Senin, 18 Juli 2011

Sakit Hati Lin Chong

Pada akhir dinasti Song Utara, sekitar tahun 1119 Masehi, di daerah sekitat Shan Dong, He Bei, He Nan, dan Jiang Su bagian utara, terjadi pemberontakan kaum petani yang dipimpin oleh 108 pendekar yang berasal dari berbagai latar belakang. Karena mereka tidak puas dengan pemerintahan yang ada, yang mereka anggap sebagai pemerintah yang lalim. Sedangkan pemimpin tertinggi mereka adalah seorang yang bernama Song Jiang.
Lin Chong adalah salah satu dari ke 108 pendekar tersebut. Nama lainnya adalah si kepala harimau. Lin Chong mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi. Dia menjadi pelatih bagi pasukan istana, dan dia menbawahi 180.000 prajurit.
Lin Chong mempunyai seorang istri yang cantik, dan dia sangat mencintai istrinya. Suatu hari, istri Lin Chong diperkosa oleh anak angkat Gao Qiu, seorang pejabat tinggi yang juga menjadi sahabat raja. Jabatan Lin Chong sebagai pelatih tentara, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kedudukan Gao Qiu. Karena itu, Lin Chong tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tindakan anak angkat Gao Qiu terhadap istrinya.
Teman-teman Lin Chong yang merasa tidak terima dengan keadaan itu, menculik anak angkat Gao Qiu, dan mengkebiri dia. Karenanya Gao Qiu menjadi marah karena dia adalah anak satu-satunya. Gao Qiu kemudian mencari cara untuk membalas dendam dan mencelakakan Lin Chong.
Suatu hari, Lin Chong membeli sebilah pedang baru yang sangat bagus. Gao Qiu menyuruh orang untuk mengatakan kepada Lin Chong, bahwa ia ingin melihat pedang baru tersebut, dan menyuruh Lin Chong untuk membawanya ke rumah Gao Qiu. Tetapi itu hanyalah siasat Gao Qiu untuk menjebak Lin Chong.
Lin Chong terpaksa dating ke rumah Gao Qiu. Sesampai Lin Chong di rumah Gao Qiu, ternyata rumah itu sepi sekali, tidak terlihat seorangpun. Lin Chong yang penasaran, langsung masuk ke ruang tamu. Di ruang tamu, dia langsung disergap oleh orang-orang Gao Qiu yang memang sebelumya telah diatur oleh Gao Qiu. Lin Chong dituduh datang untuk membunuh Gao Qiu. Karena memasuki rumah Gao Qiu tanpa izin dan dengan membawa pedang.
Lin Chong dimasukan dalam penjara. Di dalam penjara, dia disiksa agar dia mau mengakui “perbuatannya.” Karena tidak tahan oleh siksaan, akhirnya dia mau menandatangani surat pengakuan. Akhirnya, dia dihukum dalam pembuangan karena “kejahatannya.”
Istri Lin Chong yang sedih karena berpisah dari suaminya akhirnya bunuh diri dengan mengantung diri. Kemudian ayah mertua Lin Chong menjadi gila, dan mengunci diri sampai mati di dalam rumah mereka. Keluarga Lin Chong yang bahagia menjadi hancur.
Di tengah perjalanan menuju ke tempat pembuangan, Lin Chong berhasil melarikan diri. Dia lari kepada kumpulan pemberontak yang melawan kerajaan, yang dipimpin oleh Song Jiang, dan mengabungkan diri dengan mereka. Lin Chong berharap, suatu saat, dia bisa membalas dendam kepada Gao Qiu yang telah menghancurkan hidupnya dan keluarganya.
10 tahun berlalu. Akhirnya terjadi peperangan yang hebat antara kaum pemberontak pimpinan Song Jiang dengan kerajaan. Tentara kerajaan kalah. Gao Qiu yang waktu itu juga ikut berperang tertangkap oleh orang-orang Song Jiang, kemudian dibawa ke markas untuk menghadap kepada Song Jiang.
