Kamis, 12 Juni 2014

Gadis yang Terbang dengan Menggunakan Kaki



Saya suka duduk menonton ibu membuat kerajinan tangan. Saat berusia 5 tahun, saya menyulam gambar induk ayam dan anak ayam dengan mengunakan kaki, dan sampai sekarang saya masih merasa bangga…….. Saya suka berenang di dalam air, namun terkadang, mengapung jauh lebih santai bagi saya. Teman-teman menertawakan cara saya mengapung seperti gabus, sebaliknya ayah saya seperti batu yang tenggelam ke dalam air….. Sekolah membantu saya dengan membuatkan bangku yang khusus, sehingga kaki saya dapat menyentu keyboard dengan ketinggian yang tepat. Lagu pertama yang saya ciptakan berjudul "Aku ingin punya teman", ayah membantu menambahkan liriknya, paduan suara anak-anak kami sering menyanyikan lagu ini……. Dikutip dari, Lena Maria "Gadis yang Terbang dengan Menggunakan Kaki"

Pada tahun 1968, di Swedia, Eropa utara yang sedang tertutup salju, sepasang suami isteri dengan penuh harapan menyambut kelahiran putri pertama mereka, Lena Maria. Namun yang membuat mereka terkejut adalah: Lena, ternyata adalah anak yang lahir dengan cacat yang parah. Dia tidak memiliki tangan, panjang kaki kirinya hanya setengah dari kaki kanannya. Saat itu ada dokter yang menyarankan agar anak ini dimasukan ke lembaga kesejahteraan social. Namun orang tua Lena tanpa ragu membawanya pulang dan merawatnya dengan sepenuh hati. "Tidak peduli punya tangan atau tidak, dia butuh sebuah keluarga." Ini adalah alasan orang tua Lena dalam mengambil keputusan tersebut.

Memegang botol susu dengan jari kaki

Ayah Lena adalah seorang polisi, dia sering membawa anjing polisi dalam penyelidikan. Waktu tugasnya bergiliran, siang hari dia sering di rumah membantu isterinya merawat anak. Ibu Lena pernah berkerja sebagai fisioterapi, sebelum Lena berusia 10 tahun, dia sudah sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga, dia menggunakan seluruh latihan yang dia peroleh selama bekerja dulu untuk membantu Lena.

Merawat anak dengan cacat yang berat, otomatis adalah kerja keras yang tanpa henti. Namun, ibu Lena dari semula telah mengambil keputusan untuk sedapat mungkin memperlakukan Lena seperti memperlakukan anak normal lainnya. Saat Lena berusia 1  bulan lebih, mulai memainkan dot susu dengan kakinya, kemudian dengan cepat, dia bisa sewaktu-waktu menghisap ibu jari kakinya. Kemudian ibunya mendapati, jika di botol susunya ada band karet, dan memasangkan band karet itu pada ibu jari kaki Lena, dia sepenuhnya akan bisa minum susu sendiri.

Saat Lena berumur 1 tahun, adik laki-lakinya, Ole lahir, dia adalah anak yang sehat. Lena dan adiknya melewati masa kecil yang bahagia di desa. Saat musim panas, mereka memetik dan memakan Blueberry di dalam hutan, ayah dan ibunya mendirikan tenda di tepi danau, dan mereka tidur di dalamnya. Bangun di saat pagi yang dipenuhi sinar matahari, terasa sungguh indah. Saat musim dingin, Lena mencoba untuk bermain ski, meskipun dia meluncur dengan buruk, tapi ayah ibunya memasang alas di bagian bokongnya, agar saat jatuh dia tidak merasa terlalu sakit.

Orang tua Lena mendorong dia dan adiknya melakukan hal-hal yang mereka sukai, juga memberinya waktu yang cukup, agar dia sendiri bisa menemukan cara untuk mengatasi hal-hal yang berbeda, dan tidak setiap kali pada saat dia meminta pertolongan, dengan segera akan ditolong. Namun di saat kemampuannya benar-benar tidak memungkinkan dia untuk melakukannya sendiri, ayah ibunya selalu siap untuk membantunya. Contohnya, Lena suka menonton ibunya membuat kerajinan tangan, dia sangat terpesona dengan menyulam dan menjahit, dan bisa mengerjakannya berjam-jam tanpa berhenti. Saat usia 5 tahun menyulam gambar induk ayam dan anak ayam, dan sampai sekarang masih merasa bangga.

"Hasil pendidikan yang seperti ini, membuat saya tidak pernah marah atau pun bersedih karena keterbatasan fisik. Karena saya tidak akan melihat kecacatan sebagai hal yang negatif. Saya selalu merasa diri saya sama dengan orang lain, hanya cara untuk melakukan sesuatu saja yang berbeda."

Juara renang dan penyanyi

Saat Lena berusia 3 tahun, dia mulai belajar berenang di bawah bimbingan orang tuanya. Mereka mulai dengan melakukan beberapa permainan di dalam air, ketika dia sudah terbiasa dengan air, dicoba mengapung dengan bantuan lengan orang tuanya. Sampai berusia 5 tahun, orang tuanya baru berani untuk melepaskannya mengapung sendirian. Saat usia 6 tahun Lena sudah bisa berenang, renang gaya bebasnya sangat bagus. Sejak itu bakat berenangnya berkembang sepenuhnya. Saat 15 tahun, dia dipilih karena prestasi yang luar biasa untuk masuk dalam tim nasional Swedia. Saat 18 tahun, dia mengikuti turnamen Piala Dunia, dan memecahkan rekor dunia, serta merai 4 medali emas dalam cabang renang gaya kupu-kupu.

 Karena pengaruh dari orang tuanya, Lena dari kecil menyukai musik, orang tuanya mendorongnya mempersembahkan nyanyian dalam persekutuan keluarga, dia juga mengikuti paduan suara anak-anak di gereja. Lagu pertama yang diciptakannya berjudul "Aku ingin punya teman", ayah membantu menambahkan liriknya, paduan suara anak-anak sering menyanyikan lagu ini. Saat Lena belajar keyboard di sekolah musik setempat, sekolah membantunya membuat sebuah bangku khusus, agar jari kakinya bisa menyentuh keyboard dengan ketinggian yang tepat. Ketika dia memainkan musik yang indah, juga bernyanyi sambil bermain musik, dia merasa bahagia tak terkira. Sejak saat itu, timbulah impiannya untuk menjadi seorang penyanyi professional.

Setelah Lena lulus dari SMA, dia masuk Universitas Stockholm jurusan musik vokal, dan mulai menerima pelatihan yang profesional dan ketat. Selama periode ini, dia juga meninggalkan asuhan orang tua, seorang diri mengatasi bermacam persoalan dalam hidup. Dia seorang diri memasak, mencuci baju, membeli barang, juga mengendarai mobil yang dibuat secara khusus dengan kecepatan tinggi berlari di jalan tol. Lena yang mandiri dan percaya diri, memancarkan sukacita dari dalam keluar, juga suasana ceria. Televisi Swedia menjadikannya tokoh utama dalam film dokumenter "Melihat Tujuan", yang membuat banyak penonton sangat terharu.

Setelah lulus dari Universitas, Lena mengadakan konser di berbagai tempat di dunia, dan menjadi penyanyi terkenal di seluruh dunia, juga mendapat kehormatan untuk bertemu Ratu Swedia. Namun di saat karirnya sebagai penyanyi semakin berkembang, dia mulai mempertanyakan: Mungkin sekarang dia bernyanyi, adalah karena setiap orang ingin mendengar dirinya bernyanyi? Dia tidak lagi merasa pertunjukan dan konser musik adalah hal yang membahagiakan, saat itu satu-satunya hal yang dia ingin lakukan, dan juga ingin mendapatkan dukungan dari orang tuanya adalah, untuk kembali mendengarkan suara hatinya.

Dalam sebuah lagu Lena menulis: Di sebuah sudut di dalam hatiku, aku bisa mendengar Engkau dengan lembut memanggil namaku. Seperti angin yang berhembus dengan lembut, Engkau di sana, aku beristirahat di dalam tanganMu. Engkau peduli pada jiwaku yang terdalam, serta semua kesalahan yang aku perbuat, namun Engkau tetap mengasihiku, mengasihiku seperti dahulu……..

Penyertaan selamanya

Pada waktu Lena tidak bergairah untuk mengadakan konser, dia pergi belajar di sekolah Alkitab. Sementara itu, dalam perjalanannya ke India, dia mengalami banyak kesukaran, tetapi sebagian besar justru merubah kepribadian dan pemikirannya, dan membuat imannya semakin teguh, dan dia belajar menghargai hal-hal yang dulunya dia tidak mengerti bagaimana untuk menghargainya, dan lagi, gairahnya kepada musik kembali lagi, serta kembali memiliki tenaga pendorong untuk bernyanyi.

Pada tahun 1995, Lena menjadi pengantin yang berbahagia, dia menikah dengan sesama musisi Buren. Ini bukan berarti bahwa sang putri dan sang pangeran sejak saat itu menjalani hidup tanpa kesulitan, mereka menghadapi banyak persoalan, namun mereka belajar untuk menerima, memahami dan berdoa. Dalam hidupnya, Lena bukannya tidak pernah memiliki keraguan, mengapa bisa ada begitu banyak penderitaan, rasa sakit, dan rintangan? Dia juga tidak memiliki cara sederhana untuk memecahkan masalah, tapi dia percaya: Adanya kegelapan adalah untuk menarik keluar terang.

Ada banyak orang yang bertanya melalui surat kepada Lena: Bagaimana engkau bisa begitu antusias menghadapi kehidupan? Lena menyebutkan tiga alasan: Pertama, sangat jelas bahwa setiap orang pada dasarnya sangat berbeda. Semenjak kecil Lena selalu penuh sukacita dan rasa ingin tahu terhadap kehidupan, dia selalu melihat sisi terang dalam segala hal, dan bukan sisi gelapnya. Dia berani untuk mencoba melakukan hal-hal yang diketahuinya, penuh rasa terima kasih terhadap orang-orang di sekitarnya, dan bukan kebencian. "Manusia hidup, tidak soal apakah ia punya tangan, persoalannya adalah apakah ia punya kasih." Kedua, berkat orang tua Lena, sikap mereka terhadap cacat tubuh Lena santai dan positif, memberinya sebuah tempat yang aman, membantunya untuk sukses, juga mengajarinnya untuk menerima kekalahan. Yang mereka kasihi adalah diri putrinya, dan bukan karena dia bisa melakukan sesuatu. Alasan ketiga, yang juga adalah alasan terpenting, adalah iman Lena. Berdasarkan ingatannya, iman adalah bagian yang sangat alami dalam kehidupannya. Sebagai seorang Kristen, dia tahu siapa pun dirinya, bagaimanapun rupanya, dia tetap berharga. Dia sering teringat Mazmur di dalam Alkitab: " Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya."

Saat Lena berjalan-jalan di dalam hutan, dia bersenandung menyanyikan lagu yang dia ciptakan sendiri: "Aku berjalan di jalan kecil dalam hutan bersama Tuhan Sang Pencipta. Burung kecil di dekatku sedang menyanyikan melodi yang indah. Dia menuntunku untuk melihat indahnya ciptaan, aku terbang dengan kakiku di jalan kecil dalam hutan. Burung di udara tidak pernah kuatir, karena ada suplai yang melimpah dari Bapa Surgawi. Aku yang dikasihiNya, pasti akan menerima lawatan berlipat ganda. Dia mencabut rintangan semak duri di dalam hutan untukku, membuat jalanku penuh terang. jalan kecil dalam hutan adalah seperti jalan hidupku, aku terbang dengan kakiku di jalan kecil dalam hutan."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar