Di sebuah taman ada sebatang pohon bambu yang tumbuh dengan sangat indah. Setiap hari sang pemilik taman datang untuk merawat pohon bambu tersebut. Pemilik taman memberi pupuk, menyiraminya, membersihkan rumput di sekitarnya, sehingga pohon bambu itu tumbuh dengan sangat indah, dan tinggi melebih pohon-pohon lain di dalam taman itu.
Pohon bambu sangat berterima kasih atas apa yang sudah tuannya lakukan kepadanya, dan ia ingin membalas kebaikan tuannya kepadanya.
Suatu hari pemilik taman itu datang dan berkata kepada pohon bambu itu:
“Aku ingin memakaimu. Bersediakah engkau aku pakai menjadi menjadi sesuatu yang berguna?”
Karena pohon bambu itu sangat ingin membalas kebaikan tuannya, maka dengan cepat ia menjawab:
“Tentu saja aku bersedia tuan.”
Pemilik taman itu lalu mengambil kapak, dan menebang pohon bambu itu, sehingga pohon bambu itu sekarang tegeletak di tanah. Sambil menangis pohon bambu berkata kepada tuannya:
“Mengapa tuan menebang aku? Aku yang dulu tumbuh paling tinggi dalam taman ini, sekarang tergeletak di tanah.”
“Jika aku tidak menebangmu, aku tidak bisa memakaimu.” Jawab tuannya.
Keesokan harinya, tuannya datang lagi dan berkata kepada pohon bambu itu:
“Sekarang aku akan memotong habis semua daunmu. Bersediakah engkau kupotong habis semua daunmu?”
Pohon bambu itu dengan terkejut berkata:
“Tuan kemarin tuan sudah menebang aku, sehingga aku tergeletak di tanah. Sekarang kenapa tuan ingin merontokan daunku juga? Aku akan kelihatan sangat jelek jika tidak memiliki daun”
“Jika aku tidak menghabiskan daunmu, aku tidak bisa memakaimu.” Jawab tuannya.
Karena ingin menbalas kebaikan tuannya, akhirnya pohon bambu itu setuju untuk dipotong semua daunnya.
Beberapa hari kemudian, pemilik taman itu datang lagi.
“Sekarang aku akan memotong semua rantingmu. Bersediakah engkau?” Kata tuannya.
Pohon Bambu itu menangis, dan berkata:
“Tuan, di dalam taman ini ada banyak pohon lain, kenapa engkau memilih aku? Tidakkah kau lihat aku sudah sangat menderita?”
“Karena aku mengasihi engkau, maka aku memilih engkau.” Jawab tuannya
Akhirnya dengan berat hati pohon bambu itu membiarkan tuannya memotong semua rantingnya.
Beberapa saat kemudian tuannya datang lagi dan berkata kepada pohon bambu itu:
“Sekarang aku aku akan mengorek dan membuang semua sekat yang ada dalam tubuhmu. Bersediakah engkau?”
Pohon bambu itu sangat sedih.
“Tuan, kenapa tuan tegah berbuat ini kepadaku? Petama engkau menebang aku, lalu memotong semua daun dan rantingku, dan sekarang engkau ingin mengorek setiap sekat dalam tubuhku. Tidakkah engkau lihat aku sangat menderita?”
“Jika aku tidak melakukan semua itu kepadamu, aku tidak bisa memakaimu.” Jawab tuannya.
Karena ingin membalas kebaikan tuannya, pohon bambu itu membiarkan tuannya mengorek dan membuang semua sekat yang ada dalam tubuhnya.
Kini pohon bambu itu siap dipegunakan oleh tuannya untuk menjadi saluran air untuk mengairi seluruh taman itu.
Sebelum Allah dapat memakai kita menjadi saluran air hidup yang dapat menjadi berkat bagi banyak orang, terlebih dulu Allah harus memproses kita dan seringkali proses tersebut sangat menyakitkan. Namun, satu hal yang menjadi pertanyaanNya, bersediakah kita melewati proses tersebut?
Glory to The Lord
Tidak ada komentar:
Posting Komentar