Lin Chong yang mendengar bahwa Gao Qiu tertangkap, merasa senang sekali. Ia berpikir, inilah kesempatan untuk membalas dendam yang telah lama dia nanti-nantikan. Dia ingin segera membunuh Gao Qiu.
Lin Chong segera menuju tempat Gao Qiu ditahan. Begitu melihat Gao Qui, dia tidak bisa lagi menahan emosinya. Dengan marah dia bertanya kepada Gao Qiu:
“Apa kamu masih ingat aku?”
“Siapa kamu?” Jawab Gao Qiu.
Dengan bertambah marah Lin Chong menjawab bahwa dia dan keluarganya telah dihancurkan oleh Gao Qiu 10 tahun lalu. Dan sekarang ingin membalas dendam.
Pada saat Lin Chong hendak membunuh Gao Qiu, tiba-tiba Song Jiang datang dan menceganya. Song Jiang yang memang berencana untuk berdamai dengan pihak istana, berniat melepaskan Gao Qiu. Lin Chong amat marah dengan keputusan Song Jiang melepaskan Gao Qiu. Kesempatan untuk membalas dendam yang sudah dinantinya bertahun-tahun, yang sekarang sudah ada di depan mata hilang begitu saja. Tetapi apa boleh buat, dia tidak bisa melawan keputusan Song Jiang sebagai pemimpin tertinggi.
Saat melihat Gao Qiu melangkah pergi untuk kembali ke istana. Lin Chong menjadi begitu marah dan sedih. Dia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya, dan akhirnya dia jatuh ke tanah dan mati. Sementara Gao Qiu bisa kembali ke istana dengan selamat.
Orang yang menyimpan dendam dan sakit hati pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Ketika kita dikuasai oleh dendam dan sakit hati, kita mengira kita bisa menyakiti musuh kita, tetapi sebenarnya yang sedang kita sakiti adalah diri kita sendiri. Mungkin orang yang telah menyakiti kita sedang bersenang-senang karena dia telah melupakan perbuatannya atau bakan dia merasa senang telah bisa menyakiti kita. Sementara kita yang telah disakiti, kita kembali menyakiti diri sendiri dengan tidak melepaskan pengampunan dan melupakan apa yang orang lain telah perbuat terhadap kita.
Kita membiarkan musuh kita mengendalikan diri kita karena kita “mengantungkan” kebahagiaan kita kepadanya. Kita memberinya “kuasa” untuk membuat kita tidak bahagia. Tetapi sebenarnya kebahagiaan kita sama sekali tidak tergantung kepada orang lain. Kebahagiaan kita tergantung pada diri kita sendiri dan Tuhan. Nelson Mandela pernah berkata: ”Orang yang menyimpan dendam adalah seperti seorang yang sedang meminum racun, dan berharap orang lain yang akan mati.”
Alkitab memerintahkan kita untuk mengampuni, sebenarnya bukan untuk kepentingan musuh kita, tetapi demi kepentingan diri kita sendiri. Allah tahu, ketika kita tidak bisa mengampuni, kita sedang menghancurkan diri sendiri. Karena racun kebencian lama-kelamaan akan melemahkan dan membunuh kita. Di sisi lain, orang yang menyimpan dendam akan membuka celah bagi iblis untuk menghancurkan kehidupan orang tersebut. Allah mau kita hidup bahagia. Karena itu, Ia memerintahkan kepada kita untuk mengampuni.
Pengampunan bukan soal bisa atau tidak. Pengampunan adalah soal mau atau tidak. Allah telah memberikan Roh KudusNya yang akan memampukan kita untuk melakukan seluruh kehendakNya. Asal saja kita mau mengampuni, maka Roh Kudus akan memampukan kita untuk mengampuni.

Minggu, 17 Juli 2011

Hidup, Diberikan atau Dipercayakan?

Dalam rumah bangsawan yang megah dan indah itu sedang terlihat kesibukan yang lebih dari hari biasanya. Para pelayan bergegas mengatur rangkaian-rangkaian bunga yang memperindah aula rumah yang megah itu. Meja-meja panjang tempat hidangan ditatah dengan sangat cantik. Peralatan makan yang terbuat dari perak, tampak sangat serasi dengan taplak meja berenda yang putih bersih.
Saat matahari mulai terbenam, para pelayan mulai menghidangkan berbagai masakan lezat buatan sang juru masak. Cahaya dari lilin-lilin yang mulai dinyalakan pun menambah semaraknya suasana.
Tak seberapa lama kemudian, para undangan mulai berdatangan memadati aula tersebut. Para undangan yang datang dari berbagai kalangan tampak berbaur menjadi satu. Meskipun dapat terlihat dari baju yang mereka gunakan, tapi tidak ada perbedaan dalam memperlakukan para tamu yang datang karena memang pesta itu diadakan untuk semua orang. Sebab Sang bangsawan tidak membeda-bedakan status sosial seseorang. Namun, meskipun pesta itu diadakan untuk semua orang, tidak semua orang di negeri itu yang mau menghadiri pesta tersebut. Karena ada juga orang-orang yang iri hati dan membenci Sang bangsawan.
Akhirnya Sang bangsawan pun keluar untuk bergabung dengan para tamu. Sang bangsawan menyapa para undangan dengan ramah. Memberi beberapa kata sambutan sebelum akhirnya mengucapkan salam perpisahan. Memang pesta itu adalah pesta perpisahan yang diadakan karena Sang bangsawan mendapat mandat untuk memerintah suatu negeri yang jauh.
Setelah pesta berakhir dan para undangan pulang, Sang bangsawan menanggil semua hambaNya yang Dia percayai. Dia memberikan amanat kepada semua hambaNya dan memberikan modal serta tanggung jawab sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Sang bansawan berharap, hamba-hambaNya dapat diandalkan untuk mewakili diriNya mengurus harta yang Dia tinggalkan dengan baik. Dan keesokan harinya, berangkatlah Sang bangsawan untuk dinobatkan menjadi Raja di negeri yang jauh.
Beberapa tahun berlalu sejak pesta perpisahan itu diadakan, dan sekarang sedang diadakan satu pesta yang lain, pesta penyambutan. Sang bangsawan yang dinobatkan menjadi Raja di negeri yang jauh telah kembali. Dia kembali untuk memeriksa semua yang Dia miliki di tempat asalNya. Setelah pesta usai, seperti beberapa tahun yang lalu. Sang bansawan kembali mengunpulkan semua hamba-hambaNya. Kali ini untuk meminta pertanggung jawaban dari mereka. Apa saja yang telah mereka perbuat dengan semua milikNya yang telah Dia percayakan kepada mereka.
Hamba yang pertama maju. Dengan wajah yang berseri-seri dia berkata kepada Sang bansawan:
“Tuan, 100 ekor kuda yang Tuan percayakan kepadaku telah aku rawat dengan sebaik-baiknya, dan sekarang kuda Tuanku bertanbah menjadi 324 ekor.”
“Baik sekali apa yang telah engkau lakukan itu hambaKu.” Jawab Sang bangsawan sambil tersenyum. “Dan sekarang Aku akan mengangkatmu menjadi bupati di tempat aku menjadi Raja.”
Kemudian majulah hamba yang lain dan berkata:
“Tuan, tanah yang Tuan pecayakan kepadaku sekarang menghasilkan gandum beberapa kali lipat dari beberapa tahun yang lalu. Setiap hari aku berusaha memeliharanya dengan baik. Membuang batu-batunya, mengarinya, dan memberinya pupuk. Sehingga tanah yang dulunya tidak terlalu subur, sekarang menjadi sangat subur.”
Sang bangsawan menganguk, dan berkata:
“Engkau adalah hamba yang setia, maka Aku akan mengankatmu menjadi jendral dalam KerajaanKu.”
Begitulah satu-persatu hamba dari Sang bangsawan maju menghadap untuk memberi pertanggung jawaban apa saja yang telah mereka lakukan selama Sang bangsawan pergi.
Akhirnya tinggal seorang hamba yang belum memberi pertanggungan jawab kepada Sang bangsawan. Dengan ketakutan hamba itu berkata:
“Tuan, ini uang perak yang Tuan berikan padaku. Aku telah menyimpannya dengan baik mekipun aku tidak punya waktu untuk mengembangkannya. Aku punya banyak urusan yang harus ku lakukan. Karena aku mempunyai usaha sendiri yang harus aku kembangkan, maka aku tidak punya waktu untuk mengembangkan milik Tuan. Maafkan aku, dan terimalah kembali uang perak Tuan.”
Maka marahlah Sang bangsawan, dan menyuruh algojo-algojo untuk menangkap dan menghukum hamba yang tidak berguna itu. Karena walaupun Sang bansawan sudah mempercayakan milikNya untuk dia kelola. Namun hamba itu lebih memilih untuk mengerjakan usahanya sendiri. Dengan demikian, berarti dia telah menyia-nyiakan kepercayaan Sang bangsawan. Dan menganggap rendah perintahNya dengan lebih menuruti keinginannya sendiri dari pada perintah Sang bangawan.
Kemudian Sang bangsawan memerintahkan para prajuritNya untuk menangkap orang-orang yang membenci Dia. Karena meskipun Dia sudah memberi mereka kesempatan dengan mengundang mereka dating ke pestaNya, namun mereka menolok. Dengan demikian mereka menyatakan perlawanan kepada Sang bangsawan, Yesus Kristus Tuhan, Raja di atas segala raja.
Pada hari terakhir, saat Yesus datang kembali dalam segala kemuliaanNya. Dia akan memanggil setiap kita, hamba-hambaNya. Untuk memberi pertanggung jawaban kita. Apa saja yang sudah kita lakukan dengan hidup kita yang merupakan milikNya yang Dia percayakan kepada kita.
Apakah kita sudah mengunakan hidup ini untuk kesenangan dan kemuliaanNya? Ataukah justru sebaliknya, kita mengunakan hidup ini untuk kesenangan dan kabanggaan diri kita sendiri?
Allah tidak memberikan hidup ini kepada kita, sehingga kita bias mempergunakannya untuk kepentingan kita sendiri. Allah mempercayakan hidup kepada kita agar melaluinya kita dapat memuliakan Allah.
Sebab itu, biarlah kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri. Apa yang menyenangkan kita, apa yang menguntungkan kita, dan apa yang baik menurut pandangan kita. Tetapi marilah kita hidup hanya bagi Allah. Bagi kesenanganNya dan bagi kemuliaanNya. Seperti ada tertulis: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)
Glory to The Lord