Saat saya berusia 16 tahun, saya mengalami kelumpuhan hampir di seluruh bagian tubuh saya secara mendadak. Karena orang tua saya tidak mampu merawat saya, maka mereka menyerahkan saya pada sebuah yayasan. Puji Tuhan, ada sebuah yayasan yang bersedia menerima dan merawat saya dengan baik meskipun yayasan tersebut bukanlah yayasan untuk menampung anak cacat, melainkan sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang untuk mendidik anak-anak putus sekolah. Anak-anak putus sekolah ditampung serta dididik dalam hal keperawatan, untuk kemudian disalurkan untuk merawat pasien atau orang jompo di rumah-rumah. Karena itu, saya adalah satu-satunya pasien di yayasan tersebut.
Di yayasan tersebut saya dirawat dengan baik. Kebutuhan akan makanan dan minuman saya dicukupi dengan sangat baik, bahkan saya merasa sampai berkelimpahan. Namun mungkin Tuhan juga ingin melatih saya untuk bergantung sepenuhnya kepadaNya untuk mencukupi kebutuhan saya dalam hal lainnya. Sejak saya tinggal di yayasan, saya sangat jarang mendapat kunjungan dari keluarga saya. Karena itu, untuk membeli kebutuhan saya sehari-hari seperti sabun mandi, shampo, odol, pakaian dan lainnya saya hanya dapat berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Saya tidak mungkin meminta kepada suster kepala yayasan untuk membelikan semua keperluan saya, karena pasti beliau sudah mengeluarkan banyak uang untuk membantu biaya perawatan saya. Saya pun tidak mungkin meminta pada tante-tante yang menjadi donator saya, karena saya tahu, mereka harus membantu banyak orang, dan biaya yang harus mereka keluarkan pasti tidak sedikit. ( Tante-tante donator saya adalah ibu-ibu dari gereja Katolik yang setiap bulan memberikan bantuan kepada suster kepala yayasan untuk biaya perawatan saya ).
Namun, justru di saat itulah saya melihat pemeliharaan Tuhan yang ajaib. Suatu hari odol saya hampir habis, dan saya tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli odol yang baru. Saya berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, Engkau dapat membuat mujizat untuk membuat odolku tidak habis, seperti Engkau membuat mujizat terhadap tepung janda di Sarfat. Namun, jika Engkau mengijinkan odolku habis, aku percaya, Engkau akan memberi aku uang untuk membeli odol yang baru.”
Selain berdoa, saya juga terus menyayikan suatu bait dari sebuah pujian dalam bahasa Mandarin yang diambil dari Matius 6:25-34 untuk menguatkan kepercayaan saya akan pemeliharaan Tuhan. Pujian tersebut berjudul Bunga di Padang. Terjemaannya kurang lebih sebagai berikut:
Semua kebutuhanmu Bapa di surga sudah mengetahuinya
Jika hatimu risau, biarkan Dia menyingkirkannya untukmu
Bapa yang penuh kasih setiap hari memeliharamu
Dia adalah Allah maha kuasa
Berbahagialah orang yang percaya kepadaNya
Pujian ini selalu saya nyanyikan di saat saya merasa takut akan kehidupan saya. Sebagai orang yang menderita kelumpuhan yang hampir total, sulit bagi saya untuk dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya sendiri. Karena itu, saya hanya bisa berharap sepenuhnya kepada Allah untuk memelihara hidup saya.
Selama ini Allah memelihara saya dengan mengerakan hati orang-orang untuk memberkati saya, meskipun saya tidak pernah menceritakan kesulitan keuangan saya kepada siapa pun. Allah sering mengerakan orang-orang yang datang untuk mempekerjakan tenaga perawat dari yayasan tempat saya tinggal. Bahkan, anak-anak putus sekolah yang sudah dididik dan disalurkan dari yayasan di mana saya tinggal, juga sering memberkati saya. Jika mereka sudah bekerja untuk merawat orang tua atau orang sakit di rumah-rumah orang, dan mereka berlibur ke yayasan, mereka sering memberi saya uang. Mereka selalu berkata: “Ini ada uang sedikit untuk membeli sabun”. Entah mengapa mereka selalu berkata seperti itu jika memberkati saya. Mungkin itu kebiasaan berbicara anak-anak NTT, saya pun tidak tahu. Karena sebagian anak-anak yang dididik di yayasan tempat saya tinggal berasal dari NTT.
Beberapa hari setelah saya berdoa meminta odol kepada Allah, sarta setiap hari saya menyanyikan pujian Bunga di Padang tersebut, seorang anak NTT yang pernah dididik di yayasan dan sekarang sudah bekerja merawat pasien di rumah orang datang untuk bertemu dengan suster kepala yayasan. Tiba-tiba dia memberi saya uang Rp. 50.000. Saya sangat heran kenapa dia bisa tiba-tiba memberi saya uang Rp. 50.000. Anak ini dikenal sangat pelit di antara teman-temannya. Dan sejak dia bergabung dengan yayasan ini beberapa tahun sebelumnya, dia tidak pernah sekalipun memberi saya uang. Namun, entah kenapa tiba-tiba hari itu dia bisa memberi saya uang. Bukan hanya 10.000 atau 20.000, tetapi sampai 50.000, dan dengan uang itu saya membeli odol yang baru. Saya percaya pasti karena Tuhan yang mengerakan hatinya. Mungkin Tuhan melihat, jika Tuhan tidak memberi saya uang melalui anak itu, saya akan benar-benar kehabisan odol. Dan Tuhan mau menunjukan bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah terlambat untuk menolong anak-anakNya.
Peristiwa Tuhan memberi saya odol tersebut terjadi kira-kira 5 atau 6 tahun yang lalu. Namun, saya masih mengingat dengan jelas peristiwa itu. Setiap kali saya terigat akan peristiwa itu, saya tidak habis-habisnya mengagumi seberapa besar kepedulian Allah terhadap kita. Saya percaya, jika Dia peduli sampai kebutuhan terkecil saya seperti odol, Dia juga akan peduli dengan kebutuhan saya yang lain seperti kesembuhan.
Aliktab berkata: Bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. (Lukas 12:7) Dalam bahasa aslinya dikatakan, bahkan rambut di kepalamu ditandai oleh Allah. Jika Allah yang menciptakan alam semesta adalah Allah yang juga menandai setiap rambut yang ada di kepala kita, maka janganlah kita merasa kuatir akan hidup kita. Jika hari-hari ini kita sedang mengadapi masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, tetaplah percaya bahwa Allah peduli akan setiap persoalan kita, entah itu besar ataupun kecil, dan Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar tepat pada waktunya. Ingatlah, Dia yang memberi odol kepada saya, Dia juga yang akan mencukupkan semua keperluan saudara!
Glory to the Lord
Tidak ada komentar:
Posting Komentar