Minggu, 07 Agustus 2011

Anak Gembala

Seorang anak gembala, sedang membaca buku diterangi sinar mentari pagi sambil menjaga kawanan sapinya. Tiba-tiba dari lereng gunung terdengar suara orang bertengkar. Anak gembala pergi ke sana untuk melihatnya. Ternyata penduduk desa yang bertengkar karena berebut untuk menimba air di sumur. Mereka membawa kayu, dan saling memukul. Si anak gembala menjadi takut dan kuatir: “Jika seperti ini lagi, bisa membahayakan nyawa orang!”
Keesokan harinya, penduduk desa menemukan ada selembar pengumuman yang tertempel di pingir sumur. Pengumuman itu berisi, setiap malam, penduduk desa harus menaruh tong air mereka di tepi sumur. Keesokan harinya baru bisa menimba air sesuai urutan. Orang-orang mengira ini adalah perintah kepala desa, karena itu mereka menurutinya.
Pada hari ke 3, di pagi hari, saat penduduk desa sampai di tepi sumur, mereka mendapati setiap tong sudah penuh terisi air. Sampai beberapa hari, juga selalu seperti itu. Penduduk desa mengira kepala desa yang menyuruh orang untuk melakukan ini.
Setelah kepala desa mengetahui hal ini, dia merasa heran. Dia memutuskan untuk mengetahui siapa orang baik yang memasang pengumuman dan menimba air itu. Hari belum terang, kepala desa sampai di dekat sumur, ia melihat seorang anak sedang menimba air, dengan malu dia berkata: “Ah, aku ternyata tidak lebih baik dari seorang anak!”
Dunia saat ini adalah dunia yang sedang kehilangan damai. Bahkan sepertinya, manusia saat ini lebih menyukai kekerasan dari pada damai. Jika kita melihat di sekeliling kita, banyak perkelahian yang terjadi akibat masalah yang sepele. Bahkan, jika kita lihat di media, ada orang-orang yang sampai tegah untuk membunuh temannya hanya karena berebut sedikit uang. Manusia menjadi begitu egois, dan memikirkan dirinya sendiri.
Win win solution atau solusi menang sama menang, adalah cara yang saat ini dianggap paling bagus untuk menyelesaikan masalah. Memang tidak ada yang salah dengan solusi ini. Bahkan kelihatannya, solusi ini sangat adil. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Jika ada yang tidak diuntungkan, lebih baik tidak ada kerjasama atau hubungan sama sekali.
Namun, jika semua orang menganut prinsip win win solution ini, maka tidak akan ada lagi orang yang mau mengalah. Padahal Alkitab berkata: Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. (I Korintus 10:24)
Bayangkan, apa jadinya jika prinsip win win solution ini diterapkan pada hubungan antara Allah dan manusia. Maka tidak ada lagi kasih karunia, tidak ada lagi anugerah Allah. Karena Allah juga ingin diuntungkan dalam hubunganNya dengan manusia. Jika kita mau berkata jujur, bukankah selama ini, dalam hubungan kita dengan Allah, sebenarnya adalah hubungan yang paling tidak adil. Tidak membawa keuntungan apa pun bagi Allah, sebaliknya Allah selalu berada di pihak yang dirugikan. Hubungan kita dengan Allah hanya membawa keuntungan di pihak kita. Bukan kita yang mencari Allah, tetapi Allah yang mencari kita. Allah menyelamatkan kita, menyertai kita, memberkati kita, namun sebaliknya, bukankah kita sering memberontak dan mendukakan hati Allah? Bukankah ini adalah hubungan yang sangat berat sebelah? Dan kerugian yang besar selalu ‘diderita’ oleh pihak Allah tanpa mendapat keuntungan apa pun.
Jadi, jika Allah saja begitu rela untuk selalu menjalin hubungan dengan kita walaupun Dia harus selalu berada di pihak yang dirugikan dalam hubunganNya dengan kita, apakah kita tidak rela untuk ‘sedikit’ dirugikan untuk menjaga kedamaian dengan sesame kita. Alkitab juga berkata: Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18)
Jika kita rela dirugikan untuk menjaga kedamaian sesuai dengan firman Tuhan, maka Allah akan mecurahkan anugerah dan kasih karuniaNya untuk kita. Dia akan memberikan kepada kita jauh melebihi apa yang dapat kita doakan dan pikirkan. Dan yang pasti jauh melebihi keuntungan yang bisa kita dapat jika kita mengunakan cara manusia yang secara alami tidak bersedia untuk rugi.


Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
(Matius 5:9)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar