Kamis, 31 Januari 2013

Aku Ingin Pulang


Menantu : "Masak sedikit tawar, kamu mengomel tidak ada rasa. Sekarang masak sedikit asin kamu bilang tidak bisa menelan. Sebenarnya maumu itu apa sih?"

Ibu tua itu, begitu melihat anak laki-lakinya pulang, tanpa berkata apa-apa, segera menelan nasi dan sayur itu.

Saat makan, si pria begitu mencoba makanan itu, langsung memuntahkannya : "Bukankah aku pernah berkata, ibu punya penyakit, jadi tidak boleh makan terlalu asin?"

Si isteri memandang suaminya dengan marah, dan berkata : "Baiklah, dia adalah ibumu. Mulai sekarang kamu yang memasak untuk dia!"

Si menantu dengan kemarahan yang menyala-nyala, masuk ke kamarnya. Pria itu yang merasa tidak berdaya dan hanya bisa diam menghadapi kemarahan sang isteri, kemudian berkata kepada ibunya: "Bu, sudahlah, jangan dimakan lagi. Saya buatkan mie instant untuk ibu."

Ibu tua berkata : "Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan ibu? Katakanlah nak, agar jangan menjadi beban di hatimu."

Si pria berkata : "Bu, bulan depan perusahaan menaikan jabatanku, aku pasti akan sangat sibuk. Adapun isteriku berkata dia juga ingin mencari pekerjaan di luar. Maka……."

Ibu tua itu segera menyadari maksud anak laki-lakinya  : "Nak, tolong jangan masukan ibu ke panti jompo." Dengan suaranya yang seperti memohon.

Anak lelakinya diam sejenak, mencari alasan yang lebih baik : "Bu, sebenarnya panti jompo tidak sebegitu buruk. Ibu tahu, begitu isteriku bekerja, dia tentu tidak punya banyak waktu lagi untuk melayani ibu. Di panti jompo ada makanan, ada tempat tinggal, ada orang yang merawat. Bukankah jauh lebih baik dari pada di rumah?"

Setelah mandi, dan makan mie instan rebus, anak lelakinya segera masuk ke ruang kerjanya. Dia menerawang jauh melalui jendela. Ada sedikit keraguan di hatinya.
Ibunya dari muda sudah menjanda. Dengan susah payah merawat dan membesarkannya. Membiayainya bersekolah ke luar negeri. Namun dia tidak pernah mengunakan pengorbanannya waktu muda untuk menekan agar anaknya berbakti kepadanya. Sebaliknya, isterinyalah yang mengunakan pernikahan untuk menekannya.

Benarkah dia akan membiarkan ibunya tinggal di panti jompo? Dia bertanya kepada dirinya sendiri. Dia merasa tidak tega

"Yang akan menemani hidupmu selanjutnya adalah isterinu. Bukan ibumu?" Temannya selalu memperingatkannya seperti ini.

Keluarganya selalu menasehatinya : "Ibumu sudah setua ini. Jika umurnya panjang sekalipun, masih bisa hidup berapa tahun lagi? Kenapa tidak mengunakan beberapa tahun ini untuk baik-baik berbakti kepadanya. Pohon ingin bergoyang, tapi angin sudah tidak bertiup. Anak ingin berbakti, tapi orang tua sudah tiada."

Si pria tidak berani berpikir lagi. Dia takut dirinya akan benar-benar mengubah keputusan yang sudah dibuatnya.

Saat senja matahari yang memancarkan sinar kuning keemasan, bersembunyi di balik gunung untuk beristirahat.

Sebuah rumah jompo yang mewah berdiri di atas lereng gunung di daerah luar kota.

Ya, uang pembayaran rumah jompo yang mahal, membuat hati anaknya tenang.

Saat si pria membimbing ibunya ke ruang aula yang sangat besar, ada sebuah televisi yang masih sangat baru, layar 42 inci sedang menayangkan drama komedi, namun tidak seorangpun dari penonton yang tertawa. Beberapa orang tua yang memakai baju yang sama, dengan model potongan rambut yang sama pula tampak bengong sambil duduk di atas sofa, dan tanpa semangat sama sekali. Beberapa orang tua sedang berbicara sendiri. Beberapa lainnya membungkuk berlahan, berusaha untuk mengambil biskuit kering yang terjatuh di lantai untuk di makan.

Si pria tahu ibunya suka cahaya terang, karena itu dia memilihkan sebuah kamar yang penuh dengan cahaya matahari. Dari jendela kamar bisa terlihat pepohonan dengan rerumputan yang luas.

Beberapa perawat tampak sedang mendorong orang tua di kursi roda berjalan-jalan di bawah sinar matahari terbenam. Semua tampak diam, begitu sunyi, membuat hati terasa pedih.

Meskipun matahari terbenam tampak indah, bagaimanapun juga senja telah tiba, dia mendesah di dalam hati.

"Bu, aku….. aku harus pulang." Ibunya hanya diam sambil menganggukan kepala.

Saat dia pergi, ibunya melambaikan tangan berlahan, membuka mulutnya yang ompong tanpa gigi, sambil menjilati bibirnya yang pucat dan kering. Seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Saat itulah si anak baru memperhatikan rambut ibunya yang sudah berwarna abu-abu, mata yang cekung, serta kulit wajah yang keriput.

Ibu sungguh sudah tua!

Tiba-tiba dia teringat sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Waktu itu usianya baru 6 tahun. Ibunya ada urusan dan harus kembali ke desa. Sulit untuk mengajaknya. Karena itu, ibunya menitipkannya di rumah pamannya untuk beberapa hari. Saat ibunya akan berangkat, dia dengan ketakutan memeluk kaki ibunya dan tidak mau melepaskannya. Dengan sedih menangis sambil berteriak : "Ibu, jangan tinggalkan aku! Jangan pergi!" Akhirnya ibunya tidak jadi meninggalkannya.

Dia segera meniggalkan kamar ibunya, membuka pintu, dan tidak menoleh kembali. Sangat takut ingatan itu kembali datang menghantuinya.

Sesampainya di rumah, isteri dan ibu mertuanya sedang seperti orang gila membuang semua barang dari kamar ibunya.

Piala – itu adalah hadiah waktu dia SD untuk karangannya yang berjudul "ibuku" yang menjadi juara 1 dalam lomba mengarang. Kamus Cina Inggris – itu adalah hadiah ulang tahun yang pertama kali berhasil dibeli oleh ibunya karena ibunya menghemat sebagian uang makannya dan uang untuk keperluan pribadinya yang lain selama sebulan penuh.

Juga minyak untuk reumatik yang biasa digosok oleh ibunya sebelum tidur. Tidak ada dia yang mengosok ibunya, diantarkan ke panti jompo juga tidak ada artinya.

"Sudah cukup! Jangan buang lagi!" Si pria berteriak.

"Sampah sebanyak ini, jika tidak dibuang, bagaimana aku bisa menaruh barang-barangku?" Kata ibu mertuanya tanpa perasaan.

"Betul! Cepat keluarkan tempat tidur tua milik ibumu itu! Besok aku akan membelikan tempat tidur baru untuk ibuku!" Sahut isterinya.

Setumpuk foto waktu kecil tergeletak di hadapannya. Itu adalah foto-foto waktu ibunya membawanya ke kebun binatang dan taman bermain.

"Ini semua adalah harta ibuku. Tidak boleh ada satu pun yang dibuang!"

"Bagaimana sikapmu ini? Begitu tidak sopan pada ibuku. Kamu harus minta maaf pada ibuku!" Bentak isterinya.

"Aku menikahimu dan harus mengasihi ibumu, mengapa? Sedangkan kau menikahiku dan tidak bisa mengasihi ibuku." Jawab suaminya.

Malam setelah hujan tampak sepi, jalanan lengang, sangat sedikit pejalan kaki maupun kendaraan. Sebuah mobil mewah melaju di jalan. Menerobos lampu merah. Melaju dengan sangat cepat menujuh panti jompo yang ada di lereng gunung. Setelah memarkir mobil, dia segera menuju lantai atas, membuka pintu kamar tidur ibunya, dia berdiri sambil terpaku. Ibunya sedang mengosok kakinya yang sakit karena reumatik sambil menangis pelan.

Dia melihat di tangan anaknya ada minyak untuk reumatik, hatinya merasa terhibur dan berkata : "Ibu lupa membawanya, untung kamu membawanya datang."

Dia berjalan ke samping ibunya, dan berlutut.

"Sudah sangat malam. Ibu bisa mengosoknya sendiri. Besok kamu masih harus pergi bekerja. pulanglah!" Kata ibunya.

Dia terpaku beberapa saat, akhirnya menangis dengan keras : "Ibu, maaf, ampuni aku, kita pulang sekarang!"

♥♥♥♥

Cerita dia atas saya terjemakan dari postingan teman facebook saya dari Taiwan. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan yang lalu saya ingin menulis tentang orang-orang tua yang dititipkan oleh keluarganya di panti jompo. Sebab saya tergerak karena melihat jeritan hati para manula yang dipaksa untuk berpisah dari keluargannya. Namun saya tidak tahu harus mulai dari mana, karena cerita yang saya dapat begitu kompleks. Tapi cerita di atas memberi saya inspirasi dari mana saya harus mulai menulis.

Pada akhir tahun 2011, karena kelumpuhan yang saya derita, saya kemudian dipindahkan ka sebuah panti yang menampung anak yatim piatu, anak cacat dan juga lansia. Di situlah saya bersentuhan secara langsung dengan para orang tua yang menjadi penghuin panti jompo. Saya mendengarkan kisah hidup mereka, canda mereka, kesedihan mereka, kerinduan mereka, tangis mereka, bahkan keputus asaan mereka.

Saya tergerak untuk menuliskan kisah mereka, dengan harapan agar orang-orang yang membaca tulisan saya bisa belajar dari kenyataan yang ada. Betapa hancurnya hati orang-orang tua yang dipaksa berpisah dengan keluarganya. Dan agar kita kelak jangan mengulangi kesalahan yang sama dengan memasukan orang tua kita ke panti-panti jompo. Selama kita masih bisa merewat mereka, seharusnya kita berusaha untuk merawat mereka dengan baik. Karena, semewah apa pun sebuah panti jompo, tetap tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan berada di antara anak cucunya.

Selain itu, saya berharap agar tulisan ini dapat mengugah hati para perawat dan orang-orang yang bekerja di panti-panti jompo, agar mereka bisa melayani dengan penuh kasih. Belajar memiliki hati yang berpengertian dan belajar memahami hati dan perasaan orang-orang tua yang kita rawat. Bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang tua yang merasa tertolak dan terbuang. Mereka direngut secara paksa dari lingkungan mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka, kesenangan mereka, barang-barang mereka, serta orang-orang yang mereka kasihi. Karena itu kita harus mengasihi mereka dan menghargai mereka sebagai manusia seutunya.

Di artikel ini saya mencoba menuliskan beberapa kisah dari orang-orang tua yang paling sering berbincang-bincang dengan saya, sehingga saya lebih mengerti tentang kisah-kisah mereka, dan apa yang mereka rasakan selama mereka tinggal di panti jompo. Dan saya percaya, kisah mereka mewakili jeritan banyak orang tua yang tinggal di panti jompo. Karena pada umumnya semua orang tua yang dititipkan di panti jompo memiliki perasaan yang sama, yaitu perasaan tertolak dan terbuang.

Hanya ada satu seruan yang mereka teriakkan adalah "Aku Ingin Pulang". Entah itu pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarganya, atau pulang kepada Penciptanya. Pada dasarnya, tidak ada satu pun orang tua yang senang tinggal di panti jompo.

Kisah saya, saya mulai dengan cerita seorang nenek yang selalu memakai jilbab, dengan baju kebaya adat Jawa. Saya tidak tahu nama nenek ini, tetapi kami biasa memanggilnya dengan sebutan Mbah Uti.

Suatu pagi, tidak lama setelah saya tinggal di panti tersebut, saya dikejutkan oleh suara rebut-ribut. Ada suara orang tua yang menangis sambil berbicara dengan keras, juga ada suara beberapa perawat yang berbicara tidak kalah kerasnya. Percakapan mereka terdengar sangat jelas dari jendela kamar saya, dan percakapan mereka yang kebanyakan mengunakan bahasa Jawa, kurang lebih seperti ini:

Si mbah : "Aku kate mule." ( Saya mau pulang.)

Perawat : "Mule neng endi mbah?" ( Pulang ke mana mbah? )

Si mbah : "Mule neng omaku, aku kangen karo putuku." ( Pulang ke rumahku, aku rindu dengan cucuku. ) Kata si mbah sambil menangis.

Perawat : "Oma’e neng endi mbah?" ( Rumahnya di mana mbah? )

Si mbah : "Juanda."

Perawat : "Mule numpak opo mbah?" ( Pulang naik apa mbah? )

Si mbah : "Becak."

Perawat : "Duit’e endi mbah?" ( Uangnya mana mbah? ) Tanya mereka sambil tertawa.

Si mbah : "Pokok’’e aku kate mule, aku kangen karo putuku. " ( Pokoknya aku mau pulang, aku rindu sama cucuku. ) Jawab si mbah disertai tangis yang bertambah keras.

Setelah pedebatan sekitar ½ jam lamanya, akhirnya mbah uti yang berusaha untuk kabur itu mau dibujuk untuk kembali ke kamarnya yang terletak di lantai atas. Karena para perawat berjanji untuk menghubungi anaknya agar memjemputnya pulang ke rumah. Tapi ternyata janji mereka hanya untuk membohongi mbah uti supaya ia mau kembali ke atas. Karena keluarganya tetap tidak pernah datang, walaupn hanya untuk menjenguknya.

Beberapa hari setelah usaha pelarian mbah uti, saya dibawa naik ke lantai atas untuk melihat oma-oma. Saat inilah saya bisa mengenal mbah uti secara langsung, dan mendengar kisahnya, bagaimana sampai dia bisa tinggal di panti jompo itu.

Beberapa bulan yang lalu, anak mbah uti berkata bahwa mereka sekeluarga akan berangkat naik Haji. Karena itu, mereka akan menitipkan si mbah di panti jompo untuk sementara waktu, karena mereka tidak tegah meninggalkan si mbah sendirian di rumah. Dan setelah pulang dari Haji, mereka akan kembali menjemput si mbah pulang ke rumah. Sebab itu, si mbah dengan suka rela diantar ke panti  jompo. Namun sampai berbulan-bulan lamanya, anaknya tidak pernah kembali untuk menjemput si mbah.

Saya tidak tahu, apakah naik Haji hanya merupakan alasan anaknya saja agar si mbah mau berangkat ke rumah jompo tanpa paksaan. Atau memang anaknya pergi naik Haji, dan setelah pulang, dia lupa masih mempunyai seorang ibu yang dititipkannya di panti jompo. Yang pasti, keluargannya tidak ada yang pernah datang untuk menenggok si mbah lagi.

Sampai suatu hari, petugas kebersihan yang akan menyapu kamar si mbah menemukan si mbah tergeletak tidak sadar di lantai kamarnya. Mungkin si mbah mengalami serangan strok karena batinnya begitu tertekan karena merasa dibuang oleh anaknya dan rasa rindunya kepada cucunya. Akhirnya pihak panti benar-benar menghubungi keluarganya. Anaknya segera datang, dan sambil menangis membawa si mbah yang tidak sadarkan diri itu pulang.

Saya tidak tahu perasaan apa sebenarnya yang ada di balik tangis anak si mbah. Apakah ia benar-benar menyesal karena telah menelantarkan ibunya, atau ia menangis hanya karena dia takut dihukum Tuhan sebagai anak durhaka. Seandainya dia benar-benar menyesal sekalipun, penyesalannya itu tidak ada gunanya, karena dia tidak mungkin bisa membayar kembali apa yang ia telah lakukan terhadap ibunya. Ia tidak bisa membalikan waktu, mengubah apa yang sudah dia lakukan, sehingga membuat ibunya tidak menderita. Apalagi sekarang ibunya dalam keadaan koma, dan entah dia bisa sadar lagi atau tidak. Jika dia benar-benar menyesal, maka perasaan bersalah akan membebaninya seumur hidupnya. Dan sejak saat itu saya tidak pernah lagi mendengar kabar tentang mbah uti.

Kisah ke dua saya adalah cerita tentang seorang oma yang terkenal jahat dan pemarah oleh para perawat di situ. Saya lupa namanya. Yang saya ingat, oma itu mempunyai luka yang terbuka lebar di mata kakinya akibat penyakit diabetes yang dideritanya.

Suatu siang, oma ini juga pernah mencoba melarikan diri seperti mbah uti. Saat para perawat istirahat siang, dan suasana agak sepi, si oma berusaha untuk melarikan diri. Namun, karena dia harus berjalan dengan mengunakan walker, maka suara walker yang rebut membuat para perawat mengetahui usaha melarikan dirinya, dan mengejarnya.

Oma ini tidak seperti mbah uti yang mudah dibujuk untuk kembali ke atas. Oma ini tetap ngotot menunggu anaknya datang di pintu gerbang, meski para perawat sudah berjanji untuk menelpon anaknya agar datang menjemputnya. Akhirnya, setelah menunggu sampai malam, dan anaknya tidak benar-benar datang menjemputnya, maka dengan terpaksa dia kembali ke kamarnya di lantai atas.

Karena saya tahu oma ini bisa berbahasa Mandarin, maka ketika saya mendapat kesempatan untuk naik ke lantai atas, saya mencoba mendekatinya dengan mengajaknya bercakap-cakap dengan bahasa Mandarin dan memberinya renungan harian berbahasa Mandarin, serta kaca pembesar agar dia bisa membaca dengan lebih mudah.

Dari percakapan tersebut saya mengetahui bahwa dia banyak menyimpan kepahitan dalam hatinya. Meskipun dari wajahnya sudah mencerminkan hati yang keras dan penuh kebencian, namun dari pembicaraanlah saya bisa mengetahui bahwa kepahitan sudah begitu dalam merusak hatinya.

Meskipun di buku status tercatat bahwa dia beragama Kristen, namun dia berkata bahwa dia tidak mau memeluk agama tertentu, karena dia takut akan dibenci orang. Dari sini jelas terlihat kalau dia takut mengalami penolakan, karena seumur hidupnya dia telah mengalami penolakan.

Sebagai anak perempuan dari keluarga Tionghua kolot, papanya melarangnya untuk bersekolah, meskipun dia sangat ingin bersekolah. Karena menurut budaya Tionghua yang lebih menghargai anak laki-laki, tidak ada gunanya seorang anak perempuan bersekolah. Dan ini menyebabkan kepahitan di hatinya terhadap papanya.

Setelah dewasa dan menikah, ternyata suamianya adalah seorang penjudi. Suaminya tidak menafkai keluarganya, sebaliknya menghabiskan seluruh hartanya untuk berjudi, karena suaminya dulu adalah anak yang sangat dimanja oleh orang tuanya, sehinggah setelah menikah dia tidak bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab. Dan dalam keadaan yang susah itu, dia harus bekerja keras untuk membesarkan anak-anaknya. Ini pun menyebabkan kepahitan di hatinya.

Setelah semua anaknya dewasa dan memiliki kehidupan yang layak, anak-anaknya tidak membalas apa yang sudah dia lakukan untuk mereka dengan merawatnya dengan baik. Sebaliknya anak-anaknya justu memasukannya ke panti jompo. Ini menyebabkan kepedihan yang sangat di hatinya.

Dari pengalaman pahit demi pengalaman pahit yang dia lewati seumur hidupnya menyebabkan oma ini memiliki hati yang sangat keras. Sehingga ia terkesan sebagai orang yang jahat. Sebenarnya oma ini sangat membutuhkan kasih, jiwanya yang beku hanya dapat dicairkan oleh kasih yang tulus. Namun, karena minimnya pengetahuan pisikologi para perawat, akhirnya yang oma ini dapatkan bukannya kasih, tetapi perlakuan kasar. Karena perawat hanya melihat sikap oma ini yang memusuhi semua orang. Mereka tidak bisa atau tidak mau melihat apa yang melatar belakangi sikap keras dari oma ini. Akibatnya perlakuan para perawat semakin memperparah luka di hatinya.

Kisah terakhir saya adalah tentang seorang oma berusia 83 tahun yang suka bercanda bernama Kuntari, atau biasa dipanggil dengan sebutan mak Kun. Saya megetahui kisah hidupnya saat dia berkunjung ke kamar saya di hari yang bertepatan dengan perayaan Imlek. Karena mak Kun adalah keturunan Tionhua, maka dia sangat merasakan perbedaan suasana Imlek ketika dia masih tinggal di tengah keluarganya, dan ketika dia sudah tinggal di panti.

Dia bercerita bahwa dia dulu tinggal di daerah Pregolan ( daerah itu merupakan salah satu pemukiman kelas menengah ke atas di kota Surabaya ). Dan ternyata mak Kun dulu bergereja di tempat yang sama dengan saya. Karena gereja saya dekat sekali dengan daerah Pregolan, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Semua anak mak Kun belum percaya Tuhan. Setiap Minngu dia sendirian pergi ke gereja. Suatu hari, mak Kun mendapati bahwa anak laki-lakinya yang sudah menikah dan tinggal bersamanya ternyata berselingku dengan adik tirinya sendiri, sampai mempunyai seorang anak dari hubungan itu. Suami mak Kun mempunyai gundik di kota Jombang, dan mempunyai seorang anak perempuan dengan gundiknya itu. Anak dari gundik inilah yang kemudian berselingku dengan anak mak Kun. Meskipun mereka sama-sama mengetahui bahwa mereka adalah saudara satu ayah meskipun lain ibu.

Mengetahui hal itu, mak Kun menjadi sangat marah dan bertengkar hebat dengan anak laki-lakinya. Dia menyebut anaknya itu sebagai binatang karena berselingku dengan adiknya sendiri. Anaknya tidak terima mendengar hinaan mak Kun, dan memukul mak Kun hingga jatuh. Kemudian dia mengirim mak Kun ke panti jompo. Sejak saat itu, tidak ada satu pun keluarganya ataupun anggota gereja yang mengunjungunya. Mak Kun menceritakan ini semua sambil menangis.

Karena mak Kun berasal dari gereja yang sama dengan saya, maka saya mencoba menceritakan tentang mak Kun kepada seorang teman saya yang terlibat dalam pelayanan di gereja. Saya berharap dia bisa menolong supaya ada orang dari gereja yang mengunjungi mak Kun, karena dia banyak mengenal orang di gereja. Namun jawabannya sempat membuat saya kecewa. Dia berkata, kenapa mak Kun tidak ikut cell grup sehingga ada teman-teman cell grup yang akan care kepadanya. Bayangkan, bagaimana seorang oma berusia 80 tahun harus ikut cell grup yang selalu selesai di atas jam 9 malam? Bayangkan, bagaimana reaksi anaknya yang belum percaya Tuhan jika setiap hari Selasa harus menunggu mamanya pulang cell grup sampai larut malam?

Hal ini membuat saya bertanya, memang seperti inikah model gereja saat ini? Gereja sibuk melakukan penjangkauan keluar dan aksi-aksi sosial, tetapi mengabaikan dombanya sendiri yang sedang terluka. Apakah tidak ada satu orang pun di gereja yang menyadari ketidak hadiran mak Kun setelah anaknya mengirimnya ke panti jompo, dan berusaha untuk mencari tahu keberadaan nenek tua yang tiba-tiba mengilang dari gereja itu? Ataukah memang selama ini tidak ada seorang pun yang memperhatikan kehadiran mak Kun di gereja, sehingga ketika mak Kun tidak lagi datang ke gereja, tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan dia?

Namun, apa pun alasannya sehingga tidak ada seorang pun dari gereja yang datang menjenguk mak Kun, saya berharap agar kita sebagai orang percaya tidak mengabaikan 1 jiwa pun yang datang ke gereja kita. Karena setiap jiwa berharga di mata Tuhan.

Ketika saya menuliskan kisah ini, mak Kun sudah berada bersama Bapa di surga yang sangat mengasihinya dan tidak akan membuangnya. Mak Kun meninggal beberapa bulan yang lalu, mungkin karena dia menderita diabetes. Banyak koreng-koreng di kakinya yang tidak kunjung sembuh meskipun dia sudah berpantang untuk memakan makanan yang menurutnya bisa menyebabkan gatal dan hanya makan sayur serta tahu tempe setiap hari.

Saya ingat suatu pagi, mak Kun menangis di depan pintu lift yang tepat berada di depan jendela kamar saya sehingga saya bisa mendengar suaranya dengan jelas. Mak Kun meminta untuk di bawa ke dokter dan periksa gula darah karena semalam kakinya yang korengan digigit tikus. Ia takut koreng di kakinya yang tidak sembuh-sembuh itu diakibatkan oleh gula darahnya yang tinggi. Perawat hanya menjawab agar dia menunggu anaknya datang untuk membawanya periksa darah. Padahal mereka tahu pasti bahwa anak mak Kun tidak mungkin datang. Karena setelah beberapa tahun mak Kun tinggal di panti, tidak sekalipun keluarganya datang menjenguknya.

Saya sangat sedih mendengar tangis mak Kun. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur saya dan membawanya pergi ke dokter. Kelumpuhan saya menghalangi saya untuk menolong mak Kun.

Sampai saat mak Kun koma pun, anaknya tetap tidak peduli padanya. anak perempuannya hanya datang sebentar untuk melihat ibunya yang sedang sekarat, dan kemudian meninggalkannya. Anak-anaknya datang kembali malam harinya setelah mak Kun meninggal dengan membawa ambulans untuk mengambi jenazanya.

Saya tidak tahu bagaimana perlakuan mak Kun kepada anak-anaknya ketika mereka masih kecil sehingga membuat semua anaknya tidak peduli kepadanya ketika mereka dewasa. Mungkin diwaktu muda mak Kun juga tidak sepenuhnya perhatian kepada anak-anaknya. Mungkin juga anak-anaknya selalu menjadi pelampiasan kemarahannya karena suaminya berselingku. Tetapi bagaimanapun kita harus tetap menghormati orang tua kita, karena di dunia ini tidak ada orang tua yang sempurna. Setiap orang tua, baik disengaja atau tidak, pasti pernah menyakiti hati anak-anaknya.

Kita menghormati orang tua kita, karena itu adalah kehendak Tuhan bagi kita. Dan perintah untuk menhormati orang tua adalah satu-satunya perintah Tuhan yang mengandung janji. Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. ( Keluaran 20:12 )

Memang mudah untuk menghormati orang tua yang mengasihi kita. Tetapi ketaatan kita kepada perintah Tuhan justru diuji ketika kita harus menghormati orang tua yang telah menelantarkan kita dan memperlakukan kita dengan buruk. Ketika kita bisa menghormati dan mengasihi orang tua yang tidak pernah mengasihi kita, di situlah kasih Allah dinyatakan melalui hidup kita. Sebuah kasih yang tanpa syarat. Sebuah kasih yang mampu membalas kejahatan dengan kebaikan.

Selain kisah ke tiga oma di atas, sebenarnya masih banyak kisah oma-oma lain yang bisa menjadi cermin untuk kita, agar kita tidak menelantarkan anggota keluarga kita yang sudah lanjut usia. Namun pada dasarnya yang mereka rindukan hanya satu yaitu: "Aku Ingin Pulang". Entah itu pulang ke rumah untuk berkumpul kembali dengan keluarganya, atau pulang kepada Penciptanya. Tidak ada satu pun orang tua yang senang tinggal di panti jompo, dan menganggap panti jompo sebagai rumahnya.

Namun pada kenyataannya masih banyak orang tua yang tidak beruntung sehingga mereka harus tinggal di panti-panti jompo walaupun masih memiliki anak dan cucu, karena anak cucu mereka tidak bisa atau tidak mau merawat mereka.

Saya berharap, artikel yang singkat ini dapat mengugah hati kita semua untuk kita bisa berbakti kepada orang tua kita. Tidak peduli seberapa besar kesulitan yang akan kita hadapi untuk memelihara anggota keluarga kita yang sudah lanjut usia. Hendaknya itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk menghindari tanggung jawab kita merawat orang tua kita, dan menitipkan mereka ke panti jompo.

Saya percaya, jika kita setia melakukan firman Tuhan untuk berbakti kepada orang tua kita, Tuhan akan menolong kita seberapa besarpun kesulitan yang akan kita hadapi ketika kita harus merawat orang tua kita. Tuhan sanggup mencurahkan kasih dan kekuatanNya kepada kita. Bahkan Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita sehingga kita bisa merawat orang tua kita dengan baik. Karena kita telah melakukan apa yang berkenan kepadaNya.

Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah.
 
( I Timotius 5:4 )

Kamis, 20 Desember 2012

Penginjilan QQ


"Teruskan dengan keparcayaanmu, aku tidak butuh!"

"Tuhanku adalah presiden Mao."

"Aku adalah tuhan atas diriku."

"Apa Tuhan bisa memberi aku uang?"

"Setelah manusia mati, tidak ada roh yang akan hidup selamanya."

"Aku ateis!"

"Tuhan menciptakan manusia, manusia menghancurkan Tuhan."

Kalimat-kalimat di atas adalah beberapa jawaban yang saya peroleh dari orang-orang di RRC ketika saya mulai berbicara tentang Tuhan dan kehidupan kekal kepada mereka melalui QQ Liao ( sejenis YM milik Cina ).
Pada saat usia saya kira-kira 12 tahun, suatu hari saya membaca tabloid rohani milik tante saya. Di tabloid itu terdapat sebuah artikel tentang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di Cina. Juga terdapat gambar wanita-wanita Cina yang berdoa sambil menangis dan kedinginan karena mereka harus pergi ke gunung atau hutan-hutan untuk bisa beribadah dan tidak tertangkap oleh pemerintah Cina. Waktu itu ada sesuatu di hati saya ketika membaca artikel dan melihat gambar tersebut. Sebagai anak remaja yang walaupun dibesarkan dalam sebuah keluarga "Kristen", saya sama sekali tidak mengenal Tuhan, dan tidak tahu apa-apa tentang perkara-perkara rohani. Orang tua saya, terutama mama, tidak pernah ke gereja. Waktu kecil saya memang pernah dibawa ke gereja oleh nenek, namun gereja tempat nenek berjemaat adalah sebuah gereja yang hanya menekankan pada doktrin dan peraturan tanpa pengenalan akan Allah sama sekali. Sehingga waktu saya merasakan sesuatu di hati saya ketika melihat gambar dan membaca artikel tersebut, saya tidak tahu bawah saat itu Tuhan sedang menaruh beban di hati saya untuk jiwa-jiwa di Cina. Sampai sekarang saya tidak bisa melupakan gambar wanita Cina yang berambut pendek dan memakai jaket kuning yang sedang berdoa dan menangis di alam terbuka di dalam tabloid itu.
Sejak saat itu, tiba-tiba saya memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap bahasa Mandarin. Saya memang berasal dari keluarga keturunan Tionghua, tapi saya tidak bisa dan tidak tertarik sama sekali dengan bahasa Mandarin. saya ingat, dulu sewaktu saya masih tinggal dengan nenek, nenek yang menguasai sedikit bahasa Mandarin, berusaha mengajari saya untuk berhitung dalam bahasa Mandarin. Namun seberapapun kerasnya nenek berusaha mengajari saya, saya tetap tidak bisa untuk berhitung dalam bahasa Mandarin. Hanya untuk menghafal dari 1 – 10 saja, saya merasa sulit sekali. Namun, sejak peristiwa gambar dan artikel itu, saya menjadi sangat berminat dengan bahasa Mandarin. Saya berusaha dengan segala cara untuk belajar bahasa Mandarin. Mulai dari miminjam buku pelajaran Mandarin dari teman, sampai belajar pengucapannya dengan mendengarkan lagu-lagu Mandarin, sementara teks lagu yang ada di kaset saya gunakan untuk belajar mengenal huruf-huruf Mandarin.
Dalam belajar bahasa Mandarin, saya sama sekali tidak mendapat dukungan dari keluarga. Sebaliknya, entah apa sebabnya mereka sangat menentang saya. Papa pernah marah dan berkata: "Lu nanti jadi gila kalau belajar macem-macem." Kakak perempuan papa juga tidak mau ketinggalan menghina saya. Suatu hari waktu saya membantu berjualan di tokonya, dia tiba-tiba mendekati saya dan berkata: "Lu pikir lu anaknya apa mau belajar macem-macem?" tapi saya hanya diam, tidak menjawabnya sepatah katapun. Mama yang kebetulan berada di dekat situ dan mendengar apa yang dikatakan kakak perempuan papa, merasa sakit hati. Tapi dia juga tidak berani menjawab kakak perempuan papa. Setelah tante saya itu masuk ke dalam rumah, – tante membangun halaman rumahnya menjadi toko – mama berkata kepada saya: "Kenapa lu nggak mau jawab, lah wakoh lihat papa itu manusia apa binatang? Kok pakai Tanya Lily anaknya apa?" ( Wakoh adalah sebutan suku Tionghua untuk kakak perempuan papa ).
Walaupun dalam perjalanannya, di masa remaja, saya sempat sangat membenci Kekristenan. Hal itu sebagian besar disebabkan oleh cara hidup keluarga saya yang menyebut diri Kristen, tapi perbuatannya jauh lebih jahat dibandingkan keluarga teman saya yang menyembah berhala. Saat saya melihat kakak perempuan papa yang begitu kelihatan rohani di gereja, tetapi menjadi begitu jahat ketika berada di rumah. Sampai-sampai saya berkata tentang tante saya itu, "Kalau dia di gereja, malaikat sampai minder lihat dia yang begitu rohani Tapi, kalau dia di rumah, ganti setan yang minder melihat dia begitu jahat." Belum lagi papa, yang sejak saya kelas 5 atau 6 SD jadi rajin ke gereja, juga terkadang membaca Alkitab di rumah, tapi tiada hari tanpa marah dan kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Perbuatan mama tidak kalah munafiknya dengan papa dan tante. Mama yang meskipun tidak pernah ke gereja dengan alasan gerejanya jauh, dan tidak mau ke gereja bersama papa karena gereja papa yang dekat berbeda denominasi dengan gerejanya, namun mama tetap rajin melaksanakan "perintah-perintah agamanya". Setiap jumat petang, mama akan berlutut di samping tempat tidur untuk berdoa pembukaan sabat. Dan pada sabtu petang mama kembali berlutut di samping tempat tidur untuk berdoa penutupan sabat. Mama juga sangat menuruti perintah tentang binatang yang haram dan yang tidak haram yang terdapat dalam kitab Imamat 11, sehingga dia akan sangat marah jika mencurigai anak-anaknya telah memakan salah satu dari "binatang haram" tersebut. Walaupun mama begitu fanatik dengan perintah-perintah agamanya, namun dihatinya sama sekali tidak ada Tuhan. Di hati mama hanya ada uang dan kesenangan hidup. Dan itu yang membuat mama hampir setiap hari selalu bertengkar dengan papa. Itu semua adalah factor utama yang membuat saya pada akhirnya membenci keKristenan dan juga pribadi Yesus. Karena saya berpikir jika orang-orang Kristen begini jahat, pasti Tuhan mereka juga jahat, sehingga menghasilkan pengikut-pengikut yang begitu jahat.
Karena saya begitu membenci keKristenan, sampai-sampai saya ingin pindah ke agama teman saya yang menyembah berhala, karena saya ingin "menjadi baik" seperti keluarga mereka, bukan jahat seperti keluarga saya. Sampai saat itu saya masih ingat gambar dan artikel tentang wanita-wanita Kristen Cina yang berdoa sambil menangis itu. Tapi kesan yang timbul di hati saya ketika mengingatnya kembali berbada 180° dari kesan yang timbul ketika saya untuk pertama kali melihat gambar dan artikel tersebut. Seletah saya menjadi pembenci keKristenan, kesan yang timbul di hati saya ketika mengingat kembali gambar dan artikel itu adalah: "Pantas pemerintah Cina menganiaya mereka, karena pasti mereka juga adalah orang-orang yang jahat." Dalam pemikiran saya waktu itu, semua orang Kristen adalah jahat seperti keluarga saya.
Prasangka saya bahwa semua orang Kristen jahat dan munafik "diteguhkan" oleh perbuatan anggota persekutuan doa yang di adakan oleh kakak perempuan papa. – Setiap bulan di rumah kakak perempuan papa diadakan persekutuan doa – Setiap kali ada pesta Natal atau pesta yang lain, maka jumlah orang yang hadir di persekutuan doa menjadi sangat banyak, sampai harus duduk di teras karena di dalam rumah sudah penuh sesak. Setiap kali ada pesta Natal atau pesta yang lain, tante selalu meyediakan hidangan prasmanan dengan bermacam-macam menu, sedangkan pada persekutuan doa biasa, makanan hanya dibagikan dalam piring. Hal itu selalu membuat saya yang selalu mengamati dari luar persukutuan doa itu merasa "kagum", mengapa saat makanan berlimmpah, secara ajaib anggota persekutuan doa juga mengalami pertumbuhan. Belum lagi saya pernah melihat 2 orang ibu anggota persekutuan doa itu yang berebutan kue. Mereka saling menarik piring tempat kue itu diletakan. Meski salah satu ibu akhirnya mengalah dengan melepaskan piring itu, namun itu sudah cukup untuk menambah keyakinan saya bahwa sebenarnya tujuan mereka datang persekutuan doa hanyalah demi makanan.
Saya tetap sangat menyukai bahasa Mandarin dan tetap berusaha belajar untuk bisa menguasai bahasa tersebut. Namun itu hanya menjadi sebuah ambisi dalam hidup saya. Saya sama sekali tidak peduli akan Tuhan atau pun hal-hal rohani. Saya memilik keinginan untuk bisa sekolah kedokteran di Cina, karena itu saya berusaha belajar sampai larut malam untuk bisa mendapat beasiswa agar bias mewujudkan impian saya, menjadi seorang dokter yang fasih berbahasa Mandarin. Namun ternyata Sang Penulis kehidupan sudah menuliskan cerita yang berbeda dari yang saya harapkan.
Pada usia 16 tahun, tiba-tiba saya mengalami kelumpuhan hampir di seluruh tubuh saya. Hampir 1 tahun setelah saya lumpuh, saya mengenal seorang teman yang secara rutin mengunjungi saya. Tidak seperti orang-orang lain yang datang untuk mendoakan saya kemudian mulai mengurui saya bahkan menuduh saya sudah berbuat dosa sehingga Tuhan menghukum saya dengan kelumpuhan, teman saya ini setiap kali mengunjungi saya, hanya duduk di samping saya, dan kadang menceritakan pengalaman-pemngalamannya dengan Tuhan, dia tidak pernah sekalipun berusaha untuk mengurui saya. Saat itulah hati saya tersentuh. Dan saya ingin mengenal Tuhan seperti yang dia kenal. Saya mulai belajar berbicara dengan Tuhan seperti dia berbicara dengan Tuhan. Sampai saya akhinya juga dapat mengenal dan mengasihi Yesus seperti juga dia mengenal dan mengasihi Yesus. Saya percaya pertemuan kami bukan sesuatu yang kebetulan. Tapi Allah punya rencana dengan mempertemukan kami. Karena di dalam Tuhan tidak ada satu pun yang kebetulan.
Setelah saya mengenal Yesus secara pribadi, di dalam hati saya timbul keriduan yang besar untuk memberitakan Injil, terutama untuk orang-orang di Cina. Saat itu saya baru mengerti bahwa mungkin kesan yang timbul di hati saya ketika melihat artikel dan gambar orang-orang Kristen di Cina yang teraniaya adalah karena Tuhan memang menaruh beban di hati saya untuk jiwa-jiwa di Cina. Dan memang setelah mengalami penghinaan dari keluarga karena saya belajar bahasa Cina, akhirnya Tuhan sendiri mempelengkapi saya untuk panggilanNya itu. Pada saat tangan saya yang lumpuh sudah mulai bisa saya gunakan untuk menulis, tante-tante dari gereja Katolik yang membiayai saya selama saya tinggal di yayasan – sejak saya lumpuh saya tinggal di sebuah yayasan – menawari saya untuk les Mandarin, karena mereka melihat saya sangat menyukai bahasa Mandarin dan sering belajar sendiri bahasa Mandarin dari buku teman yang saya foto copy. Tentu saja saya menerima dengan sangat senang tawaran mereka, maka mulailah saya bisa belajar bahasa Mandarin dengan cara yang benar.
Sementara itu kerinduan saya untuk bisa memberitakan Injil terutama untuk jiwa-jiwa di Cina terus timbul di hati saya. Tapi dengan tubuh yang lumpuh ini apa yang bisa saya lakukan untuk menjangkau jiwa-jiwa? Saya berdoa, bertanya kepada Tuhan apa yang harus saya lakukan untuk memberitakan Injil dengan kondisi saya yang terbatas ini. Dan akhirnya saya menemukan suatu cara yang saya percaya itu dari Tuhan untuk bisa memberitakan Injil sampai ke "ujung dunia" meskipun saya terbelenggu oleh kursi roda ini, dan sama sekali tidak bisa keluar rumah.
Suatu malam saya duduk di teras rumah. Saat akan didorong masuk ke kamar, saya melewati televisi yang sedang menyala. Saya tidak tahu acara apa yang sedang mereka tonton, karena dari tadi sore saya duduk di teras. Namun saat saya lewat, televisi itu sedang menayangkan gambar sebuah botol berisi kertas yang terdampar di pantai yang berpasir. Saat itulah saya mendapatkan ide, saya akan menulis ayat-ayat Alkitab dalam beberapa bahasa, memasukannya dalam botol dan membuangnya ke laut, agar saya bisa memberitakan Injil sampai ke "ujung dunia" tanpa harus keluar rumah. Kebetulan saat itu yayasan tempat saya tinggal banyak menanpung anak-anak dari NTT untuk bekerja di Surabaya. Sehingga jika ada anak yang pulang kampung, saya bisa menitipkan botol-botol saya untuk mereka buang ke tengah laut saat mereka berada di atas kapal. Saya juga memilih botol-botol plastik dengan ukuran tertentu, agar orang yang saya titipi mudah membawanya, dan karena botol plastik, dia tidak akan pecah jika terbawa ombak dan membentur karang.
Sekarang persoalannya tinggal bagaimana cara mendapatkan Alkitab dalam bahasa asing? Menerjemahkan sendiri Alkitab ke bahasa Mandarin saya tidak bisa, meskipun saya sudah les bahasa Mandarin. apalagi untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya, itu terasa sangat mustahil bagi saya. Sedangkan jika saya harus membeli Alkitab bahasa lain, saya tidak punya uang, dan tidak ada orang yang bisa saya mintai tolong untuk membeli. Untunglah saya mempunyai buku Joice Meyer tentang kesembuhan dalam bahasa Inggris pemberian seorang teman. Saya membolak-balik buku itu untuk mencari ayat-ayat berbahasa Inggris yang sekiranya cocok untuk penginjilan.  Setelah menemukan beberapa ayat yang saya rasa cocok, saya menuliskannya pada selembar kertas beserta terjemahan Indonesiannya.
Kemudian saya mencoba menelpon took-toko buku rohani untuk mencari tahu harga Alkitab Mandarin. Saya ingin Alkitab dengan huruf Mandarin yang simple – huruf Cina ada dua versi, tradisional dan simple – juga lengkap ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun beerapa took buku yang saya telpon, tidak ada satu pun yang menjual Alkitab seperti yang saya inginkan. Jika Alkitabnya memakai huruf simple, hanya ada yang perjanjian baru saja. Sedangkan yang lengkap ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tulisannya mengunakan huruf yang tradisional. Selain itu harganya pun menurut saya sangat mahal jika diukur dari uang yang saya miliki saat itu. Akhirnya saya nekat untuk minta tolong pada guru les Mandarin saya untuk mencarikan Alkitab berbahasa Mandarin yang dicetak dengan huruf Cina simple yang lengkap ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru karena hanya beliau satu-satunya orang yang saya kenal yang bisa berbahasa Mandarin. Meskipun saya tidak berharap banyak beliau dapat menemukan Alkitab yang saya inginkan karena beliau bukanlah orang Kristen.
Ternyata guru les saya bersedia mencarikan Alkitab seperti yang saya inginkan. Beliua selalu singgah jika melewati took buku rohani Kristen jika sedang dalam perjalanan untuk mengajar ke rumah-rumah. Seletah beberapa lama melakukan pencarian Alkitab tanpa hasil, akhirnya guru saya sampai ke took buku Maranata. Beliau masuk, dan bertanya kepada penjaganya, apakah di sini ada Alkitab bahasa Mandarin. si penjaga menunjuk ke lantai atas, dan segera guru saya menuju ke lantai atas. Sesampainya di lantai atas, beliau mencari-cari, tapi tidak menemukan Alkitab seperti yang saya ingini. Akhirnya beliau memutuskan untuk pulang saja. Saat menuruni tangga untuk keluar dari took buku, beliau melihat di lantai bawah pada salah satu rak di antara buku-buku Alkitab bahasa Mandarin. beliau mendekati Alkitab terseut dan melihat isinya, ternyata persis dengan yang saya inginkan, berisi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dengan tulisan huruf Cina simple. Hanya tinggal 2 buah. Harganya pun tidak terlalu mahal, 40,000 di diskon 25%, sehinggah harganya menjadi hanya 30,000. Sepertinya Tuhan memang menyediakan Alkitab itu untuk saya. Guru les saya menemukannya secara "kebetulan" setelah sekian lama mencari, dan harganya pun tidak sampai membuat seluruh uang saya terkuras habis.
Setelah saya mendapatkan Alkitab Mandarin, saya segera menulis ayat-ayat dalam bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris – yang saya ambil dari buku Joice Mayer – dan memfoto copy untuk memperbanyaknya, kemudian memasukannya ke dalam botol plastik yang saya kumpulkan. Jika saya tidak bisa mendapatkan botol plastik bekas, saya terpaksa membeli air mineral dalam botol 330ml, meminum airnya, dan mengisi botolnya yang sudah kosong dengan kertas berisi ayat-ayat Alkitab yang sudah saya foto copy. Untuk dititipkan untuk dibuang ke laut jika ada anak-anak di yayasan saya yang akan pulang ke NTT. Setelah saya bergabung dengan gereja Mawar Sharon dan cell grup, maka ada seorang teman cell grup, ce Susan, yangmembantu saya untuk mengumpulkan botol-botol plastik, sehinggah saya tidak perlu sering-sering membeli air mineral untuk diambil botolnya. Saya melakukan pengInjilan botol dari tahun 2005 sampai tahun 2010, karena sejak tahun 2009 yayasan tempat saya tinggal sudah tidak menerima orang baru baik dari NTT maupun dari Jawa. Oleh sebab itu, anak NTT yang bisa saya titipin botol untuk dibuang ke laut semakin berkurang, dan akhirnya habis sama sekali.
Mulai tahun 2010 saya mencoba pengInjilan melalui internet. Karena di tahun 2010 Tuhan memberi saya sebuah laptop melalui uncle Hugh dan teman saya Eileen. Saya membuat akun Facebook, tujuannya untuk mengInjili orang-orang secara acak, siapa saja yang bisa saya Injili, dan mencoba menemukan teman saya yang sudah lama tidak kabar beritanya. Namun ternyata Facebook terlarang di Cina. Saya baru mengetahuinya setelah teman saya, ce Susan pulang dari Cina. Tidak heran selama ini saya tidak bisa menemukan orang-orang yang tinngal di Cina melalui Facebook. Selama ini yang saya temukan hanya orang Taiwan atau orang Hongkong. Dari ce Susan pula saya tahu bahwa untuk berhubungan di dunia maya, orang-orang di Cina biasa mengunakan QQ, jadi akhirnya saya pun menbuat akun di QQ.
Di QQ mail ada yang disebut piaoliu ping ( botol hanyut ). Kita bisa menuliskan apa saja di botol kita dan membuangnya ke laut. Botol kita akan masuk secara acak ke piaoliu ping beberapa orang. Setiap hari maksimal kita bisa melempar 6 botol ke laut, dan setiap hari juga ada 6 botol yang masuk secara acak ke piaoliu ping kita. Kita bisa merespon botol-botol yang masuk, atau membuangnya kembali ke laut. Dengan piaoliu ping inilah saya bisa mengInjili orang-orang di Cina. Saya biasa menulis ayat firman Tuhan atau kata-kata motifasi pada botol-botol yang saya lempar ke laut. Saya tahu Tuhan sudah membukakan media pengInjilan yang baru untuk saya. Karena itu saya selalu berusaha berbicara tentang Tuhan kepada orang-orang yang merespon botol saya, ataupun yang botolnya masuk ke piaoliu ping saya.
Selama ini saya selalu merasa begitu mengasihi orang-orang Cina yang terhilang karena tidak mengenal Tuhan itu. Bahkan saya sangat rindu untuk menjadi misionaris ke Cina dan memberitakan Injil kepada mereka. Namun keadaan saya yang lumpuh tidak memungkinkan untuk pergi ke mana pun untuk memberitakan Injil. Saya begitu bersemangat karena mengetahui lewat QQ saya bisa berhubungan dan memberitakan Injil kepada orang-orang di Cina. Karena itu melalui QQ saya menerima siapa saja yang ingin menjadi teman saya.
Setelah beberapa bulan saya melakukan pengInjilan melalui QQ, saya mulai merasa malas dan bosan untuk terus online. Saya merasa agak kaget mendapati banyak orang yang berlaku tidak sopan di dunia maya. Saya memeng pernah mendengar bahwa kebanyakan orang yang berhubungan melalui dunia adalah untuk melakukan hal-hal yang tidak sopan. Namun saya belum pernah mengalaminya sendiri. Sebab selama mengenal dunia maya, saya tidak pernah mau berhubungan dengan orang-orang yang tidak saya kenal di dunia nyata. Tetapi karena melalui QQ saya bersedia menerima siapa saja yang ingin menjadi teman saya, akhirnya saya mendapati sendiri begitu banyaknya orang yang berlaku tidak sopan di dunia maya. Jika saya mulai berbicara tentang Tuhan, banyak orang yang menjawab dengan kata-kata kasar. Namun itu tidak menjadi masalah untuk saya. Sebab saya tahu, hanya Tuhan yang sanggup membuka hati seseorang untuk menerima Injil. Yang membuat saya tidak tahan adalah ketika seseorang membicarakan hal-hal porno kepada saya, bahkan ada yang mengirimkan gambar porno. Jika sudah demikian, saya tidak tahan untuk segera offline, dan tidak ingin online lagi. Karena takut bertemu orang-orang seperti itu lagi.
Melalui kejadian itu, saya baru menyadari, ternyata saya tidak mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang tersebut seperti yang selama ini saya pikirkan. Selama ini saya berpkir saya begitu mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang tersebut sampai saya rela mati untuk mereka agar mereka diselamatkan. Tetapi ternyata hanya karena perkataan mereka yang tidak sopan, saya jadi malas berhubungan dengan mereka. Di sinilah kadar kasih saya yang sesungguhnya diuji.
Saat saya merasa tidak ingin online lagi, saya teringat akan para misionaris di Cina. Mereka harus meninggalkan segalanya di tanah asal mereka, dan tinggal di tengah-tengah masyarakat asing yang tidak mengenal Tuhan. Tantangan yang mereka hadapi pasti jauh lebih besar daripada yang saya hadapi. Mereka tidak mungkin mundur walau harus menghadapi tantangan sebesar apapun. Mereka juga tidak bisa pulang ke negara asalnya sewaktu-waktu saat mereka merasa jenuh terhadap masyarakat di sekitar mereka. Berbeda dengan saya, saya bisa offline sewaktu-waktu jika sudah merasa jenuh dengan jawaban orang-orang yang saya Injili.
Akhirnya saya Cuma bisa minta pertolonga Roh Kudus jika sudah mulai merasa jenuh untuk terus online dan mengInjili mereka. Saya harus selalu bergantung kepada Roh Kudus bagaimana cara menghadapi terutama cara memberi jawaban kepada orang-orang di Cina yang saya Injili. Selain itu saya harus menguatkan tekad saya karena hanya dengan cara ini saya bisa memberitakan Injil. Bagaimanapun juga, saya harus mengunakan secara maksimal kasih karunia yang Tuhan berikan kepada saya. Yaitu dengan berusaha melakukan yang terbaik semampu saya. Saya percaya apa yang lakukan tidak akan sia-sia. Suatu hari akan ada orang-orang Cina yang bertobat karena mendengar Injil dari QQ. Dan mungkin hal kecil yang saya lakukan ini adalah bagian dari rencana Tuhan yang besar untuk Cina. Saya tidak tahu apa yang akan dan sanggup Tuhan lakukan untuk Cina, karena saya percaya Tuhan sangat mencintai Cina. Tidak kebetulan Tuhan membuat bangsa Cina sebagai suku bangsa terbesar di dunia. Tuhan pasti juga punya rencana yang besar untuk bangsa Cina bagi kemulianNya. Saat ini yang menjadi tugas saya adalah setia dengan apa yang menjadi bagian saya, dan Tuhan yang akan melakukan bagianNya. Impian saya adalah, kebangunan rohani yang terjadi di Shandong tahun 1930 an kembali terjadi, bahkan melandah seluruh Cina. Karena tiada yang mustahil bagi Allah.







Selasa, 28 Agustus 2012

Proses atau Hasil


Rick Joyner dalam bukunya yang berjudul Pencarian Terakhir menceritakan tentang seorang gelandangan bernama Angelo, yang duduk di atas takhta yang sangat indah bersama dengan raja-raja dalam kerajaan surga. Dalam suatu penglihatan, Rick Joyner melihat seorang yang sangat rajin melayani Tuhan. Ia terus bersaksi kepada orang-orang, mengajar dan mengunjungi orang sakit untuk berdoa bagi mereka. Kemudian ia juga melihat seorang gelandangan yang tidak mempunyai rumah. Seekor anak kucing lewat di depan kakinya dan ia mulai menendangnya, tetapi ia menahan diri, namun demikian anak kucing tersebut tertendang juga cukup keras ke pinggir lorong. Lalu Tuhan bertanya kepada Rick Joyner, yang mana dari kedua orang itu yang menyenangkan hatiNya.
“Yang pertama.” Katanya tanpa keraguan.
”Bukan yang kedua.” Tanggap Tuhan, dan Ia mulai menceritakan kepadanya kisah mereka.
Orang yang pertama dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang sangat baik, yang mengenal Tuhan. Ia tumbuh di dalam sebuah gereja yang berkembang dan kemudian kuliah di seminari yang terkemuka. Tuhan telah memberikan kasihNya kepadanya seratus bagian, tetapi ia hanya mempergunakannya tujuh puluh lima bagian dengan semua "pelayanan" yang telah dia lakukan.
Orang yang kedua dilahirkan tuli. Ia diperlakukan dengan kejam dan ia disekap di dalam sebuah kamar loteng yang gelap dan dingin sampai ia ditemukan oleh yang berwajib ketika ia berusia delapan tahun. Ia dikirim dari satu sekolah ke sekolah yang lain, di mana ia terus-menerus mengalami pelecehan. Akhirnya. ia menjadi gelandangan. Untuk mengatasi hal itu Tuhan hanya memberikan kepadanya tiga bagian kasihNya, tetapi ia telah mengerahkan kesemuanya itu untuk melawan kebuasan yang ada di dalam hatinya untuk tidak menendang anak kucing tersebut.
   Angelo sangat setia dengan sedikit karunia yang Tuhan berikan kepadanya. Ia mempergunakan kesemuanya, untuk tidak mencuri. Ia hampir kelaparan, tetapi ia tidak mau mengambil apa pun yang bukan miliknya. Ia membeli makanannya dari mengumpulkan botol-botol bekas dan kadang-kadang menemukan seseorang untuk memberikan pekerjaan di lapangan. Ia tidak dapat mendengar, tetapi ia belajar membaca, jadi Tuhan mengirimkan kepadanya selembar traktat. Ketika ia membacanya, Roh Kudus membuka hatinya dan ia memberikan hatinya pada Tuhan. Tuhan kembali melipatgandakan kasihNya kepadanya dan dengan setia ia menggunakan kesemuanya itu. Ia ingin bersaksi kepada orang-orang lain, tetapi ia bisu. Walaupun hidupnya begitu miskin, ia mulai membelanjakan lebih dari separuh miliknya untuk membeli traktat dan membagikannya di persimpangan-persimpangan jalan.
“Berapa orang yang dibawanya kepada Engkau?” Tanya Rick Joyner, mengira bahwa tentulah banyak orang yang telah dibawanya kepada Tuhan sehingga ia dapat bertakhta bersama dengan raja-raja.
”Satu,” jawab Tuhan.
Tuhan mengijinkannya menyelamatkan seorang pemabuk yang hampir mati untuk memberinya dorongan. Ia setia dengan apa yang telah diberikan kepadanya, ia menjadi pemenang di atas semua, sampai ia menjadi serupa dengan Kristus, dan ia mati sebagai martir.
    Tuhan menyebutnya sebagai martir karena ia telah mengalahkan dunia dengan kasih Tuhan. Sangat sedikit orang yang berhasil menjadi pemenang dengan apa yang dipunyai begitu sedikit. Kebanyakan umat Tuhan tinggal di rumah yang bagus, segala hal yang serba enak dan serba mudah ada pada mereka, tetapi semuanya itu tidak mereka hargai. Lain dengan Angelo, ia begitu menghargai kotak kardus yang melindunginya dari malam yang dingin sehingga ia dapat mengubahnya menjadi bait hadirat Tuhan yang penuh kemuliaan. Ia mulai mengasihi setiap orang dan segala sesuatu. Ia bersukacita untuk sebuah apel daripada beberapa umat Tuhan yang tidak dapat bersyukur untuk makanan pestanya. Ia setia dengan apa yang Tuhan berikan kepadanya, walaupun yang Tuhan berikan tidak sebanyak yang diberikanNya kepada orang lain.
Cerita di atas membuat saya merenung. Ternyata apa yang Allah lihat dan hargai sangatlah berbeda dengan apa yang manusia lihat dan hargai.
Manusia cenderung melihat hasil atau pencapaian seseorang, seberapa sukses dia dalam bisnis, seberapa banyak aset yang dia miliki, menjadi juara atau tidak dia di sekolahnya, apakah dia berhasil memenangkan juara pertama dalam lomba itu, apakah pelayanan seseorang berkembang atau tidak, dan masih banyak lagi hal serupa itu yang menjadi tolak ukur orang pada umumnya, yang kesemuanya hanya melihat kepada hasil, tanpa melihat kepada proses.
Namun apa yang Allah lihat sangatlah berbeda dengan apa yang manusia lihat. Allah tidak melihat seberapa sukses bisnis kita, seberapa banyak aset yang kita miliki, apakah kita berhasil menjadi juara di sekolah atau menjadi juara pada pertandingan-pertandingan yang kita ikuti, bahkan Allah tidak melihat seberapa sukses dan berkembang pelayanan kita. Tidak, Allah tidak befokus pada hasil atau semua hal-hal yang kelihatan dari luar itu. Sebaliknya yang menjadi fokus Allah adalah seberapa besar kita telah mempergunakan dan mengoptimalkan kasih karunia Allah yang diberikanNya kepada kita.
Manusia melihat dan menghargai hasil, tetapi Allah melihat dan menghargai usaha dan proses. Manusia cenderung menilai seseorang berdasarkan apa yang telah dicapainya, tetapi Allah menilai seseorang dari kesetiaannya.
Sebagai contoh, orang akan lebih menghargai seorang anak yang pada dasarnya pandai, yang tanpa perlu belajar dengan keras bisa mendapatkan nilai sepuluh dalam ujiannya. Daripada seorang anak yang memang memiliki kemampuan yang kurang, meskipun sudah belajar dengan keras, tetapi hanya bisa mendapatkan nilai enam dalam ujiannya. Dunia hanya bisa melihat hasil, tetapi di mata Allah, anak yang kurang, yang meskipun sudah belajar dengan giat hanya bisa mendapat nilai enam pada ujiannya, melakukan jauh lebih baik dari pada anak yang memang pintar, yang tidak perlu belajar, namun bisa mendapatkan nilai sepuluh dalam ujiannya.
Terkadang saya merasa iri dengan orang-orang yang mendapatkan kasih karunia Tuhan lebih banyak daripada yang saya dapatkan. Saya berpikir, betapa enaknya hidup orang-orang itu. Mereka punya keluarga yang bahagia dan mengasihi mereka, mereka tidak perlu mengalami sakit seperti saya, mereka sehat, dan bisa pergi kemanapun yang mereka mau, mereka bisa bersekolah tanpa kesulitan dengan biaya, dan akhirnya mereka bisa mencapai karier yang bagus, menikah,serta hal-hal baik lainnya yang bisa mereka nikmati dalam hidup mereka.
Sangat berbeda dengan keadaan saya. Saya lahir tanpa dikehendaki oleh orang tua saya, dan sebagai akibatnya saya selalu mendapat perlakuan yang buruk dari kedua orang tua saya. Keluarga saya mengalami kesulitan ekonomi, sehingga sejak kelas 6 SD, saya harus membantu orang tua saya mencari uang dengan berjualan kacang goreng. Saya juga mengalami kesulitan biaya untuk sekolah. Meskipun saya sudah berusaha belajar sampai larut malam agar bisa mendapat beasiswa karena saya memiliki impian untuk bisa sekolah kedokteran di Cina, namun semua usaha saya itu sia-sia belaka, karena pada umur 16 tahun saya mengalami kelumpuhan hampir pada seluruh tubuh saya, yang meenyebabkan saya tidak bisa berbuat apa-apa dan harus bergantung 100% pada pertolongan orang lain. Akhirnya jangankan untuk kulia kedokteran di Cina, menyelesaikan SMA pun saya tidak mampu.
Saya merasa hidup saya hancur, dan Tuhan sudah berlaku tidak adil terhadap saya, tetapi lewat cerita di buku Rick Joyner ini Roh Kudus mengingatkan saya agar saya tidak perlu merasa iri dengan orang lain yang hidupnya jauh lebih mudah daripada saya, karena mereka mendapatkan kasih karunia Tuhan lebih banyak daripada saya.
Yang terpenting ialah bagaimana saya harus berusaha sebaik-baiknya agar tidak menyia-nyiakan kasih karunia yang Tuhan telah berikan kepada saya, meskipun itu tidak sebanyak yang diterima oleh orang lain, bahkan sangat kecil mungkin. Saya akan tetap setia dengan apa yang sudah Tuhan percayakan kepada saya meskipun itu adalah hal yang kecil dan kelihatannya sepele bagi manusia. Saya tetap akan berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki.
 Mungkin hasil yang saya capai kelak tidak sebanyak atau sebaik hasil yang capai orang oleh orang lain. Namun saya tidak akan iri ataupun berkecil hati, karena mungkin orang lain yang mencapai hasil yang lebih besar dari saya, belum menggunakan semua kasih karunia yang Tuhan berikan padanya, sehingga apa yang telah dia capai tidak ada artinya di mata Tuhan, walaupun di mata manusia ia kelihatan sangat hebat.
Hamba yang memiliki satu talenta, jika dia tidak menyembunyikan talentanya tetapi menjalankannya sehingga dia memperoleh laba. Dan meskipun dia hanya beroleh laba satu talenta saja, di mata Tuhan dia akan sama baiknya dengan hamba yang memiliki sepuluh talenta, dan beroleh laba sepuluh talenta. Karena dia sudah menggunakan apa yang ada padanya dengan baik, meskipun hasilnya tidak sebanyak hamba yang menerima sepuluh talenta dan menghasilkan sepuluh talenta juga. Karena firman Tuhan berkata:

Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.
                   (Lukas 12:48b)

Jadi tidak peduli banyak atau sedikit kasih karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Yang terpenting adalah, apakah kita bisa setia dengan kasih karunia yang ada pada kita, entah banyak ataupun sedikit, dan kita menggunakannya untuk kemuliaaan nama Tuhan. Janganlah iri dengan orang yang mendapatkan kasih karunia yang lebih besar, karena Allah memperhatikan proses dan bukan hasil. Selain itu, kepada orang yang lebih banyak diberi, kepadanya Tuhan pasti akan menuntut lebih banyak juga. Berusahalah sebaik mungkin dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Karena dengan mengunakan kasih karunia yang diberikanNya sebaik-baiknya, kita sedang menghargai Sang pemberi kasih karunia tersebut.

Kamis, 14 Juni 2012

Kristus dan Qu Yuan


Kemarin saya mendapat sms ucapan selamat hari raya Duan Wu, atau yang biasa dikenal di Indonesia sebagai hari raya Bakcang dari seorang teman. Saya merasa heran mendapat ucapan tersabut, karena saya tidak pernah memperhatikan hari raya-hari raya etnis Tionghua, maka saya mengira perayaan Duan Wu Jie itu sudah lewat, dan teman saya tersebut salah kirim sms. Kemudian saya bertanya kepada ibu asuh saya yang kebetulan sedang duduk di dekat saya, jatuh pada tanggal berapa perayaan Duan Wu Jie tahun ini. Karena keluarga beliau masih merayakan hari raya-hari raya etnis Tionghua, jadi saya pikir beliau pasti tahu perayaan Duan Wu Jie tahun ini jatuh pada tanggal berapa. Dan ternyata beliau juga tidak tahu perayaan Duan Wu Jie tahun ini jatuh pada tanggal berapa.
Saya membuka kalender Cina, ternyata perayaan Duan Wu Jie tahun ini jatuh pada tanggal 23 Juni menurut penanggalan Masehi. Kemudian saya menceritakan asal mula perayaan Duan Wu Jie kepada ibu asuh saya karena memang saya menyukai sejarah Cina.
Saya menjelaskan bahwa Duan Wu Jie dirayakan untuk memperingati kematian seorang penyair bernama Qu Yuan dari Negara Chu, yang hidup pada tahu 340-278 SM. Pada waktu itu keadaan kerajaan Chu kacau balau, karena raja dan para pejabat yang lalim. Qu Yuan yang sangat mencintai negaranya berusaha mengajukan protes untuk mengubah undang-undang negaranya, namun akhirnya dia justru dibuang ke daerah selatan. Qu Yuan yang putus asa, akhirnya bunuh diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai Mi Lou. Rakyat yang sangat mencintai dirinya mengambil nasi yang dibungkus dengan daun bambu dan membuangnya ke dalam sungai Mi Lou. Rakyat percaya, ikan-ikan di dalam sungai Mi Lou akan memakan nasi-nasi yang mereka buang sehinga tidak memakan jazat Qu Yuan. Oleh sebab itu, etnis Tionghua sampai saat ini masih melaksanakan teradisi tersebut. Setiap tanggal 5 bulan 5 pada penanggalan Cina, etnis Tionghua akan mebuat Bakcang, yaitu makanan yang terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun bambu untuk mengenang kematian Qu Yuan.
Ibu asuh saya segera berkata: "Kenapa dia bodoh sekali, kok sampai bunuh diri segala?"
Saya menjawabnya dengan bercanda: "Kalau dia tidak bunuh diri, kita tidak makan Bakcang ma."
Beberapa saat kemudian setelah ibu asuh saya keluar dari kamar saya, saya kembali memikirkan jawaban saya yang setengah bercanda tadi. Bukankah sebagai orang Kristen kita sering kali melihat kematian Kristus hanya seperti saya melihat kematian Qu Yuan. Kita tahu kebenaran bahwa jika Kristus tidak mati, kita tidak akan selamat. Kita tahu, Kristus menanggung sengsara dan mati di atas kayu salib adalah untuk menebus dosa-dosa kita. Namun Kristus yang disalib tidak penah menyentuh hati kita. Kristus yang disalib tidak pernah membuat hati kita terharu sehinga dalam hati kita meluap ucapan syukur dan rasa cinta kepadaNya.
Kita percaya kepada Kristus hanya untuk keuntungang dan kebahagiaan kita semata. Banyak orang percaya pada Kristus hanya sampai pada tahap supaya mereka diselamatkan, tidak masuk neraka, mendapatkan apa yang mereka butuhkan, memperoleh hidup yang kekal dan dapat masuk surga. Namun tidak banyak orang yang mempercayai Kristus sampai pada tahap benar-benar mengasihi Kristus dan rela mempersembahkan hidupnya untuk Kristus.
Makna salib telah menjadi begitu kabur bagi banyak orang. Banyak orang melhat salib hanya sebagai sarana agar mereka diselamatkan, lepas dari penghukuman dan memperoleh hidup yang kekal. Namun lebih dari pada itu, makna salib sebenarnya adalah sebagai perwujudan kasih Allah kepada manusia. Alkitab berkata:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
( Yohanes 3:16 )

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
( Yohanes 15:13 )

Kristus telah memberikan nyawaNya sebagai korban penebusan bagi kita dengan mati di atas kayu salib. Kita yang seharusnya mati karena dosa dan pelanggaran kita, beroleh hidup karena kematianNya. Di sinilah kasih Allah yang sempurna dinyatakan. Kasih yang melampaui dari apa yang dapat kita pikirkan. Kasih Kristus yang begitu lebar, panjang, tinggi dan dalam. Kasih yang melampaui segala pengetahuan manusia. Kasih yang bersedia memberikan nyawaNya bagi sahabat-sahabatNya.
Jika kita memilik seorang sahabat yang sangat kita kasihi, dan dia sakit parah. Semua kita pasti akan berusaha semampu kita untuk membantunya. Kita akan berdoa untuk dia, menghiburnya, memberikan bantuan untuk biaya pengobatannya, dan lain sebagainya. Namun berapa banyak dari antara kita jika memilik sahabat yang sedang sakit mau mengambil alih penyakitnya agar dia sembuh? Berapa banyak dari antara kita bersedia terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa dan kesakitan agar sahabat kita bisa bebas bergerak dan melakukan apa yang ingin dia lakukan? Berapa banyak dari antara kita bersedia mengorbankan hidup kita sendiri agar sahabat kita bisa menikmati hidupnya? Saya yakin tidak ada satu pun dari antara kita mau melakukan hal-hal tersebut untuk seorang sahabat yang paling kita kasihi sekali pun. Namun itulah yang telah Kristus lakukan untuk kita. Kristus menderita sengsara di atas kayu salib, agar kita tidak perlu menanggung hukuman atas dosa-dosa kita. Kristus mati, agar kita memperoleh hidup. Kristus turun ke alam maut, agar kita tidak masuk neraka. Dan Kristus naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi kita bersama-sama dengan Dia.
Rasul Paulus berkata: Dan Kristus telah mati untuk semua orang. Inilah Injil. Namun Paulus tidak berhenti sampai di situ. Paulus melanjutkan: Supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah bangkit untuk mereka. ( II Korintus 5:15 ) Jadi Injil bukan hanya sekedar bagaimana Kristus mati untuk kita, tetapi juga bagaimana kita hidup untuk Kristus.
Namun sayangnya banyak orang hanya melihat Injil membuat orang lepas dari penghukuman, namun tidak melihat Injil juga membuat orang lepas dari diri sendiri. Banyak orang hanya melihat Injil membuat orang lepas dari neraka, namun tidak melihat Injil juga membuat orang lepas dari dunia. Banyak orang hanya melihat Injil membuat orang memiliki hidup yang kekal, namun tidak melihat Injil juga membuat orang menjadi milik Kristus. Tujuan Injil bukan hanya membuat orang berdosa masuk surga, terlebih lagi tujuan injil adalah memulihkan hubungan antara Allah dan manusia yang rusak karena dosa.
Jika kita secara cermat membaca Alkitab, kita akan mendapatkan sebuah kenyataan bahwa Allah sangat senang dikasihi oleh manusia, Allah sangat senang berada bersama dengan manusia, Allah sangat senang manusia menikmati diriNya, menerimaNya, dan mengalamiNya. Namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa, hubungan manusia dengan Allah terputus, karena dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. ( Roma 3:23 ) Allah yang kudus tidak mungkin berhubungan dengan manusia yang tidak kudus. Dosa juga membuat manusia lebih menyukai hidup dalam kegelapan dari pada berhubungan dengan Allah. Oleh karena itu, Allah "berusaha"  memulihkan hubunganNya dengan manusia melalui kematian Kristus di kayu salib.
Setelah manusia percaya kepada Kristus, manusia tidak hanya menerima keselamatan, namun manusia juga menerima hayat yang baru melalui kelahiran kembali. Hayat yang baru inilah yang membuat manusia mampu behubungan kembali dengan Allah. Alkitab berkata:

Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya.
( Yohanes 1:12 )

