selalu selesai di atas jam 9 malam? Bayangkan, bagaimana reaksi anaknya yang belum percaya Tuhan jika setiap hari Selasa harus menunggu mamanya pulang cell grup sampai larut malam?

Hal ini membuat saya bertanya, memang seperti inikah model gereja saat ini? Gereja sibuk melakukan penjangkauan keluar dan aksi-aksi sosial, tetapi mengabaikan dombanya sendiri yang sedang terluka. Apakah tidak ada satu orang pun di gereja yang menyadari ketidak hadiran mak Kun setelah anaknya mengirimnya ke panti jompo, dan berusaha untuk mencari tahu keberadaan nenek tua yang tiba-tiba mengilang dari gereja itu? Ataukah memang selama ini tidak ada seorang pun yang memperhatikan kehadiran mak Kun di gereja, sehingga ketika mak Kun tidak lagi datang ke gereja, tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan dia?

Namun, apa pun alasannya sehingga tidak ada seorang pun dari gereja yang datang menjenguk mak Kun, saya berharap agar kita sebagai orang percaya tidak mengabaikan 1 jiwa pun yang datang ke gereja kita. Karena setiap jiwa berharga di mata Tuhan.

Ketika saya menuliskan kisah ini, mak Kun sudah berada bersama Bapa di surga yang sangat mengasihinya dan tidak akan membuangnya. Mak Kun meninggal beberapa bulan yang lalu, mungkin karena dia menderita diabetes. Banyak koreng-koreng di kakinya yang tidak kunjung sembuh meskipun dia sudah berpantang untuk memakan makanan yang menurutnya bisa menyebabkan gatal dan hanya makan sayur serta tahu tempe setiap hari.

Saya ingat suatu pagi, mak Kun menangis di depan pintu lift yang tepat berada di depan jendela kamar saya sehingga saya bisa mendengar suaranya dengan jelas. Mak Kun meminta untuk di bawa ke dokter dan periksa gula darah karena semalam kakinya yang korengan digigit tikus. Ia takut koreng di kakinya yang tidak sembuh-sembuh itu diakibatkan oleh gula darahnya yang tinggi. Perawat hanya menjawab agar dia menunggu anaknya datang untuk membawanya periksa darah. Padahal mereka tahu pasti bahwa anak mak Kun tidak mungkin datang. Karena setelah beberapa tahun mak Kun tinggal di panti, tidak sekalipun keluarganya datang menjenguknya.

Saya sangat sedih mendengar tangis mak Kun. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur saya dan membawanya pergi ke dokter. Kelumpuhan saya menghalangi saya untuk menolong mak Kun.

Sampai saat mak Kun koma pun, anaknya tetap tidak peduli padanya. anak perempuannya hanya datang sebentar untuk melihat ibunya yang sedang sekarat, dan kemudian meninggalkannya. Anak-anaknya datang kembali malam harinya setelah mak Kun meninggal dengan membawa ambulans untuk mengambi jenazanya.

Saya tidak tahu bagaimana perlakuan mak Kun kepada anak-anaknya ketika mereka masih kecil sehingga membuat semua anaknya tidak peduli kepadanya ketika mereka dewasa. Mungkin diwaktu muda mak Kun juga tidak sepenuhnya perhatian kepada anak-anaknya. Mungkin juga anak-anaknya selalu menjadi pelampiasan kemarahannya karena suaminya berselingku. Tetapi bagaimanapun kita harus tetap menghormati orang tua kita, karena di dunia ini tidak ada orang tua yang sempurna. Setiap orang tua, baik disengaja atau tidak, pasti pernah menyakiti hati anak-anaknya.

Kita menghormati orang tua kita, karena itu adalah kehendak Tuhan bagi kita. Dan perintah untuk menhormati orang tua adalah satu-satunya perintah Tuhan yang mengandung janji. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. ( Keluaran 20:12 )

Memang mudah untuk menghormati orang tua yang mengasihi kita. Tetapi ketaatan kita kepada perintah Tuhan justru diuji ketika kita harus menghormati orang tua yang telah menelantarkan kita dan memperlakukan kita dengan buruk. Ketika kita bisa menghormati dan mengasihi orang tua yang tidak pernah mengasihi kita, di situlah kasih Allah dinyatakan melalui hidup kita. Sebuah kasih yang tanpa syarat. Sebuah kasih yang mampu membalas kejahatan dengan kebaikan.

Selain kisah ke tiga oma di atas, sebenarnya masih banyak kisah oma-oma lain yang bisa menjadi cermin untuk kita, agar kita tidak menelantarkan anggota keluarga kita yang sudah lanjut usia. Namun pada dasarnya yang mereka rindukan hanya satu yaitu: "Aku Ingin Pulang". Entah itu pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarganya, atau pulang kepada Penciptanya. Tidak ada satu pun orang tua yang senang tinggal di panti jompo, dan menganggap panti jompo sebagai rumahnya.

Namun pada kenyataannya masih banyak orang tua yang tidak beruntung sehingga mereka harus tinggal di panti-panti jompo walaupun masih memiliki anak dan cucu, karena anak cucu mereka tidak bisa atau tidak mau merawat mereka.

Saya berharap, artikel yang singkat ini dapat mengugah hati kita semua untuk kita bisa berbakti kepada orang tua kita. Tidak peduli seberapa besar kesulitan yang akan kita hadapi untuk memelihara anggota keluarga kita yang sudah lanjut usia. Hendaknya itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk menghindari tanggung jawab kita merawat orang tua kita, dan menitipkan mereka ke panti jompo.

Saya percaya, jika kita setia melakukan firman Tuhan untuk berbakti kepada orang tua kita, Tuhan akan menolong kita seberapa besarpun kesulitan yang akan kita hadapi ketika kita harus merawat orang tua kita. Tuhan sanggup mencurahkan kasih dan kekuatanNya kepada kita. Bahkan Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita sehingga kita bisa merawat orang tua kita dengan baik. Karena kita telah melakukan apa yang berkenan kepadaNya.

Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.
 
( I Timotius 5:4 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar