Selasa, 28 Agustus 2012

Proses atau Hasil


Rick Joyner dalam bukunya yang berjudul Pencarian Terakhir menceritakan tentang seorang gelandangan bernama Angelo, yang duduk di atas takhta yang sangat indah bersama dengan raja-raja dalam kerajaan surga. Dalam suatu penglihatan, Rick Joyner melihat seorang yang sangat rajin melayani Tuhan. Ia terus bersaksi kepada orang-orang, mengajar dan mengunjungi orang sakit untuk berdoa bagi mereka. Kemudian ia juga melihat seorang gelandangan yang tidak mempunyai rumah. Seekor anak kucing lewat di depan kakinya dan ia mulai menendangnya, tetapi ia menahan diri, namun demikian anak kucing tersebut tertendang juga cukup keras ke pinggir lorong. Lalu Tuhan bertanya kepada Rick Joyner, yang mana dari kedua orang itu yang menyenangkan hatiNya.
“Yang pertama.” Katanya tanpa keraguan.
”Bukan yang kedua.” Tanggap Tuhan, dan Ia mulai menceritakan kepadanya kisah mereka.
Orang yang pertama dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang sangat baik, yang mengenal Tuhan. Ia tumbuh di dalam sebuah gereja yang berkembang dan kemudian kuliah di seminari yang terkemuka. Tuhan telah memberikan kasihNya kepadanya seratus bagian, tetapi ia hanya mempergunakannya tujuh puluh lima bagian dengan semua "pelayanan" yang telah dia lakukan.
Orang yang kedua dilahirkan tuli. Ia diperlakukan dengan kejam dan ia disekap di dalam sebuah kamar loteng yang gelap dan dingin sampai ia ditemukan oleh yang berwajib ketika ia berusia delapan tahun. Ia dikirim dari satu sekolah ke sekolah yang lain, di mana ia terus-menerus mengalami pelecehan. Akhirnya. ia menjadi gelandangan. Untuk mengatasi hal itu Tuhan hanya memberikan kepadanya tiga bagian kasihNya, tetapi ia telah mengerahkan kesemuanya itu untuk melawan kebuasan yang ada di dalam hatinya untuk tidak menendang anak kucing tersebut.
   Angelo sangat setia dengan sedikit karunia yang Tuhan berikan kepadanya. Ia mempergunakan kesemuanya, untuk tidak mencuri. Ia hampir kelaparan, tetapi ia tidak mau mengambil apa pun yang bukan miliknya. Ia membeli makanannya dari mengumpulkan botol-botol bekas dan kadang-kadang menemukan seseorang untuk memberikan pekerjaan di lapangan. Ia tidak dapat mendengar, tetapi ia belajar membaca, jadi Tuhan mengirimkan kepadanya selembar traktat. Ketika ia membacanya, Roh Kudus membuka hatinya dan ia memberikan hatinya pada Tuhan. Tuhan kembali melipatgandakan kasihNya kepadanya dan dengan setia ia menggunakan kesemuanya itu. Ia ingin bersaksi kepada orang-orang lain, tetapi ia bisu. Walaupun hidupnya begitu miskin, ia mulai membelanjakan lebih dari separuh miliknya untuk membeli traktat dan membagikannya di persimpangan-persimpangan jalan.
“Berapa orang yang dibawanya kepada Engkau?” Tanya Rick Joyner, mengira bahwa tentulah banyak orang yang telah dibawanya kepada Tuhan sehingga ia dapat bertakhta bersama dengan raja-raja.
”Satu,” jawab Tuhan.
Tuhan mengijinkannya menyelamatkan seorang pemabuk yang hampir mati untuk memberinya dorongan. Ia setia dengan apa yang telah diberikan kepadanya, ia menjadi pemenang di atas semua, sampai ia menjadi serupa dengan Kristus, dan ia mati sebagai martir.
    Tuhan menyebutnya sebagai martir karena ia telah mengalahkan dunia dengan kasih Tuhan. Sangat sedikit orang yang berhasil menjadi pemenang dengan apa yang dipunyai begitu sedikit. Kebanyakan umat Tuhan tinggal di rumah yang bagus, segala hal yang serba enak dan serba mudah ada pada mereka, tetapi semuanya itu tidak mereka hargai. Lain dengan Angelo, ia begitu menghargai kotak kardus yang melindunginya dari malam yang dingin sehingga ia dapat mengubahnya menjadi bait hadirat Tuhan yang penuh kemuliaan. Ia mulai mengasihi setiap orang dan segala sesuatu. Ia bersukacita untuk sebuah apel daripada beberapa umat Tuhan yang tidak dapat bersyukur untuk makanan pestanya. Ia setia dengan apa yang Tuhan berikan kepadanya, walaupun yang Tuhan berikan tidak sebanyak yang diberikanNya kepada orang lain.
Cerita di atas membuat saya merenung. Ternyata apa yang Allah lihat dan hargai sangatlah berbeda dengan apa yang manusia lihat dan hargai.
Manusia cenderung melihat hasil atau pencapaian seseorang, seberapa sukses dia dalam bisnis, seberapa banyak aset yang dia miliki, menjadi juara atau tidak dia di sekolahnya, apakah dia berhasil memenangkan juara pertama dalam lomba itu, apakah pelayanan seseorang berkembang atau tidak, dan masih banyak lagi hal serupa itu yang menjadi tolak ukur orang pada umumnya, yang kesemuanya hanya melihat kepada hasil, tanpa melihat kepada proses.
Namun apa yang Allah lihat sangatlah berbeda dengan apa yang manusia lihat. Allah tidak melihat seberapa sukses bisnis kita, seberapa banyak aset yang kita miliki, apakah kita berhasil menjadi juara di sekolah atau menjadi juara pada pertandingan-pertandingan yang kita ikuti, bahkan Allah tidak melihat seberapa sukses dan berkembang pelayanan kita. Tidak, Allah tidak befokus pada hasil atau semua hal-hal yang kelihatan dari luar itu. Sebaliknya yang menjadi fokus Allah adalah seberapa besar kita telah mempergunakan dan mengoptimalkan kasih karunia Allah yang diberikanNya kepada kita.
Manusia melihat dan menghargai hasil, tetapi Allah melihat dan menghargai usaha dan proses. Manusia cenderung menilai seseorang berdasarkan apa yang telah dicapainya, tetapi Allah menilai seseorang dari kesetiaannya.
Sebagai contoh, orang akan lebih menghargai seorang anak yang pada dasarnya pandai, yang tanpa perlu belajar dengan keras bisa mendapatkan nilai sepuluh dalam ujiannya. Daripada seorang anak yang memang memiliki kemampuan yang kurang, meskipun sudah belajar dengan keras, tetapi hanya bisa mendapatkan nilai enam dalam ujiannya. Dunia hanya bisa melihat hasil, tetapi di mata Allah, anak yang kurang, yang meskipun sudah belajar dengan giat hanya bisa mendapat nilai enam pada ujiannya, melakukan jauh lebih baik dari pada anak yang memang pintar, yang tidak perlu belajar, namun bisa mendapatkan nilai sepuluh dalam ujiannya.
Terkadang saya merasa iri dengan orang-orang yang mendapatkan kasih karunia Tuhan lebih banyak daripada yang saya dapatkan. Saya berpikir, betapa enaknya hidup orang-orang itu. Mereka punya keluarga yang bahagia dan mengasihi mereka, mereka tidak perlu mengalami sakit seperti saya, mereka sehat, dan bisa pergi kemanapun yang mereka mau, mereka bisa bersekolah tanpa kesulitan dengan biaya, dan akhirnya mereka bisa mencapai karier yang bagus, menikah,serta hal-hal baik lainnya yang bisa mereka nikmati dalam hidup mereka.
Sangat berbeda dengan keadaan saya. Saya lahir tanpa dikehendaki oleh orang tua saya, dan sebagai akibatnya saya selalu mendapat perlakuan yang buruk dari kedua orang tua saya. Keluarga saya mengalami kesulitan ekonomi, sehingga sejak kelas 6 SD, saya harus membantu orang tua saya mencari uang dengan berjualan kacang goreng. Saya juga mengalami kesulitan biaya untuk sekolah. Meskipun saya sudah berusaha belajar sampai larut malam agar bisa mendapat beasiswa karena saya memiliki impian untuk bisa sekolah kedokteran di Cina, namun semua usaha saya itu sia-sia belaka, karena pada umur 16 tahun saya mengalami kelumpuhan hampir pada seluruh tubuh saya, yang meenyebabkan saya tidak bisa berbuat apa-apa dan harus bergantung 100% pada pertolongan orang lain. Akhirnya jangankan untuk kulia kedokteran di Cina, menyelesaikan SMA pun saya tidak mampu.
Saya merasa hidup saya hancur, dan Tuhan sudah berlaku tidak adil terhadap saya, tetapi lewat cerita di buku Rick Joyner ini Roh Kudus mengingatkan saya agar saya tidak perlu merasa iri dengan orang lain yang hidupnya jauh lebih mudah daripada saya, karena mereka mendapatkan kasih karunia Tuhan lebih banyak daripada saya.
Yang terpenting ialah bagaimana saya harus berusaha sebaik-baiknya agar tidak menyia-nyiakan kasih karunia yang Tuhan telah berikan kepada saya, meskipun itu tidak sebanyak yang diterima oleh orang lain, bahkan sangat kecil mungkin. Saya akan tetap setia dengan apa yang sudah Tuhan percayakan kepada saya meskipun itu adalah hal yang kecil dan kelihatannya sepele bagi manusia. Saya tetap akan berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki.
 Mungkin hasil yang saya capai kelak tidak sebanyak atau sebaik hasil yang capai orang oleh orang lain. Namun saya tidak akan iri ataupun berkecil hati, karena mungkin orang lain yang mencapai hasil yang lebih besar dari saya, belum menggunakan semua kasih karunia yang Tuhan berikan padanya, sehingga apa yang telah dia capai tidak ada artinya di mata Tuhan, walaupun di mata manusia ia kelihatan sangat hebat.
Hamba yang memiliki satu talenta, jika dia tidak menyembunyikan talentanya tetapi menjalankannya sehingga dia memperoleh laba. Dan meskipun dia hanya beroleh laba satu talenta saja, di mata Tuhan dia akan sama baiknya dengan hamba yang memiliki sepuluh talenta, dan beroleh laba sepuluh talenta. Karena dia sudah menggunakan apa yang ada padanya dengan baik, meskipun hasilnya tidak sebanyak hamba yang menerima sepuluh talenta dan menghasilkan sepuluh talenta juga. Karena firman Tuhan berkata:

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.
                   (Lukas 12:48b)

Jadi tidak peduli banyak atau sedikit kasih karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Yang terpenting adalah, apakah kita bisa setia dengan kasih karunia yang ada pada kita, entah banyak ataupun sedikit, dan kita menggunakannya untuk kemuliaaan nama Tuhan. Janganlah iri dengan orang yang mendapatkan kasih karunia yang lebih besar, karena Allah memperhatikan proses dan bukan hasil. Selain itu, kepada orang yang lebih banyak diberi, kepadanya Tuhan pasti akan menuntut lebih banyak juga. Berusahalah sebaik mungkin dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena dengan mengunakan kasih karunia yang diberikanNya sebaik-baiknya, kita sedang menghargai Sang pemberi kasih karunia tersebut.

Kamis, 14 Juni 2012

Kristus dan Qu Yuan


Kemarin saya mendapat sms ucapan selamat hari raya Duan Wu, atau yang biasa dikenal di Indonesia sebagai hari raya Bakcang dari seorang teman. Saya merasa heran mendapat ucapan tersabut, karena saya tidak pernah memperhatikan hari raya-hari raya etnis Tionghua, maka saya mengira perayaan Duan Wu Jie itu sudah lewat, dan teman saya tersebut salah kirim sms. Kemudian saya bertanya kepada ibu asuh saya yang kebetulan sedang duduk di dekat saya, jatuh pada tanggal berapa perayaan Duan Wu Jie tahun ini. Karena keluarga beliau masih merayakan hari raya-hari raya etnis Tionghua, jadi saya pikir beliau pasti tahu perayaan Duan Wu Jie tahun ini jatuh pada tanggal berapa. Dan ternyata beliau juga tidak tahu perayaan Duan Wu Jie tahun ini jatuh pada tanggal berapa.
Saya membuka kalender Cina, ternyata perayaan Duan Wu Jie tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juni menurut penanggalan Masehi. Kemudian saya menceritakan asal mula perayaan Duan Wu Jie kepada ibu asuh saya karena memang saya menyukai sejarah Cina.
Saya menjelaskan bahwa Duan Wu Jie dirayakan untuk memperingati kematian seorang penyair bernama Qu Yuan dari Negara Chu, yang hidup pada tahu 340-278 SM. Pada waktu itu keadaan kerajaan Chu kacau balau, karena raja dan para pejabat yang lalim. Qu Yuan yang sangat mencintai negaranya berusaha mengajukan protes untuk mengubah undang-undang negaranya, namun akhirnya dia justru dibuang ke daerah selatan. Qu Yuan yang putus asa, akhirnya bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai Mi Lou. Rakyat yang sangat mencintai dirinya mengambil nasi yang dibungkus dengan daun bambu dan membuangnya ke dalam sungai Mi Lou. Rakyat percaya, ikan-ikan di dalam sungai Mi Lou akan memakan nasi-nasi yang mereka buang sehinga tidak memakan jazat Qu Yuan. Oleh sebab itu, etnis Tionghua sampai saat ini masih melaksanakan teradisi tersebut. Setiap tanggal 5 bulan 5 pada penanggalan Cina, etnis Tionghua akan mebuat Bakcang, yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun bambu untuk mengenang kematian Qu Yuan.
Ibu asuh saya segera berkata: "Kenapa dia bodoh sekali, kok sampai bunuh diri segala?"
Saya menjawabnya dengan bercanda: "Kalau dia tidak bunuh diri, kita tidak makan Bakcang ma."
Beberapa saat kemudian setelah ibu asuh saya keluar dari kamar saya, saya kembali memikirkan jawaban saya yang setengah bercanda tadi. Bukankah sebagai orang Kristen kita sering kali melihat kematian Kristus hanya seperti saya melihat kematian Qu Yuan. Kita tahu kebenaran bahwa jika Kristus tidak mati, kita tidak akan selamat. Kita tahu, Kristus menanggung sengsara dan mati di atas kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosa kita. Namun Kristus yang disalib tidak penah menyentuh hati kita. Kristus yang disalib tidak pernah membuat hati kita terharu sehinga dalam hati kita meluap ucapan syukur dan rasa cinta kepadaNya.
Kita percaya kepada Kristus hanya untuk keuntungang dan kebahagiaan kita semata. Banyak orang percaya pada Kristus hanya sampai pada tahap supaya mereka diselamatkan, tidak masuk neraka, mendapatkan apa yang mereka butuhkan, memperoleh hidup yang kekal dan dapat masuk surga. Namun tidak banyak orang yang mempercayai Kristus sampai pada tahap benar-benar mengasihi Kristus dan rela mempersembahkan hidupnya untuk Kristus.
Makna salib telah menjadi begitu kabur bagi banyak orang. Banyak orang melhat salib hanya sebagai sarana agar mereka diselamatkan, lepas dari penghukuman dan memperoleh hidup yang kekal. Namun lebih dari pada itu, makna salib sebenarnya adalah sebagai perwujudan kasih Allah kepada manusia. Alkitab berkata:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
( Yohanes 3:16 )

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
( Yohanes 15:13 )

Kristus telah memberikan nyawaNya sebagai korban penebusan bagi kita dengan mati di atas kayu salib. Kita yang seharusnya mati karena dosa dan pelanggaran kita, beroleh hidup karena kematianNya. Di sinilah kasih Allah yang sempurna dinyatakan. Kasih yang melampaui dari apa yang dapat kita pikirkan. Kasih Kristus yang begitu lebar, panjang, tinggi dan dalam. Kasih yang melampaui segala pengetahuan manusia. Kasih yang bersedia memberikan nyawaNya bagi sahabat-sahabatNya.
Jika kita memilik seorang sahabat yang sangat kita kasihi, dan dia sakit parah. Semua kita pasti akan berusaha semampu kita untuk membantunya. Kita akan berdoa untuk dia, menghiburnya, memberikan bantuan untuk biaya pengobatannya, dan lain sebagainya. Namun berapa banyak dari antara kita jika memilik sahabat yang sedang sakit mau mengambil alih penyakitnya agar dia sembuh? Berapa banyak dari antara kita bersedia terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa dan kesakitan agar sahabat kita bisa bebas bergerak dan melakukan apa yang ingin dia lakukan? Berapa banyak dari antara kita bersedia mengorbankan hidup kita sendiri agar sahabat kita bisa menikmati hidupnya? Saya yakin tidak ada satu pun dari antara kita mau melakukan hal-hal tersebut untuk seorang sahabat yang paling kita kasihi sekali pun. Namun itulah yang telah Kristus lakukan untuk kita. Kristus menderita sengsara di atas kayu salib, agar kita tidak perlu menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Kristus mati, agar kita memperoleh hidup. Kristus turun ke alam maut, agar kita tidak masuk neraka. Dan Kristus naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi kita bersama-sama dengan Dia.
Rasul Paulus berkata: Dan Kristus telah mati untuk semua orang. Inilah Injil. Namun Paulus tidak berhenti sampai di situ. Paulus melanjutkan: Supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah bangkit untuk mereka. ( II Korintus 5:15 ) Jadi Injil bukan hanya sekedar bagaimana Kristus mati untuk kita, tetapi juga bagaimana kita hidup untuk Kristus.
Namun sayangnya banyak orang hanya melihat Injil membuat orang lepas dari penghukuman, namun tidak melihat Injil juga membuat orang lepas dari diri sendiri. Banyak orang hanya melihat Injil membuat orang lepas dari neraka, namun tidak melihat Injil juga membuat orang lepas dari dunia. Banyak orang hanya melihat Injil membuat orang memiliki hidup yang kekal, namun tidak melihat Injil juga membuat orang menjadi milik Kristus. Tujuan Injil bukan hanya membuat orang berdosa masuk surga, terlebih lagi tujuan injil adalah memulihkan hubungan antara Allah dan manusia yang rusak karena dosa.
Jika kita secara cermat membaca Alkitab, kita akan mendapatkan sebuah kenyataan bahwa Allah sangat senang dikasihi oleh manusia, Allah sangat senang berada bersama dengan manusia, Allah sangat senang manusia menikmati diriNya, menerimaNya, dan mengalamiNya. Namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah terputus, karena dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. ( Roma 3:23 ) Allah yang kudus tidak mungkin berhubungan dengan manusia yang tidak kudus. Dosa juga membuat manusia lebih menyukai hidup dalam kegelapan dari pada berhubungan dengan Allah. Oleh karena itu, Allah "berusaha"  memulihkan hubunganNya dengan manusia melalui kematian Kristus di kayu salib.
Setelah manusia percaya kepada Kristus, manusia tidak hanya menerima keselamatan, namun manusia juga menerima hayat yang baru melalui kelahiran kembali. Hayat yang baru inilah yang membuat manusia mampu behubungan kembali dengan Allah. Alkitab berkata:

Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.
( Yohanes 1:12 )

Jadi tujuan Allah terhadap kematian Kristus di kayu salib tidak berhenti hanya sampai manusia diselamatkan, tetapi setelah manusia diselamatkan, manusia akan dapat berhubungan kembali dengan Allah, mengasihiNya, menikmatiNya, berada dekat denganNya, dan mengalamiNya.
Karena kasihNya, dan karena keinginanNya supaya kita juga mengasihi Dia, maka Kristus rela mati di kayu salib untuk kita. Allah ingin salib mengubah hidup kita, sehingga kita mengasihi Dia, mempersembahkan seluruh hidup kita kepadaNya, dan hidup hanya bagi kemuliaanNya. Jika kita sungguh-sungguh mengerti makna salib, dan kasih yang besar yang mendasari salib tersebut, maka tidak bisa tidak, salib akan selalu menyentuh hati kita, sehingga setiap kali kita teringat akan pengorbanan Kristus, hati kita akan penuh dengan ucapan syukur. Dan semakin kita memikirkan tentang salib Kristus, kasih kita kepadaNya akan semakin bertumbuh. Karena kita tahu, ada pribadi yang begitu mengasihi kita sampai rela memberikan nyawaNya untuk kita.
Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah: Apakah salib pernah mengharukan hati kita? Kapan terakhir kali kita membaca atau mendengar tentang Kristus yang disalib, dan itu menyentuh hati kita sihingga kita meneteskan air mata? Ataukah saat membaca atau mendengar tentang salib, kita menganggapnya sebagai hal biasa? Bahwa jika Kristus tidak mati di kayu salib, kita tidak akan diselamatkan. Seperti saya menganggap biasa kematian Qu Yuan, bahwa jika Qu Yuan tidak mati bunuh diri, tidak akan ada perayaan Duan Wu Jie, dan saya pun tidak akan makan Bakcang setiap tahun.
Jika salib Kristus tidak pernah membuat hati kita terharu. Atau jika dulu salib memang pernah menyentuh hati kita, namun sekarang salib tidak lagi membuat hati kita terharu. Dan jika hati kita tidak merasakan apa-apa lagi ketika mendengar tentang salib. Maka kita harus memohon kepada Allah, agar membuat salib menyentuh hati kita, sehingga hati kita senantiasa dipenuhi cinta dan ucapan syukur terhadap Dia yang disalib untuk kita.

Selasa, 31 Januari 2012

Persepuluhan yang Dikembalikan


Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
( Maleakhi 3:10 )

Sebagian besar orang Kristen pasti pernah menndengar ayat firman Tuhan di atas. Ayat tersebut sering dikutip ketika seorang hamba Tuhan berkhotbah tentang memberi persembahan, khususnya persembahan persepuluhan. Namun, seberapa banyak orang Kristen yang berani mempercayai ayat tersebut, bahwa ketika kita mengembalikan persembahan persepuluhan kita kepada Tuhan, maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat bagi kita sampai berkelimpahan. Karena itu, tidak sedikit orang Kristen yang enggan untuk mengembalikan persembahan persepuluhan mereka yang menjadi hak Tuhan dengan berbagai alasan. Tetapi sesungguhnya alasan keengganan mereka untuk mengembalikan persembahan persepuluhan adalah ketidak percayaan mereka akan janji Tuhan. Mereka kuatir, apa benar Tuhan akan memberkati mereka jika mereka sudah taat untuk mengembalikan perpuluhan. Jangan-jangan setelah mengembalikan perpuluhan, mereka justru akan mengalami kesulitan keuangan. Mempersembahkan 10% dari seluruh pendapatan kita memang bukanlah suatu hal yang mudah, karena itu diperlukan iman kepada janji Allah untuk kita dapat menaati perintah Allah tersebut.
Allah pernah membawa saya untuk belajar taat dalam hal mengembalikan persepuluhan, meskipun saat itu sepertinya keadaan saya tidak memungkinkan untuk mengembalikan perpuluhan. Namun setelah saya belajar untuk tetap taat untuk mengembalikan perpuluhan meski dalam kondisi yang sulit, Allah membuktikan diriNya setia, dan firmanNya memang dapat dipercayai. Allah "mengembalikan" persepuluhan yang saya persembahkan bahkan sebelum saya mempersembahkannya. Dan Allah "mengembalikan" lebih banyak dari jumlah persembahan persepuluhan yang seharusnya saya kembalikan.
Karena kelumpuhan yang saya derita sejak tahun 1997, menyebabkan saya hampir tidak pernah untuk keluar rumah selama bertahun-tahun, bahkan hanya untuk pergi ke gereja sekalipun. Namun puji Tuhan, pada tahun 2006 saya menghadiri acara Festifal Kuasa Allah yang diadakan di PTC, Surabaya. Meskipun saat itu Tuhan belum menyembuhkan saya, namun, di saat itu saya bisa berkenalan dengan Yuni, salah seorang anggota Profesional Muda Gereja Mawar Sharon Surabaya. Yuni kemudian mengatur agar saya bisa mengikuti ibadah di gereja setiap hari Sabtu dan juga bergabung dalam kelompok cell. Jadi, meskipun saya belum menerima mujizat kesembuhan dari Tuhan, Tuhan sudah membuat mujizat dengan mengerakan hati teman-teman cell grup saya untuk setiap kali datang dan memjemput saya untuk pergi ke gereja atau cell grup, meskipun untuk membawa saya keluar rumah, dengan kondisi saya yang hampir lumpuh total bukanlah hal yang mudah. Namun, teman-teman cell grup saya selalu datang menjemput saya dengan senang hati.
Karena saya hampir tidak pernah keluar rumah selama bertahun-tahun, maka saya hampir tidak mempunyai pakaian untuk pergi. Dan pada saat saya harus keluar rumah satu minggu dua kali yaitu untuk ke gereja dan ke cell grup, saya jadi binggung karena saya tidak tahu harus pakai baju apa untuk pergi ke gereja. Pakaian pergi yang saya miliki saat itu kira-kira hanya 5 potong. Dan terus terang saya merasa malu pergi ke gereja dengan selalu memakai baju yang sama. Namun saya juga tidak mempunyai cukup uang untuk membeli baju yang baru.
Selama ini, sebelum bergabung dengan Gereja Mawar Sharon, saya selalu menyisihkan 10% dari setiap berkat yang saya terima. Jika sudah terkumpul agak banyak, saya akan mengirimkannya ke sebuah badan penginjilan. Karena saat itu saya belum bergabung dengan gereja lokal mana pun, maka begitulah cara saya untuk belajar taat dalam hal mengembalikan perpuluhan.
Waktu saya sedang bergumul untuk membeli pakaian untuk ke gereja, satu-satunya uang yang saya miliki adalah uang perpuluhan yang sudah terkumpul, namun belum saya kirimkan ke badan penginjilan tersebut. Saya bergumul, apakah saya akan memakai uang perpuluhan tersebut untuk membeli baju baru, atau saya tetap mengembalikannya kepada Tuhan. Setelah bergumul beberapa saat, akhirnya saya memutuskan untuk tetap mengembalikan perpuluhan. Saya berkata kepada Tuhan: "Tuhan, aku mau taat. Meskipun aku Cuma punya 1 baju untuk pergi, aku akan tetap mengembalikan perpuluhan. Apa lagi sekarang, aku bukan cuma punya 1 baju, tapi beberapa baju. Jadi aku harus tetap mengembalikan perpuluhan."
Setelah itu, supaya saya jangan berubah pikiran lagi, saya segera mengambil uang itu dan memasukannya ke dalam tas Alkitab saya untuk saya bawa ke gereja nantinya. Karena sekarang saya sudah berjemaat di sebuah gereja, saya tahu kalau saya harus mengembalikan perpuluhan saya ke gereja tempat saya berjemaat.
Kira-kira 1 jam setelah saya memasukan uang itu ke dalam tas Alkitab saya, saya mendapat telpon dari ce Linda. Ce Linda adalah salah seorang anggota Gereja Mawar Sharon, yang juga saya kenal sewaktu saya menghadiri Festifal Kuasa Allah. di telpon ce Linda berkata: "Ly, sekarang cece ada di toko, mau beliin baju buat kamu. Kamu lebih suka kemeja apa kaos?" Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Ternyata Tuhan sungguh ajaib. Saya segera menjawab kalau saya lebih suka kemeja, dan ce Linda segera menutup telponnya. Saya tidak menceritakan pergumulan saya tentang baju itu kepada ce Linda ( atau siapa pun ) karena saya tidak mau orang jadi kasihan kepada saya. Dan sampai saya menulis cerita ini saat ini, ce Linda tidak pernah tahu bahwa Tuhan sudah memakainya untuk melakukan mujizat untuk saya. Namun, biarlah jika ce Linda membuka blog ini, dia akan tahu cerita di balik kemeja yang dia belikan untuk saya.
Setelah menutup telpon dari ce Linda, saya tidak bisa menahan tangis karena rasa syukur saya kepada Tuhan. Saya tidak bisa mengerti dengan apa yang Tuhan sudah perbuat. Dia Allah yang tidak pernah berhutang kepada anak-anakNya. Dan Dia selalu menepati apa yang Dia firnamkan.
Keesokan harinya, ce Linda menyuruh pegawainya untuk mengantarkan kemeja itu ke tempat saya. Dan waktu saya lihat harga yang tertera pada lebelnya, ternyata harga baju itu melebihi jumlah uang perpuluhan saya. Saya tidak tahu, jika saat itu saya tidak jadi mengembalikan perpuluhan, dan memakai uangnya untuk membeli baju baru, apakah Tuhan tetap akan mengerakan hati ce Linda untuk membelikan saya baju baru. Namun, satu hal yang saya percayai, Allah selalu memperhitungkan ketaatan kita, dan Dia selalu menepati apa yang Dia firmankan. Kalau Dia berfirman jika kita taat mengembalikan persepuluhan, maka Dia akan membukakan bagi kita tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita sampai berkelimpahan, maka Dia akan melakukan tepat seperti apa yang Dia firmankan, dan pertolonganNya tidak akan pernah terlambat.
Memang seharusnya sikap kita dalam menaati setiap firman Tuhan, termasuk dalam hal mengembalikan perpuluhan adalah karena kita mengasihi Tuhan dan ingin menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak boleh memilki sikap, menaati firman Tuhan supaya Tuhan memberkati kita. Karena Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yaitu nyawaNya sendiri untuk menebus dosa kita, maka sudah sepatunyalah kita membalas kasihNya dengan menaati segala firmanNya. Yesus berkata: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu." ( Yohanes 14:15 ) Tuhan mau kita menaatiNya karena kita mengasihiNya, dan bukan karena kita mengharapkan imbalan dari Dia. Namun, Allah akan selalu membuktikan bahwa Dia setia, dan janjiNya Ya dan Amin. Akan selalu ada berkat di balik sebuah ketaatan.

Senin, 24 Oktober 2011

Odol dari Tuhan

Saat saya berusia 16 tahun, saya mengalami kelumpuhan hampir di seluruh bagian tubuh saya secara mendadak. Karena orang tua saya tidak mampu merawat saya, maka mereka menyerahkan saya pada sebuah yayasan. Puji Tuhan, ada sebuah yayasan yang bersedia menerima dan merawat saya dengan baik meskipun yayasan tersebut bukanlah yayasan untuk menampung anak cacat, melainkan sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang untuk mendidik anak-anak putus sekolah. Anak-anak putus sekolah ditampung serta dididik dalam hal keperawatan, untuk kemudian disalurkan untuk merawat pasien atau orang jompo di rumah-rumah. Karena itu, saya adalah satu-satunya pasien di yayasan tersebut.
Di yayasan tersebut saya dirawat dengan baik. Kebutuhan akan makanan dan minuman saya dicukupi dengan sangat baik, bahkan saya merasa sampai berkelimpahan. Namun mungkin Tuhan juga ingin melatih saya untuk bergantung sepenuhnya kepadaNya untuk mencukupi kebutuhan saya dalam hal lainnya. Sejak saya tinggal di yayasan, saya sangat jarang mendapat kunjungan dari keluarga saya. Karena itu, untuk membeli kebutuhan saya sehari-hari seperti sabun mandi, shampo, odol, pakaian dan lainnya saya hanya dapat berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Saya tidak mungkin meminta kepada suster kepala yayasan untuk membelikan semua keperluan saya, karena pasti beliau sudah mengeluarkan banyak uang untuk membantu biaya perawatan saya. Saya pun tidak mungkin meminta pada tante-tante yang menjadi donator saya, karena saya tahu, mereka harus membantu banyak orang, dan biaya yang harus mereka keluarkan pasti tidak sedikit. ( Tante-tante donator saya adalah ibu-ibu dari gereja Katolik yang setiap bulan memberikan bantuan kepada suster kepala yayasan untuk biaya perawatan saya ).
 Namun, justru di saat itulah saya melihat pemeliharaan Tuhan yang ajaib. Suatu hari odol saya hampir habis, dan saya tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli odol yang baru. Saya berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, Engkau dapat membuat mujizat untuk membuat odolku tidak habis, seperti Engkau membuat mujizat terhadap tepung janda di Sarfat. Namun, jika Engkau mengijinkan odolku habis, aku percaya, Engkau akan memberi aku uang untuk membeli odol yang baru.”
Selain berdoa, saya juga terus menyayikan suatu bait dari sebuah pujian dalam bahasa Mandarin yang diambil dari Matius 6:25-34 untuk menguatkan kepercayaan saya akan pemeliharaan Tuhan. Pujian tersebut berjudul Bunga di Padang. Terjemaannya kurang lebih sebagai berikut:

Semua kebutuhanmu Bapa di surga sudah mengetahuinya
 Jika hatimu risau, biarkan Dia menyingkirkannya untukmu
Bapa yang penuh kasih setiap hari memeliharamu
Dia adalah Allah maha kuasa
Berbahagialah orang yang percaya kepadaNya

Pujian ini selalu saya nyanyikan di saat saya merasa takut akan kehidupan saya. Sebagai orang yang menderita kelumpuhan yang hampir total, sulit bagi saya untuk dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri. Karena itu, saya hanya bisa berharap sepenuhnya kepada Allah untuk memelihara hidup saya.
Selama ini Allah memelihara saya dengan mengerakan hati orang-orang untuk memberkati saya, meskipun saya tidak pernah menceritakan kesulitan keuangan saya kepada siapa pun. Allah sering mengerakan orang-orang yang datang untuk mempekerjakan tenaga perawat dari yayasan tempat saya tinggal. Bahkan, anak-anak putus sekolah yang sudah dididik dan disalurkan dari yayasan di mana saya tinggal, juga sering memberkati saya. Jika mereka sudah bekerja untuk merawat orang tua atau orang sakit di rumah-rumah orang, dan mereka berlibur ke yayasan, mereka sering memberi saya uang. Mereka selalu berkata: “Ini ada uang sedikit untuk membeli sabun”. Entah mengapa mereka selalu berkata seperti itu jika memberkati saya. Mungkin itu kebiasaan berbicara anak-anak NTT, saya pun tidak tahu. Karena sebagian anak-anak yang dididik di yayasan tempat saya tinggal berasal dari NTT.
Beberapa hari setelah saya berdoa meminta odol kepada Allah, sarta setiap hari saya menyanyikan pujian Bunga di Padang tersebut, seorang anak NTT yang pernah dididik di yayasan dan sekarang sudah bekerja merawat pasien di rumah orang datang untuk bertemu dengan suster kepala yayasan. Tiba-tiba dia memberi saya uang Rp. 50.000. Saya sangat heran kenapa dia bisa tiba-tiba memberi saya uang Rp. 50.000. Anak ini dikenal sangat pelit di antara teman-temannya. Dan sejak dia bergabung dengan yayasan ini beberapa tahun sebelumnya, dia tidak pernah sekalipun memberi saya uang. Namun, entah kenapa tiba-tiba hari itu dia bisa memberi saya uang. Bukan hanya 10.000 atau 20.000, tetapi sampai 50.000, dan dengan uang itu saya membeli odol yang baru. Saya percaya pasti karena Tuhan yang mengerakan hatinya. Mungkin Tuhan melihat, jika Tuhan tidak memberi saya uang melalui anak itu, saya akan benar-benar kehabisan odol. Dan Tuhan mau menunjukan bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah terlambat untuk menolong anak-anakNya.
Peristiwa Tuhan memberi saya odol tersebut terjadi kira-kira 5 atau 6 tahun yang lalu. Namun, saya masih mengingat dengan jelas peristiwa itu. Setiap kali saya terigat akan peristiwa itu, saya tidak habis-habisnya mengagumi seberapa besar kepedulian Allah terhadap kita. Saya percaya, jika Dia peduli sampai kebutuhan terkecil saya seperti odol, Dia juga akan peduli dengan kebutuhan saya yang lain seperti kesembuhan.
Aliktab berkata: Bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. (Lukas 12:7) Dalam bahasa aslinya dikatakan, bahkan rambut di kepalamu ditandai oleh Allah. Jika Allah yang menciptakan alam semesta adalah Allah yang juga menandai setiap rambut yang ada di kepala kita, maka janganlah kita merasa kuatir akan hidup kita. Jika hari-hari ini kita sedang mengadapi masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, tetaplah percaya bahwa Allah peduli akan setiap persoalan kita, entah itu besar ataupun kecil, dan Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar tepat pada waktunya. Ingatlah, Dia yang memberi odol kepada saya, Dia juga yang akan mencukupkan semua keperluan saudara!
Glory to the Lord

Kamis, 06 Oktober 2011

Lambung dan Kaki

Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah kepala. Dari padaNyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.
Efesus 4:15-16


Lambung dan kaki sedang memperdebatkan kekuatan siapa yang lebih besar. Kaki berkata, kekuatannyalah yang lebih besar, karena dia bisa memindahkan seluruh perut. Lambung menjawab: “Tapi teman, kalau aku tidak memberi kalian zat makanan, kalian juga tidak bisa berpindah kemana-mana.”
Ilustrasi di atas mungkin mengelikan. Bayangkan, jika anggota-anggota tubuh kita saling merasa bahwa dirinyalah yang paling berjasa, dan merasa paling layak untuk dihormati, sehingga dia tidak mau bekerja sama lagi dengan anggota tubuh yang lain. Maka tubuh kita tidak akan dapat berfungsi dengan baik, bahkan akan dapat menyebabkan kematian.
Memang pada kenyataannya hal itu tidak mungkin terjadi. Anggota-anggota tubuh kita saling meninggikan diri dan berhenti bekerja sama. Karena Allah sudah merancang anggota-anggota tubuh kita dalam sebuah kesatuan, sehingga secara otomatis anggota-anggota tubuh kita akan bekerja sama dan saling menyuplai.
Allah menciptakan tubuh manusia sebagai sebuah kesatuan dari anggota-anggota tubuh yang tidak dapat dipisahkan serta saling membutuhkan. Setiap anggota tubuh harus saling berhubungan dan saling menyuplai, jika tidak demikian maka tubuh akan mati. Jika salah satu anggota tidak berfungsi dengan baik atau mengalami kerusakan, maka seluruh tubuh akan terganggu.
Sebuah tubuh yang sempurna harus terdiri dari banyak anggota dengan bermacam-macam fungsi. Jika hanya ada 1 anggota, maka itu tidak dapat disebut tubuh. Demikian juga, jika terdiri dari banyak anggota, namun semuanya memiliki fungsi yang sama, ini pun juga tidak dapat disebut sebagai tubuh. Bayangkan, jika dalam tubuh manusia hanya ada tangan, atau hanya ada kaki, maka tubuh tidak akan dapat berfungsi dengan baik. Oleh sebab itu, sebuah tubuh harus terdiri dari banyak anggota dengan fungsinya masing-masing. Sehingga tubuh dapat berfungsi dengan baik.
Alkitab mengambarkan gereja sebagai tubuh Kristus. Dengan Kristus sebagai kepala dan setiap orang percaya adalah anggota-anggota tubuhNya. Karena sebagai mana rencana Allah dalam menciptakan tubuh manusia dengan anggota-anggotanya yang dirancang sedemikian rupa untuk saling bekerja sama dan saling menyuplai, demikian pula rencana Allah supaya setiap anggota tubuh Kristus dapat saling bekerja sama dan saling menyuplai.
Allah menempatkan gerejaNya di dalam dunia sebagai tempat Allah memanifestasikan diriNya di dalam dunia. Seorang orang percaya saja tidak dapat memanifestasikan seluruh keberadaan Allah bagi dunia, bahkan sebuah gereja lokal pun tidak dapat memanifestasikan seluruh keberadaan Allah dalam dunia. Untuk dapat memanifestasikan seluruh keberadaan Allah di dalam dunia diperlukan seluruh tubuh Kristus.
Memang setiap kita sebagai orang percaya dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus. Dengan kata lain, setiap kita sebagai orang percaya dipanggil untuk menghidupi Kristus dalam hidup keseharian kita. Namun, untuk memanifestasikan seluruh keberadaan Allah kepada dunia, satu orang percaya saja tidaklah cukup, sebuah gereja lokal saja tidaklah cukup, bahkan beberapa gereja lokal juga belum cukup. Untuk dapat memanifestasikan seluruh keberadaan Allah kepada dunia, diperlukan seluruh tubuh Kristus secara utuh. Yaitu semua orang percaya di seluruh dunia.
Rasul Yohanes berkata: Sebab Allah adalah kasih. ( I Yoh 4:8 ) Yohanes mengambarkan Allah sebagai kasih. Dengan kata lain, seluruh hakikat ke Allahan berada di dalam kasihNya. Itu berarti, untuk dapat memanifestaikan seluruh kebeadaan Allah kepada dunia, kita harus dapat memanifestasikan seluruh kasih Allah kepada dunia.
Namun, tidak ada seorang manusia pun, sebuah gereja, atau sebuah bangsa sekalipun ( bangsa Yahudi sebagai umat pilihan Allah ) yang dapat memanifestasikan seluruh kasih Allah kepada dunia. Hanya tubuh Kristus secara utuh yang dapat memanifestasikan seluruh kasih Allah kepada dunia.
Rasul paulus berdoa bagi jemaat di Efesus:

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.
( Efesus 3:18 )

Paulus begitu menyadari bahwa kasih Allah begitu lebar dan panjang dan tinggi dan dalam sehingga tidak akan dapat dipahami oleh seorang orang percaya saja, bahkan oleh seluruh jemaat di Efesus. Oleh sebab itu, Paulus berkata,  supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.. Dengan kata lain, Paulus berkata: “ Hanya dengan kamu, jemaat Efesus ditambah dengan seluruh orang kudus baru dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”
Kasih Allah yang begitu lebar dan panjang dan tinggi dan dalam hanya dapat dipahami dan dimanifestasikan oleh semua orang kudus di seluruh dunia secara bersama-sama. Oleh sebab itu, Allah merancang gereja sebagai tubuh Kristus. Agar setiap anggotanya dapat saling bekerja sama dan saling menyuplai dalam memaniferstasikan seluruh kasih Allah kepada dunia.
Namun ironisnya, gereja Tuhan saat ini lebih menyukai keadaan mereka sebagai anggota-anggota tubuh yang terpenggal-penggal yang berdiri sendiri-sendiri daripada menjadi suatu kesatuan dalam sebuah tubuh yang utuh bersama dengan anggota-anggota lainnya.
Tetapi, gereja Tuhan saat ini tidak pernah menyadari, bahwa keadaan mereka yang terpecah-pecah tersebut sungguh mengenaskan. Gereja Tuhan saat ini merasa bahwa keadaan yang terpecah-pecah adalah keadaan yang normal. Karena mereka tidak pernah melihat keindahan tubuh Kristus secara utuh. Sebab sudah berabad-abad gereja Tuhan berada dalam keadaan yang tidak normal, yaitu keadaan terpecah-pecah. Dan akhirnya, gereja Tuhan menganggap keadaan yang tidak normal itu sebagai keadaan yang normal. Karena mereka tidak pernah mengetahui bagaimana keadaan tubuh Kristus yang normal itu sebenarnya.
Selama berabad-abad, sepanjang sejarah gereja, manusia karena kekerasan hatinya telah memecah-mecah tubuh Kristus. Hanya karena perbedaan pandangan, perbedaan doktrin, perbedaan organisasi atau denominasi, gereja tidak lagi mau bersatu, bahkan saling menjatuhkan. Jika kita mau berkata jujur, keadaan gereja saat ini tidak lebih baik dari keadaan jemaat di Korintus pada masa gereja mula-mula. Seperti jemaat di korintus yang terpecah-pecah menjadi golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, atau golongan Kristus, demikian juga gereja saat ini terpecah-pecah menjadi denominasi A, denominasi B, atau denominasi C. Bahkan ada orang-orang Kristen yang lebih bangga dengan ststus mereka sebagai anggota suatu organisasi gereja, dari pada ststus mereka sebagai anak-anak Allah.
Dalam keadaannya yang terpecah-pecah tersebut, sebenarnya gereja telah gagal dalam menggenapi rencana Allah, yaitu menjadi tempat Allah memanifestasikan diriNya bagi dunia. Karena dengan keadaannya yang terpecah-pecah, gereja tidak mungkin memahaimi kasih Allah yang begitu lebar dan panjang dan tinggi dan dalam, terlebih lagi untuk menyatakannya secara penuh kepada dunia.
Dalam keadaannya yang terpecah-pecah mungkin gereja dapat menyatakan bagian yang sangat kecil dari kasih Allah yang begitu lebar dan panjang dan tinggi dan dalam dengan pelayanan yang mereka lakukan. Namun, untuk menyatakan kasih Allah secara penuh dibutuhkan gereja yang bersatu.
Dalam bukunya yang berjudul Rahasia Kristus, yang membahas dengan sangat terperinci bagaimana sebenarnya hakekat gereja di mata Allah, Watchman Nee menulis: “Hari ini, perpecahan yang terjadi di antara anak-anak Tuhan, adalah karena perbedaan organisasi, adanya perbedaan pandangan, pemikiran, pilihan, kesukaan masing-masing orang, juga perbedaan di dalam prinsip. Namun, pada pandangan Allah, keberadaan gereja tidak boleh dibagi-bagi… Setiap pecahan dari gelas kaca yang pecah mungkin bisa ada setetes air di atasnya, namun untuk memuat 1 gelas air yang bisa diminum, dibutuhkan gelas yang utuh.”
Dapatkah kita bayangkan, seandainya semua anggota tubuh Kristus mau bersatu dan bekerja sama, maka kita akan lebih mudah memenangkan dunia ini bagi Allah. Kita dapat saling melengkapi dengan fungsi dan kemampuan yang Allah berikan kepada masing-masing anggota untuk menyatakan kasih Allah kapada dunia. Kasatuan kita juga dapat menjadi kesaksian bagi dunia, bagaimana indahnya hidup di dalam Kristus. Sehingga mereka pun rindu memiliki kehidupan seperti yang kita miliki.
Selain itu, dengan anggota-anggota tubuh Kristus mau bersatu dan bekerja sama, maka anggota-anggota tubuh Kristus akan saling dapat menyuplai, sehingga sesama anggota tubuh Kristus dapat saling membangun.
Sebaliknya, jika anggota-anggota tubuh Kristus terpecah-pecah, maka gereja tidak dapat secara maksimal menyatakan kasih Allah secara penuh kepada dunia. Dengan terpecah-pecah, tubuh Kristus juga akan menjadi kesaksian yang buruk bagi dunia.
Saya pernah bercakap-cakap dengan seseorang yang beragama lain karena ada aliran baru dalam agamanya yang dianggap tidak sah. Dia berkata: “Semua agama sama saja, jika ada seseorang yang sudah merasa pintar tentang ajaran agamanya, dia akan mendirikan aliran baru.” Saya berpikir, apa yang dikatakan orang ini ada benarnya juga. Bukankah di dalam keKristenan pun sering terjadi perpecahan akibat seseorang merasa lebih mengetahui “kebenaran firman Tuhan” daripada pemimpin rohaninya, kemudian dia memisahkan diri dari gereja di mana dia berjemaat dengan alasan perbedaan misi dan visi, dan kemudian mendirikan gerejanya sendiri.
Demikian juga, jika anggota-anggota tubuh Kristus terpacah-pecah, maka sesama anggota tidak akan dapat saling menyuplai. Akibatnya, anggota-anggota tubuh tidak mendapat pertumbuhan, bahkan akhirnya akan mati.
Tujuan Allah dalam merancang gereja sebagai tubuh Kristus, dengan Kristus sebagai kepala dan setiap orang percaya adalah anggota-anggota tubuhNya adalah, selain rencana secara horizontal, yaitu agar sesama anggota bisa saling bekerja sama dan saling menyuplai, ada pula rencana secara vertical, yaitu agar setiap anggota tubuh Kristus bergantung pada Kristus yang adalah kepala.
Allah menempatkan Kristus sebagai kepala dan kita setiap orang percaya sebagai anggota-anggota tubuhNya supaya Kristus yang menjadi komando atas semua anggota tubuhNya. Seperti halnya kepala atau otak yang mengendalikan setiap anggota tubuh manusia, demikian juga Allah mengendaki agar setiap anggota tubuh Kristus berada di bawa kendali Kristus yang adalah kepala.
Sebagai anggota tubuh Kristus, kita harus selalu memiliki hubungan dengan kepala, yaitu Kristus sendiri yang adalah sumber dari segala sesuatu. Tanpa kepala, anggota tubuh tidak dapat berbuat apa-apa. Setiap anggota tubuh yang terpisah dari kepala akan mati. Bayangkan sebuah kaki atau tangan yang terpenggal pasti akan mati. Sebaliknya, anggota-anggota tubuh secara alami akan selalu berusaha untuk mendapatkan hubungan dengan kepala.
Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang dokter saraf. Dia menjelaskan bahwa saat anggota-anggota tubuh kita mengalami putus hubungan dengan otak atau kepala karena sistem saraf yang terganggu, maka anggota-anggota tubuh itu akan selalu berusaha untuk terhubung kembali dengan otak, demikian juga otak akan selalu berusaha untuk terhubung kembali dengan anggota-anggota tubuh. Karena itu, sering ada gerak reflek pada orang-orang yang mengalami kelumpuhan. Karena pada saat anggota-anggota tubuh berusaha untuk berhubungan kembali dengan otak, sinyal yang dikirimkan tidak sempurna, karena adanya gangguan pada sistem saraf.
Jika Allah memprogram anggota-anggota tubuh kita sedemikian rupa, sehingga anggota-anggota tubuh kita “tahu” bahwa mereka tidak dapat terpisah dari kepala, maka kita sebagai anggota-anggota tubuh Kristus juga harus menyadari bahwa kita pun tidak bisa hidup terlepas dari kepala, yaitu Kristus.
Namun sayangnya, banyak gereja Tuhan saat ini merasa mereka bisa hidup meski terlepas dari Kristus. Banyak gereja yang “bergantung” pada program-program mereka, keunggulan sistem menejemen mereka, sumber daya manusia yang melayani di gereja mereka, bangunan serta vasilitas yang mereka miliki, dan banyak hal lainnya yang mereka pikir dapat menunjang kemajuan sebuah gereja. Namun, mereka melupakan satu hal yang terpenting, yaitu mereka lupa untuk bergantung kepada Kristus sebagai kepala dan sumber.
Kristus tidak lagi menjadi kepala dan sumber bagi banyak gereja saat ini, tetapi hanya menjadi pakaian yang mengiasi dan menutupi “ketelanjangan” gereja saja. Karena meskipun gereja saat ini tetap menyebut-nyebut serta memberitakan nama Kristus, namun gereja tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada Kristus. Gereja masih dapat tetap hidup jika gereja “menangalkan” Kristus. Program-program gereja juga masih dapat berjalan dengan baik seandainya gereja tersebut berhenti memberitakan Kristus di tengga-tengga program-program mereka. Seorang hamba Tuhan terkenal pernah berkata: “Jika Roh Kudus diangkat, maka 10% gereja di Amerika akan hancur, namun yang 90% akan tetap berjalan dengan baik.” Saya pikir tepat sekali apa yang hamba Tuhan tersebut katakan. Karena banyak sekali gereja saat ini yang tidak lagi bergantung kepada Kristus, tetapi lebih bergantung kepada hikmat manusia. Dan hal itu bukan hanya terjadi di Amerika saja, namun terjadi hampir di semua tempat di dunia di mana keKristenan berada pada zona nyaman dan tanpa tekanan.
Salah satu ciri jika gereja tidak lagi bergantung kepada Kristus tetapi lebih bergantung kepada hikmat manusia adalah terjadinya banyak perpecahan di dalam gereja. Jika ada konflik yang terjadi di antara anggota-anggota tubuh Kristus, mereka akan berusaha menyelesaikannya melalui sebuah perundingan. Akibatnya hanyalah sebuah perpecahan, karena sifat dasar manusia yang mau menang sendiri.
Tetapi, jika setiap anggota mau dengan rendah hati datang kepada Kristus yang adalah kepala dan sumber dalam menyelesaikan sebuah konflik, maka Kristus yang akan menyelesaikan persoalan yang terjadi di antara sesama anggota. Kristus yang menjadi kebenaran kita ( I Kor 1:20 ) yang akan memampukan kita untuk melihat kebenaran dan menyelesaikan konflik dengan cara yang benar pula. Kristus yang menjadi kebenaran kita akan memampukan kita untuk melihat bahwa kesalahan tidak sepenuhnya terletak pada saudara kita, namun konflik terjadi selalu karena ada 2 pihak yang berbuat kesalahan. Dengan demikian, kita dapat dengan rendah hati untuk saling mengampuni, sehingga perpecahan tidak akan terjadi.
Cara rasul Paulus menyelesaikan perpecahan yang terjadi pada jemaat di Korintus bukan melalui sebuah perundingan atau musyawara, namun dengan jalan mengembalikan mereka kepada kesadaran bahwa Kristus adalah kepala dari setiap anggota.
Dalam pembukaan surat kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus kembali mengingatkan jemaat di Korintus bahwa Kristus adalah kepala dari setiap anggota.

Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita……. Allah yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Ktistus, Tuhan kita, adalah setia.
( I Kor 1:2, 9 )

Di sini Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa mereka dengan semua orang di segala tempat yang berseru kepada nama Tuhan Yesus telah dipanggil kepada persekutuan dengan Yesus Kristus. Dengan kata lain, semua orang di segala tempat yang berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus, termasuk jemaat di Korintus, telah dipanggil untuk menjadi satu tubuh dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Sebab itu, sebagai satu tubuh dalam Kristus, tidak seharusnya ada perpecahan di antara mereka. Karena Kristus adalah satu-satunya kepala, maka jemaat di Korintus seharusnya hanya berpegang kepada Kristus sebagai kepala. Mereka tidak seharusnya berpegang pada Paulus, Apolos, Kefas, atau pun nama lain, selain daripada Kristus. Hanya Dengan menempatkan Kristus sebagai kepala, maka tidak akan ada lagi perecahan dalam gereja.
Allah menghendaki gerejaNya menjadi satu tubuh, dengan Kristus sebagai Kepala. Supaya masing-masing anggota dapat saling bekerja sama, saling bergantung dan saling menyuplai. Selain itu, supaya setiap anggota bergantung sepenuhnya kepada Kristus yang adalah kepala dan sumber kehidupan bagi seluruh tubuh. Karena itu, seperti kaki dan lambung yang saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, maka seharusnya seluruh anggota tubuh Kristus menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi. Selain itu, mereka juga tidak boleh terlepas dari kepala yang adalah sumber bagi seluruh tubuh. Allah mengendaki anak-anakNya yang berpusat pada Kristus dapat menjadi satu kesatuan yang harmonis sehinga dapat memanifestasikan diriNya kepada dunia. Dan seluruh kehendak Allah bagi dunia dapat terlaksana melalui gerejaNya.
Glory to the Lord

Senin, 08 Agustus 2011

Kecantikan Sejati....

Dalam sejarah China, tercatat ada 10 wanita tercantik yang pernah hidup sepanjang sejarah China. Wanita-wanita tersebut sangat terkenal karena kecantikan fisik mereka. Namun, hidup sebagian dari mereka berakhir dengan sangat tragis. Mereka dibuang, bahkan ada yang dibunuh karena kecantikan mereka, atau setelah kecantikannya memudar. Kecantikan mereka tidak dapat menyelamatkan mereka, tetapi sebaliknya justru menjadi kecelakaan bagi mereka.
Selama ribuan tahun, dari berbagai kebudayaan, manusia selalu mengagungkan kecantikan lahiriah. Orang selalu berusaha mencari cara untuk mempercantik dirinya. Karena itu, berbagai cara untuk mempercantik diri seperti dengan ramu-ramuan dan kosmetik menjadi sangat populer.
Meskipun manusia begitu memperhatikan kecantikan lahiriah, namun jika kita mau berkata jujur, sesungguhnya kecantikan lahiriah tidaklah abadi. Seiring bertambahnya usia, maka kecantikan lahiriah juga akan turut memudar. Sekalipun manusia berusaha dengan berbagai cara untuk mempertahankan kecantikannya, tetapi tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa melawan proses waktu.
Yang lebih ironis ialah, kecantikan lahiriah dapat hilang dalam sekejap. Banyak hal di dunia ini yang tidak dapat kita hindari yang dapat merampas kecantikan lahiriah seseorang dalam sekejap, seperti halnya kecelakaan yang tak terelakkan.
Jika kita mengetahui bahwa kecantikan lahiriah begitu sementara sifatnya, apakah kita akan membuang segala daya upaya kita untuk berusaha mengejar dan mempertahankannya? Ataukah kita akan menjadi rendah diri jika kita tidak memilik kecantikan lahiriah?
Alkitab menunjukan kepada kita apakah itu kecantikan sejati, dan bagaimana kita bisa mendapatkan kecantikan sejati tersebut. Kecantikan sejati yang tidak akan berkurang, melainkan justru akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Karena kecantikan tersebut berasal dari batin yang terus diperbaharui sejalan dengan pengenalan kita akan kebenaran firman Allah.
Pada Amsl 31 tedapat puji-pujian bagi seorang isteri yang cakap. Bagian terakhir kitab Amsal ini berupa sajak akrostik ( menurut abjad ) yang indah. Ayat pertama mulai dengan huruf pertama dalam abjad Ibrani dan seterusnya sampai ke-22 huruf terpakai. Dari ayat 10 sampai ayat 31 tertulis apa saja yang dilakukan oleh sang isteri yang cakap, yang memilik kecantikan sejati, dan apa yang akan diperolehnya kelak sebagai buah dari apa yang  telah diperbuatnya.
Namun, meskipun Amsal 31 ini berjudul Puji-pujian untuk isteri yang cakap, tidak berarti ayat-ayat tersebut hanya berlaku bagi wanita yang sudah bersuami. Ayat-ayat tersebut berlaku bagi semua wanita yang ingin memiliki kecantikan sejati, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah. Karena pada akhirnya kita semua memang dipanggil untuk menjadi mempelai Kristus, entah di dunia ini kita menikah atau tidak.
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, saya mendapat 12 hal yang dimiliki oleh sang isteri yang cakap sehingga ia bisa memiliki kecantikan sejati. Dan dalam artikel ini saya mencoba menbahas ke-12 hal tersebut supaya kita bisa belajar dari sang isteri yang cakap, dan kita pun bisa memilki kecantikan sejati itu.

1.      Dapat Dipercaya
Hati suaminya percaya kepadanya. ( Amsal 31:11a )

Dunia saat ini orang yang dapat dipercaya semakin langkah. Manusia saling menipu dan menghianati. Bahkan penipuan dan penghianatan sering kali dilakukan oleh orang-orang terdekat kita sendiri. Anak menipu orang tua, atau pasangan suami isteri saling menipu dan menghianati.
Dunia sedang membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya. Namun, yang menjadi pertanyaannya, siapakah orang yang dapat dipercaya itu?
Orang-orang yang bisa dipercaya adalah orang-orang yang memiliki integritas. Orang-orang yang memiliki integritas akan tetap bersikap sama baik berada di hadapan orang lain atau pun tidak. Karena integritas membuat tidak ada kepura-puraan dalam diri seseorang. Oleh sebab itu, jika kita tahu sikap seseorang tetap sama di depan atau pun di belakang kita, maka kita akan bisa mempercayai orang tersebut.
Yusuf adalah seorang yang memiliki integritas. Sebab itu Potifar berani mempercayakan segala miliknya kepada Yusuf.

Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai Tuhan dan bahwa Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.
( Kejadian 39:13-4 )

Potifar begitu mempercayai Yusuf, sebab itu ia merasa aman untuk menyerahkan segala miliknya pada kekuasaan Yusuf. Bagaimana kita bisa melihat bahwa Potifar sangat mempercayai Yusuf? Pada waktu isteri Potifar memfitna Yusuf ingin memperkosanya, Potifar tidak membunuh Yusuf. Padahal hukuman untuk seorang budak yang melakukan kejahatan terhadap tuannya adalah hukuman mati. Kita tidak tahu alasan Potifar memasukan Yusuf ke dalam penjara. Mungkin dalam hati Potifar tahu isterinyalah yang mengoda Yusuf. Jadi untuk menjauhkan Yusuf dari isterinya, maka ia memasukan Yusuf ke penjara.
Kepercayaan menimbulkan rasa aman. Kita akan merasa aman untuk mencurahkan isi hati kita kepada orang yang kita percayai. Bahkan kita merasa aman untuk “menyerahkan” hidup kita pada orang yang kita percayai. Karena kita tahu dia tidak akan menghinati dan melukai kita.
Sebagai seorang isteri, apakah kita sudah menjadi seorang isteri yang bisa dipercaya sehingga suami kita merasa aman dengan kehadiran kita dan berani mempercayakakan segala sesuatunya kepada kita?  
Ataukah justru sebaliknya, saat ini kita menjadi isteri yang penuh kepura-puraan. Banyak hal yang kita sembunyikan dari suami kita. Sehingga suami kita sulit untuk mempercayai kita dan merasa tidak aman dengan keberadaan kita?
Atau sebagai wanita lajang kita menyimpan banyak kemunafikan dan keohongan. Sehingga orang lain sulit mempercayai kita dan merasa tidak aman dengan kehadiran kita?
Untuk memiliki kecantikan sejati, marilah kita menjadi orang-orang yang dapat dipercayai. Agar orang-orang di sekeliling kita merasa aman dan senang dengan kehadiran kita.

2.      Melakukan yang Baik
Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. ( Amsal 31:12 )

Dalam kitab Kejadian, kita melihat bagaimana Ribka melakukan kebaikan kepada Eliezer, hamba Abraham yang ditugaskan untuk mencari seorang isteri bagi Ishak anaknya. Dan bagaimana akhirnya Ribkalah yang terpilih untuk menjadi isteri Ishak.

Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: “Tolang beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.” Jawabnya: “Minumlah, tuan,” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”
 ( Kejadian 24:17-19 )

Ribka terpilih menjadi isteri Ishak bukan hanya karena parasnya yang cantik, namun tertama karena perbuatan baik yang ia lakukan. Sebab tanpa disadarinya, perbuatan baik yang ia lakukan merupakan suatu tanda pengesahan dari Tuhan bahwa ia adalah calon isteri yang Tuhan tetapkan untuk Ishak.

Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sedrhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaikan yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.
 ( I Timotius 2:9-10 )

Rasul Paulus memerintakan kepada para perempuan di gereja mula-mula supaya jangan mendandani diri mereka dengan perhiasan-perhiasan lahiriah, tetapi dengan perbuatan baik. Manusia tidak dikenang dari apa yang dipakainya, melainkan manusia dikenang dari apa yang dilakukannya. Saat kita mendandani diri kita dengan perbuatan baik kepada orang-orang di sekitar kita, hal itu akan menjadi perhiasan yang tidak dapat binasa yang akan dikenang oleh orang-orang di sekitar kita.

3.      Rajin
Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. ( Amsal 31:13 )

Hal ke-3 yang dimiliki oleh sang isteri yang cakap adalah kerajinan. Sang isteri yang cakap senang bekerja dengan tangannya. Dia melakukan semua pekerjaannya dengan senang hati, bukan dengan berat hati atau besungut-sungut.
Saat saya memasuki rumah sebuah keluarga, saya dapat mengetahui dari keadaan rumah tersebut apakah dalam keluarga itu ada seorang wanita yang rajin atau tidak, terutama jika mereka tidak memiliki pembantu.
Saya pernah melihat sebuah rumah yang besar dan bagus, namun sangat berantakan. Karena meskipun keluarga tersebut mempekerjakan 2 orang pembantu, tapi karena nyonya rumahnya tidak peduli pada urusan rumah tangganya, maka pembantunya juga berbuat seenaknya saja dalam rumah itu. Akibatnya, rumah itu menjadi sangat berantakan.
Sebaliknya, saya juga mengenal seorang ibu yang memiliki 2 orang anak balita. Ibu ini tidak memiliki pembantu, namun dia sangat rajin mengurus rumah tangganya. Jadi meski dengan 2 orang anak balita yang aktif di dalamnya, rumahnya tetap kelihatan bersih dan rapih.
Rut adalah seorang wanita yang rajin. Pada waktu dia baru datang dari daerah Moab ke Betlehem bersama ibu mertuanya Naomi. Mereka tidak mempunyai apa-apa untuk mempertahankan hidup mereka berdua. Karena pada waktu itu adalah musim menuai jelai, Rut berinisiatif untuk pergi memungut jelai yang ditinggalkan oleh para penyabit.

Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: “dari manakah perempuan ini?” Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: “Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. Tadi ia berkata: izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti.”
( Rut 2:5-7 )

Kerajinan Rut yang bekerja mengumpulkan jelai dari pagi dan tidak berhenti seketikapun yang menarik perhatian Boas kepadanya. Wanita yang rajin akan lebih disukai oleh orang meskipun ia tidak telalu cantik, dapirada wanita cantik yang malas.
Saya pernah mendengar acara talk show di sebuah radio Kristen. Ada seorang suami yang tidak tahan ingin menceraikan isterinya, karena isterinya malas mengurus rumah tangga dan selalu membiarkan rumah mereka dalam keadaan berantakan. Sang suami yang barasal dari latar belakang keluarga yang selalu menjaga kebersihan sudah berulang kali menasehatinya. Tetapi sang isteri tetap tidak mau berubah. Setiap pulang kantor, sang suami selalu disambut dengan rumah yang berantakan. Akhirnya sang suami memutuskan untuk bercerai.

4.      Mampu Mengorganisir dangan Baik
Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. ( Amsal 31:15 )

Banyak pertengkaran terjadi dalam keluarga karena isteri tidak mampu mengorganisir dengan baik, terutama dalam hal keuangan. Hal ini terjadi terlebih jika dalam keluarga hanya suami yang bekerja sedangkan isteri hanya berada di rumah. Sang suami yang menyerahkan seluruh penghasilannya kepada isterinya untuk keperluan rumah tangganya akan merasa tidak dihargai dan marah jika sang isteri tidak bisa mengelola keuangan dengan baik.
Seorang isteri yang cakap harus bisa menelola keuangan keluarganya dengan baik. Dia harus bisa membuat daftar pengeluaran selama 1 bulan, supaya jangan sampai terjadi “besar pasak daripada tiang”. Dia harus bisa membedakan mana keperluan, atau hanya sekedar keinginan saja. Supaya dia bisa menghemat pengeluaran yang tidak penting, dengan hanya membeli apa yang merupakan keperluan, dan tidak menghabiskan uangnya untuk memuaskan keinginannya semata. Denagn demikian, dia bisa menyisihkan uangnya untuk tabungan dan keperluan tak terduga.
Kebiasaan mengelola keuangan dengan baik harus dimulai dari sejak masih muda. Jika saat kita masih lajang kita sudah sulit mengatur keuangan, maka saat setelah bekeluarga kita akan lebih sulit untuk melakukannya, karena tanggung jawab dan kebutuhan kita akan meningkat setelah kita berkeluarga.
Selain mengorganisir keuangan dengan baik, seorang isteri yang cakap harus bisa mengorganisir anggota keluarganya dengan baik. Dalam banyak bukunya, Dr. James Dobson mengajarkan agar setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab di dalam rumah. Harus ada pembagian tugas yang jelas di antara anggota keluarga dalam urusan rumah tangga.
Anak-anak harus diajar bertanggung jawab minimal atas kebersihan kamar tidur tidur mereka sendiri. Seorang ibu yang baik tidak akan memanjakan anaknya dengan mengambil alih apa yang menjadi tugas anaknya jika memang anaknya telah mampu untuk melakukannya. Tetapi ia harus dapat melatih anaknya untuk melakukan tugasnya dengan baik.
Saat seorang isteri mampu mengorganisir rumah tangganya dengan baik, kemungkinan terjadinya konflik dalam keluarga akan dapat dikurangi. Sebab itu seorang isteri yang cakap akan dapat membawa kedamaian bagi keluarganya.

5.      Pandai Melihat Peluang
Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya. ( Amsal 31:16 )

Orang bijak berkata: "Kesempatan tidak datang dua kali"
Memang benar, sering kali kita gagal bukan karena kita tidak memiliki kemampuan, tapi karena kita menyia-nyiakan kesempatan. Kita tidak peka ketika kesempatan itu datang, dan akhirnya kesempatan itu berlalu begitu saja.
Orang yang sukses sering kali bukanlah orang yang memiliki banyak kemampuan, melainkan orang yang pandai melihat peluang. Rasul Paulus adalah orang yang pandai melihat peluang. Pada waktu dia berada di Atena dan melihat kota itu penuh dengan patung berhala. Paulus tidak memjadi pesimis dia akan bisa memberitakan Injil di tempat itu. Justru sebaliknya, dia melihat itu adalah kesempatan yang baik untuk memberitakan Injil.

Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: “Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan : Kepada allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.”
      ( Kis 17:22-23 )

Kepandaian melihat peluang membuat kita mampu untuk melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Kepandaian melihat peluang juga membuat kita mampu melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda. Orang yang pandai melihat peluang akan melihat suatu hal sebagai kesempatan, saat orang lain melihat hal yang sama sebagai hambatan. Oleh sebab itu, orang yang pandai melihat peluang selalu lebih maju satu langkah dibandingkan dengan orang lain.
Dalam kehidupan keseharian kita sebagai wanita, kita juga harus pandai untuk melihat peluang. Sebagai seorang penolong, kita harus pandai melihat peluang yang dapat membantu pasangan kita mendapat terobosan-terobosan. Sebagai ibu, kita juga harus pandai untuk melihat peluang. Kita dapat melihat anak kita yang terlalu aktif bukan sebagai gangguan, namun keaktifan anak kita adalah energi yang dapat disalurkan. Dan tugas kita adalah mengarahkannya untuk menyalurkan pada sesuatu yang tepat.
Kepandaian melihat peluang sangat penting dalam kehidupan keluarga, bisnis, pelayanan, dan banyak segi lainya dalam hidup kita. Karena itu, biarlah kita memita kepada Allah supaya Allah memberikan mata yang jelih untuk selalu dapat melihat peluang, bahkan di tengah tantangan sekalipun.

6.      Memiliki Belas Kasihan
Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. ( Amsal 31:20 )

Dalam Kisah Para Rasul 9:36-43 dikisahkan ada seorang wanita bernama Dorkas yang banyak berbuat baik dan memberi sedekah. Dorkas ini sakit dan kemudian meninggal dunia. Jemaat di Yope menyuruh orang untuk menjemput Petrus dari Lida untuk datang dan mendoakannya. Pada waktu Petrus sampai di Yope, semua janda berkumpul di ruang atas, di mana mayat Dorkas dibaringkan sambil menangis dan mereka menunjukan semua baju yang dibuat oleh Dorkas semasa hidupnya. Kemudian Petrus menyuruh mereka semua keluar dan mendoakan serta membangunkan Dorkas. Maka bangkitlah Dorkas dari kematiannya.
Belas kasihan yang Dorkas tunjukan kepada jemaat di Yope, terutama kepada para janda membuat jemaat di Yope begitu mengasihinya. Oleh sebab itu, ketika ia sakit dan kemudian meninggal, maka jemaat di Yope menyuruh orang untuk menjemput Petrus agar mendoakan serta membangunkannya. Selain itu, belas kasihan yang dia tunjukan kepada orang lain menjadi semacam “identitas” bagi dirinya.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.
( Kis 9:36 )

Yesus adalah pribadi yang penuh dengan belas kasihan. Alkitab mencatat berulang kali Yesus tergerak oleh belas kasihan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka. ( Matius 9:36 ) Semua yang Yesus lakukan didasari oleh rasa belas kasihan.
Belas kasihan berbeda dengan rasa simpati sesaat. Belas kasihan timbul dari dalam hati karena melihat penderitaan orang lain. Rasa simpati sesaat mudah hilang, namun belas kasihan membuat kita mampu untuk turut merasakan penderitaan orang lain.
Hati yang penuh dengan belas kasihan akan terpancar keluar. Orang yang sedang berada dalam penderitaan akan dapat merasakan apakah seseorang tersebut benar-benar mengasihinya atau hanya bersimpati.
Belas kasihan kita kepada orang lain, terutama yang sedang menderita akan menarik orang lain untuk kembali mengasihi kita. Seperti yang terjadi pada Dorkas dan para janda di Yope. Oleh sebab itu, kenangan terhadap kecantikan sejati yang berasal dari hati yang memiliki belas kasihan tidak akan hilang sampai kapanpun.
Sebuah Anomim yang sangat bagus mengambarkan kecantikan yang berasal dari hati yang memiliki belas kasihan berkata: “Untuk mendapat berat badan yang ideal, berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan.”

7.      Menjaga Nama Baik
Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. ( Amsal 31:21 )

Saya mengenal seorang wanita muda yang suka sekali membicarakan kekurangan suaminya kepada orang lain. Dia begitu gemar membicarakan kekurangan suaminya, sampai-sampai ketidak puasanya dalam hubungan intim mereka pun ia ceritakan. Sampai saya berpikir, kenapa dia dulu mau menikah dengan suaminya?
Saya rasa adalah hal yang benar jika dia hanya menceritakan masalah keluarganya kepada seorang konselor pernikahan untuk mencari solusi guna memperbaiki hubungan mereka. Namun sayangnya, dia bukan menceritakan masalah keluarganya pada seorang konselor yang takut akan Tuhan, sebaliknya dia menceritakannya pada teman-teman kantornya dan beberapa orang kenalannya yang lain.
Saat sepasang kekasih mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan, hamba Tuhan, dan jemaat Tuhan sebenarnya mereka bukan lagi kamu dan aku, tetapi kita. Sudah tidak ada lagi milikmu atau milikku, kekuranganmu atau kekuranganku, kesalahanmu atau kesalahanku, keluargamu atau keluargaku, yang ada hanyalah milik kita, kekurangan kita, kesalahan kita, keluarga kita. Saat dua orang menikah, Alkitab berkata, mereka bukan lagi dua melainkan satu.

Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.
( Matius 19:5 )

Karena suami isteri adalah satu, maka kita wajib berusaha menjaga nama baik suami kita. Jika kita benar-benar mencintai pasangan kita dan melihat dia sebagai bagian dari diri kita, bukan melihatnya sebagai orang lain, kita tidak mungkin akan menceritakan kekurangan pasangan kita kepada orang lain. Sebab kekurangannya adalah kekurangan kita juga.
Seharusnya jika suami kita memiliki suatu kekurangan, kita harus berusaha untuk menolong dia, karena memang kita diciptakan sebagai penolong. Itulah gunanya Allah menciptakan dan mempersatukan kita dengan pasangan kita untuk melengkapi apa yang kurang padanya. Sehingga hidup kita lebih maksimal dengan kita menikah daripada kita hidup sendiri.
Namun ironisnya, banyak wanita yang tidak bisa melihat pasangannya sebagai bagian dari dirinya. Mereka melihat pasangannya sebagai orang lain, bahkan sebagai saingan. Jika sudah seperti itu keadaannya, maka sikap menghargai, melindungi, terlabih lagi mengasihi akan hilang dalam keluarga. Sebagai pengantinya adalah kecurigaan, rasa merendahkan, dan ingin menjatuhkan satu sama lain.
Seorang isteri yang cakap tidak akan pernah merendahkan atau menghina suaminya karena kekurangan-kekurangan yang dimiliki suaminya. Sebalikya, seorang isteri yang cakap akan berusaha menutupi kekurangan suaminya dengan menjadi penolong yang baik untuk suaminya. Seorang isteri yang cakap adalah seorang yang mampu menjaga nama baik suaminya.

Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukan tulang suaminya.
( Amsal 12:4 )

8.      Penuh Pengharapan
Ia tertawa tentang hari depan. ( Amsal 31:25b )

Pada waktu Firaun memerintahkan untuk membuang semua bayi laki-laki yang lahir dari keluarga Ibrani ke dalam sungai Nil supaya bangsa Israel tidak bertambah banyak di tanah Mesir. Semua wanita Ibrani takut, dan melakukan apa yang Firaun perintahkan. mereka membuang semua bayi laki-laki yang mereka lahirkan ke dalam sungai Nil. Namun ada seorang wanita dari suku Lewi yang berani menentang perintah Firaun karena pengharapannya kepada Allah. Wanita ini menyembunyikan bayi laki-laki yang dilahirkanya selama 3 bulan. Walaupun pada akhirnya dia harus merelakan bayi laki-lakinya untuk dihanyutkan di sungai Nil, namun ia tidak membuang anaknya itu begitu saja. Ia meletakan bayinya dalam sebuah peti pandan, dan diletakan pada tepi sungai Nil. Ia menyuruh anak perempuannya yang tertua untuk mengawasinya. Karena ia percaya Allah sanggup melakukan sesuatu bagi bayinya. Nama perempuan itu adalah Yokhebed, ibu Musa. ( Keluaran 2:1-10 )
Pengharapan memberi kita kekuatan untuk bertahan dalam situasi yang sulit. Sekali kita kehilangan pengharapan, kita akan kehilangan seluruh kekuatan untuk menghadapi dunia. Sebab itu, seorang wanita yang penuh pengharapan adalah seorang wanita yang kuat, yang mampu menjadi penolong bagi suaminya.
Alkitab berkata:

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.
( Ibrani 6:19 )

Penharapan akan menjaga jiwa kita supaya tidak hancur oleh gelombang kehidupan. Terlebih lagi karena kita percaya kita memiliki Allah yang sanggup melakukan segala sesuatu dan Dia sanggup mengubah keadaan kita.
Seorang isteri yang cakap mampu membangkitkan harapan suaminya dalam masa sulit, bukan menghancurkannya. Pengharapan yang kita miliki akan menular ke hati pasangan kita untuk dia juga memiliki pengharapan yang sama. Sehingga ia bisa bangkit dan bertahan dalam menghadapi masa-masa sulit.
Pengharapan membuat seorang ibu menyusui anaknya. Pengharapan membuat seseorang menanam sebatang pohon, meskipun mungkin ia tidak dapat menikmati buahnya berapa tahun mendatang. Pengharapan membuat seseorang tidak pernah menyerah.

Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
( Amsal 23:18 )

9.      Berhikmat
Ia membuka mulutnya dengan hikmat. ( Amsal 31:26a )

Dalam Perjanjian Lama ada seorang wanita yang karena hikmatnya menyelamatkan suaminya dari malaikat yang akan membunuhnya. Zipora, isteri Musa, pada waktu perjalanan mereka kembali ke Mesir, di suatu tempat bermalam, menyelamatkan Musa dari Tuhan yang ingin membunuhnya karena Musa lalai untuk menyunatkan ke 2 anak lelakinya sewaktu mereka tinggal di tanah Midian.
Zipora yang mengetahui tentang perjanjian sunat antara Allah dan bangsa Israel segera mengambil pisau batu dan memotong kulit khatan anaknya, serta menyentuhkan kulit itu ke kaki Musa, sambil berkata: “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku”. Sehingga Tuhan membiarkan Musa hidup. ( Keluaran 4:24-26 )
Alkitab berkata:

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.
( Amsal 16:16 )

Apa yang fiman Tuhan di atas katakan sangatlah tepat. Terkadang, sampai di suatu titik, emas, perak dan segala harta kekayaan kita tidak menyelamatkan kita, hanya hikmatlah yang dapat menyelamatkan kita. Seperti pada cerita Zipora tadi. Semua yang dimiliki Musa tidak bisa untuk menyuap Tuhan supaya Tuhan jangan membunuhnya. Hanya hikmat dari seorang isteri yang cakap yang mampu mencegah Tuhan untuk tidak membunuh Musa.
Hikmat sejati hanya berasal dari Allah, karena Allah adalah sumber hikmat. Dan Allah berjanji untuk memberikan hikmat kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencarinya.

Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya dating pengetahuan dan kepandaian.
( Amsal 2:4-6 )

Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.
( Yeremia 33:3 )

Hikmat dari Allah mengalahkan semua pengetahuan dan kepandaian manusia.  Himat dari Allah memmbuat kita memahami hal-hal yang tidak terpahami oleh akal pikran manusia kita. Allah memberikan hikmat pada kita dalam situasi-situasi tertentu supaya kita terhindar atau terlepas dari persoalan. Bahkan hikmat dari Allah akan memberikan ide-ide baru kepada kita sehingga terjadi terobosan dalam hidup kita.
Saya pernah mendengar cerita seorang wanita yang dipecat dari pekerjaanya. Kemudian dia mendapat ide untuk manjahit kain-kain perecah yang dia beli dengan harga murah menjadi seprei. Akhinya usahanya ini menjadi maju dan berkembang. Sehingga kehidupnya menjadi lebih baik dari pada saat dia bekerja pada pekerjaanya yang lama.
Hikmat seorang isteri yang cakap dapat membawa keluarganya keluar dari berbagai kesulitan. Jika kita adalah wanita yang memilki hikmat dari Allah, bayangkan apa saja yang bisa kita lakukan untuk diri kita, keluarga kita, dan orang lain.
Selain itu, seorang suami akan bangga memiliki seorang isteri yang berhikmat sehingga dapat menjadi penolong yang baik bagi dirinya. Oleh sebab itu, menjadi wanita yang berhikmat sangat penting untuk menjadi isteri yang cakap dan memiliki kecantikan yang sejati.
Namun yang menjadi persoalannya, adakah kita mau mengejar hikmat tersebut melalui menjalin hubungan yang terus-menerus dengan Tuhan? Seberapa serius kita untuk bisa memperoleh hikmat? Ataukah sebaliknya, kita sudah merasa puas dengan keadaan kita saat ini, dan merasa tidak perlu lagi untuk medapatkan hikmat sehingga kita lebih memilih mengabiskan waktu kita untuk hal yang lain daripada menghabiskannya untuk membangun hubungan dengan Tuhan?

10.  Perkataan yang Lemah Lembut
Pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. ( Amsal 31:26b )

Ketika Daud dan para pengikitnya yang berada di padang gurun kehabisan makanan, Daud menyuruh beberapa orang pengikutnya untuk pergi kepada Nabal, seorang yang sangat kaya di Maon, yang sedang mengadakan pesta penguntingan bulu domba, untuk meminta makanan bagi Daud dan orang-orangnya. Namun Nabal menolak untuk membantu Daud, sebaliknya ia menghina Daud dan mengusir orang-orang suruhan Daud.
Daud yang marah kemudian mengajak kira-kira 400 orang pengikutnya untuk membunuh Nabal dan semua laki-laki yang ada di rumahnya.
Nabal memilik seorang isteri yang cantik dan bijak, namanya Abigail. Ketika Abigail mendengar apa yang telah dilakukan Nabal kepada Daud. Abigail kemudian mengambil roti, domba, anggur dan makanan lainnya untuk memberikannya kepada Daud dan para pengikutnya.
Di tengga jalan, Abigail berjumpa dengan Daud yang hendak membunuh Nabal dan semua laki-laki yang ada di rumahnya. Abigail segera turun dari keledainya, sujud menyembah kepada Daud, dan membujuk Daud dengan kata-kata yang lemah lembut untuk mengurungkan niatnya membunuh Nabal dan seisi rumahnya.
Daud menuruti kata-kata Abigail untuk mengurungkan niatnya membunuh Nabal. Dan kira-kira 10 hari kemudian Tuhan memukul Nabal sehingga ia mati. Dan Daud pun terlepas dari hutang darah. Setelah Nabal mati, kemudian Daud menyuruh untuk mengambil Abigail menjadi isterinya.
Perkataan Abigail yang lemah lembut dapat memadamkan kemarahan Daud dan membuat Daud membatalkan niatnya untuk membunuh Nabal. Perkataan yang lemah lembut adalah seperti air dingin yang disiramkan di atas barah api yang menyala dari seseorang yang sedang marah, sehingga dapat memadamkan kemarahannya. Sebaliknya, perkataan yang keras dan kasar adalah seperti bensin yang disiramkan pada barah api dari seseorang yang sedang marah, dan membuat kemarahannya semakin meledak.
Amsal berkata:

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah.
( Amsal 15:1 )

Namun sebagai wanita sering kali kita tidak bisa mengontrol perkataan dan nada suara kita. Saat sedang emosi, kita sering kali berkata-kata kasar dengan nada suara yang tinggi. Kita tidak pernah memikirkan terlebih dahulu apa yang akan kita katakan dan akibatnya sebelum mengucapkan sesuatu. Lebih parahnya lagi, saat sedang marah kita cenderung untuk sengaja memilih kata-kata yang menjatuhkan “lawan” kita.
Dalam hidup kita sebagai pasangan, atau sebagai wanita lajang, sering kali kita dihadapkan pada konflik-konflik yang tidak dapat kita hindari. Cara kita berkata-kata sangat penting dalam menyelesaikan suatu konflik. Kita dapat meredahkan atau memperparah konflik dengan apa yang kita katakan. Perkataan yang lemah lembut dapat meredahkan konflik, sebaliknya, perkataan yang pedas akan memperparah konflik.
Lemah lembut bukan berarti tidak ada ketegasan atau menghiyakan segala sesuatu. Kita bisa tetap tegas namun lemah lembut. Kita dapat memilih kata-kata yang tidak mengandung kompromi, tapi mengucapkannya dengan lemah lembut. Dan ini akan membuat pihak “lawan” lebih terbuka untuk mendengarkan kita. Jika kita mengunakan nada suara yang bersifat menyerang dalam usaha untuk menyelesaikan suatu konflik, maka pihak “lawan” akan membalas dengan membela diri, dan akan menutup diri untuk mendengar apa yang kita katakan. Karena, cara kita mengucapkan, berbicara lebih keras dari apa yang kita katakan.
Karena itu, untuk memilki kecantikan sejati, kita harus belajar berkata-kata dengan lemah lembut dalam hidup keseharian kita. Khususnya untuk menjadi seorang isteri yang cakap, kita harus belajar berkata lemah lembut kepada keluarga kita. Terkadang kita masih bisa berkata-kata dengan lemah lembut kepada orang lain untuk menjaga perasaannya. Namun dengan keluarga kita sendiri kita berbicara dengan seenaknya, karena kita merasa sudah begitu terbiasa dengan mereka. Oleh sebab itu sopan santun dalam berkata-kata sudah hilang dari kamus kita.
Kebiasaan berkata-kata dengan lemah lembut harus kita berlakukan kepada semua orang. Entah dia keluarga kita atau orang yang baru kita kenal. Entah dia atasan atau bawahan kita. Setiap orang senang mendengar perkataan yang lemah lembut. Oleh sebab itu, orang yang biasa berkata-kata dengan lemah lembut akan disukai banyak orang. Yesus berkata:

Berbahagialah orang yang lemah lembut, kerena mereka akan memiliki bumi.
 ( Matius 5:3 )

11.  Teliti
Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya. ( Amsal 31:27a )

Ketelitian adalah salah satu unsur untuk memiliki kecantikan sejati. Tanpa ketelitian seorang wanita tidak akan bisa mengurus apa pun dengan baik. Ketelitian menyangkut hal-hal yang kecil, namun membutuhkan komitmen yang besar. Salah satu bentuk ketelitian yang sederhana, seperti selalu mengembalikan barang pada tempatnya semula. Akan membutukan perjuangan yang sangat besar bagi orang-orang yang sudah terbiasa untuk ceroboh.
Saya memiliki seorang teman wanita yang sering mengeluh karena tidak punya waktu untuk membereskan kamar tidurnya dan lupa tempat menaruh suatu barang. Saya menasehatinya untuk memulai kebiasaan dari hal-hal kecil, yaitu selalu mengembalikan barang-barang pada tempatnya yang tetap. Jika kita selalu mengembalikan barang pada tempatnya, kamar kita tidak akan terlalu berantakan, dan kita tidak akan butuh waktu yang lama untuk membereskannya. Selain itu, jika kita selalu mengembalikan barang pada tempatnya, kita akan tahu pasti di mana benda itu berada. Sehingga jika kita memerlukannya, dalam keadaan gelap pun kita bisa menenukannya. Dan kita tidak perlu buang-buang waktu untuk mencarinya.
Ketelitian sangat dibutuhkan untuk setiap hal yang kita lakukan. Dalam pekerjaan, mengurus rumah tangga, pelayanan dan banyak hal lainnya, semuanya membutuhkan ketelitian. Ketelitian membuat kita mengerti benar akan suatu hal, dan memungkinkan kita untuk mengambil tindakan yang tepat.
Ezra adalah orang yang bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan. ( Ezra 7:10 ) Oleh sebab itu Ezra dapat mengerti betul kehendak Tuhan dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tanpa ketelitian tidak ada ketepatan. Oleh sebab itu, untuk melakukan sesuatu dengan tepat dan benar dibutuhkan ketelitian.

12.  Takut Akan Tuhan
Tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji. ( Amsal 31:30b )

Hal terakhir dan paling penting untuk memiliki kecantikan sejati adalah takut akan Tuhan. Karena tanpa adanya hati yang takut akan Tuhan, kita tidak mungkin memiliki ke-11 hal yang saya sebutkan di atas. Hati yang takut akan Tuhan adalah sumber dari kecantikan sejati.
Alkitab berkata:

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.  
( Roma 3:23 )

Semua manusia pada dasarnya telah rusak karena dosa. Tidak ada satu pun yang baik pada diri manusia. Karena manusia memiliki hakekat dosa di dalam dirinya. Oleh sebab itu, manusia kehilangan kecantikan sejati mereka, yaitu kemuliaan Allah.
Manusia tidak perlu diajar berbuat jahat untuk dia bisa berbuat jahat. Bahkan, anak-anak yang tidak pernah diajari berbohong oleh orang tuanya, dengan sendirinya bisa berbohong. Saya punya sebuah ilustrasi yang menunjukan bagaimana manusia memiliki hakekat dosa di dalam dirinya.

Seorang kakek memberi sebungkus permen kepada cucu perempuannya yang masih berunur 4 tahun. Kemudian sang kakek bertanya kepada cucu perempuannya: “Apakah kamu sayang kakek?”. Sambil menggunyah permen di mulutnya, gadis kecil itu menjawab: ”tentu aku sayang kakek.” “Kalau begitu beri kakek 1 butir permenmu.” Kata sang kakek kemudian. Gadis kecil itu segera menggelengkan kepalanya sambil mencengkram lebih kuat kantung berisi permennya.
Melihat reaksi cucunya sang kakek berkata: ”Jika kamu pelit terhadap kakek, maka kakek tidak akan membelikanmu permen lagi. ” Mendengar itu cucunya sangat ketakutan; dan berkata: ”kakek, kalau begitu tutup matamu.” Sang kakek kemudian berpura-pura manutup matanya, sambil mengintip apa yang dilakukan cucunya. Ternyata cucunya mengeluarkan permen dari mulutnya yang tinggal setegga, dan menyuapkannya ke mulut kakeknya. Kemudian dia membuka permen yang baru dan memakannya.

Kita semua tahu tidak seorangpun yang mengajarkan kepada gadis kecil itu untuk berlaku curang. Tetapi karena adanya “dosa asal” yakni kecenderungan manusia untuk selalu berbuat dosa. Maka gadis kecil itu memiliki pikiran untuk berbuat curang.
Karena dosa, manusia menjadi begitu kotor, dan kehilangan kecantikan sejati mereka. Namun manusia tidak berdaya untuk memulihkan dirinya sendiri. Karena manusia telah ditundukan di bawa hokum dosa. Hanya ada satu cara untuk memulihkan kecantikan sejati manusia, yaitu anugerah dari Allah.
Allah melalui kematian Yesus di kayu salib melepaskan semua orang yang percaya kepadaNya dari kuasa dosa dan menjadikannya anak-anak Allah. Kemudian Allah akan memberikan Roh KudusNya untuk diam di dalam kita dan bersatu dengan roh kita. Roh Kudus yang diam dalam kita yang akan memampukan kita untuk melakukan kebenaran Allah. Sehingga kemuliaan Allah kembali terpancar dari dalam diri kita, dan kita mendapatkan kembali kecantikan yang sejati.

Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Allah.
 ( I Petrus 3:4 )


Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Berilah kepadanya bagian dari hasil tanganya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!
( Amsal 31:30-31 )

Glory to The Lord