Jadi tujuan Allah terhadap kematian Kristus di kayu salib tidak berhenti hanya sampai manusia diselamatkan, tetapi setelah manusia diselamatkan, manusia akan dapat berhubungan kembali dengan Allah, mengasihiNya, menikmatiNya, berada dekat denganNya, dan mengalamiNya.
Karena kasihNya, dan karena keinginanNya supaya kita juga mengasihi Dia, maka Kristus rela mati di kayu salib untuk kita. Allah ingin salib mengubah hidup kita, sehingga kita mengasihi Dia, mempersembahkan seluruh hidup kita kepadaNya, dan hidup hanya bagi kemuliaanNya. Jika kita sungguh-sungguh mengerti makna salib, dan kasih yang besar yang mendasari salib tersebut, maka tidak bisa tidak, salib akan selalu menyentuh hati kita, sehingga setiap kali kita teringat akan pengorbanan Kristus, hati kita akan penuh dengan ucapan syukur. Dan semakin kita memikirkan tentang salib Kristus, kasih kita kepadaNya akan semakin bertumbuh. Karena kita tahu, ada pribadi yang begitu mengasihi kita sampai rela memberikan nyawaNya untuk kita.
Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah: Apakah salib pernah mengharukan hati kita? Kapan terakhir kali kita membaca atau mendengar tentang Kristus yang disalib, dan itu menyentuh hati kita sihingga kita meneteskan air mata? Ataukah saat membaca atau mendengar tentang salib, kita menganggapnya sebagai hal biasa? Bahwa jika Kristus tidak mati di kayu salib, kita tidak akan diselamatkan. Seperti saya menganggap biasa kematian Qu Yuan, bahwa jika Qu Yuan tidak mati bunuh diri, tidak akan ada perayaan Duan Wu Jie, dan saya pun tidak akan makan Bakcang setiap tahun.
Jika salib Kristus tidak pernah membuat hati kita terharu. Atau jika dulu salib memang pernah menyentuh hati kita, namun sekarang salib tidak lagi membuat hati kita terharu. Dan jika hati kita tidak merasakan apa-apa lagi ketika mendengar tentang salib. Maka kita harus memohon kepada Allah, agar membuat salib menyentuh hati kita, sehingga hati kita senantiasa dipenuhi cinta dan ucapan syukur terhadap Dia yang disalib untuk kita.

Selasa, 31 Januari 2012

Persepuluhan yang Dikembalikan


Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
( Maleakhi 3:10 )

Sebagian besar orang Kristen pasti pernah menndengar ayat firman Tuhan di atas. Ayat tersebut sering dikutip ketika seorang hamba Tuhan berkhotbah tentang memberi persembahan, khususnya persembahan persepuluhan. Namun, seberapa banyak orang Kristen yang berani mempercayai ayat tersebut, bahwa ketika kita mengembalikan persembahan persepuluhan kita kepada Tuhan, maka Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat bagi kita sampai berkelimpahan. Karena itu, tidak sedikit orang Kristen yang enggan untuk mengembalikan persembahan persepuluhan mereka yang menjadi hak Tuhan dengan berbagai alasan. Tetapi sesungguhnya alasan keengganan mereka untuk mengembalikan persembahan persepuluhan adalah ketidak percayaan mereka akan janji Tuhan. Mereka kuatir, apa benar Tuhan akan memberkati mereka jika mereka sudah taat untuk mengembalikan perpuluhan. Jangan-jangan setelah mengembalikan perpuluhan, mereka justru akan mengalami kesulitan keuangan. Mempersembahkan 10% dari seluruh pendapatan kita memang bukanlah suatu hal yang mudah, karena itu diperlukan iman kepada janji Allah untuk kita dapat menaati perintah Allah tersebut.
Allah pernah membawa saya untuk belajar taat dalam hal mengembalikan persepuluhan, meskipun saat itu sepertinya keadaan saya tidak memungkinkan untuk mengembalikan perpuluhan. Namun setelah saya belajar untuk tetap taat untuk mengembalikan perpuluhan meski dalam kondisi yang sulit, Allah membuktikan diriNya setia, dan firmanNya memang dapat dipercayai. Allah "mengembalikan" persepuluhan yang saya persembahkan bahkan sebelum saya mempersembahkannya. Dan Allah "mengembalikan" lebih banyak dari jumlah persembahan persepuluhan yang seharusnya saya kembalikan.
Karena kelumpuhan yang saya derita sejak tahun 1997, menyebabkan saya hampir tidak pernah untuk keluar rumah selama bertahun-tahun, bahkan hanya untuk pergi ke gereja sekalipun. Namun puji Tuhan, pada tahun 2006 saya menghadiri acara Festifal Kuasa Allah yang diadakan di PTC, Surabaya. Meskipun saat itu Tuhan belum menyembuhkan saya, namun, di saat itu saya bisa berkenalan dengan Yuni, salah seorang anggota Profesional Muda Gereja Mawar Sharon Surabaya. Yuni kemudian mengatur agar saya bisa mengikuti ibadah di gereja setiap hari Sabtu dan juga bergabung dalam kelompok cell. Jadi, meskipun saya belum menerima mujizat kesembuhan dari Tuhan, Tuhan sudah membuat mujizat dengan mengerakan hati teman-teman cell grup saya untuk setiap kali datang dan memjemput saya untuk pergi ke gereja atau cell grup, meskipun untuk membawa saya keluar rumah, dengan kondisi saya yang hampir lumpuh total bukanlah hal yang mudah. Namun, teman-teman cell grup saya selalu datang menjemput saya dengan senang hati.
Karena saya hampir tidak pernah keluar rumah selama bertahun-tahun, maka saya hampir tidak mempunyai pakaian untuk pergi. Dan pada saat saya harus keluar rumah satu minggu dua kali yaitu untuk ke gereja dan ke cell grup, saya jadi binggung karena saya tidak tahu harus pakai baju apa untuk pergi ke gereja. Pakaian pergi yang saya miliki saat itu kira-kira hanya 5 potong. Dan terus terang saya merasa malu pergi ke gereja dengan selalu memakai baju yang sama. Namun saya juga tidak mempunyai cukup uang untuk membeli baju yang baru.
Selama ini, sebelum bergabung dengan Gereja Mawar Sharon, saya selalu menyisihkan 10% dari setiap berkat yang saya terima. Jika sudah terkumpul agak banyak, saya akan mengirimkannya ke sebuah badan penginjilan. Karena saat itu saya belum bergabung dengan gereja lokal mana pun, maka begitulah cara saya untuk belajar taat dalam hal mengembalikan perpuluhan.
Waktu saya sedang bergumul untuk membeli pakaian untuk ke gereja, satu-satunya uang yang saya miliki adalah uang perpuluhan yang sudah terkumpul, namun belum saya kirimkan ke badan penginjilan tersebut. Saya bergumul, apakah saya akan memakai uang perpuluhan tersebut untuk membeli baju baru, atau saya tetap mengembalikannya kepada Tuhan. Setelah bergumul beberapa saat, akhirnya saya memutuskan untuk tetap mengembalikan perpuluhan. Saya berkata kepada Tuhan: "Tuhan, aku mau taat. Meskipun aku Cuma punya 1 baju untuk pergi, aku akan tetap mengembalikan perpuluhan. Apa lagi sekarang, aku bukan cuma punya 1 baju, tapi beberapa baju. Jadi aku harus tetap mengembalikan perpuluhan."
Setelah itu, supaya saya jangan berubah pikiran lagi, saya segera mengambil uang itu dan memasukannya ke dalam tas Alkitab saya untuk saya bawa ke gereja nantinya. Karena sekarang saya sudah berjemaat di sebuah gereja, saya tahu kalau saya harus mengembalikan perpuluhan saya ke gereja tempat saya berjemaat.
Kira-kira 1 jam setelah saya memasukan uang itu ke dalam tas Alkitab saya, saya mendapat telpon dari ce Linda. Ce Linda adalah salah seorang anggota Gereja Mawar Sharon, yang juga saya kenal sewaktu saya menghadiri Festifal Kuasa Allah. di telpon ce Linda berkata: "Ly, sekarang cece ada di toko, mau beliin baju buat kamu. Kamu lebih suka kemeja apa kaos?" Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Ternyata Tuhan sungguh ajaib. Saya segera menjawab kalau saya lebih suka kemeja, dan ce Linda segera menutup telponnya. Saya tidak menceritakan pergumulan saya tentang baju itu kepada ce Linda ( atau siapa pun ) karena saya tidak mau orang jadi kasihan kepada saya. Dan sampai saya menulis cerita ini saat ini, ce Linda tidak pernah tahu bahwa Tuhan sudah memakainya untuk melakukan mujizat untuk saya. Namun, biarlah jika ce Linda membuka blog ini, dia akan tahu cerita di balik kemeja yang dia belikan untuk saya.
Setelah menutup telpon dari ce Linda, saya tidak bisa menahan tangis karena rasa syukur saya kepada Tuhan. Saya tidak bisa mengerti dengan apa yang Tuhan sudah perbuat. Dia Allah yang tidak pernah berhutang kepada anak-anakNya. Dan Dia selalu menepati apa yang Dia firnamkan.
Keesokan harinya, ce Linda menyuruh pegawainya untuk mengantarkan kemeja itu ke tempat saya. Dan waktu saya lihat harga yang tertera pada lebelnya, ternyata harga baju itu melebihi jumlah uang perpuluhan saya. Saya tidak tahu, jika saat itu saya tidak jadi mengembalikan perpuluhan, dan memakai uangnya untuk membeli baju baru, apakah Tuhan tetap akan mengerakan hati ce Linda untuk membelikan saya baju baru. Namun, satu hal yang saya percayai, Allah selalu memperhitungkan ketaatan kita, dan Dia selalu menepati apa yang Dia firmankan. Kalau Dia berfirman jika kita taat mengembalikan persepuluhan, maka Dia akan membukakan bagi kita tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada kita sampai berkelimpahan, maka Dia akan melakukan tepat seperti apa yang Dia firmankan, dan pertolonganNya tidak akan pernah terlambat.
Memang seharusnya sikap kita dalam menaati setiap firman Tuhan, termasuk dalam hal mengembalikan perpuluhan adalah karena kita mengasihi Tuhan dan ingin menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak boleh memilki sikap, menaati firman Tuhan supaya Tuhan memberkati kita. Karena Tuhan sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yaitu nyawaNya sendiri untuk menebus dosa kita, maka sudah sepatunyalah kita membalas kasihNya dengan menaati segala firmanNya. Yesus berkata: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu." ( Yohanes 14:15 ) Tuhan mau kita menaatiNya karena kita mengasihiNya, dan bukan karena kita mengharapkan imbalan dari Dia. Namun, Allah akan selalu membuktikan bahwa Dia setia, dan janjiNya Ya dan Amin. Akan selalu ada berkat di balik sebuah ketaatan.