Senin, 30 Juni 2014

Demi Kehormatannya



Seorang pengemis datang ke sebuah halaman rumah untuk mengemis pada nyonya rumah. Pengemis sangat menyedihkan, dan tangan kanannya dengan seluruh lengan putus, lengan bajunya menggantung kosong, membuat orang-orang melihatnya sangat sedih, siapapun yang bertemu dengannya, akan memberi sedekah dengan murah hati. Tapi nyonya rumah tanpa sungkan menunjuk tumpukan batu bata di depan pintu rumahnya, dan berkata pada pengemis itu : "Dapatkah Anda membantu saya memindahkan batu bata ini ke belakang rumah."

Pengemis berkata dengan marah: "Saya hanya punya satu tangan, Anda masih tega menyuruh saya untuk memindahkan batu bata! Jika tidak bersedia memberi sedekah ya sudah! Untuk apa mempermainkan orang?

Nyonya rumah itu tidak marah, dia membungkuhk dan mengangkat batu bata. Dia hanya mengunakan satu tangan untuk memindahkan batu bata, sambil berkata: "Anda lihat, tidak harus memiliki dua tangan untuk bisa bekerja. Saya bisa melakukannya, mengapa Anda tidak bisa melakukannya?"

Pengemis itu terkesima, dia menatap nyonya itu dengan sorot mata berbeda, jakunnya yang lancip seperti buah zaitun bergerak naik turun. Akhirnya, ia membungkuk, mengunakan satu-satunya tangannya memindahkan batu bata. Setiap kali, dia hanya bisa mengangkat 2 buah, setelah dua jam penuh, dia baru selesai memindahkan batu bata. Dia lelah sampai terengah-engah, wajahnya dipenuhi dengan debu, beberapa gumpal rambut basah dengan keringat, dan menempel pada dahi.

Wanita itu memberi pengemis sebuah handuk putih bersih. Pengemis itu mengambilnya, dengan sangat hati-hati menyeka wajah dan lehernya, handuk putih itu berubah menjadi handuk hitam.

Wanita itu kemudian menyerahkan dua puluh Yuan pada si pengemis. Pengemis mengambil uang itu, dengan sangat berterima kasih berkata: "Terima kasih"

Wanita itu berkata: "Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya, itu adalah uang yang Anda peroleh dengan usaha Anda sendiri."
Pengemis berkata: "Saya tidak akan melupakan Anda, handuk berikan kepada saya sebagai kenang-kenangan." Setelah berbicara, ia membungkuk rendah, dan pergi.

Setelah beberapa hari, ada seorang pengemis lain yang datang ke halaman rumah ini. Wanita itu mengarahkan pengemis ke belakang rumahnya, menunjuk ke tumpukan batu bata dan berkata kepadanya: "Pindahkan batu bata ini ke depan rumah, maka saya akan memberi Anda dua puluh Yuan." Tapi pengemis yang kedua tangannya lengkap dan sehat ini pergi dengan menghina, entah karena tidak terima dengan dua puluh Yuan atau sesuatu yang lain.

Anak wanita itu tidak mengerti dan bertanya pada ibunya: "Terakhir kali ibu mengatakan kepada pengemis untuk memindahkan batu bata dari depan rumah ke belakang rumah, kali ini ibu menyuruh lagi pengemis untuk memindahkan batu bata dari belakang rumah ke depan rumah. Sebenarnya ibu ingin meletakan batu bata di belakang rumah atau di depan rumah?"

Ibunya berkata kepadanya: "Batu bata ditempatkan di depan rumah atau di belakang rumah sama saja, namun, bagi pengemis memindahkan atau tidak itu tidak sama."

Setelah itu datang juga beberapa pengemis, tumpukan batu bata itu juga berpindah beberapa kali bolak-balik ke depan dan belakang rumah.

Beberapa tahun kemudian, seorang pria yang sangat terhormat datang ke halaman rumah ini. Dia berpakaian ala barat, keramahannya tidak biasa, persis seperti orang-orang sukses yang percaya diri dan menghargai diri sendiri. Satu-satunya kekurangan adalah bahwa orang ini hanya memiliki satu tangan kiri, sebelah kanannya adalah sebuah lengan baju yang kosong, dan berayunan ayunan.

orang itu membungkuk, dengan satu tangan menarik nyonya rumah sudah agak tua dan mengatakan: "Jika tidak ada Anda, saya masih seorang pengemis, tapi sekarang, saya adalah kepala komisaris dari sebuah perusahaan."

Wanita itu tidak ingat siapa dia, dan hanya dengan enteng mengatakan: "Itu adalah usaha Anda sendiri."

Kepala komisaris dengan satu tangan itu ingin mengajak wanita itu bersama dengan keluarganya untuk pindah dan tinggal di kota, menjadi orang kota, dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Wanita itu berkata: "Kami tidak dapat menerima perhatian Anda."

"Mengapa? Saya telah membeli sebuah rumah untuk Anda."

"Karena kami sekeluarga adalah orang-orang memiliki dua tangan."

Kepala komisaris itu dengan sedih mempertahankan: "Nyonya, Anda yang membuat saya tahu apa artinya menjadi manusia, dan apa artinya martabat, rumah itu adalah penghargaan yang pantas Anda dapatkan karena telah mengajari saya!"


Wanita itu tersenyum: "Kalau begitu Anda berikan rumah itu kepada orang yang bahkan tidak memiliki satu tanganpun."


Alkitab berkata: Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. ( 2 Tes 3:10 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar