Saya suka duduk menonton ibu membuat kerajinan tangan.
Saat berusia 5 tahun, saya menyulam gambar induk ayam dan anak ayam dengan
mengunakan kaki, dan sampai sekarang saya masih merasa bangga…….. Saya suka
berenang di dalam air, namun terkadang, mengapung jauh lebih santai bagi saya.
Teman-teman menertawakan cara saya mengapung seperti gabus, sebaliknya ayah
saya seperti batu yang tenggelam ke dalam air….. Sekolah membantu saya dengan
membuatkan bangku yang khusus, sehingga kaki saya dapat menyentu keyboard
dengan ketinggian yang tepat. Lagu pertama yang saya ciptakan berjudul
"Aku ingin punya teman", ayah membantu menambahkan liriknya, paduan
suara anak-anak kami sering menyanyikan lagu ini……. Dikutip dari, Lena Maria
"Gadis yang Terbang dengan Menggunakan Kaki"
Pada tahun 1968, di Swedia, Eropa utara yang sedang
tertutup salju, sepasang suami isteri dengan penuh harapan menyambut kelahiran
putri pertama mereka, Lena Maria. Namun yang membuat mereka terkejut adalah: Lena, ternyata adalah anak yang lahir dengan cacat yang
parah. Dia tidak memiliki tangan, panjang kaki kirinya hanya setengah dari kaki
kanannya. Saat itu ada dokter yang menyarankan agar anak ini dimasukan ke
lembaga kesejahteraan social. Namun orang tua Lena
tanpa ragu membawanya pulang dan merawatnya dengan sepenuh hati. "Tidak
peduli punya tangan atau tidak, dia butuh sebuah keluarga." Ini adalah
alasan orang tua Lena dalam mengambil
keputusan tersebut.
Memegang
botol susu dengan jari kaki
Ayah Lena adalah seorang polisi, dia sering membawa
anjing polisi dalam penyelidikan. Waktu tugasnya bergiliran, siang hari dia
sering di rumah membantu isterinya merawat anak. Ibu Lena pernah berkerja
sebagai fisioterapi, sebelum Lena berusia 10 tahun, dia sudah sepenuhnya
menjadi ibu rumah tangga, dia menggunakan seluruh latihan yang dia peroleh
selama bekerja dulu untuk membantu Lena.
Merawat anak dengan cacat yang berat, otomatis adalah
kerja keras yang tanpa henti. Namun, ibu Lena dari semula telah mengambil keputusan
untuk sedapat mungkin memperlakukan Lena
seperti memperlakukan anak normal lainnya. Saat Lena berusia 1 bulan lebih, mulai memainkan dot susu dengan
kakinya, kemudian dengan cepat, dia bisa sewaktu-waktu menghisap ibu jari
kakinya. Kemudian ibunya mendapati, jika di botol susunya ada band karet, dan
memasangkan band karet itu pada ibu jari kaki Lena,
dia sepenuhnya akan bisa minum susu sendiri.
Saat Lena berumur 1 tahun, adik laki-lakinya, Ole
lahir, dia adalah anak yang sehat. Lena dan
adiknya melewati masa kecil yang bahagia di desa. Saat musim panas, mereka
memetik dan memakan Blueberry di dalam hutan, ayah dan ibunya mendirikan tenda
di tepi danau, dan mereka tidur di dalamnya. Bangun di saat pagi yang dipenuhi
sinar matahari, terasa sungguh indah. Saat musim dingin, Lena
mencoba untuk bermain ski, meskipun dia meluncur dengan buruk, tapi ayah ibunya
memasang alas di bagian bokongnya, agar saat jatuh dia tidak merasa terlalu
sakit.
Orang tua Lena
mendorong dia dan adiknya melakukan hal-hal yang mereka sukai, juga memberinya
waktu yang cukup, agar dia sendiri bisa menemukan cara untuk mengatasi hal-hal
yang berbeda, dan tidak setiap kali pada saat dia meminta pertolongan, dengan
segera akan ditolong. Namun di saat kemampuannya benar-benar tidak memungkinkan
dia untuk melakukannya sendiri, ayah ibunya selalu siap untuk membantunya.
Contohnya, Lena suka menonton ibunya membuat
kerajinan tangan, dia sangat terpesona dengan menyulam dan menjahit, dan bisa
mengerjakannya berjam-jam tanpa berhenti. Saat usia 5 tahun menyulam gambar
induk ayam dan anak ayam, dan sampai sekarang masih merasa bangga.
"Hasil pendidikan yang seperti ini, membuat saya
tidak pernah marah atau pun bersedih karena keterbatasan fisik. Karena saya
tidak akan melihat kecacatan sebagai hal yang negatif. Saya selalu merasa diri
saya sama dengan orang lain, hanya cara untuk melakukan sesuatu saja yang
berbeda."
Juara renang
dan penyanyi
Saat Lena berusia 3 tahun, dia mulai belajar berenang
di bawah bimbingan orang tuanya. Mereka mulai dengan melakukan beberapa
permainan di dalam air, ketika dia sudah terbiasa dengan air, dicoba mengapung
dengan bantuan lengan orang tuanya. Sampai berusia 5 tahun, orang tuanya baru
berani untuk melepaskannya mengapung sendirian. Saat usia 6 tahun Lena sudah
bisa berenang, renang gaya
bebasnya sangat bagus. Sejak itu bakat berenangnya berkembang sepenuhnya. Saat
15 tahun, dia dipilih karena prestasi yang luar biasa untuk masuk dalam tim
nasional Swedia. Saat 18 tahun, dia mengikuti turnamen Piala Dunia, dan
memecahkan rekor dunia, serta merai 4 medali emas dalam cabang renang gaya
kupu-kupu.
Karena pengaruh
dari orang tuanya, Lena dari kecil menyukai
musik, orang tuanya mendorongnya mempersembahkan nyanyian dalam persekutuan
keluarga, dia juga mengikuti paduan suara anak-anak di gereja. Lagu pertama
yang diciptakannya berjudul "Aku ingin punya teman", ayah membantu
menambahkan liriknya, paduan suara anak-anak sering menyanyikan lagu ini. Saat
Lena belajar keyboard di sekolah musik setempat, sekolah membantunya membuat
sebuah bangku khusus, agar jari kakinya bisa menyentuh keyboard dengan
ketinggian yang tepat. Ketika dia memainkan musik yang indah, juga bernyanyi
sambil bermain musik, dia merasa bahagia tak terkira. Sejak saat itu, timbulah
impiannya untuk menjadi seorang penyanyi professional.
Setelah Lena lulus dari SMA, dia masuk Universitas
Stockholm jurusan musik vokal, dan mulai menerima pelatihan yang profesional
dan ketat. Selama periode ini, dia juga meninggalkan asuhan orang tua, seorang
diri mengatasi bermacam persoalan dalam hidup. Dia seorang diri memasak,
mencuci baju, membeli barang, juga mengendarai mobil yang dibuat secara khusus
dengan kecepatan tinggi berlari di jalan tol. Lena
yang mandiri dan percaya diri, memancarkan sukacita dari dalam keluar, juga
suasana ceria. Televisi Swedia menjadikannya tokoh utama dalam film dokumenter
"Melihat Tujuan", yang membuat banyak penonton sangat terharu.
Setelah lulus dari Universitas, Lena
mengadakan konser di berbagai tempat di dunia, dan menjadi penyanyi terkenal di
seluruh dunia, juga mendapat kehormatan untuk bertemu Ratu Swedia. Namun di
saat karirnya sebagai penyanyi semakin berkembang, dia mulai mempertanyakan:
Mungkin sekarang dia bernyanyi, adalah karena setiap orang ingin mendengar
dirinya bernyanyi? Dia tidak lagi merasa pertunjukan dan konser musik adalah hal
yang membahagiakan, saat itu satu-satunya hal yang dia ingin lakukan, dan juga
ingin mendapatkan dukungan dari orang tuanya adalah, untuk kembali mendengarkan
suara hatinya.
Dalam sebuah lagu Lena
menulis: Di sebuah sudut di dalam hatiku, aku bisa mendengar Engkau dengan
lembut memanggil namaku. Seperti angin yang berhembus dengan lembut, Engkau di sana, aku beristirahat di
dalam tanganMu. Engkau peduli pada jiwaku yang terdalam, serta semua kesalahan
yang aku perbuat, namun Engkau tetap mengasihiku, mengasihiku seperti dahulu……..
Penyertaan
selamanya
Pada waktu Lena tidak
bergairah untuk mengadakan konser, dia pergi belajar di sekolah Alkitab.
Sementara itu, dalam perjalanannya ke India, dia mengalami banyak kesukaran,
tetapi sebagian besar justru merubah kepribadian dan pemikirannya, dan membuat
imannya semakin teguh, dan dia belajar menghargai hal-hal yang dulunya dia
tidak mengerti bagaimana untuk menghargainya, dan lagi, gairahnya kepada musik
kembali lagi, serta kembali memiliki tenaga pendorong untuk bernyanyi.
Pada tahun 1995, Lena menjadi pengantin yang berbahagia, dia menikah dengan sesama musisi Buren. Ini bukan berarti bahwa sang putri dan sang pangeran sejak saat itu menjalani hidup tanpa kesulitan, mereka menghadapi banyak persoalan, namun mereka belajar untuk menerima, memahami dan berdoa. Dalam hidupnya, Lena bukannya tidak pernah memiliki keraguan, mengapa bisa ada begitu banyak penderitaan, rasa sakit, dan rintangan? Dia juga tidak memiliki cara sederhana untuk memecahkan masalah, tapi dia percaya: Adanya kegelapan adalah untuk menarik keluar terang.
Ada banyak orang yang bertanya melalui surat
kepada Lena: Bagaimana engkau bisa begitu
antusias menghadapi kehidupan? Lena
menyebutkan tiga alasan: Pertama, sangat jelas bahwa setiap orang pada dasarnya
sangat berbeda. Semenjak kecil Lena selalu
penuh sukacita dan rasa ingin tahu terhadap kehidupan, dia selalu melihat sisi
terang dalam segala hal, dan bukan sisi gelapnya. Dia berani untuk mencoba
melakukan hal-hal yang diketahuinya, penuh rasa terima kasih terhadap
orang-orang di sekitarnya, dan bukan kebencian. "Manusia hidup, tidak soal
apakah ia punya tangan, persoalannya adalah apakah ia punya kasih." Kedua,
berkat orang tua Lena, sikap mereka terhadap cacat tubuh Lena santai dan
positif, memberinya sebuah tempat yang aman, membantunya untuk sukses, juga
mengajarinnya untuk menerima kekalahan. Yang mereka kasihi adalah diri
putrinya, dan bukan karena dia bisa melakukan sesuatu. Alasan ketiga, yang juga
adalah alasan terpenting, adalah iman Lena.
Berdasarkan ingatannya, iman adalah bagian yang sangat alami dalam
kehidupannya. Sebagai seorang Kristen, dia tahu siapa pun dirinya, bagaimanapun
rupanya, dia tetap berharga. Dia sering teringat Mazmur di dalam Alkitab:
" Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam
kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan
ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."
Saat Lena berjalan-jalan di dalam hutan, dia
bersenandung menyanyikan lagu yang dia ciptakan sendiri: "Aku berjalan di
jalan kecil dalam hutan bersama Tuhan Sang Pencipta. Burung kecil di dekatku
sedang menyanyikan melodi yang indah. Dia menuntunku untuk melihat indahnya
ciptaan, aku terbang dengan kakiku di jalan kecil dalam hutan. Burung di udara
tidak pernah kuatir, karena ada suplai yang melimpah dari Bapa Surgawi. Aku
yang dikasihiNya, pasti akan menerima lawatan berlipat ganda. Dia mencabut
rintangan semak duri di dalam hutan untukku, membuat jalanku penuh terang.
jalan kecil dalam hutan adalah seperti jalan hidupku, aku terbang dengan kakiku
di jalan kecil dalam hutan."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar